**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 029 - Terbang ke London
Seminggu kemudian, surat penerimaan dari London tiba.
Dosen pianoku mengirim rekaman audisi tanpa memberitahuku setelah melihat formulir beasiswa yang belum selesai. Program itu memberi tempat bersyarat, biaya studi sebagian, dan tenggat keberangkatan sangat singkat karena ada peserta yang mengundurkan diri.
"Ini bukan keberuntungan," kata Gilang saat membaca surat. "Ini hasil semua malam ketika kau berlatih sendirian."
"Aku belum siap."
"Tidak ada orang yang benar-benar siap meninggalkan rumah."
Aku memandang kotak-kotak dari vila yang memenuhi apartemen sewaan. "Aku bahkan tidak tahu mana yang masih bisa disebut rumah."
Gilang melipat surat dan menyerahkannya kembali. "Kalau begitu pergilah untuk membangunnya."
Dia mengurus tiket, tempat tinggal sementara, dan pengangkutan piano. Aku mengurus visa studi, jadwal terapi kaki, serta dokumen kampus. Untuk setiap keputusan, Gilang bertanya sebelum bertindak. Jika aku mengatakan tidak, dia berhenti.
Itulah bantuan yang kubutuhkan: tangan terbuka, bukan tangan yang menutup pintu.
Di sela pengurusan itu, aku menghabiskan sore di kafe kecil dekat kampus. Tempat itu pernah kudatangi bersama Arkana setelah pertengkaran pertama kami. Ia memesan kopi pahit, aku cokelat panas, lalu kami bertukar cangkir karena pilihanku terlalu manis bagiku dan pilihannya terlalu pahit baginya.
Pelayan selalu memberikan alas cangkir kertas. Tanpa sadar, aku menulis di atasnya.
Hari pertama: `Aku masih marah.`
Hari kedua: `Kakiku membaik.`
Hari ketiga: `Anak kita pasti akan memiliki mata yang indah.`
Tulisan terakhir membuatku menangis di depan minuman yang tidak tersentuh. Aku membalik alas itu dan menulis lagi.
`Aku berharap kau datang, tetapi aku juga takut akan tinggal jika melihatmu.`
Aku tidak pernah mengirim pesan-pesan itu. Setiap sore, aku menyelipkan alas cangkir di bawah pot tanaman dekat jendela, tempat Arkana biasa duduk. Kebiasaan itu bodoh. Namun meninggalkan kata-kata di sana terasa lebih jujur daripada mengirimnya kepada lelaki yang sudah meminta aku menghilang.
Pada sore terakhir, pemilik kafe bertanya apakah harus membuang tumpukan kertas tersebut.
"Besok," jawabku. "Kalau tidak ada orang yang mengambilnya sampai besok, buang semuanya."
Aku menulis satu kalimat terakhir.
`Aku mencintaimu. Kali ini kalimat itu tidak menyembunyikan pisau.`
Lalu aku pergi tanpa menoleh.
Pada hari keberangkatan, penyangga kakiku sudah diganti lebih ringan. Aku masih berjalan perlahan, tetapi dokter mengizinkan perjalanan dengan jeda bergerak dan pemeriksaan lanjutan di London.
Sebelum menuju bandara, aku meminta sopir melewati Vila Arkana.
"Kita akan terlambat," kata Gilang.
"Lima menit saja."
Mobil berhenti di seberang jalan. Gerbang vila tertutup. Tidak ada penjaga yang mendekat, sesuai perintah Arkana untuk tidak lagi melaporkan keberadaanku.
Aku menatap jendela ruang kerja.
Tirai terbuka, tetapi ruangan gelap.
"Kau ingin masuk?" tanya Gilang.
"Tidak."
"Mengirim pesan?"
Ponsel baru di tanganku tidak menyimpan nomor Arkana, tetapi aku masih menghafalnya.
"Dia meminta tidak melihatku lagi."
"Orang yang terluka sering meminta hal yang tidak sungguh diinginkan."
"Tetap saja aku harus menghormati satu-satunya kebebasan yang akhirnya dia berikan."
Di balik kaca mobil, vila itu tampak seperti istana dalam dongeng setelah tokoh utamanya pergi. Aku pernah datang sebagai anak yang kehilangan suara. Aku pergi sebagai perempuan yang akhirnya menemukan suara, tetapi terlambat menggunakannya untuk menyelamatkan kami.
"Jalan," kataku.
Bandara ramai. Gilang mendorong dua koper sambil memperlambat langkah agar sesuai dengan kakiku. Di meja check-in, petugas memeriksa paspor dan visa, lalu menempelkan label tujuan akhir.
London.
Kata itu terasa seperti nama kehidupan orang lain.
Setelah melewati pemeriksaan, kami duduk dekat gerbang keberangkatan. Aku terus memandang setiap lelaki berkemeja hitam yang muncul dari eskalator.
"Kau menunggunya," kata Gilang.
"Tidak."
"Laras."
"Aku hanya ingin tahu apakah dia akan datang. Itu berbeda."
Gilang tidak mempermalukan kebohonganku. Ia hanya menyerahkan segelas air.
"Kalau dia datang, apakah kau akan tinggal?"
Pertanyaan itu menyakitkan karena aku tidak punya jawaban.
Pengumuman naik pesawat terdengar. Penumpang mulai berdiri. Aku memeriksa ponsel untuk terakhir kali.
Tidak ada pesan.
Di layar berita, foto kami keluar dari Catatan Sipil masih menjadi bahan pembicaraan. Judul-judul menyebut skandal, harta, dan hubungan terlarang. Tidak satu pun menyebut anak yang hilang sebelum sempat diketahui. Tidak satu pun tahu bahwa pernikahan itu sudah menjadi puing sebelum tintanya kering.
Aku mematikan layar.
Gilang memelukku di depan antrean. "Aku akan menyusul setelah urusan kantor selesai. Bukan untuk mengawasimu. Hanya kalau kau memintaku."
"Terima kasih, Kak."
"Jangan berterima kasih karena aku membantumu pergi dari tempat yang seharusnya aman."
Aku menarik koper kabin. Di saku dalamnya tersimpan cincin spider lily, tidak dipakai tetapi juga belum dibuang.
Saat menyerahkan paspor kepada petugas gerbang, aku menoleh sekali lagi.
Tidak ada Arkana.
Yang ada hanya lautan orang asing dan satu lelaki baik yang memilih berdiri jauh agar aku tidak merasa ditahan.
Aku berjalan masuk ke lorong pesawat.
Setiap langkah membuat kakiku nyeri. Setiap langkah juga membawaku lebih jauh dari rumah, makam, cinta, dan kebencian yang selama ini menentukan namaku.
"Aku tidak akan membiarkanmu melihatku lagi," bisikku kepada lelaki yang tidak datang. "Kalau itu benar-benar yang kauinginkan."
Pintu pesawat ditutup.
Ketika Jakarta mengecil di balik jendela, aku tidak tahu siapa diriku tanpa Arkana.
Untuk pertama kalinya, masa depan yang kosong itu menjadi milikku sendiri.