Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di kantor Desa
"Kamu yakin dia bakal datang, RT?" tanya Pak Ban seraya mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja kayu. "Jangan-jangan uang sepuluh juta semalam itu uang hasil merampok, dan sekarang orangnya sudah kabur dari desa ini!"
"Yakin, Pak Kades!" sahut Pak RT seraya mengusap keringat di lehernya. "Gaya bicaranya semalam itu sombong sekali! Katanya mau membawa pihak berwenang dari kabupaten segala!"
"Halah, gertak sambal itu!" cibir Sukri, mengibaskan tangannya. "Preman pasar mana punya kenalan pejabat kabupaten? Paling-paling nanti dia datang cuma bawa KTP palsu dari calo jalanan!"
Tepat saat jam dinding besar di ruangan itu berdentang sembilan kali (DENG! DENG! DENG) suara deru mesin mobil yang halus dan berkelas mendadak terdengar memasuki halaman balai desa.
Suara kasak-kusuk warga di luar seketika terhenti.
Dua unit mobil SUV berpelat hitam mengilap dengan kaca gelap membelah kerumunan warga, berhenti sangat presisi tepat di depan teras utama kantor desa.
Pintu mobil pertama terbuka, dan dua orang pria bertubuh tegap mengenakan kemeja batik resmi serta membawa map tebal turun terlebih dahulu. Mereka bergerak cepat membukakan pintu penumpang belakang mobil kedua.
Dari dalam SUV mengilap itu, melangkah keluar Devan.
Hari ini, Devan sama sekali tidak mengenakan kemeja denim kusam atau kaus oblong putih. Pria itu tampil sangat gagah dan berwibawa mengenakan kemeja batik tulis lengan panjang motif mega mendung bernuansa biru gelap, dipadu dengan celana kain hitam dan sepatu pantofel mengilap.
Tato naga di lehernya masih terlihat samar di balik kerah kemeja yang tertata rapi, namun aura kelam sebagai preman pasar telah sirna sepenuhnya, berganti dengan wibawa seorang pimpinan tertinggi yang dingin dan tak tersentuh.
Devan berbalik, mengulurkan tangannya ke dalam mobil. Dari pintu yang sama, Devi melangkah turun dengan anggun. Gadis itu mengenakan gamis kain berwarna krem dengan jilbab bergo senada yang bersih dan rapi. Wajahnya yang biasa muram kini memancarkan ketenangan, menggandeng lengan Devan dengan penuh kepercayaan diri.
Di belakang mereka, sebuah sepeda motor tua menyusul masuk. Raka dan Pak Suryo turun dari motor tersebut. Pak Suryo mengenakan kemeja batik lamanya yang paling rapi, berjalan perlahan dengan mata berkaca-kaca menatap menantunya.
Warga desa yang menyemut di halaman mendadak bungkam seribu bahasa. Bisik-bisik cemoohan yang tadinya siap meledak tertahan di tenggorokan masing-masing.
Mereka melotot tak percaya melihat penampilan Devan yang begitu berkelas serta armada mobil mewah yang mengawalnya.
"I-itu ... itu suaminya Devi?" bisik salah seorang ibu-ibu di barisan depan dengan mata membelalak. "Kok gagah banget kayak pejabat dari Jakarta?!"
Devan tidak memedulikan tatapan takjub warga. Ia menuntun Devi melangkah naik menaiki tangga teras balai desa, diikuti oleh dua staf tegap berkemeja batik yang membawakan berkas.
TOK! TOK! TOK!
Salah satu staf Devan menggetok pintu kantor kades, lalu membukanya lebar-lebar.
Devan melangkah masuk ke dalam ruangan berpenerangan lampu neon tersebut. Matanya yang tajam bak elang menyapu tiga pria yang berdiri di dalam ruangan: Pak Kades, Pak RT, dan Sukri.
Pak Kades Badri refleks berdiri dari kursi kebesarannya. Perut buncitnya menegang, matanya membelalak kaku menatap Devan dan rombongannya. Rasa tidak enak mendadak menusuk ulu hatinya saat melihat dua staf tegap yang berdiri di belakang Devan, pria tua itu mengenali pin emas kecil di kerah kemeja kedua staf tersebut, lambang khusus dari Sekretariat Daerah Kabupaten.
"Selamat pagi, Pak Kades," Devan membuka suara. Suaranya bernada rendah, berat, dan memancarkan tekanan wibawa yang membuat ruangan terasa menyempit.
