Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:570
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Semua Hal Harus Dikejar

Pagi itu, Almeera kembali datang ke area kampus jauh lebih awal. Ia memilih duduk santai di salah satu bangku panjang dekat taman sambil membuka lembaran catatan kuliahnya. Udara pagi hari ini terasa cukup sejuk dan menyegarkan. Beberapa mahasiswa mulai berdatangan dari arah gerbang, membuat suasana kampus perlahan lahan berubah menjadi ramai.

Almeera membaca beberapa halaman ringkasan materinya sambil sesekali menggoreskan pulpen untuk mencatat bagian poin yang menurutnya penting. Tidak lama kemudian, Eliza datang menghampiri.

“Meera!” panggil Eliza dari jauh.

Almeera langsung menolehkan wajahnya cepat. “Oh, halo, Liz. Kamu baru datang dari arah mana emangnya?”

“Baru banget jalan dari area parkiran nih,” jawab Eliza sambil menarik kursi lalu duduk bersantai di sebelahnya. “Wah, tumben banget kamu kelihatan rajin belajar sepagi ini.”

Almeera langsung tersenyum manis menanggapi pujian sahabatnya. “Iya dong, biar waktu kuliah aku sekarang nggak cuma datang numpang duduk terus langsung pulang, Liz.”

Eliza langsung tertawa renyah. “Hahaha! Berarti sekarang siklus hidup kamu beneran sudah mulai berjalan teratur ya, Meera?”

“Ya... jujur belum sepenuhnya teratur rapi sih hari ini,” jawab Almeera merendah.

“Tapi setidaknya di diri kamu sudah kelihatan ada usaha keras yang nyata kok, Meera. Itu poin yang bagus,” ucap Eliza menyemangati ramah.

Almeera menganggukkan kepalanya tegap setuju. “Iya, bener banget, Liz. Aku juga baru sadar hari ini kalau selama beberapa tahun belakangan ini, banyak banget keputusan konyol yang aku lakukan cuma karena terlalu menuruti perasaan sesaat tanpa berpikir logis.”

Eliza pandangan matanya menatap wajah Almeera lekat lekat selama beberapa detik. “Meera, aku boleh tanya? Sampai hari ini jujur kamu masih sering kepikiran nggak sih sama masalah urusan masa lalu kamu yang kelam?” tanya Eliza hati hati.

Pertanyaan mendalam dari mulut sahabatnya itu seketika sukses membuat Almeera terdiam membisu selama beberapa detik di tempat duduknya. Ia menatap kosong ke arah tanaman hias di depan mereka sebelum akhirnya menghela napas pendek.

“Kalau dibilang masih kepikiran... jujur kadang kadang ingatan itu masih suka lewat di kepala kok, Liz,” jawab Almeera jujur tanpa ada rasa gengsi lagi.

Eliza memilih diam, sengaja memberikan ruang agar sahabatnya bisa menuangkan isi hatinya dengan tenang.

Almeera bergerak menutup buku catatan kuliahnya dengan gerakan santai. “Tapi perbedaan besarnya adalah untuk hari ini aku berkomitmen buat nggak mau lagi membuang energi terus terusan berjuang melawan atau menolak ingatan masa lalu aku.”

Eliza mengernyitkan dahinya sedikit bingung. “Loh, maksud arah ucapan kamu itu bagaimana, Meera?”

“Ya kalau dulu kan aku selalu memaksa otak aku dengan keras buat melupakan total seluruh memori tentang Kaizan. Tapi akibatnya, malah bikin dada aku ngerasa makin sesak dan makin kepikiran stres sendiri. Jadi kalau untuk sekarang, aku memilih buat membiarkan ingatan itu mengalir aja secara alami. Kalau mendadak ingat ya sudah ingat aja, sewajarnya manusia. Tapi yang pasti, hati aku berjanji nggak akan pernah mau lagi buat berjalan mundur kembali ke pelukan orang itu,” jawab Almeera dengan nada suara yang sangat tenang, tegas, dan berkesan dewasa.

Lengkungan senyum tulus yang sangat hangat langsung merekah di wajah Eliza hari itu. Ia menepuk pundak Almeera ramah. “Menurut penilaian aku, pilihan sikap kamu yang sekarang itu beneran jauh lebih sehat dan cerdas, Meera.”

Almeera ikut tersenyum manis mendengar dukungan sahabat setianya. “Iya, bener, aku sendiri juga ngerasa jauh lebih tenang dadaku sekarang, Liz.”

