SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: AKHIR PEKAN TANPA PENGAWASAN
Sabtu sore menjelang, membawa rona jingga kemerahan yang perlahan meredup di ufuk barat. Suara mesin mobil Ayah Danu yang berderu halus perlahan melaju menyusuri jalanan kompleks dan menjauh dari halaman rumah, menandai dimulainya sebuah malam yang telah lama ditunggu sekaligus paling ditakuti oleh Aluna. Ayah dan Ibu resmi berangkat menuju acara makan malam semi-formal bersama relasi bisnis mereka hingga larut malam. Kepergian mereka meninggalkan rumah berlantai dua yang megah itu sepenuhnya sunyi—hanya diisi oleh keberadaan Aluna dan Devan.
Di dalam kamarnya, Aluna berdiri mematung di depan cermin berbingkai kayu. Ia mengenakan kaus rajut longgar berwarna krem yang nyaman, namun irama di dalam dadanya berdegup begitu liar hingga menyisakan rasa sesak. Setiap kali rumah besar ini sepi dari pengawasan dan kehadiran kedua orang tua mereka, batasan moral serta norma hukum yang membentang di antara status saudara tiri seolah runtuh total tanpa sisa. Rasa bersalah dan gairah yang membakar saling bertabrakan di dalam pikirannya, menciptakan pusaran konflik batin yang tak pernah usai.
Ketuk... ketuk.
Suara pintu kamar Aluna terdorong pelan tanpa ada sedikit pun penolakan dari sang pemilik kamar. Devan melangkah masuk dengan tenang. Pria itu sudah berganti pakaian santai—kaus polos hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya serta celana kain gelap. Iris mata cokelat gelapnya menatap Aluna lurus-lurus dari balik celah pintu yang kini telah terkunci rapat, memancarkan aura dominasi mutlak yang tak lagi tertutupi oleh topeng "kakak tiri yang santun" yang biasa ia pakai di hadapan orang tua mereka.
"Mereka sudah benar-benar pergi," ujar Devan dengan intonasi rendah, suaranya yang berat bergema halus di dalam keheningan kamar yang remang.
Devan melangkah mendekat dengan gerakan perlahan namun pasti, memangkas jarak di antara mereka hingga Aluna bisa merasakan hawa hangat yang menguar dari tubuh pria itu. Tangannya yang hangat terulur menjangkau pinggang Aluna, menarik tubuh mungil gadis itu rapat ke dalam dekapannya tanpa memberi ruang sedikit pun untuk ragu atau melangkah mundur.
"Kak Devan..." bisik Aluna halus, menyandarkan dahinya di dada tegap Devan yang berdetak konstan. "Kalau tetangga sekitar atau orang luar curiga gimana? Rumah kita mendadak sepi begini..."
Devan menunduk sedikit, mendaratkan kecupan hangat yang dalam di puncak kepala Aluna sebelum berbisik tepat di samping telinganya. "Pintu pagar utama sudah aku kunci rapat, tirai jendela seluruh ruangan sudah ditutup dari dalam. Di dalam rumah ini, cuma ada kita berdua, Aluna. Tidak ada mata yang mengawasi, tidak ada suara yang mendengar. Nggak ada satu pun yang perlu kamu takutkan."
Devan mengangkat wajah Aluna menggunakan ibu jarinya, memaksa iris mata gadis itu untuk saling mengunci dengannya. Tanpa menunggu balasan kata dari bibir Aluna, Devan membungkam mulut adiknya dengan ciuman yang dalam, protektif, dan sarat akan tuntutan kepemilikan mutlak. Ciuman itu tidak lagi memberikan ruang bagi Aluna untuk berpikir jernih.
Tak puas hanya berdiri di ambang pintu, Devan menyusupkan ke dua tangannya ke bawah paha Aluna, mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam gendongannya dengan sangat mudah. Aluna refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang Devan, meremas kuat bahu tegap pria itu saat Devan membawanya melangkah menuju tempat tidur dan merebahkannya perlahan di atas kasur empuk yang terhampar.
Devan langsung menyusulkan tubuh tegapnya di atas Aluna, menopang sebagian besar bobotnya seraya tak menghentikan sapuan bibir serta kecupan panasnya di garis leher Aluna yang terbuka. Jemari Devan yang hangat dan berani bergerak menyusup ke balik kaus rajut Aluna, mengusap pinggul, perut, hingga punggung mulusnya tanpa sekat perantara. Setiap sentuhan intim, remasan lembut, dan belaian jemari Devan di atas kulit sensitifnya mengirimkan gelombang desiran hebat yang membuat desah pasrah Aluna pecah pelan di tengah keremangan malam.
Aluna menengadahkan kepalanya pasrah, membiarkan Devan mengecup ceruk lehernya lebih dalam, memberikan tanda kepemilikan rahasia yang tersembunyi di bawah pendar temaram lampu kamar. Dalam kungkungan hangat dan dominasi Devan yang begitu memabukkan, Aluna menyerahkan seluruh sisa pertahanannya. Mereka berdua tenggelam sepenuhnya dalam keintiman terlarang yang kian mengikat perasaan dan raga mereka sepanjang malam akhir pekan yang panjang ini.