Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Cahaya Layar dan Garis Nasib
Keheningan yang menyelimuti ruang tengah terasa begitu pekat, hanya dihiasi deru napas teratur Taehyung yang sudah tertidur lelap di sisi sofa. Di layar televisi besar, film bergenre thriller-mystery yang mereka tonton sedang mencapai puncak ketenangannya. Pendar cahaya dari layar sesekali mengubah nuansa warna di wajah Jungkook dan Mira, menciptakan bayangan sinematik yang indah di antara mereka.
Mira, yang tadinya mengantuk, mendadak terpaku penuh pada jalan cerita. Plot twist demi plot twist yang disajikan membuat matanya membelalak fokus, jemarinya tanpa sadar meremas ujung selimut rajut yang menutupi kakinya.
Jungkook yang duduk di sampingnya memiringkan kepala sedikit. Bukannya menatap layar TV, pandangan pria itu justru tertuju sepenuhnya pada ekspresi wajah Mira. Setiap kali adegan mengejutkan muncul, alis Mira bertaut rapat, dan ketika sang tokoh utama berhasil lolos dari bahaya, hembusan napas lega yang halus lolos dari bibir tipis gadis itu.
Bagi Jungkook, reaksi polos Mira jauh lebih menarik dibanding alur film mana pun.
DARRRR!!!!
Suara efek dentuman keras dari film mendadak menggelegar, disertai adegan mengejutkan yang muncul tiba-tiba.
"Ah!" Mira terlonjak kaget. Secara refleks, gadis itu meraih lengan baju mantel rumah yang dikenakan Jungkook dan mencengkeramnya erat, menyembunyikan sebagian wajahnya di balik bahu tegap pria itu.
Jungkook sempat terkejut sejenak. Sentuhan mendadak dan jarak yang terkikis begitu cepat membuat napasnya tertahan. Namun, alih-alih menjauh, Jungkook justru menggerakkan jemari tegapnya secara alami untuk mengusap punggung tangan Mira yang masih mencengkeram lengannya.
"Tidak apa-apa, itu cuma film," bisik Jungkook dengan suara yang teramat dalam dan lembut, tepat di samping telinga Mira.
Sensasi hangat dari jemari Jungkook yang mengusap tangannya seketika mengalihkan seluruh fokus Mira dari film. Gadis itu perlahan mengangkat kepalanya dari bahu Jungkook.
Manik mata mereka bertabrakan dalam jarak yang teramat dekat.
Di bawah pendar kebiruan dari layar televisi, Mira bisa melihat betapa jernihnya pantulan dirinya di dalam manik mata gelap Jungkook. Ada rasa penasaran mendalam yang akhirnya mendorong Mira untuk menyuarakan ganjalan di dadanya.
"Oppa..." panggil Mira lirih, hampir berupa bisikan.
"Mmm?" sahut Jungkook pelan, matanya menatap lekat manik mata Mira.
"Kenapa kau... selalu sebaik ini padaku?" tanya Mira jujur, menatap pria itu penuh harap.
"Apakah... karena Taehyung Oppa?"
Pertanyaan polos itu membuat Jungkook bungkam. Di dalam benak dan batinnya yang paling dalam, kejujuran itu bergaung begitu keras: Awalnya, mungkin iya. Tapi sekarang... aku melakukannya bukan hanya karena kau adiknya Taehyung, Kim Mira.
Namun, Jungkook buru-buru menekan perasaan asing yang mulai tumbuh di dadanya. Mengingat janji perlindungan pada Taehyung dan posisinya saat ini, Jungkook menarik napas pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sengaja ia buat sealami mungkin.
"Iya, tentu saja," ujar Jungkook akhirnya meluncurkan kebohongan manis dari bibirnya, suaranya terdengar hangat namun kembali berjarak. "Karena kau adiknya Taehyung... jadi kau ini juga seperti adikku sendiri."
ZAP.
Jawaban itu terucap begitu tegas, meremukkan sedikit pendar harapan yang sempat hinggap di dada Mira. Senyum di bibir Mira perlahan memudar, berganti dengan anggukan pelan yang dipaksakan.
"Ah... begitu ya," bisik Mira lirih, berusaha menyembunyikan rasa kecewa yang kembali menghujam dadanya.
Jungkook mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Mira pelan, sebuah gestur yang kini terasa murni seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya.
"Filmnya sudah mau selesai. Bersandarlah, kau harus beristirahat."
