Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Di Antara Dua Dunia
Hari-hari berjalan dengan ritme baru. Farhan — atau Raka di dokumen resmi — hidup di dua dunia sekaligus. Di kampus, teman-teman baru memanggilnya Raka. Di jalan, di kos, di rumah Bu Sari, di telepon ke kota asal — dia tetap Farhan. Dua panggilan, dua lingkungan, dua bagian dari satu orang yang sama.
Awalnya canggung. Kadang dosen panggil "Raka", dia diam sebentar sebelum sadar itu namanya. Kadang teman baru bertanya: "Farhan itu siapa? Nama panggilan lain ya?"
"Ya," jawabnya tenang. "Nama dari rumah. Nama yang dipakai orang-orang yang sayang sama saya."
Sore itu kita duduk di taman kampus, di bawah pohon rindang yang jadi tempat favorit. Dia buka buku, tapi matanya lihat ke kejauhan, bukan ke halaman.
"Pernah ngerasa terbelah gak?" tanyanya tiba-tiba. "Di sini satu cara, di sana cara lain. Di sini mereka kenal Raka yang serius dan tertutup. Di sana mereka kenal Farhan yang lebih santai dan banyak ketawa."
"Gue juga gitu kok," jawab gue pelan. "Di kampus Amira yang sibuk dan teguh pendirian. Di rumah Amira yang manja dan tenang. Di depan lo... Amira yang boleh lemah."
Dia menoleh, senyum tipis. "Jadi kita semua punya banyak versi ya?"
"Bukan versi yang berbeda. Bagian yang berbeda. Kayak buku — halaman depan beda sama halaman tengah, tapi tetap satu cerita." Gue tunjuk dadanya pelan. "Farhan dan Raka bukan dua orang yang berebut. Mereka dua bagian yang saling melengkapi."
"Gue berusaha. Jujur. Kadang capek." Dia hening sebentar, mainin rumput di sela jari. "Tadi Bu Sari telepon. Dia mau pindah kerja ke kota ini sepenuhnya bulan depan. Katanya mau mulai dari nol di sini. Bikin rumah baru."
"Itu bagus banget kan?"
"Bagus. Tapi di saat yang sama... Ibu angkat juga minta gue pulang liburan nanti. Katanya kangen." Dia tarik napas panjang. "Gue di antara dua rumah, dua Ibu, dua kehidupan. Gak mau kecewakan salah satu."
"Lo gak akan kecewakan mereka," kata gue yakin. "Karena mereka sayang lo. Dan orang yang sayang ngerti — lo gak bisa di dua tempat sekaligus. Tapi lo bisa kasih hati lo ke dua tempat sekaligus."
Malamnya, kita telepon bergantian. Pertama ke Bu Sari.
"Han... Raka," koreksi beliau pelan di seberang telepon. "Atau tetap Han. Ibu suka saja."
"Han aja, Bu." Farhan senyum ke arah gue. "Bu mau pindah ke sini ya?"
"Iya. Mulai lagi. Dekat anakku." Beliau diam sebentar. "Tapi kalau kamu merasa terganggu, bilang ya. Ibu gak mau membebani."
"Bu, kehadiran Bu itu bukan beban. Itu berkah." Dia jujur dan lembut. "Gue senang. Beneran. Tapi... gue juga masih punya rumah di kota lama. Ibu dan Bapak di sana. Gue harus ke sana juga."
"Pasti saja. Kamu punya dua rumah, Nak. Syukuri itu. Banyak orang bahkan tidak punya satu."
Setelah tutup telepon, dia pegang HP sebentar, lalu telepon ke rumah lama. Kali ini Bapak yang angkat.
"Pak... Bu Sari mau pindah ke kota ini."
Bapak diam sebentar. "Baiklah. Dekat anaknya, itu wajar."
"Bapak tidak keberatan?"
"Kenapa harus keberatan? Kamu tidak berkurang jadi anak kami karena ada ibu lain yang mendekat." Suara Bapak tenang dan bijaksana. "Kamu punya dua tempat pulang. Itu kemewahan, Nak. Bukan masalah."
