"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Dua Garis
Beberapa minggu kemudian, Nadhira berdiri di kamar mandi sambil menghitung tanggal untuk ketiga kali.
Pusing pagi setelah malam pertama tidak pernah terulang. Karena itu, ia tidak memikirkannya lagi. Yang membuat tangannya kini dingin adalah haid yang terlambat enam hari, payudara yang terasa lebih sensitif, dan aroma kopi Rayhan yang mendadak membuat perutnya bergolak.
Di atas wastafel ada dua alat tes dari merek berbeda.
Nadhira membaca petunjuk sampai selesai, memeriksa tanggal kedaluwarsa, lalu melakukan tes dengan urine pagi sesuai instruksi. Ia memasang pengatur waktu dan meletakkan kedua alat pada permukaan datar.
Tiga menit terasa lebih lama daripada semua waktu tunggu di pengadilan.
Garis pertama muncul jelas.
Lalu garis kedua.
Pada alat satunya, hasil yang sama terbentuk beberapa detik kemudian.
Nadhira duduk di lantai beralas keset. Tangannya menutup mulut.
Ia ingin tertawa. Ia juga ingin menangis. Kegembiraan datang bersama ketakutan yang tidak bisa dipisahkan: tubuhnya akan berubah, kuliah yang baru direncanakan mungkin perlu disusun ulang, dan seorang bayi akan bergantung kepadanya ketika ia masih belajar membangun hidup sendiri.
Namun, tak ada satu pun rasa itu menyerupai penyesalan.
Nadhira mengambil foto hasil tes untuk catatan pribadi, lalu memasukkannya ke kantong bersih. Tes rumahan menunjukkan kemungkinan hamil, bukan menggantikan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Rayhan sudah berangkat ke kantor untuk rapat pagi. Nadhira menatap namanya pada layar, hampir menelepon, lalu berhenti. Ia ingin memberi tahu langsung, bukan di sela laporan keuangan dan suara ruang rapat.
Jari Nadhira berpindah ke nama Kartika.
`Tika, kamu bisa datang? Saya butuh teman sebentar.`
Kartika membalas lima menit kemudian. Ia sedang bersiap untuk sesi lanjutan dan bisa mampir lebih dulu. Nadhira tidak menyuruhnya membatalkan perawatan.
Setengah jam kemudian, Kartika tiba membawa roti tawar dan air kelapa karena mengira Nadhira sakit.
"Mbak Dhira pucat. Mual?"
Nadhira mengajaknya ke kamar, menutup pintu, lalu menunjukkan dua alat tes di atas meja.
Kartika menatapnya. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara selama beberapa detik.
"Dua garis?"
Nadhira mengangguk.
Kartika memeluknya, kemudian buru-buru mundur. "Maaf. Boleh dipeluk?"
Nadhira tertawa sambil menangis. "Sudah telanjur. Boleh."
Pelukan kedua berlangsung lebih erat.
"Alhamdulillah," bisik Kartika. "Mbak senang?"
"Senang. Takut juga."
"Takut apa?"
Nadhira duduk di tepi ranjang. "Takut kehilangan diri sendiri lagi. Dulu setelah Alif lahir, semua orang mengambil keputusan karena katanya saya ibu baru dan tidak tahu apa-apa. Sekarang saya baru mau kuliah, baru belajar mengelola uang, dan hubungan saya dengan Mas Ray baru berubah."
Kartika tidak mengatakan bayi adalah rezeki sehingga ketakutan dilarang. Ia duduk di samping Nadhira.
"Mbak bisa senang dan takut sekaligus. Sudah bicara dengan Pak Rayhan?"
"Belum. Saya ingin langsung."
"Bagus. Setelah itu periksa. Jangan tanya saya soal obat atau makanan, saya bukan dokter."
"Kamu terdengar sangat bertanggung jawab hari ini."
"Psikolog saya bilang saya tidak harus menyelesaikan masalah semua orang. Saya sedang latihan."
Kartika mengambil roti dari tas. "Tapi saya boleh memastikan Mbak makan."
Nadhira menghabiskan satu potong. Mereka membuat daftar pendek, bukan rencana hidup lengkap: hubungi klinik kandungan, catat hari pertama haid terakhir, daftar obat/suplemen yang diminum, dan jangan menerima jamu atau obat baru sebelum ditinjau tenaga kesehatan.