Pak Kades menelan ludahnya yang terasa sesak, membetulkan tata letak kacamatanya yang agak melorot. "S-selamat pagi ... Anda ... Anda Devan?"
"Benar," jawab Devan pendek. Ia menarik sebuah kursi kayu berukir tanpa minta izin, lalu mempersilakan Devi dan Pak Suryo duduk terlebih dahulu sebelum ia sendiri berdiri tegap di samping istrinya.
Sukri yang masih berusaha keras menjaga gengsinya melangkah maju dengan muka dipasang garang. "Mana dokumen resmi KTP dan surat kepolisianmu?! Jangan cuma pamer mobil sewaan di halaman balai desa!"
Staf tegap yang berdiri di sebelah Devan, yang tak lain adalah Hendra yang mengenakan pakaian sipil, melangkah maju satu tapak. Hendra menatap Sukri dengan pandangan dingin yang mematikan, lalu membuka map tebal berwarna merah tua berkode rahasia negara di atas meja kerja Pak Kades.
STAP!
Hendra mengeluarkan tiga lembar dokumen berstempel basah berlogo Garuda Emas, disusul dengan sebuah surat keputusan bertanda tangan Gubernur dan Kapolda Jawa Tengah.
"Silakan diperiksa, Bapak Kepala Desa yang terhormat," ucap Hendra dengan nada suara yang sangat formal dan dingin.
Pak Kades Badri dengan tangan yang mulai bergetar hebat menarik dokumen-dokumen tersebut ke dekat matanya. Pak RT dan Sukri ikut menundukkan kepala, memicingkan mata membaca baris demi baris tulisan resmi di atas kertas tebal tersebut.
Begitu mata Pak Kades membaca baris pertama lembar identitas resmi, wajahnya yang gemuk seketika berubah warna, dari kemerahan menjadi pucat pasi seperti kertas minyak.
[ NAMA: DEVAN PRATAMA
PANGKAT/NRP: KOLONEL (INF) / 110829381
JABATAN: DIREKTUR INVESTIGASI DAN INTELIJEN KHUSUS / KOMANDAN SATGAS BERSAMA PEMBASMIAN MAFIA TANAH
NAMA PERUSAHAAN: PRATAMA HOLDINGS GROUP (PRESIDEN KOMISARIS)
]
JLEG!
Kacamata Pak Kades Badri melorot jatuh ke atas meja. Napas pria tua itu mendadak tersengal-sengal panik, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya yang memegang kertas dokumen itu gemetar begitu hebat hingga menimbulkan suara kelepak kertas yang nyaring.
Pak RT yang ikut membaca tulisan KOLONEL TNI dan PRESIDEN KOMISARIS mendadak lemas di tempat. Lututnya menabrak tepi meja kayu, hampir saja roboh jika tidak ditahan oleh Sukri yang wajahnya sudah berubah kelabu bagaikan abu rokok.
"K-K-Kolonel...?" bisik Pak Kades dengan suara yang nyaris tak terdengar, tenggorokannya benar-benar terkunci oleh ketakutan yang dahsyat. "P-Pimpinan Satgas ...?"
Devan menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia melangkah satu tapak mendekati meja kerja Pak Kades, menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajahnya berjarak hanya setengah meter dari wajah Pak Kades yang bersimbah keringat dingin.
"Gimana, Pak Kades?" bisik Devan dingin, senyum tipis yang amat mengerikan terukir di sudut bibirnya. "Dokumen identitas resmi saya cukup valid untuk menjadi warga Dukuh Parang? Atau perlu saya panggilkan Kapolres dan Dandim Kabupaten ke kantor desa ini sekarang juga untuk memverifikasinya langsung?"
"T-TIDAK PERLU, BAPAK KOLONEL! TIDAK PERLU!" jerit Pak Kades panik seketika.
Pria bertubuh gemuk itu membungkukkan badannya berkali-kali di balik meja hingga kepalanya nyaris menyentuh kayu meja. "Ampun, Bapak Kolonel! Ampunkan ketidaktahuan kami! Kami sungguh tidak tahu kalau Bapak adalah Perwira Tinggi dan Pejabat Negara!"
Sukri dan Pak RT langsung berlutut di atas ubin semen merah. Kesombongan dan keangkuhan mereka yang dipamerkan semalam musnah tak bersisa, berganti dengan ratapan ketakutan yang teramat sangat.