Mira tidak menjawab lagi. Ia hanya menurut, menyandarkan kepalanya perlahan di bahu tegap Jungkook dan memejamkan mata. Di bawah pendar cahaya televisi yang memudar, Mira mencoba menerima kenyataan itu rapat-rapt, sementara Jungkook tetap duduk membisu, menahan gejolak di dadanya sendiri dalam keheningan malam Paris.
Sinar matahari pagi membias lembut menembus celah gorden ruang tengah, membiaskan pendar keemasan di atas sofa. Di sana, Mira dan Jungkook masih terlelap dalam keheningan pagi.
Posisi mereka begitu dekat dan hangat; Mira tertidur pulas dengan kepala yang berbantalkan paha Jungkook, sementara satu tangan tegap Jungkook setengah melingkar di bahu gadis itu, mendekapnya secara refleks sepanjang malam untuk menghalau dingin.
Taehyung sudah bangun jauh lebih awal. Suara roda koper yang ditarik pelan di atas lantai kayu memecah keheningan apartemen.
Jungkook perlahan membuka matanya. Rasa pegal di leher dan lengannya seketika menguap saat pandangannya menangkap sosok Taehyung yang sudah rapi mengenakan mantel tebal, berdiri di dekat pintu dengan dua koper besar di sampingnya.
Jungkook hendak bergerak untuk bangun, namun Taehyung cepat-cepat menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Jungkook tetap diam di tempatnya.
Dengan langkah teramat pelan agar tidak menimbulkan suara, Taehyung mendekati sofa. Ia melirik adiknya yang masih terlelap tenang di paha Jungkook.
"Jangan bangunkan Mira," bisik Taehyung dengan suara teramat pelan, hampir berupa hembusan napas. Matanya yang biasanya jenaka kini tampak sedikit berkaca-kaca. "Aku akan naik taksi saja ke Charles de Gaulle."
Jungkook menatap sahabatnya penuh tanda tanya, lalu berbisik pelan, "Kau yakin tidak mau diantar? Kau bahkan belum pamit padanya."
Taehyung tersenyum getir, menggelengkan kepala pelan. "Kalau dia bangun dan mengantarku ke bandara... aku tidak akan sanggup meninggalkannya, Kook. Aku pasti menangis di depan adiku sendiri."
Taehyung membungkuk sebentar, merapikan selimut yang menutupi bahu Mira, lalu mengecup puncak kepala adiknya untuk yang terakhir kali sebelum pergi.
Ia memalingkan wajah, menahan air mata yang mulai mendesak di sudut matanya, lalu menatap Jungkook dengan raut penuh kepasrahan.
"Jaga dia untukku, Jungkook-ah," bisik Taehyung mantap.
Jungkook mengangguk pelan, memberikan tatapan yang sarat akan janji. "Hati-hati di jalan, Tae."
Tanpa mengeluarkankata lagi, Taehyung berbalik dan melangkah keluar secara perlahan. Suara dentur halus pintu apartemen yang tertutup menandai keberangkatan pria itu kembali ke Seoul.
Apartemen itu mendadak terasa jauh lebih luas dan sepi.
Kini tinggal tersisa Jungkook dan Mira di ruang tengah yang hening. Jungkook menghela napas panjang, lalu menurunkan pandangannya pada wajah gadis yang masih terlelap pulas di atas pahanya.
Deru napas Mira terdengar begitu teratur. Helaian rambut halus mengayun lembut di sekitar pipinya yang halus. Di bawah terpaan sinar matahari pagi, bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang sedikit terbuka membuat paras cantiknya terlihat begitu polos dan rapuh.
Jungkook menghentikan gerakannya.
Sensasi hangat dari jemarinya yang masih melingkar di bahu Mira mendadak terasa begitu membakar. Sebuah perasaan asing, getaran yang jauh lebih dalam, pekat, dan membahayakan, perlahan menyusup dan mengalir deras di dalam dadanya.
Kata-katanya semalam tentang "kau sudah seperti adikku sendiri" mendadak terasa bagai duri yang menusuk batinnya sendiri. Saat menatap bibir dan garis wajah Mira dari jarak sedekat ini, Jungkook sadar betul... tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang menginginkan gadis ini menjadi seorang adik.
Jungkook membisu, menahan napasnya sendiri seraya meremas selimut Mira pelan, menyadari bahwa perjuangannya menjaga batasan di kota Paris ini baru saja dimulai.