Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.
Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.
Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Undangan Lagi
Hari-hari berlalu dengan tenang di dalam Sekte Surgawi Langit. Di dalamnya, waktu berjalan berbeda — energi roh yang pekat membuat setiap hari latihan terasa berharga berlipat ganda.
Di Puncak ke-10, Lin Yue duduk di bawah Pohon Roh. Tangan kanannya perlahan menyala dengan cahaya putih lembut.
Sistem telah memberitahunya — berkat pertumbuhan sekte, nama yang semakin dikenal, dan keadilan yang ditegakkan, misi tersembunyi telah terpenuhi. Hadiah baru telah tiba.
Sistem:
[ MISI TERSELESAI — SEKTE DIKENAL & DIHORMATI ]
~~HADIAH:
• Formasi Pelindung Sekte — diperkuat ke tingkat tertinggi. Orang luar tidak bisa melihat ke dalam, tidak bisa masuk tanpa izin, dan tidak bisa merasakan kekuatan siapa pun di dalamnya.
• Batu Komunikasi Utama — terhubung dengan semua murid dan tetua. Pesan bisa dikirim ke seluruh puncak dalam sekejap.
• Peningkatan aula dan tempat tinggal — energi roh di setiap puncak meningkat dua kali lipat.
Lin Yue mengangguk pelan. Cahaya di sekelilingnya menyebar perlahan ke seluruh sepuluh puncak gunung.
Dari luar, orang-orang hanya melihat kabut tebal yang tiba-tiba menyelimuti seluruh puncak gunung, begitu pekat hingga tidak bisa melihat apa pun di dalamnya.
Bahkan mereka yang memiliki kekuatan tinggi pun hanya merasakan keheningan yang mendalam, seolah gunung itu sendiri telah menghilang dari dunia.
Di dalam sekte, suasana justru semakin cerah dan hidup. Para murid pelataran luar dan dalam merasakan energi roh yang tiba-tiba menjadi jauh lebih pekat dan murni. Mereka semua berhenti berlatih sejenak, menatap ke arah Puncak ke-10 dengan rasa hormat dan kagum.
"Kekuatan Sekte Surgawi Langit... semakin dalam setiap harinya," ucap salah satu murid pelataran dalam dengan penuh kekaguman. "Kita benar-benar berada di tempat yang luar biasa."
***
Di Aula Tetua, sebelas Tetua berkumpul setelah merasakan perubahan itu. Mo Yuan, Tetua Agung, berdiri di depan mereka dengan wajah penuh hormat.
"Ketua Sekte telah memperkuat sekte kita," ucapnya pelan namun tegas. "Mulai hari ini, tidak ada yang bisa masuk tanpa izin sekuat apapun orangnya. Tidak ada yang bisa mengintip. Dan tidak ada yang bisa memaksa masuk. Ini adalah perlindungan bagi kita semua."
Bai Yuan mengangguk setuju. "Namun perlindungan ini bukan berarti kita bisa bersantai. Justru sebaliknya — semakin kuat sekte kita, semakin banyak mata yang memandang dengan rasa iri dan takut. Kita harus siap setiap saat."
Mo Yuan menatap mereka satu per satu. "Benar. Maka perintah Ketua Sekte — mulai hari ini, dua Tetua akan berjaga di gerbang utama setiap waktu. Dua lainnya akan berkeliling di setiap puncak untuk memastikan semuanya aman. Dan semua murid inti wajib berlatih di Menara Kultivasi setidaknya dua jam setiap hari. Kekuatan adalah perlindungan terbaik."
Semua Tetua mengangguk patuh. Mereka tahu bahwa ancaman dari luar semakin dekat. Sekte Awan Tinggi dan Kerajaan Langit Biru tidak akan diam selamanya. Namun selama sekte ini bersatu dan kuat, tidak ada yang bisa menaklukkan mereka.
Sementara itu, di Puncak ke-10, Lin Yue berdiri menatap ke arah kabut tebal yang menyelimuti gunung.
Dia tahu bahwa di luar sana, banyak orang sedang menunggu kelemahan sekte ini. Namun ia juga tahu bahwa sekte ini dibangun di atas fondasi yang kokoh — keadilan, ketulusan, dan persatuan.
"Kita tidak menyerang siapa pun," ucapnya pelan pada diri sendiri. "Tapi jika ada yang berani menyerang kita... mereka akan menyesal telah melakukannya."
...----------------...
Beberapa bulan berlalu setelah formasi pelindung diperkuat. Suatu pagi, tanpa peringatan sebelumnya, seorang utusan datang ke gerbang Sekte Surgawi Langit.
Itu adalah Tetua Ming dari Sekte Awan Tinggi. Ia berdiri di depan gerbang giok yang megah itu, menatap kabut putih yang tak bisa ditembus, lalu mengeluarkan sebuah gulungan sutra emas.
