Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahta yang Belum Bertuan
Sejak kembali dari Swiss, Amara menemukan dirinya lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerja daripada biasanya. Bukan karena pekerjaan perusahaan sedang menumpuk atau ada masalah yang harus segera diselesaikan, melainkan karena sebuah pertanyaan yang sudah beberapa hari berputar di kepalanya belum juga menemukan jawaban yang membuatnya merasa tenang.
Di hadapannya terbuka beberapa dokumen lama yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan di balik lemari besi. Nama-nama perusahaan, struktur kepemilikan, jaringan bisnis yang tersebar di beberapa negara, hingga catatan mengenai aset yang bahkan tidak pernah diketahui sebagian besar keluarganya tersusun dalam beberapa lapisan. Semua itu adalah bagian dari kehidupan yang dibangun Amara dengan waktu, keputusan sulit, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Namun semakin lama ia melihat angka-angka tersebut, semakin jelas bahwa yang sedang ia pikirkan bukan lagi tentang berapa besar kekayaan yang dimilikinya, melainkan apa yang akan terjadi terhadap semuanya ketika suatu hari nanti ia tidak lagi berada di sana untuk mengendalikannya.
Leon masuk tanpa banyak suara dan langsung memahami apa yang sedang dikerjakan istrinya. Ia tidak bertanya terlalu cepat. Setelah menuangkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri, ia duduk di sofa yang berhadapan dengan meja kerja Amara dan membiarkan perempuan itu menyelesaikan pikirannya.
“Aku sedang memikirkan warisan,” kata Amara akhirnya.
Leon mengangkat pandangan dari cangkirnya. “Aku sudah menduga.”
Amara tersenyum tipis. “Kelihatan sekali?”
“Kalau kau mulai membuka dokumen yang sudah tidak disentuh selama bertahun-tahun, biasanya ada sesuatu yang sedang kau pikirkan.”
Amara kembali melihat lembaran di hadapannya. “Aku tidak ingin semua yang kubangun berhenti hanya karena aku sudah tidak ada.”
“Lalu kau ingin memberikannya kepada siapa?”
Pertanyaan itu membuat Amara diam cukup lama. Ia sudah memiliki beberapa nama di kepalanya, tetapi tidak satu pun terasa cukup sederhana untuk dijadikan jawaban. Arsen memiliki kemampuan bisnis yang sangat kuat dan memahami dunia perusahaan lebih baik daripada kebanyakan orang seusianya. Raka memiliki kecerdasan hukum dan kemampuan membaca situasi politik yang membuatnya mampu melindungi kepentingan keluarga dari sisi yang berbeda. Sementara Nayla berada di jalur yang sama sekali lain.
Nayla adalah seorang dokter, dan Amara tidak pernah berniat menyeret putrinya ke dalam dunia yang selama ini ia sendiri berusaha sembunyikan dari anak-anaknya. Perempuan itu memiliki kehidupan yang dipilihnya sendiri, pekerjaan yang berhubungan dengan manusia dan kehidupan, serta hati yang terlalu lembut untuk dipaksa memahami permainan kekuasaan yang penuh kecurigaan dan pengkhianatan. Jika suatu hari Nayla menerima sesuatu dari Amara, itu tidak akan berupa bagian dari kerajaan bayangan yang selama ini dijaga dengan begitu ketat.
“Nayla tidak akan masuk ke dalam urusan ini,” ujar Amara.
Leon mengangguk. “Aku juga tidak pernah berpikir begitu.”
“Dia dokter. Biarkan dia menjadi dokter. Aku tidak ingin dia membawa beban yang bukan miliknya.”
Ada ketenangan dalam suara Amara ketika mengatakannya. Ia tidak sedang meremehkan kemampuan putrinya. Justru sebaliknya, ia menghargai pilihan hidup Nayla dengan cara yang sama seperti ia menghargai pilihan Arsen dan Raka. Setiap anak tidak harus mewarisi bagian yang sama hanya karena lahir dari keluarga yang sama.
“Arsen mungkin bisa menjaga perusahaan utama,” lanjut Amara sambil merapikan beberapa dokumen. “Raka bisa menangani sisi hukum dan hubungan strategis. Tetapi aku tidak ingin membagi semuanya hanya berdasarkan siapa yang paling dekat denganku.”
Leon tersenyum kecil. “Kau ingin melihat siapa yang benar-benar mampu.”