"Saya harus pergi sesi sekarang," kata Kartika setelah melihat jam. "Mbak aman sendiri?"
"Aman."
"Telepon setelah memberi tahu Pak Rayhan. Saya tidak perlu detail reaksinya, cukup bilang Mbak tidak pingsan."
"Pergilah sebelum terlambat."
Kartika pergi, dan Nadhira menghubungi klinik. Ia mendapat jadwal keesokan pagi serta petunjuk mencari pertolongan segera jika muncul perdarahan banyak, nyeri hebat satu sisi, pingsan, atau keluhan berat lain. Untuk saat itu, ia diminta melanjutkan aktivitas wajar, makan/minum cukup, dan membawa daftar kesehatan.
Menjelang sore, Nadhira mengirim pesan kepada Rayhan.
`Pulang tepat waktu. Saya ingin bicara.`
Balasan datang kurang dari semenit.
`Ada yang sakit?`
`Tidak. Jangan panik.`
`Saya pulang pukul enam.`
Pukul lima lewat empat puluh, suara mobil sudah terdengar di depan.
Rayhan masuk tanpa menunggu staf mengambil tas kerjanya. "Nadhira?"
"Di kamar."
Ia muncul di pintu dengan napas sedikit cepat. Pandangannya memeriksa wajah, tangan, lalu posisi tubuh Nadhira seperti mencari luka yang disembunyikan.
"Saya bilang jangan panik."
"Pesan `ingin bicara` tidak pernah membuat orang tenang."
Nadhira menyerahkan kotak kecil.
Rayhan membukanya. Dua alat tes berada di dalam, masing-masing masih menunjukkan dua garis.
Ia menatap hasil itu, lalu Nadhira, lalu kembali pada hasil.
"Ini..."
"Tes rumah. Dua merek. Saya terlambat enam hari. Besok ada jadwal pemeriksaan."
Rayhan meletakkan kotak dengan sangat hati-hati. Matanya memerah sebelum ekspresinya sempat kembali terkendali.
"Kamu senang?" tanya Nadhira.
Ia melangkah dekat, tetapi berhenti. "Boleh saya peluk?"
Nadhira mengangguk.
Rayhan memeluknya erat. Tidak sampai menyakitkan, tetapi cukup kuat hingga Nadhira merasakan napas pria itu patah di rambutnya.
"Alhamdulillah," bisiknya.
Nadhira menutup mata. "Saya takut kuliah saya berhenti sebelum mulai."
Rayhan melonggarkan pelukan agar bisa melihat wajahnya. "Kita ubah jadwal, bukan mimpinya. Kalau kamu perlu cuti, itu pilihan medis dan pilihanmu, bukan keputusan saya."
"Saya juga takut kamu berubah terlalu protektif."
"Saya mungkin takut dan melakukan kesalahan. Kamu harus mengingatkan."
"Saya pasti mengingatkan."
"Dan saya harus mendengar."
Mereka tertawa kecil. Rayhan kemudian berjongkok di depan Nadhira, tangannya berhenti beberapa sentimeter dari perut.
"Boleh?"
"Belum ada yang bisa kamu rasakan."
"Saya tahu."
Nadhira meletakkan tangannya di atas tangan Rayhan dan menempelkannya pelan. Perutnya masih sama. Namun, cara Rayhan memandang membuat ruang itu terasa penuh kemungkinan.
Keesokan paginya, mereka datang ke dokter kandungan tanpa membawa anak. Riwayat haid, obat, kehamilan sebelumnya, keluhan, dan dua hasil tes dibahas. Pemeriksaan awal mengonfirmasi kehamilan dini. Dokter menjelaskan usia masih muda sehingga perkiraan dan perkembangan perlu dipantau pada kontrol berikutnya, lalu memberikan suplemen yang sesuai serta daftar obat/herbal yang harus dikonsultasikan lebih dulu.
Rayhan membuka catatan berisi terlalu banyak pertanyaan. Ia ingin tahu tentang perjalanan, kerja, olahraga, makanan, menggendong anak, dan waktu kontrol. Dokter menjawab satu per satu: aktivitas normal umumnya dapat diteruskan sesuai kondisi, tidak perlu tirah baring tanpa indikasi, dan pembatasan harus berdasarkan keluhan atau temuan, bukan kecemasan keluarga.