"Terima kasih, Pak." Suaranya bergetar. "Saya akan sering pulang ke sini."
"Pulanglah kapan saja. Pintu selalu terbuka. Tapi jangan terburu-buru. Bangkitlah pelan-pelan di tempatmu sekarang."
Setelah telepon ditutup, Farhan sandarkan punggung ke dinding, napasnya lega banget. "Mereka luar biasa ya? Dua Ibu, dua Bapak — semua ngerti. Semua ngasih jalan."
"Karena mereka sayang lo lebih dari ego mereka sendiri."
Hari-hari berikutnya dia mulai menata ritme baru. Pagi belajar sebagai Raka, sore ketemu Bu Sari sebagai Farhan, malam telepon ke rumah lama sebagai anak kesayangan mereka. Di antara dua dunia itu, dia belajar menyeimbangkan — gak pilih salah satu, gak tinggalkan salah satu.
Suatu sore, kita jalan ke rumah Bu Sari. Beliau sedang menata kebun kecil di halaman.
"Silakan masuk, Nak. Amira." Beliau senyum ramah. "Nanti sore ada tamu lain."
Belum lama, pintu diketuk. Dan saat dibuka — Ibu angkat berdiri di sana, bawa keranjang buah. Di belakangnya Bapak tersenyum canggung tapi ramah.
Farhan berdiri mematung. "Bu... Pak... Kalian..."
"Saya kirim pesan ke Ibu Sari kemarin," kata Ibu angkat lembut. "Berkunjung sebelum pindahan. Supaya tidak canggung nanti."
Bu Sari tersenyum, ulurkan tangan. "Selamat datang. Silakan masuk."
Malam itu makan malam di rumah Bu Sari — empat orang dewasa yang dulu mungkin asing dan berat, sekarang duduk melingkar di meja yang sama. Cerita tentang sekolah, tentang kota baru, tentang rencana masa depan. Gak ada tegang, gak ada cemburu. Hanya damai.
"Kami berbagi satu hal terindah di dunia ini," kata Bu Sari pelan saat makan berlangsung. "Anak laki-laki yang luar biasa."
Ibu angkat mengangguk lembut. "Iya. Dua ibu, satu anak. Cukup untuk saling melengkapi."
Di sudut ruangan, Farhan pegang tangan gue di bawah meja. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya paling bahagia yang pernah gue lihat.
Setelah mereka pulang, kita jalan pelan-pelan kembali ke kos. Langit malam jernih, bintang terang satu-satu.
"Lo tau gue baru sadar?" buka dia pelan. "Dulu gue pikir di antara dua dunia harus pilih satu. Ternyata gak harus. Gue bisa hidup di dua tempat, dicintai dua cara, dan tetap jadi satu orang."
"Dunia gak cuma punya satu tempat buat lo, Han. Dunia luas banget. Dan hati orang baik lebih luas lagi."
Dia berhenti di bawah lampu jalan, natap gue dalam-dalam. "Gue punya dua rumah. Tapi cuma satu tempat di mana gue mau bangun rumah sendiri."
Gue senyum, pipi terasa hangat. "Di mana?"
Dia genggam tangan gue erat. "Di mana pun lo ada."
Malamnya, di buku catatan gue tulis:
"Farhan hidup di dua dunia. Di satu dia Raka — anak yang pulang ke asalnya. Di satu dia Farhan — anak yang tumbuh di kasih sayang baru. Dua nama, dua rumah, dua Ibu. Tapi satu hati. Dan di antara dua dunia itu, dia menemukan — dia gak harus terbelah. Dia bisa utuh. Karena cinta sejati gak pernah menuntut memilih. Cinta sejati menampung semua."
"Dan di tengah semua itu... dia memilih satu arah. Satu orang. Satu masa depan. Di mana pun itu."
Pesan masuk dari Dimas:
"Dengar kabar Bapak Ibu berkunjung ke sana. Bagus, Han. Dunia bukan garis lurus yang harus dipilih. Dunia lingkaran. Semua yang sayang lo akhirnya berkumpul di satu titik."
Gue tunjuk ke Farhan. Dia senyum, ketik balas:
"Benar. Dan di titik itu... ada kita semua."