“Bukan hanya mampu. Aku ingin melihat siapa yang mengerti apa arti memiliki kekuasaan.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali tenang. Amara tahu, kekayaan bisa diberikan dalam bentuk saham, perusahaan, tanah, rekening, atau aset yang jumlahnya dapat dihitung. Namun kekuasaan jauh lebih berbahaya. Ia bisa membuat seseorang merasa berhak atas kehidupan orang lain hanya karena memiliki cukup banyak uang dan orang yang bersedia tunduk.
Itulah sebabnya Amara tidak ingin warisannya berubah menjadi alasan bagi keluarganya untuk saling bersaing.
Sementara pembicaraan itu berlangsung, kehidupan keluarga mereka berjalan seperti biasa. Arsen tetap sibuk dengan perusahaan yang berada di bawah tanggung jawabnya, sedangkan Raka mulai memperluas jaringan profesionalnya melalui bidang hukum dan hubungan internasional. Nayla sendiri hampir tidak pernah menyentuh pembicaraan mengenai bisnis keluarga yang bersifat rahasia. Sebagian besar waktunya tetap dihabiskan dengan profesinya sebagai dokter, dan ketika ia berada di rumah, pikirannya lebih sering tertuju pada pasien daripada angka-angka perusahaan.
Kael memiliki jalannya sendiri. Perusahaan keluarga yang dahulu berada di bawah kendali keluarganya telah diambil alih Amara dan kemudian diberikan kepadanya sebagai bentuk kepercayaan. Kael tidak menyia-nyiakannya. Ia memilih tetap tinggal di Indonesia bersama Nayla dan menjalankan sebagian besar urusan perusahaan dari sana melalui rapat daring dengan jajaran direksi di Italia. Sesekali, ketika keadaan membutuhkan pemeriksaan langsung, ia mengajak Nayla melakukan perjalanan ke Italia untuk melihat perkembangan perusahaan dari dekat.
Amara menyukai keputusan itu. Kael tidak menggantungkan hidupnya pada kekayaan keluarga Amara. Ia memiliki sesuatu yang harus dijaga dengan tangannya sendiri.
Dan bagi Amara, itu jauh lebih berarti daripada sekadar nama yang tercantum di atas dokumen kepemilikan.
Beberapa hari kemudian, Amara mengundang Arsen dan Raka ke ruang kerjanya. Nayla juga ikut datang karena Amara tidak ingin ada satu pun anaknya yang merasa sengaja dikeluarkan dari pembicaraan keluarga, tetapi sejak awal sudah jelas bahwa pembicaraan itu bukan tentang menyerahkan dunia bawah tanah kepada mereka.
Ketiganya duduk berhadapan dengan Amara. Nayla bahkan sempat membawa beberapa catatan dari rumah sakit yang harus ia periksa setelah pertemuan selesai.
Amara tersenyum melihatnya. “Kau masih membawa pekerjaan?”
Nayla mengangkat catatan itu. “Aku sedang menunggu hasil pemeriksaan pasien.”
“Kalau begitu, jangan terlalu lama di sini.”
Nayla tertawa kecil. “Ibu memanggil, masa aku pergi?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin pasienmu kalah penting dari urusan keluarga.”
Kalimat itu membuat Nayla tersenyum. Ia memang tidak pernah merasa perlu mengetahui seluruh sisi kehidupan Amara. Ada bagian-bagian tertentu yang cukup ia percayakan kepada ibunya dan kedua kakaknya. Selama keluarga mereka baik-baik saja, Nayla memilih menjalani hidupnya sendiri.
Amara kemudian mulai berbicara.
“Aku sedang memikirkan apa yang akan terjadi pada semua yang sudah kubangun nanti.”
Arsen dan Raka langsung memahami arah pembicaraan itu. Nayla hanya mendengarkan.
“Aku tidak ingin kalian melihat warisan sebagai hadiah,” lanjut Amara. “Kalau suatu hari nanti sebagian dari semua ini menjadi tanggung jawab kalian, kalian harus mengerti bahwa yang kalian terima bukan hanya aset. Kalian menerima konsekuensi dari setiap keputusan yang dibuat atas nama keluarga ini.”
Arsen menatap ibunya dengan serius. “Ibu sudah menentukan?”
“Belum.”
Raka tersenyum tipis. “Aku kira Ibu sudah punya daftar.”
“Aku punya beberapa pertimbangan. Itu berbeda.”
Nayla menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Aku tidak ikut, kan?”
Amara langsung tersenyum.
“Tidak.”
“Syukurlah.”
Arsen tertawa kecil. Raka ikut tersenyum. Bahkan Leon yang berdiri di dekat jendela tidak bisa menahan tawanya.
Nayla mengangkat bahu. “Aku sudah cukup sibuk menyelamatkan orang tanpa harus ikut menyelamatkan kerajaan Ibu.”