Nadhira bertanya tentang mual, kuliah, dan riwayat kehamilan Alif. Ia juga meminta semua penjelasan diarahkan kepadanya, bukan hanya kepada suami. Rayhan menerima koreksi itu dan memindahkan buku catatan ke tengah agar mereka menulis bersama.
Mereka menyusun daftar praktis: suplemen diminum sesuai resep, cukup makan/minum, jadwal kontrol masuk kalender bersama, dan obat bebas diperiksa sebelum digunakan. Bila Nadhira lelah, bantuan ditambah; bila ia merasa baik, tidak ada alasan mengurungnya di rumah. Rayhan tidak berhak mengganti kegiatan atau menu diam-diam atas nama janin.
Tidak ada jenis kelamin yang bisa diketahui. Tidak ada janji bahwa semua pasti tanpa risiko. Mereka pulang dengan jadwal kontrol, tanda bahaya tertulis, dan satu rasa syukur yang lebih tenang.
Sore itu, Nadhira/Rayhan mengajak Alif dan Arkan duduk di karpet ruang keluarga.
"Ada bayi kecil yang sedang tumbuh di perut Mama," kata Nadhira. "Masih sangat kecil. Kita harus menunggu lama sebelum bertemu."
Alif menatap perutnya. "Bayi di situ?"
"Iya."
"Keluar besok?"
"Tidak. Masih banyak tidur lagi."
Arkan mendekat, tetapi tidak langsung menyentuh. "Boleh pegang?"
Nadhira tersenyum. "Boleh pelan."
Dua telapak kecil menempel pada perutnya.
"Alif mau adik perempuan," kata Alif.
"Arkan laki-laki," kata Arkan.
"Kita belum tahu," jawab Rayhan. "Apa pun, tetap adik kalian."
"Bisa main mobil?" tanya Alif.
"Nanti kalau sudah besar."
"Lama," keluhnya.
Alif lalu bertanya apakah bayi akan mengambil ranjangnya. Arkan memegang mobil merah lebih erat, seolah adik yang belum sebesar biji buah sudah bisa meminta mainan.
"Bayi punya tempat sendiri," kata Nadhira. "Ranjang dan mainan kalian tetap milik kalian. Kalau mau berbagi nanti, kalian boleh memilih."
"Mama tetap antar Alif?"
"Selama Mama sehat dan bisa. Kalau Mama perlu istirahat, Papa atau orang yang kita kenal akan antar. Alif akan diberi tahu."
Arkan menatap Rayhan. "Papa tetap masak ayam?"
"Tetap."
Jawaban itu lebih meyakinkan daripada penjelasan panjang. Kedua anak belum memahami perubahan keluarga, tetapi mereka perlu tahu bayi tidak datang untuk mengambil kamar, mainan, atau orang tua.
Rayhan menambahkan bahwa mereka boleh merasa senang, bingung, atau tidak suka menunggu. Tidak ada tugas menjaga bayi yang dibebankan kepada anak. Mereka akan menjadi kakak, bukan pengasuh kecil.
Anak-anak diminta tidak melompat ke tubuh Mama, tetapi tidak dibuat takut menyentuh atau dekat. Nadhira tetap berjalan, makan bersama, dan mengantar mereka sesuai kemampuan. Kehamilan tidak mengubahnya menjadi benda rapuh.
Rahasia itu bertahan kurang dari dua jam.
Saat Bu Wulan lewat di depan pagar, Alif berteriak, "Bu Wulan! Mama ada bayi!"
Bu Wulan membeku, lalu menutup mulut dengan kedua tangan. Setelah mendapat anggukan Nadhira, ia memberi selamat dan berjanji tidak mengirim ke grup. Namun, seorang penghuni lain mendengar dari jalan. Menjelang malam, kabar sudah sampai kepada Bu Ratna.
Bu Ratna meneruskannya kepada Dinda.
Di rumahnya, wajah Dinda membeku saat membaca pesan tersebut. Ia menghitung waktu, membuka catatan lama, lalu mencari satu nomor yang selama ini tidak pernah ia hubungi.
Nomor Bu Sri.
Panggilan tersambung setelah tiga dering.
"Halo?"
Dinda menatap foto Nadhira/Rayhan di layar berita lama.
"Ibu, kita perlu bicara."