Indonesia
NovelToon NovelToon
Dekat Namun Jauh

Dekat Namun Jauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

​"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."

​Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.

​Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIKLUS YANG MERENGGANG

Matahari pagi menyiram pelataran Istana Alveric dengan pendar keemasan yang hangat, memantul di atas pualam putih yang biasanya terasa begitu dingin dan kaku. Namun pagi ini, ada sesuatu yang bergeser di dalam kediaman megah tersebut. Dentang porselen dari ruang makan tak lagi terdengar seperti ketukan vonis, melainkan sekadar bunyi alat makan biasa.

Di ujung meja mahoni panjang, Alexander Alveric duduk tenang membaca koran bisnis pagi. Di sampingnya, Eleanor menuangkan teh tanpa suara yang menegang. Sementara itu, Aurora yang duduk di samping kursi kosong tempat Nayla biasa berada, perlahan memberanikan diri membuka suara.

"Ayah..." panggil Aurora halus, jemarinya meremas kain seragam sekolahnya.

Alexander menurunkan korannya perlahan, menatap putri bungsunya lewat kacamata bacanya. "Ya, Aurora?"

"Minggu depan... sekolah Aurora ada pameran karya fotografi," tutur Aurora dengan suara yang makin jelas, mencoba meniru keteguhan yang pernah ditunjukkan sang kakak. "Aurora mau ikut serta. Aurora tidak mau mengambil kelas privat bisnis tambahan di hari Sabtu."

Adrian dan Julian yang duduk berhadapan saling melirik sejenak. Suasana meja makan mendadak hening selama beberapa detik, menanti respons dari pimpinan klan.

Alexander memandangi Aurora cukup lama. Di dalam benaknya, terbayang kembali sosok Nayla yang berdiri tegak di galeri Menteng beberapa hari lalu—seorang putri yang tumbuh melebihi ekspektasi klan bukan karena paksaan, melainkan karena pilihan hidupnya sendiri.

Alexander menghela napas panjang, lalu melipat korannya rapi. "Atur jadwalmu dengan baik, Aurora. Jangan sampai nilai akademismu turun."

Aurora membelalak kaget sebelum akhirnya menyunggingkan senyum lebar yang tulus. "Terima kasih, Ayah!"

Eleanor menahan senyum harunya, melirik sang suami dengan binar mata yang melunak. Benteng kaku Alveric yang selama belasan tahun berdiri tanpa celah, kini perlahan melonggar—sebuah riak perubahan yang dibawa oleh keberanian Nayla.

Sementara itu, di sudut lain kota, sebuah mobil sedan hitam berhenti di tepi jalan dekat studio perumahan selatan. Kael Mahendra duduk di kursi belakang, memperhatikan bangunan kayu sederhana beratap ekspos di balik kaca mobil yang gelap.

Pintu mobil terbuka, dan Kael melangkah keluar sendirian tanpa dikawal. Langkah kakinya yang tenang membawanya mendekati teras studio tempat Zavier tengah memeriksa beberapa lembar berkas laporan Vanguard Capital.

Zavier yang mendengar langkah kaki familiar itu mengangkat kepalanya. Tidak ada raut terkejut atau panik di wajah Zavier saat mendapati sang Ayah berdiri dua meter di hadapannya.

"Papi," sapa Zavier datar namun tetap menyatukan rasa hormat yang wajar.

Kael berdiri menatap putra bungsunya. Manik mata sang pimpinan Mahendra menyapu sekeliling studio yang asri dan tenang, jauh dari kemewahan gedung pencakar langit yang biasa mereka huni.

"Kamu membangun tempat yang cukup kokoh di sini, Zavier," buka Kael dengan suara beratnya yang khas.

"Tempat ini dibangun dari keputusan mandiri, Pi. Bukan dari sisa pembagian aset," balas Zavier tenang, menyandarkan punggungnya pada tiang teras.

Kael menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman langka dari pria yang dikenal tanpa kompromi itu. "Raka dan Ethan butuh waktu lama untuk menyadarkan Papi bahwa Mahendra Group hampir kehilangan aset terbesarnya. Bukan karena Vanguard Capital, tapi karena Papi meremehkan caramu berpikir."