Tidak lama setelah obrolan hangat itu selesai, bel tanda jam kuliah dimulai berbunyi nyaring. Almeera dan Eliza langsung melangkah berjalan bersama memasuki ruang kelas kelas pertama. Hari itu, dosen matakuliah memberikan sebuah pendaftaran tugas baru yang mekanismenya harus diselesaikan secara berkelompok kerja.

Begitu instruksi selesai diberikan, suasana ruang kelas langsung berubah menjadi sedikit bising karena beberapa mahasiswa mulai aktif berdiskusi mengenai pembagian porsi tugas. Almeera segera membuka buku catatan kecil miliknya untuk mencatat.

“Liz, kalau untuk bagian poin materi kelompok yang paragraf ini biar aku ambil aja ya hari ini,” ucap Almeera menawarkan diri membuka pembagian kerja.

Eliza menoleh dan menatap wajah Almeera heran. “Wah, kamu beneran merasa yakin sanggup mengurus bagian materi sesulit itu, Meera?”

“Iya, yakin seratus persen kok, tenang aja,” jawab Almeera mantap.

“Awas ya, jangan sampai nanti kamu malah kelelahan kuliah lagi karena terlalu memaksakan diri secara berlebihan,” pesan Eliza perhatian mengingatkan.

“Aman, Liz. Tenang aja, serahkan sama aku,” sahut Almeera tersenyum ramah.

Sementara itu, di barisan sudut kelas yang berbeda jurusan, tampak posisi Rafael dan Daffa juga sedang sibuk berdiskusi serius membicarakan urusan tugas kelompok mereka sendiri. Di sela sela memandangi tugaa, Daffa terlihat memasang wajah lemas sambil mengeluh.

“Aduh, Raf. Kenapa sih beban tugas kuliah akhir semester kita hari ini rasanya banyak banget yang belum selesai diketik?” keluh Daffa lemas menopang dagunya.

Rafael langsung tertawa kecil melihat kepanikan sahabatnya tersebut. “Hahaha, ya karena status kita hari ini kan memang mahasiswa, Daffa. Wajar kalau dikasih tugas.”

“Iya, gua tahu kalau urusan itu. Tapi tolong jangan langsung dikasih sebanyak ini juga dong, pusing kepala gua,” protes Daffa bercanda.

“Ya kuncinya tinggal kita cicil kerjakan satu satu secara fokus aja dari sekarang, jangan malah stres mengeluh,” sahut Rafael memberikan kalimat bijaknya yang sangat tenang dan berwibawa seperti biasanya.

Daffa langsung mengembuskan napas panjangnya pasrah. “Iya deh, bener kata lu. Ayo kita lanjut ketik lagi.”

Beberapa jam pun berlalu dengan cepat. Setelah kelas resmi dibubarkan oleh dosen, ada beberapa mahasiswa yang masih memilih untuk bertahan diam di dalam ruangan kelas guna menyelesaikan sisa urusan pembagian kelompok kerja mereka.

Almeera bangkit berdiri dari kursi belajarnya sambil bergerak memasukkan buku bukunya ke dalam tas ransel. Namun secara tidak sengaja, ada salah satu lembar kertas catatan kecil miliknya yang tergelincir jatuh ke lantai koridor.

Almeera belum sempat membungkukkan badannya ke bawah untuk mengambil kertas tersebut, ketika secara tak diduga, tangan Rafael sudah bergerak lebih cepat memungut kertas tersebut terlebih dahulu dari lantai.

“Ini kertas catatan kamu yang jatuh, Meera,” ucap Rafael ramah sambil menyodorkannya dengan senyuman tipis.

Almeera refleks mendongakkan wajahnya cepat, lalu mengulurkan tangan untuk menerima kertas tersebut dari genggaman Rafael. “Eh, iya, benar. Terima kasih banyak ya atas bantuannya, Ka Rafael.”

“Sama sama,” jawab Rafael ramah sambil mengangguk. “Untuk urusan bagian pembagian tugas kelompok kalian hari ini, semuanya sudah selesai dibagi rata?” tanya Rafael perhatian seputar urusan kuliah.

“Alhamdulillah sudah beres semua kok harian ini, Ka,” jawab Almeera ramah tersenyum manis.

“Oke, bagus kalau begitu. Nanti kalau di tengah jalan kelompok kalian ada poin materi yang dirasa mengalami kesulitan, kalian boleh kok ajak kita buat berdiskusi bareng lagi,” ucap Rafael menawarkan bantuan ilmunya dengan sangat sopan dan terhormat.

Almeera menganggukkan kepalanya patuh menghormati kebaikan kakak tingkatnya itu. “Oke, siap, Ka Rafael. Sekali lagi terima kasih banyak ya.”

Setelah obrolan formal itu selesai, Rafael pun melangkah kembali berjalan menuju ke mejanya sendiri. Eliza yang sejak tadi berdiri diam menonton interaksi singkat tersebut dari sudut koridor, mendadak langsung menampilkan senyuman jailnya yang khas ke arah Almeera.

Almeera yang sadar sedang digoda langsung memerhatikan wajah sahabatnya itu tegap. “Loh, kamu kenapa coba, Liz? Muka kamu kok mencurigakan begitu?”

Eliza langsung menggelengkan kepalanya cepat menahan tawa. “Enggak ada apa apa kok, santai aja.”

“Halah bohong kamy. Itu buktinya kamu dari tadi senyum senyum sendiri melihat ke arah aku,” cecar Almeera heran.

“Sumpah, Meera, aku hari ini beneran nggak ada mengucapkan kalimat apa apa loh ya ke kamu,” jawab Eliza tertawa lepas menikmati kepanikan sahabatnya.

Almeera hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya pasrah melihat tingkah jail sahabat setianya tersebut. “Ya sudah terserah kamu deh, Liz.” Mereka berdua pun akhirnya melangkah bersama meninggalkan area ruang kelas.

Siang harinya, Almeera terpaksa harus melangkah pergi berjalan menuju ke gedung perpustakaan sendirian tanpa ditemani sahabatnya. Sebab, Eliza mendadak harus pergi menemui salah satu anggota kelompok besarnya di gedung depan guna mendiskusikan urusan tugas mereka.

Almeera melangkah masuk ke dalam ruangan perpustakaan yang sunyi, lalu memilih mengambil posisi duduk di sebuah meja pojok yang suasananya cukup tenang dan sepi. Ia membuka layar laptopnya, lalu mulai fokus mencicil ketikan tugas bagian porsinya dengan tenang.

Di tengah kesibukan mengetik, ponsel di atas mejanya mendadak bergetar pendek. Almeera meraih hp nya, dan seulas senyum manis langsung merekah di bibirnya saat melihat nama Papa tertera di layar teks chat dari jauh.

“Anak gadis Papa, kamu hari ini sudah sempat makan siang belum di kampus?” tanya Papa perhatian lewat teks chat nya.

Almeera dengan lincah langsung mengetik kalimat balasan pendek dengan perasaan bahagia:

“Alhamdulillah sudah kok, Pah. Tadi Meera sudah makan siang bareng Eliza hari ini.”

Tidak butuh waktu lama, sebuah notifikasi chat baru dari nomor Papa langsung masuk kembali ke ponselnya.

“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Kalau untuk urusan kuliah kamu hari ini bagaimana? Semuanya aman kan, Meera?”

Almeera mengetik balasan lagi dengan cepat:

“Aman dan lancar banget kok, Pa. Hari ini kebetulan ada pendaftaran tugas kelompok baru lagi dari dosen di kelas.”

Papa langsung membalas lagi dengan cepat memberikan semangat hangatnya. “Wah, padat ya tugasnya. Tetap semangat terus ya kuliahnya, Sayang! Tapi ingat pesan Papa, setelah urusannya beres jangan sampai lupa buat istirahat.”

Almeera memandangi deretan teks kalimat perhatian dari Papanya itu cukup lama di bawah temaram lampu meja. Tanpa bisa ditahan, ada segaris rasa rindu dan kangen yang mendalam yang merayap di dalam lubuk hatinya. Papa tercintanya sampai hari ini masih harus berjuang bekerja sendirian di negeri orang yang letaknya sangat jauh, dan jadwal kepulangannya terpaksa harus tertunda lebih lama dari rencana awal mereka.

Almeera memantapkan hatinya lalu mengetik kalimat balasan tegar sebagai penutup obrolan:

“Iya, Papa sayang, terima kasih atas semangatnya. Papa juga di sana harus selalu rajin jaga diri ya, jangan terlalu capek kerja. Semoga urusan pekerjaan kantor Papa bisa cepat selesai biar Papa bisa segera pulang ke rumah. Meera kangen Papa.”

Setelah pesan terakhir itu terkirim, Almeera meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dengan posisi terbalik, lalu kembali memfokuskan pikirannya untuk melanjutkan sisa tugas kuliah kelompoknya di laptop.

Ia merenung jujur di dalam jiwanya dia tersadar bahwa dirinya yang sekarang beneran sudah jauh lebih bisa membuka mata untuk menghargai dan menghormati arti keberadaan keluarganya hari ini.

Jika mengingat masa lalunya yang dulu, Almeera selalu bertingkah konyol karena sering kali menganggap remeh dan mengabaikan perhatian kecil dari keluarganya sebagai hal yang biasa biasa saja. Namun setelah melewati proses hijrah hari ini, dia akhirnya mulai tersadar sepenuhnya bahwa bentuk perhatian yang sangat sederhana seperti sebuah teks chat bertanya kabar dari Papa dari jauh siang ini kenyatannya justru terasa sangat berharga dan mahal bagi kedewasaan jiwanya.

