Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Melupakan
Operasi itu berlangsung berjam‑jam yang terasa seperti keabadian bagi Nayla yang menanti dengan napas tertahan di lorong rumah sakit. Namun akhirnya, pintu ruang operasi terbuka dan dokter keluar dengan senyum lega yang menenangkan. “Semua berjalan lancar,” ujarnya singkat namun tegas.
Jantung Nayla melonjak penuh syukur. Ibunya diselamatkan dan kini dibawa ke ruang pemulihan untuk perawatan intensif yang dibutuhkan. Selama sisa hari itu dan malamnya, Nayla tidak beranjak jauh, menjaga, memantau perkembangan, dan memastikan Rianti serta Zaki juga ikut tenang melihat kondisi ibu yang perlahan membaik.
Keesokan paginya, meski tubuhnya masih terasa lelah dan jiwanya masih terguncang oleh segala peristiwa yang menimpanya, Nayla tahu dia harus kembali berdiri. Ia menyisir sisa keraguan di hatinya, mengenakan pakaian kerja yang rapi dan bersih, lalu melangkah kembali menuju gedung Nebula.
Setiap langkah menuju pintu kantor terasa lebih berat dibandingkan hari pertamanya. Bayang‑bayang malam itu melayang di setiap sudut, di setiap pantulan kaca, bahkan di udara yang sama yang mereka hirup berdua.
Saat Nayla mengetuk pintu ruangan Tristan dan masuk, suasana di sana terasa kaku dan hening. Tatapan mereka bertemu sekilas namun segera dialihkan, terlalu banyak hal yang tersembunyi di balik mata masing‑masing. Di hadapannya berdiri lelaki itu, atasannya, sosok yang dia hormati namun sekaligus menjadi orang yang telah melanggar batas paling pribadi dalam hidupnya dan menahan nasibnya di telapak tangan. Canggung menyusup ke setiap gerakan, cara Nayla menyerahkan berkas, cara Tristan menjawab pertanyaan singkat, hingga jarak fisik yang sengaja diperlebar di antara mereka seolah dinding tak kasat mata telah tumbuh di tengah ruangan itu.
Melihat ketidaknyamanan yang jelas itu, Tristan akhirnya menghela napas panjang dan meletakkan pulpennya. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang berusaha setenang mungkin.
“Nayla,” ucapnya pelan namun tegas. “Cobalah untuk bersikap lebih santai di sini. Apa yang terjadi di luar jam kerja, di waktu itu… anggaplah itu seperti mimpi yang sudah berlalu. Lupakan saja. Kita adalah pimpinan dan bawahan, dan begitulah seharusnya hubungan kita berjalan mulai sekarang.”
Nayla menunduk dalam, lalu perlahan mengangkat wajahnya dan mengangguk patuh. “Baik, Pak. Saya mengerti dan akan berusaha melakukannya.”
Namun kata‑kata itu jauh lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Di dalam hati Nayla, ingatan itu tidak memudar sama sekali. Setiap kali dia mendengar suara langkah kaki Tristan, melihat tangannya bergerak atau sekadar merasakan kehadirannya di ruangan yang sama, bayangan tentang bagaimana jari‑jemari itu menyentuh kulitnya, betapa hangatnya pelukan itu, dan bagaimana tubuhnya terbawa arus kenikmatan terlarang itu kembali menyeruak tanpa diminta. Wajahnya memerah sendiri, jantungnya berpacu gila, dan dia harus berjuang keras agar tidak terlihat gemetar.
Hal yang sebetulnya sama juga dirasakan oleh Tristan, meski ia pandai menyembunyikannya di balik topang kekuasaan dan ketenangan yang dingin. Ia tidak bisa melupakan satu inci pun dari lekuk tubuh Nayla, aroma kulitnya, atau getaran yang dirinya rasakan saat mereka menyatu. Meskipun dia berusaha bersikap profesional dan menjaga jarak, benaknya terus kembali ke malam itu seperti magnet yang tak terpisahkan, menyisakan rasa bersalah yang bercampur dengan ketagihan yang berbahaya.