Zavier menatap ayahnya dalam diam, mendengarkan.

"Papi tidak akan memintamu kembali ke struktur direksi Mahendra Group," lanjut Kael mantap. "Tapi pintu konsorsium selalu terbuka jika Vanguard mau masuk sebagai mitra strategis yang sejajar. Bukan sebagai bawahan, tapi sebagai mitra."

Zavier menatap Kael lurus-lurus. Pengakuan dari pimpinan tertinggi klan Mahendra itu menjadi bukti sah bahwa perjuangannya mempertahankan prinsip dan melindungi Nayla telah membuahkan hasil yang bermartabat.

"Aku akan mempertimbangkan penawaran itu secara profesional, Pi," jawab Zavier rasional dan tegas.

Kael mengangguk pelan, merasa puas dengan jawaban putranya. Sebelum berbalik menuju mobilnya, Kael melirik ke arah pintu studio tempat Nayla berdiri memperhatikan mereka dari balik kaca.

"Titip salam untuk putri Alexander," ujar Kael pelan. "Lukisannya di galeri kemarin... dinilai sangat tinggi oleh beberapa rekan bisnis Papi."

Kael melangkah pergi, meninggalkan Zavier yang berdiri menatap kepergian mobil ayahnya dengan perasaan mantap.

Nayla melangkah keluar dari dalam studio, mendekati Zavier dan menyelipkan jemarinya ke dalam genggaman tangan pria itu.

"Papi Kael bilang apa, Zav?" tanya Nayla lembut.

Zavier memutar tubuhnya, menatap Nayla dengan binar mata yang penuh kehangatan dan rasa bangga. "Papi cuma menyampaikan bahwa takdir kita tidak lagi berada di bawah bayang-bayang mereka, Nay."

Nayla tersenyum lebar, menyenderkan kepalanya di bahu tegap Zavier. Di bawah naungan langit pagi yang cerah, dua klan besar yang pernah mengurung mereka kini tak lagi menjadi rantai, melainkan sekadar latar belakang dari kisah hidup baru yang mereka tulis bersama secara merdeka.

Napas angin pagi yang berembus pelan membawa aroma tanah basah dan dedaunan segar dari pekarangan studio, menyapu keheningan yang tersisa setelah kepergian mobil sedan Kael Mahendra. Langkah-langkah ketegangan yang bertahun-tahun mengikat mereka seolah ikut menguap bersama asap tipis teko kopi di atas meja teras.

Nayla mempererat genggaman tangannya di jemari Zavier, menyerap kehangatan yang tak pernah berubah dari pria di sampingnya. Pandangannya menerawang ke arah jalanan komplek yang lengang, membayangkan bagaimana roda takdir telah berputar begitu jauh hanya dalam hitungan bulan.

"Aku masih hampir tidak percaya, Zav," gumam Nayla halus, suaranya mengalun seperti bisikan lembut di tengah desir angin. "Ayah yang biasanya begitu dominan di rumah mulai mau mendengarkan Aurora, dan Papi Kael... Papi Kael yang terkenal tidak pernah mau mengalah, justru datang ke sini menawarkan kemitraan sejajar padamu."

Zavier memutar sedikit posisinya, memandang wajah ayu Nayla yang kini bersinar tanpa beban ketakutan lagi. Jemari tangannya yang lain terangkat, mengusap pelan pipi Nayla yang merona terkena terpaan sinar matahari pagi.

"Itu karena kita membuktikan bahwa kita bukan sekadar pemberontak tanpa arah, Nay," sahut Zavier dengan intonasi bass-nya yang mantap dan tenang. "Saat kita berani mengambil risiko, berdiri di atas kaki sendiri, dan menunjukkan hasil yang bernilai... orang-orang tua itu tidak punya pilihan selain menerima bahwa zaman kita telah berganti."

Nayla menyunggingkan senyum tulus, menengadah menatap manik mata kelam Zavier yang selalu menjadi muara ketenangannya. "Lalu, bagaimana dengan penawaran kemitraan Vanguard dan Mahendra Group? Apa kamu benar-benar akan menerimanya?"