"Ampun, Pak Kolonel! Ampunkan kami!" tangis Pak RT pecah, ia memegang ujung celana Devan dengan tangan gemetar.
"Kami cuma menjalankan tugas adat, Pak! Kami diadu domba oleh orang lain!"
Mendengar kata diadu domba, mata Devan menyipit tajam. Cahaya taktis di kedalaman manik matanya berkilat membahayakan.
"Diadu domba?" tanya Devan dengan suara rendah yang menuntut penjelasan. "Bicara yang jelas, Pak RT. Siapa yang menyuruh kalian menggerakkan warga untuk menggerebek gubuk tengah sawah semalam?"
Pak RT mendongak dengan wajah bersimbah air mata dan keringat. "A-Anak buahnya Juragan Broto, Pak! Kemarin malam sebelum hujan turun, orangnya Juragan Broto datang ke rumah saya memberi uang satu juta! Dia bilang ada sepasang muda-mudi mau berbuat tidak senonoh di gubuk, dan suruh saya bawa warga buat grebek serta paksa nikah siri di balai desa!"
DEG!
Pak Suryo dan Raka terperanjat kaget dari kursi mereka.
"Juragan Broto?!" seru Raka murka. "Tuan tanah yang mau menggusur sawah warga buat proyek pabrik batu bara itu?!"
Devi memegang dadanya yang berdebar kencang. Rangkaian mozaik kejahatan yang selama ini tersembunyi di balik penderitaan keluarganya akhirnya terbuka terang benderang. Juragan Broto, tuan tanah rakus yang berniat menguasai lahan pertanian Dukuh Parang dengan harga murah, sengaja merancang skenario penggerebekan itu untuk menghancurkan harga diri keluarga Pak Suryo yang merupakan tokoh kunci penolak penjualan tanah desa!
Devan menepuk bahu Hendra pelan. "Hendra."
"Siap, Komandan!" tegas Hendra.
"Catat pengakuan Pak RT," perintah Devan dingin tanpa ampun. "Dan masukkan nama Juragan Broto beserta seluruh kroninya ke dalam daftar penangkapan utama Satgas siang ini juga. Sita seluruh aset dan dokumen tanah ilegal milik mereka di wilayah kabupaten ini."
"Laksanakan, Komandan!" sahut Hendra seraya menarik mantelnya dan segera melangkah keluar ruangan membawa perintah eksekusi.
Pak Kades, Pak RT, dan Sukri hanya bisa menangis tergugu di lantai semen, meratapi kebodohan mereka yang telah menjadi alat bagi kejahatan tuan tanah dan kini harus berhadapan dengan hukum negara di bawah komando seorang Kolonel.
Devan berbalik, menatap Pak Suryo yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca penuh rasa haru dan hormat yang tak terhingga.
Devan melangkah mendekati sang mertua, lalu menundukkan tubuhnya dan mencium tangan Pak Suryo dengan sangat santun, sebuah gestur rendah hati yang membuktikan bahwa pangkat dan kekayaannya tak mengikis adabnya pada orang tua.
"Bapak," ucap Devan lembut. "Nama baik keluarga Bapak dan Devi sudah bersih sepenuhnya hari ini. Tidak ada lagi yang bisa menghina atau mengancam keluarga kita."
Pak Suryo mengelus kepala Devan dengan tangan tuanya yang gemetar, air mata kebahagiaan menetes membasahi pipinya yang keriput. "Terima kasih, Nak Devan ... Terima kasih sudah hadir dalam hidup anakku ..."
Devan berdiri tegak, lalu mengulurkan tangannya pada Devi. Devi menggenggam jemari Devan yang kokoh dengan senyuman paling manis yang pernah terukir di wajahnya.
Saat mereka berdua melangkah keluar dari ruangan kantor desa menuju teras utama, sinar matahari pagi menerobos terang membelah awan hitam. Puluhan warga yang berkumpul di halaman balai desa berdiri menepi dengan rasa hormat dan takjub yang luar biasa. Badai fitnah yang semula diyakini akan menghancurkan hidup Devi ... kini telah berganti dengan fajar kemenangan yang teramat indah di samping sang Kolonel bertato.
semoga aja Devi mencerna baik baik
ingat loh, anak gadis di arak telanjang
kek manaa coba
rasanya mau bunuh diri saja
devan sudah menyelamatkan anak gadismu
dari pada keliling desa
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja