Indonesia
NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Senin pagi itu kantor masih sama seperti biasanya. Deretan meja penuh monitor menyala. Suara keyboard bersahutan. Mesin printer berdengung tanpa henti. Aroma kopi hitam bercampur pendingin ruangan memenuhi lantai kerja.

Namun di tengah semua rutinitas itu, wajah Deva terlihat paling berbeda. Matanya sembab, lingkar hitam di bawah kelopak semakin jelas. Kemeja kerjanya bahkan sedikit kusut, seolah dipakai tanpa disetrika.

Deva duduk menatap layar komputer cukup lama tanpa mengetik apa pun. Kursor di monitor berkedip-kedip kosong. Sampai sebuah tangan menepuk pundaknya pelan.

“Deva.”

Deva menoleh pelan. Rian berdiri di pintu sambil membawa map.

“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini jadi pendiam?” tanya Rian sambil berjalan ke arahnya.

Deva menarik sudut bibir tipis. Senyum yang lebih mirip dipaksakan. “Lagi banyak pikiran.”

“Banyak pikiran sampai muka kamu kayak orang enggak tidur sebulan?”

Deva hanya terkekeh hambar.

Rian menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas. “Hati-hati, bro. Kalau punya masalah jangan dipendem sendiri.”

Deva mengangguk kecil dan tersenyum. Namun setelah Rian pergi senyum tipis itu langsung menghilang. Tatapannya kembali kosong.

Karena semalam ia lagi-lagi pulang ke rumah dalam keadaan lelah setelah berkeliling selama dua hari di kota sebelah, seperti biasanya jika lagi libur.

Jam makan siang tiba. Beberapa karyawan mulai berkumpul di pantry kantor. Suara sendok beradu dengan piring. Tawa kecil terdengar di beberapa sudut.

Deva duduk bersama Rian, Bayu, dan Fadli. Awalnya obrolan mereka ringan. Tentang kerjaan, target bulanan, atau Bos yang makin cerewet.

Sampai Bayu mendadak mengeluh sambil menyender di kursi. “Bulan ini aku tekor lagi. Ibu minta dibenerin atap rumahnya karena sudah banyak bagian yang bocor.”

“Lah, sama,” sahut Fadli sambil tertawa. “Aku juga ditodong buay bayar sekolah adik yang masih SMA.”

“Namanya juga anak laki-laki pertama,” celetuk Rian. “ Selalu jadi ATM keluarga.”

Semua tertawa kecil, kecuali Deva. Ia hanya diam sambil mengaduk kopi yang bahkan belum diminumnya.

Rian melirik. “Kamu juga gitu, Va?”

“Deva mah punya gaji besar. Jadi, enggak perlu bingung,” celetuk Bayu.

Deva terdiam beberapa detik. Lalu entah kenapa mulutnya bergerak pelan. “Iya, aku juga tiap bulan tekor.”

Yang lain langsung menoleh. “Yang Bene!” tanya mereka kompak.

Deva tertawa hambar. “Aku malah udah kayak jadi tulang punggung satu kampung.”

Candaan itu terdengar lucu, tetapi sorot matanya tidak ikut tertawa.

Ruangan mulai sedikit tenang. Dan tanpa sadar Deva mulai bicara lebih banyak.

“Dari dulu semua tanggungan keluarga ada di aku. Orang tua, adik-adikku. Kebutuhan rumah. Utang keluarga.”

Tangan Deva memainkan gelas kopi pelan. “Kalau ada yang butuh uang pasti dilimpahkan ke aku.”

Deva tersenyum kecil. “Kadang aku sampai enggak ngerti gajiku itu sebenarnya buat siapa.”

Tak ada yang menyela. Karena nada suara Deva terdengar terlalu lelah untuk dipotong.

“Awalnya aku pikir itu normal. Namanya juga anak laki-laki paling besar.” Ia menelan ludah. “Tapi lama-lama, semua jadi keterlaluan.”

Bayu mulai mengernyit. “Maksud kamu?”

Deva menunduk. “Keluargaku enggak pernah peduli dengan kondisi rumah tanggaku. Yang penting kebutuhan mereka terpenuhi. Tiap bulan jangan sampai kurang. Kalau aku nolak, aku akan dibilang anak durhaka.”

Suasana pantry mulai berubah sunyi. Deva tertawa kecil lagi. Tawa yang terdengar retak. Ia berhenti sebentar. Rahangnya mengeras.

“Istri ku akhirnya pergi membawa anak-anak.”

Kalimat itu terucap begitu saja dengan nada pelan.

Fadli bahkan menaruh sendoknya perlahan. “Kenapa dia pergi bawa anak-anak?”

Deva menunduk lebih dalam. “Karena udah capek.”

Beberapa detik terasa panjang. Sampai akhirnya Rian menghembuskan napas pelan.

“Bro...” Ia menggeleng kecil. “Kamu itu generasi sandwich.”

Deva mengangkat kepala sedikit. Keningnya berkerut. “Maksudnya?”

Rian bersandar pelan sambil menatapnya serius. “Kamu yang nanggung semua orang. Baik itu orang tua, adik, keluarga.”

Fadli menghela napas panjang, “Tapi, keluarga kamu keterlaluan.”

Deva langsung diam. Jantungnya berdetak lebih keras. Karena baru kali ini ada orang lain yang mengatakan itu dengan terang-terangan. Dan anehnya itu terasa jauh lebih menampar.

Rian lanjut bicara pelan. “Bantu keluarga itu bagus. Tapi kalau sampai rumah tangga sendiri hancur, itu bukan bakti.”

DEG.

Kalimat itu menghantam dada Deva telak. Ia langsung membeku. Tatapannya kosong menatap meja. Namun, isi kepalanya mendadak penuh.

Rian kembali bicara pelan. “Kamu sadar enggak? Istri kamu pergi bukan karena enggak cinta. Tapi karena dia capek berjuang sendirian.”

Deva pun menunduk. Tangannya mengepal kuat di bawah meja. Rahangnya bergetar pelan. Dia benar-benar merasa menyesal. Bukan sekadar sedih kehilangan, tetapi juga menyesal sedalam itu.

Dulu, Kartika sudah berkali-kali memberi tanda. Wanita itu pernah meminta diprioritaskan. Namun, setiap kali bicara, Deva selalu meminta istrinya untuk mengerti, harap mengalah, dan sedikit bersabar.

Deva mengusap wajah kasar. Matanya mulai memerah dan suaranya serak menahan tangis.

“Selama ini aku selalu dituntut orang tua agar jadi anak yang baik. Kalau aku nolak keinginan ortu ... aku sering disebut anak durhaka.”

Tak ada yang menyela. Mereka menatap Deva dengan iba.

“Kalau kamu sibuk mikirin keluargamu sendiri, lalu siapa yang mikirin istri dan anak kamu, Va?” tanya Rian.

Kalimat itu kembali menusuk. Deva memejamkan mata dan napasnya terasa makin berat. Dia menelan ludah susah payah.

Karena jawabannya tidak ada. Kartika selama ini berjuang sendirian dan menelan kecewa.

Sementara dirinya sibuk menjadi penyelamat semua orang, kecuali keluarga kecilnya sendiri.

Lalu, ironisnya orang-orang yang terus ia bela bahkan tidak pernah benar-benar peduli dirinya hancur.

Deva menatap meja cukup lama. Sampai akhirnya suara pelannya keluar dengan putus asa. “Jadi, apa yang harus aku lakukan?”

1
Anre1201
Ada yg gantung, kok ga ada bab tentang Bu Hanin tahu kalau Kartika bukan sekedar anak yatim piatu miskin?? Ga ada cerita tentang saat Bu Hanin tahu kalau Kartika anak orang kaya, punya rumah tingkat 3 dan CEO dari perusahaan besar, ga ada cerita tentang reaksi Bu Hanin saat tahu Deva yang gantiin Kartika
Anre1201
Bersyukur di sini Deva bisa jadi laki-laki waras, walaupun keluarga nya agak Stress tapi dia tidak ikutan Stress. Deva bisa melihat mana yg baik dan benar.
Anre1201
Dari cerita ini dapat pelajaran :

Jangan pernah bergantung sama pasangan / orang lain. Bikin repot!!
Kalau Pingin sesuatu ya Kerja!!!
Dari kecil, anak-anak jangan di manja tapi di ajarkan untuk berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, jangan dibiarkan cara instan!!!
Dari kecil anak-anak harus terbiasa bekerja di rumah, entah merapikan mainan, tempat tidur, kursi makan, sepatu, baju kotor, buku, dll biar ga kaget kalau saat besar nanti 🙏🙏
Anre1201
Berpisah baik untuk koreksi + Introspeksi diri masing-masing, kalau masalah benar-benar tidak bisa di selesaikan, tidak ada yang mau mengalah, menurunkan ego, berpikir jernih, melihat jauh ke depan..
Lebih baik berpisah dulu, sebulan - dua bahkan 1 tahun.. Tidak masalah...
Maka kalau harus bercerai.. Mungkin sudah final 🤔
Anre1201
Mending Kartika pura-pura bodoh dan bilang : ya sudah mas, ganti pakai simpanan kita dulu 35jt, tapi Gavin harus bayar setiap bulan karna itu di anggap Hutang
Anre1201
Banyak orangtua yang bilang, setelah nikah, anak-anak wajib bantu orangtua. Malah keluarga pihak suami / istri kadang jadi parasit dan benalu.
Kalau tidak ada ketegasan, maka rumah tangga akan hancur
Anre1201
Bucin ga salah, yg salah tuh kalau jadi Goblok karna Bucin
Anre1201
Jadi inget waktu Ibu-ibu Konoha Bilang kalau gaji 3 juta itu cukup buat keluarga dengan 2 anak. Jadi harus bersyukur. Jangan banyak nuntut😃
sherly
novel yg bagus, alur ceritanya menarik...
sherly
cerita yg luar biasa, sampai ngk bisa coment ditiap bab karna terlalu fokus... tq untuk kisah hidup mereka yg begitu nyata dengan segala masalahnya, apalgi dikisah ini Deva yg sangat setia dan Kartika yg penuh pengertian dan perhatian... 👍👍
sherly
sejauh ini aku suka ceritanya sebab TDK ada pelakor seperti di novel2 lain ...hanya keluarga yg toxic... 👍
Umi Fitriani
mampir Thor
yuni ati
Mantap
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus kak Santi,suka banget, terimakasih buat ceritanya🙏
🌸 Sunshine 🌸: Sama-sama, Kak. Terima kasih sudah baca karya aku ini ❤️
total 1 replies
Wirly Pena
karya yang bagus thor 👍

halo kakak2, jangan lupa mampir di karya pertamaku.
judul : aku istrimu bukan babu mu

terimakasih 🙏
Wirly Pena
semangat thor 💪

halo temen2, dukung dam baca karya pertamaku.
judul : Aku istrimu bukan babu mu

terimakasih 🙏
Alfia Amira
orang ketiga dalam rumah tangga tuh bukan hanya pelakor , tpi dari keluarga sendiri juga
Alfia Amira
selama ini istrimu adalah CEO dari keluarga Santoso , dia menyamar sebagai cleaning service di perusahaan nya sendiri 😂😂😂
Tatan Utari
cerita nya bagus banget, bukan perselingkuhan, suami idaman, semoga keluarganya tidak merongrong lagi
Tatan Utari
Bab 36 sedih banget aku sampai nangis, terharu semoga mereka kumpul lagi bersama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!