Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Sang Ratu
Udara Jakarta terasa jauh lebih berat dibandingkan Swiss.
Begitu kendaraan meninggalkan kawasan bandara, Amara menurunkan sedikit kaca jendela. Hawa hangat yang lembap segera menyentuh wajahnya, membawa kembali aroma kota yang sudah sangat dikenalnya. Gedung-gedung tinggi berdiri di antara kepadatan jalan, kendaraan bergerak dalam barisan panjang, dan suara kota perlahan menggantikan ketenangan yang mereka tinggalkan di Swiss.
Leon melirik istrinya dari kursi sebelah.
“Masih ingin kembali?”
Amara tersenyum sambil memandang keluar.
“Tidak.”
“Kau yakin?”
“Dua minggu cukup.”
Leon tertawa kecil.
“Padahal kemarin kau bilang belum ingin pulang.”
“Itu kemarin.”
“Sekarang?”
Amara mengalihkan pandangan kepadanya.
“Sekarang aku lebih merindukan rumahku.”
Leon tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, seolah mengerti bahwa yang dimaksud Amara bukan sekadar bangunan besar tempat mereka tinggal.
Rumah adalah orang-orang yang menunggunya pulang.
Sesampainya di mansion, suasana langsung berubah. Barang-barang dari Swiss memenuhi sebagian ruang depan. Susan sibuk memilah oleh-oleh, sementara Gilberth sudah lebih dahulu mengklaim sebuah kotak cokelat yang sebenarnya dibeli untuk dibagikan kepada semua orang.
“Gilberth, itu punya siapa?”
Susan menunjuk kotak di tangannya.
Gilberth memeluknya.
“Punyaku.”
“Di mana namamu?”
“Tidak ada.”
“Berarti bukan punya kamu.”
Gilberth berpikir sebentar.
“Sekarang sudah.”
Susan mendengus.
Amara yang baru melepas mantelnya hanya menggeleng sambil tersenyum. Dua minggu di Swiss rupanya tidak mengubah kedua keponakannya sedikit pun. Mereka pulang membawa koper, foto, oleh-oleh, dan energi yang seolah tidak pernah habis.
Malamnya, setelah suasana mulai mereda, Amara duduk bersama Leon di ruang keluarga. Beberapa foto Swiss yang dicetak Nayla tergeletak di atas meja. Ada foto mereka di depan villa, makan malam bersama, Gilberth yang sibuk bermain salju, Susan yang tertawa sampai matanya menyipit, dan satu foto Amara bersama Leon di tepi danau.
Amara mengambil foto terakhir.
“Dia memotret kita diam-diam.”
Leon melihat foto itu.
“Bagus.”
“Bagus?”
“Aku terlihat tampan.”
Amara menahan tawa.
“Kau percaya diri sekali.”
“Aku hanya berusaha jujur.”
Amara meletakkan foto tersebut kembali. Tatapannya kemudian berhenti pada dua foto lain yang memperlihatkan Gilberth dan Susan.
Ia baru menyadari sesuatu.
“Kedua anak itu belum pulang menemui orang tuanya.”
Leon menoleh.
“Belum?”
“Belum.”
“Mungkin mereka terlalu menikmati kebebasan.”
Amara tersenyum.
“Besok aku suruh mereka pulang.”
Namun sebelum ia sempat melanjutkan, ponselnya berbunyi. Pesan dari Martha masuk.
Bagaimana perjalanan kalian?
Amara membalas singkat bahwa mereka sudah sampai dan semuanya baik-baik saja.
Tidak lama kemudian, Martha kembali bertanya.
Susan dan Gilberth bagaimana? Mereka sehat?
Amara tersenyum membaca pesan itu.
Bahkan setelah dua minggu tidak bertemu, pertanyaan pertama Martha tetap tentang anak-anaknya.
Ia membalas bahwa keduanya sehat, hanya saja belum juga mengunjungi rumah orang tua mereka.
Balasan Martha datang hampir seketika.
Anak-anak itu benar-benar keterlaluan.
Amara tertawa kecil. Leon meliriknya.
“Apa?”
“Martha.”
“Ada apa?”
“Dia bilang anak-anaknya keterlaluan.”
Leon tersenyum.
“Dia belum tahu kalau Gilberth hampir menghabiskan persediaan cokelat.”
Amara terkekeh.
“Jangan beri tahu. Biar dia pulang dengan selamat.”
Keesokan harinya, Amara memutuskan menemui Martha.
Ia tidak datang dengan rombongan besar. Hanya dirinya dan seorang pengawal yang menunggu dari kejauhan. Ia ingin menghabiskan waktu bersama kakaknya tanpa membuat pertemuan sederhana terasa seperti kunjungan seorang kepala negara.
Martha sedang menyelesaikan pekerjaannya ketika Amara tiba. Ia masih mengenakan pakaian kerjanya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi senyumnya langsung muncul ketika melihat sang adik.
“Kau sudah pulang.”
“Sudah.”
“Bagaimana Swiss?”
“Indah.”
Martha tertawa kecil.
“Pasti.”
Amara memperhatikannya sejenak. Kakaknya tetap sama seperti yang ia ingat. Sederhana, sibuk, dan hampir selalu punya alasan untuk menunda waktu istirahat.
“Kakak sendiri bagaimana?”
“Baik.”
“Masih sibuk?”
“Kalau aku bilang tidak, kau juga tidak akan percaya.”
“Benar.”
Mereka tertawa.
Percakapan kemudian beralih kepada keluarga. Martha ingin tahu bagaimana perjalanan semua orang, bagaimana keadaan Leon setelah kembali, dan tentu saja dua anaknya.
“Gilberth dan Susan bagaimana?” tanyanya.
“Sehat.”
“Sudah pulang?”
Amara menggeleng.
“Belum.”
Martha menghela napas.
“Mereka benar-benar belum datang?”
“Belum.”
“Padahal sudah pulang dari Swiss.”
“Katanya mau istirahat dulu.”
Martha menatap adiknya.
“Kalau aku yang menyuruh, mereka pasti punya seratus alasan.”
Amara tertawa.
“Makanya aku tidak ikut campur.”
“Di mana mereka sekarang?”
“Di mansion.”
Martha menggeleng sambil tersenyum.
“Berarti mereka sedang menikmati hidup.”
“Dan membuat rumahku ramai.”
“Itu memang pekerjaan mereka.”
Amara tertawa.
Tak lama kemudian Daniel datang setelah menyelesaikan tugasnya. Ia masih terlihat lelah ketika bergabung dengan mereka, tetapi wajahnya langsung berubah lebih santai begitu melihat Amara.
“Kau sudah kembali.”
“Sudah.”
“Bagaimana perjalanan?”
“Bagus.”
Daniel mengangguk.
“Bagaimana anak-anak?”
Amara dan Martha saling pandang.
“Masih di mansion,” jawab Amara.
Daniel langsung tertawa.
“Belum pulang?”
“Belum.”
“Hebat.”
Martha menyenggol lengannya.
“Jangan dibela.”
“Aku tidak membela.”
“Kau tertawa.”
“Karena mereka memang anak-anak kita.”
Amara tersenyum melihat keduanya.
Ada sesuatu yang selalu terasa hangat setiap kali ia melihat kakaknya bersama Daniel. Mereka menjalani kehidupan yang jauh dari gemerlap dunia Amara, tetapi justru memiliki ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Martha sebagai bidan menghabiskan sebagian besar waktunya mendampingi para ibu dan bayi yang baru lahir. Daniel menjalani pekerjaannya sebagai petugas pemadam kebakaran dengan jadwal yang tidak selalu bisa diprediksi. Keduanya terbiasa berada di tempat ketika orang lain membutuhkan bantuan.
Namun ketika ditanya kapan terakhir kali mereka benar-benar pergi berlibur bersama, keduanya justru saling memandang.
Amara langsung menangkap jawaban itu.
“Kapan terakhir kali kalian pergi berdua?”
Martha berpikir.
“Pergi berdua?”
“Liburan.”
Martha tersenyum kecil.
“Tidak ingat.”
Daniel ikut berpikir.
“Sepertinya sudah lama.”
“Seberapa lama?”
Keduanya kembali saling pandang.
Amara menghela napas.
“Nah.”
Martha tertawa.
“Jangan mulai.”
“Aku belum mengatakan apa-apa.”
“Tapi wajahmu sudah.”
Daniel ikut tertawa.
Amara memang sudah mengetahui ke mana pembicaraan ini akan berakhir. Mereka terlalu terbiasa bekerja. Terlalu terbiasa memenuhi tanggung jawab. Dan terlalu mudah mengatakan bahwa liburan bisa dilakukan nanti.
Padahal “nanti” sering kali tidak pernah benar-benar memiliki tanggal.
Malamnya, Amara kembali bertemu Martha dan Daniel untuk makan malam. Kali ini ia membawa sesuatu yang sudah disiapkannya sejak beberapa hari lalu.
Ia meraih tas yang berada di samping kursinya. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah map tipis berwarna krem, lalu meletakkannya di atas meja di antara mereka. Gerakannya begitu tenang sampai Martha sempat mengira Amara hendak memberikan dokumen pekerjaan.
“Aku punya sesuatu untuk kalian.”
Martha menatap map tersebut dengan kening sedikit berkerut. Ia tidak segera menyentuhnya, seolah sudah mengenal ekspresi adiknya dan merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
“Apa itu?”
“Buka saja.”
Dengan rasa penasaran yang mulai muncul, Martha menarik map itu mendekat. Ketika kedua lembar tiket yang tersimpan di dalamnya terlihat, matanya berhenti pada tulisan yang tertera di sana. Ia membaca nama tujuan perjalanan itu sekali, kemudian kembali melihat Amara seakan ingin memastikan bahwa ia tidak salah membaca.
“Italia?”
Amara mengangguk.
Daniel yang duduk di sebelah istrinya ikut memperhatikan tiket tersebut. Ia mengambil salah satunya, membaca tanggal keberangkatan dan nama resort yang tercantum di sana, lalu mengangkat wajah dengan ekspresi yang sama bingungnya.