Zavier terkekeh tipis—sebuah tawa pendek yang sangat matang dan rasional. "Hanya jika syarat-syarat yang kuberikan menguntungkan pihak kita secara independen. Aku tidak akan membiarkan Vanguard Capital terseret dalam intrik lama Papi. Sekarang, kendali ada di tangan kita, bukan di meja makan Mahendra."

Nayla tertawa renyah mendengar jawaban itu. Sifat penuh perhitungan Zavier memang tidak pernah hilang, namun kini sifat itu digunakan sepenuhnya untuk menjaga kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.

"Ayo masuk, Zav," ajak Nayla seraya menarik lembut tangan Zavier menuju pintu studio. "Hari ini pendaftaran online untuk jurusan Seni Rupa Murni resmi dibuka. Dan setelah itu... aku mau mulai menggoreskan kanvas ketiga."

Zavier melangkah mengiringi setiap pijakan Nayla, menyandarkan pintu kayu studio dan menguncinya dari dalam. Di dalam ruangan bersinding bata ekspos yang dipenuhi aroma cat minyak dan pendar cahaya keemasan itu, tidak ada lagi sekat-sekat klan atau tawar-menawar saham. Hanya ada dua jiwa yang telah meruntuhkan benteng masa lalu mereka, siap melangkah menyongsong tiap lembar hari baru dengan warna yang mereka pilih sendiri.

1
MULIANA 💦
lama-lama bosan juga nora. gak ada yang bahas kejadian lucu yang mungkin salah satu dari kalian alami
MULIANA 💦
saking dinginnya. bahkan mungkin dia gak ada ekspresi ya 🤭
Three Flowers
padahal lagi seru-serunya membahas tentang nasib mereka di keluarga masing-masing, eh keputus lagi komunikasi nya
Three Flowers
Zavier juga mencintai dalam diam kah?
Three Flowers
Nayla apakah jatuh cinta sama Zavier?
Three Flowers
berarti duduknya bersebelahan ya?
Mingyu gf😘
penasaran banget ada apa dengan nayla dan zaviet
Mingyu gf😘
apa mereka punya kenangan masa lalu yang membuat mereka pura pura tidak saling mengenal
Mingyu gf😘
waoww banyak juga anaknya
Mingyu gf😘
wahh krenn, dia bisa di katakan ahli It kan
Mingyu gf😘
waoww, apakah kehidupan orang kaya memang se menyeramkan itu
Sarifah_Aini97: entahlah kak
total 1 replies
Xlyzy
didikan nya berarti tidak ada yang gagal ya semua anak nyaemiliki karakteristik nya masingasing
Xlyzy
mirip banget Ethan sama bapak e ya sama sama tegas dan dingin
Filan
anggota keluarganya banyak-banyak ya...
Sarifah_Aini97: banyak anaknya
total 1 replies
Filan
ada perasaan apa nih.
Three Flowers
apakah mereka saling tertarik? tapi kelihatannya kedua keluarga bersaing ketat, inikah yang membuat mereka terasa jauh?
Three Flowers: ga sabar pingin lihat romansa mereka
total 2 replies
Three Flowers
karena peran seorang ibu adalah pemberi kesejukan bagi keluarganya
Miu.Nuha
mami tersenyum penuh arti itu tandany mami tahu akan perasaanmu tuh /Chuckle/ ugh! kek bunda maya ke Naru, hihi...
Sarifah_Aini97: Iya yah kak, kok bisa samaaan ya
total 1 replies
Lasa Hardianti
Jadi penasaran sebenarnya hubungan Zavier sma Nayla tuh apasih, apa mereka saling memiliki perasaan yah?😌
Sarifah_Aini97: Halo Kak Lasa! Rasa penasarannya dapet banget nih! 😌 Di antara rasa peduli, persahabatan, dan tekanan klan, perasaan mereka memang terikat sangat dalam. Yuk lanjut ikuti bab-bab berikutnya buat lihat perkembangan hubungan mereka! 🤗
total 1 replies
Miu.Nuha
aku suka yg dingin2 baik tapi
kekny zavier ini tipe aku 🤭
Sarifah_Aini97: bisalah gantiin Nayla 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!