Amara menatap putrinya dengan lembut. “Dan Ibu ingin kau tetap begitu.”
Tidak ada yang merasa tersinggung. Justru pembicaraan itu terasa lebih ringan karena setiap orang memahami bahwa kehidupan mereka memang tidak harus berjalan di jalur yang sama.
Setelah Arsen, Raka, dan Nayla meninggalkan ruangan, Amara kembali duduk bersama Leon. Ia memandang pintu yang baru saja tertutup, kemudian mengembuskan napas perlahan.
“Aku tidak tahu apakah aku sudah memilih dengan benar.”
Leon mendekat dan duduk di sampingnya. “Kau tidak harus memilih hari ini.”
“Benar.”
“Anak-anakmu masih punya banyak waktu untuk menunjukkan siapa mereka.”
Amara tersenyum kecil. “Itu yang ingin kulihat.”
Sementara itu, di rumah Martha dan Daniel, dua anak yang beberapa waktu lalu ikut menikmati perjalanan ke Swiss justru sedang sibuk menikmati hal yang jauh lebih sederhana.
Susan duduk di ruang keluarga sambil membuka album foto perjalanan mereka. Gilberth berada di lantai dengan beberapa oleh-oleh yang belum sempat ia rapikan. Setelah dua minggu bersama keluarga besar, keduanya akhirnya pulang ke rumah orang tua mereka sendiri.
Martha baru selesai bekerja ketika mendapati kedua anaknya sudah menunggunya di rumah. Wajahnya langsung berubah ketika Susan memeluknya dari samping.
“Kangen,” ujar Susan.
Martha tertawa sambil membelai rambut putrinya. “Baru dua minggu.”
“Dua minggu itu lama.”
Gilberth yang sedang membuka tas ikut menyela. “Aku juga kangen.”
Daniel yang baru datang dari tugasnya langsung tertawa ketika mendengar itu.
“Padahal selama di rumah Amara kalian tidak pernah bilang kangen.”
Gilberth menatap ayahnya.
“Karena kami sibuk.”
“Sekarang?”
“Sekarang sudah pulang.”
Daniel merangkul putranya. Martha hanya tersenyum melihat keduanya. Rumah itu memang tidak sebesar mansion Amara, tidak memiliki staf sebanyak keluarga mereka yang lain, dan tidak dikelilingi kemewahan yang biasa melekat pada kehidupan Amara. Namun bagi Susan dan Gilberth, ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh tempat semewah apa pun.
Mereka merindukan orang tua mereka. Dan malam itu, untuk sementara, dunia Amara terasa jauh.
Di rumah utama, Amara masih menatap dokumen warisan yang belum selesai ia susun. Ia kemudian mengambil satu lembar kosong dan menuliskan beberapa nama, tetapi tidak memberi angka, jabatan, atau jumlah saham di sampingnya.
Ia hanya menulis satu kalimat.
Siapa yang mampu menjaga keluarga tanpa kehilangan dirinya sendiri?
Amara menatap tulisan itu cukup lama sebelum meletakkan pena.
Leon berdiri di belakangnya.
“Sudah?”
“Belum.”
“Lalu?”
Amara tersenyum.
“Sekarang aku tahu apa yang harus kulihat.”
Ia menutup map tersebut dan menyimpannya kembali.
Warisan itu belum dibagikan. Tidak ada keputusan final, tidak ada pengumuman, dan tidak ada perebutan kekuasaan yang harus dimulai malam itu. Amara hanya sedang membuka sebuah perjalanan baru bagi keluarganya—perjalanan yang kelak akan menentukan siapa yang mampu membawa nama besar itu tanpa menjadikannya alasan untuk kehilangan hati.
Dan di tempat lain, Martha sedang menyiapkan makan malam untuk anak-anaknya, sementara Daniel bercerita tentang kejadian lucu di tempat kerja. Susan tertawa, Gilberth ikut menyela, dan rumah sederhana itu kembali dipenuhi percakapan yang sudah lama mereka rindukan.
Amara tidak tahu kapan warisan itu akan benar-benar berpindah tangan. Namun satu hal sudah ia putuskan. Ia tidak akan meninggalkan kekuasaan kepada orang yang hanya tahu cara menggunakannya. Ia ingin meninggalkannya kepada mereka yang mengerti kapan harus melepaskannya.
Dan mungkin, sebelum semua urusan besar itu kembali mengambil ruang dalam hidupnya, ada satu hal yang jauh lebih sederhana yang ingin ia lakukan.
Membiarkan Martha dan Daniel menikmati perjalanan yang selama bertahun-tahun selalu mereka tunda.