“Ini maksudnya apa?”
“Liburan.”
Martha langsung menggeleng.
“Tidak bisa, Mara.”
Amara sudah menduga jawaban itu. Ia bahkan hanya tersenyum kecil.
“Aku belum selesai bicara.”
“Kau sudah memberikan tiket pesawat.”
“Karena kalau aku menjelaskan dulu, kalian pasti mencari alasan untuk menolak.”
Daniel tertawa pelan. Martha justru memandang adiknya dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa dugaan itu memang tidak sepenuhnya salah.
“Kami punya pekerjaan,” ujar Martha akhirnya.
“Aku tahu.”
“Jadwalku tidak mudah ditinggalkan.”
“Aku juga tahu.”
“Daniel juga masih bertugas.”
Amara mengangguk.
“Makanya aku tidak menyuruh kalian berangkat besok pagi. Kalian punya waktu untuk mengatur semuanya.”
Martha masih memandangi tiket di tangannya.
“Amara, ini pasti mahal.”
“Aku kaya.”
Daniel langsung tertawa.
“Jawabanmu selalu begitu?”
“Kalau memang benar, kenapa harus dibuat rumit?”
Martha akhirnya ikut tersenyum, meskipun matanya masih terpaku pada tiket yang belum juga ia lepaskan. Amara kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kak, kalian berdua hampir tidak pernah punya waktu untuk diri sendiri.”
Martha hendak menyela, tetapi Amara mengangkat tangan.
“Biar aku selesai.”
Ia menatap kakaknya dengan lembut.
“Kakak membantu banyak orang setiap hari. Kakak Daniel juga. Kalian selalu siap ketika ada orang yang membutuhkan kalian. Tapi kapan kalian melakukan sesuatu hanya karena kalian ingin menikmatinya?”
Martha terdiam. Daniel menunduk sebentar, lalu kembali melihat istrinya. Amara melanjutkan,
“Selama ini kalian terlalu sibuk bertahan dan bekerja sampai lupa bahwa hidup bukan hanya tentang menjalankan kewajiban.”
Suaranya melembut.
“Sekarang giliran kalian menikmati hidup.”
Mata Martha mulai berkaca-kaca. Ia menatap tiket di tangannya, lalu memandang Amara.
“Kau benar-benar ingin kami pergi?”
“Ya.”
“Tidak ikut?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena ini hadiah untuk kalian.”
Daniel menggenggam tangan Martha di bawah meja.
Martha akhirnya tersenyum.
“Baik.”
Amara ikut tersenyum.
“Tapi ada satu syarat.”
Martha mengangkat alis.
“Apa?”
“Begitu pulang nanti, kalian jemput sendiri dua anak nakal itu.”
Daniel langsung tertawa.
“Setuju.”
Martha mengangguk mantap.
“Biar mereka tahu masih punya orang tua.”
Amara ikut tertawa.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Martha dan Daniel memiliki sesuatu yang layak ditunggu selain jadwal kerja mereka.
Sementara di mansion, dua anak yang sedang menjadi bahan pembicaraan sama sekali belum tahu bahwa kepulangan mereka kepada orang tua mungkin akan menjadi jauh lebih mendesak setelah kedua orang tua mereka kembali dari Italia.
Di tempat lain, Amara kembali membuka dokumen lama yang sudah bertahun-tahun tersimpan di ruang kerjanya.
Beberapa nama tercantum di sana.
Arsen.
Raka.
Nayla.
Lalu beberapa nama dari generasi berikutnya. Ia membaca semuanya perlahan. Leon berdiri di belakangnya.
“Kau mulai memikirkannya?”
Amara tidak menoleh.
“Sudah waktunya.”
“Warisan?”
Amara mengangguk.
“Bukan tentang siapa yang mendapatkan semuanya.”
Ia menutup dokumen.
“Aku ingin tahu siapa yang benar-benar mampu menjaga apa yang sudah kubangun.”
Leon terdiam. Amara menatap layar yang perlahan menggelap.
Kerajaan itu dibangun bukan dalam satu malam. Ada pengorbanan, kesalahan, pengkhianatan, dan keputusan yang tidak selalu mudah. Karena itu, mewariskannya bukan sekadar menyerahkan kekuasaan kepada darah yang sama.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting. Kemampuan untuk memahami kapan kekuasaan harus digunakan dan kapan harus ditahan. Kemampuan menjaga keluarga tanpa mengubah mereka menjadi tahanan dari nama besar. Dan yang paling penting, kemampuan untuk tetap menjadi manusia ketika dunia memberikan cukup alasan untuk berubah menjadi monster.
Amara tersenyum tipis.
“Besok aku ingin bicara dengan Arsen.”
Leon mengangguk.
“Dan Raka?”
“Setelah itu.”
“Nayla?”
Amara terdiam sejenak.
“Nayla juga.”
Leon tersenyum.
“Berarti kau sudah mulai.”
Amara menatap suaminya.
“Belum.”
Ia kembali membuka dokumen tersebut.
“Aku baru mulai mencari tahu siapa yang pantas menerima warisanku.”