Tiba-tiba, suara terdengar jelas di telinganya tanpa ada siapa pun yang terlihat. "Tetua Ming. Apa tujuanmu datang ke sini?"
Tetua Ming menekan rasa takutnya, lalu berbicara dengan nada yang tetap sopan namun tegas. "Aku datang atas nama Ketua Sekte Awan Tinggi. Sekte kami mengundang Ketua Sekte Surgawi Langit untuk hadir dalam pertemuan persahabatan dan pertukaran ilmu, yang akan diadakan di aula utama kami tujuh hari dari sekarang. Ini adalah undangan resmi dari sekte terbesar di benua ini."
Ia mengangkat gulungan sutra emas itu tinggi-tinggi. Sebuah tangan tak terlihat mengambilnya perlahan dari tangannya.
Suara itu kembali terdengar, tenang dan tanpa emosi. "Undangan diterima. Katakan pada Ketua Chang — kami akan mengirim perwakilan."
Tetua Ming mengangguk hormat. "Terima kasih. Kami menunggu kedatangan tamu."
Ia berbalik pergi. Sepanjang jalan kembali, ia tidak berbicara apa pun. Namun ekspresinya sulit dibaca — tidak senang, tidak pula sedih. Siapa pun yang melihatnya hanya bisa menebak bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik undangan itu.
***
Di dalam sekte, Lin Yue berdiri di depan para Tetua di Aula Utama. Di atas meja batu itu tergeletak gulungan sutra emas undangan tersebut.
Mo Yuan, Tetua Agung, berdiri di sampingnya dengan wajah penuh pertimbangan.
"Mereka tiba-tiba mengirim undangan tanpa alasan yang jelas," ucap Mo Yuan pelan. "Pertemuan persahabatan... namun datangnya begitu tiba-tiba. Ada sesuatu yang membuat hati tidak tenang."
Lin Yue menatap gulungan itu sejenak, lalu mengangkat wajahnya. "Kita tidak bisa menolak begitu saja. Itu akan membuat mereka menyebarkan berita bahwa kita takut dan menghindar. Rakyat akan berpikir kita tidak percaya diri. Kita harus pergi."
"Kalau begitu, siapa yang akan mewakili sekte ini?" tanya Tetua lainnya.
"Bai Yuan yang akan pergi," ucap Lin Yue dengan keputusan yang mantap. "Bawa dua Tetua lainnya sebagai pendamping. Tunjukkan kepada mereka bahwa kita datang dengan damai, namun kita juga tidak takut menghadapi apa pun yang terjadi."
Bai Yuan melangkah maju dan menangkupkan tangan. "Siap, Ketua Sekte. Aku akan pergi."
Lin Yue melangkah mendekat, suaranya menjadi lebih lembut namun penuh wibawa. "Pergilah dengan tenang. Jangan duluan memulai pertikaian. Namun tetaplah waspada. Di mana pun kau berada, ingatlah bahwa nama Sekte Surgawi Langit tidak boleh direndahkan oleh siapa pun."
"Aku tidak akan melupakan pesan Ketua" jawab Bai Yuan dengan penuh keyakinan.
...----------------...
Tujuh hari berlalu dalam keheningan yang penuh ketegangan. Di Sekte Awan Tinggi, aula utama telah disiapkan dengan sangat megah.
Bendera-bendera warna awan biru dikibarkan di mana-mana. Meja-meja batu diatur rapi, dan buah-buahan serta teh terbaik sudah tersedia.
Namun di balik kemegahan itu, suasana terasa berat dan penuh ketegangan. Para tetua dan murid yang hadir saling bertukar pandang, seolah-olah semuanya sedang menunggu sesuatu yang besar terjadi — namun tidak ada yang tahu persis apa itu.
Sementara itu di Sekte Surgawi Langit, suasana tetap tenang dan damai. Bai Yuan menyiapkan pakaian resminya — jubah putih bersih dengan lis emas.
Ia juga membawa beberapa buah persik roh dan teh pencerahan sebagai hadiah jika diperlukan.
Tidak ada persiapan yang dan tidak ada kekhawatiran yang berlebihan. Ketenangan itu sendiri adalah kekuatan terbesar mereka.
Dan di puncak tertinggi, Lin Yue menatap ke arah kejauhan. Ia tidak tahu persis apa yang sedang dipikirkan oleh pihak lain. Namun ia tahu satu hal — apa pun yang terjadi, Sekte Surgawi Langit tidak akan mundur.
"Biarkan mereka menyiapkan apa pun," ucapnya pelan pada diri sendiri. "Yang datang membawa damai akan disambut dengan damai. Tapi yang datang membawa niat buruk... akan menghadapi keadilan."
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