...***...
Minggu berganti hingga tibalah hari perayaan pernikahan seorang sahabat lama. Di rumahnya, Olivia mengajak suaminya dengan ceria.
“Tristan, temani aku ya? Teman baikku menikah, dan aku ingin kita berdua datang. Kita selalu terlihat serasi dan bahagia di mata orang lain.”
Tristan setuju, seperti biasa, di depan publik dia dan istrinya adalah pasangan teladan yang selalu tampak mesra, saling bergandengan tangan, dan menebarkan kesan keharmonisan yang sempurna di mata siapa pun yang melihatnya. Itu adalah peran yang sudah lama dia mainkan dengan piawai di atas panggung masyarakat.
Sementara itu, Nayla bersiap pula untuk menghadiri acara yang sama. Bagas, sahabat lelakinya sejak masa sekolah, datang menjemput tepat waktu. Mereka memiliki ikatan yang sangat erat, bisa tertawa lepas tanpa topeng, saling mengerti hanya dengan satu tatapan mata, dan sering berbagi cerita dari hal sepele hingga beban terberat. Di mata banyak orang, keakraban mereka tampak sempurna, seolah tak terpisahkan. Saat berjalan masuk ke dalam balai pesta sambil berjalan berdampingan, Bagas terus menyisipkan candaan yang membuat bibir Nayla terukir senyum paling tulus yang pernah terlihat belakangan ini.
“Ciee... Tumben kau terlihat cantik sekali, Nay,” ujar Bagas dengan nada yang terdengar ringan namun matanya menatap lekat‑lekat wajah gadis itu.
"Tumben kau bilang? Berarti tanpa berdandan aku jelek, gitu?" sahut Nayla.
"Mmm... Gimana ya? Cantik juga, tapi kalau dandan tuh lebih cantik," jelas Bagas.
Nayla tertawa pelan sambil menepuk pelan lengan temannya itu, gerakan yang penuh keakraban dan kepercayaan murni. “Kau saja yang berlebihan, Gas. Aku cuma memakai gaun sederhana ini. Tapi terima kasih sudah selalu ada dan mendengarkan keluh kesahku.”
Apa yang tidak disadari Nayla adalah bahwa di balik sikap santai dan persahabatan setulus itu, Bagas menyimpan perasaan yang jauh lebih dalam dan diam‑diam menyayanginya sejak lama. Ia rela menjadi pendengar setia dan pelindung tanpa pernah berani mengungkapkan isi hatinya secara terang‑terang, takut merusak hubungan berharga yang sudah terjalin indah di antara mereka.
Tatapan lembut Bagas setiap kali Nayla menoleh, caranya selalu menjaga jarak aman agar perempuan itu terlindungi, serta perhatian kecil yang tak terhitung jumlahnya adalah bukti kasih yang terpendam rapat di dadanya.
Pesta itu berlangsung meriah dan megah, musik mengalun lembut, lampu‑lampu bergemerlapan hangat, dan ruangan penuh keramaian. Namun di tengah percakapan ringan itu, saat pandangan Nayla menyapu sekeliling ruangan, jantungnya seakan berhenti berdetak. Jauh di sisi lain, berdiri sosok yang tak mungkin dia lupakan, Tristan, berdiri tegak dan gagah di samping seorang wanita yang cantik anggun dan elegan, istrinya Olivia. Mereka terlihat begitu sempurna, bergandengan tangan, tersenyum ramah kepada setiap tamu yang menyapa, dan tampak seperti pasangan bahagia yang tak terpisahkan.
Nayla tertegun sejenak, langkahnya terhenti dan wajahnya perlahan kehilangan rona cerianya. Ia tidak menyangka akan berada di tempat yang sama dengan lelaki yang menjadi rahasia tergelap dan terberat dalam hidupnya.