Waktu sore hari mulai turun saat Almeera akhirnya memutuskan untuk merapikan laptopnya dan melangkah keluar meninggalkan area gedung perpustakaan kampus. Tepat di halaman koridor luar, dia tidak sengaja kembali berpas pasan bertemu dengan Eliza yang baru saja menyelesaikan urusannya.

“Eh, Meera! Urusan tugas kamu di dalam beneran sudah selesai dikerjakan semua, Meera?” tanya Eliza membuka obrolan penutup.

“Jujur belum semuanya selesai diketik sih, Liz. Tapi Alhamdulillah sebagian sudah aman beres kok,” jawab Almeera ramah menjelaskan progresnya.

Eliza menganggukkan kepalanya tegap ikut merasa lega. “Oke, mantap, bagus kalau begitu.” Mereka berdua pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka berjalan bersama menuju ke arah halaman depan kampus untuk pulang.

Di tengah jalan menyusuri halaman koridor, Eliza tiba tiba menolehkan wajahnya menatap Almeera tulus. “Meera,” panggil Eliza lirih.

“Iya, ada apa emangnya, Liz?” sahut Almeera menoleh ramah.

“Aku... jujur aku ngerasa senang banget loh melihat kondisi kamu yang sekarang, Meera,” ucap Eliza tulus memuji perkembangan sahabatnya.

Almeera mengernyitkan dahinya sedikit bingung. “Loh, senang kenapa emangnya maksud kamu?”

“Ya karena dari gerak gerik kamu hari ini, kamu beneran kelihatan tampil jauh lebih tenang, damai, dan adem banget pembawaannya daripada kemarin,” jawab Eliza memberikan penilaian tulusnya selaku sahabat karib.

Almeera langsung tersenyum manis mendengar pujian hangat tersebut. “Ya... Alhamdulillah, Liz. Mungkin perubahan itu bisa terjadi hari ini karena diri aku sendiri sudah mulai bisa sadar dan paham tentang satu ilmu prinsip hidup yang esensial.”

Eliza menatap mata Almeera dalam dalam dengan penuh rasa kepo. “Ilmu esensi dalam urusan apa emangnya yang baru kamu pahami, Meera?”

Almeera memaku pandangan matanya ke depan halaman kampus yang luas sebelum menjawab dengan nada suara yang sangat dewasa. “Aku hari ini mulai paham... kalau di dalam lembaran kehidupan nyata di dunia ini, ternyata tidak semua hal yang hilang dari genggaman kita itu harus selalu dipaksa untuk dikejar kembali, Liz.”

Eliza memilih diam membisu, fokus mendengarkan untaian curahan hati sahabatnya dengan takzim.

“Dulu, di masa lalu dunia aku yang bodoh, isi pikiran di kepala aku selalu konyol karena terus menerus mengira bahwa setiap kali aku kehilangan sesuatu hal atau ditinggal pergi oleh seseorang, artinya aku berkewajiban untuk harus berjuang sekuat tenaga mengejar urusan lama tersebut agar bisa kembali lagi ke hidup aku. Namun setelah melewati proses hijrah hari ini, aku akhirnya mulai mengerti dan sadar secara dewasa kalau di dunia ini, kenyatannya memang ada beberapa hal lama yang harus dibiarkan pergi dengan ikhlas dari hidup kita, agar langkah kaki kita bisa memiliki ruang yang bersih untuk berjalan menuju ke arah takdir baru yang jauh lebih baik,” lanjut Almeera tersenyum tulus tanpa ada beban sesak lagi di dadanya.

Eliza tampak menganggukkan kepalanya puas dan haru mendengarkan penuturan Almeera. “Tapi... jujur kamu sampai hari ini masih menyimpan rasa ketakutan nggak sih kalau harus menghadapi ujian kehilangan lagi di masa depan, Meera?” tanya Eliza lagi menguji ketegaran sahabatnya.

Almeera menarik napasnya dalam dalam secara pasrah sebelum menjawab jujur. “Kalau dibilang takut... jujur rasa ketakutan itu pasti masih ada menyisakan sedikit di dalam hati aku, Liz.” Ia sempat terdiam sebentar, lalu menyambung kalimatnya dengan senyuman manisnya yang paling teduh, “Tapi pembeda besarnya adalah Almeera yang sekarang sudah mulai belajar tegar buat menaruh rasa percaya penuh seutuhnya kepada keindahan skenario rencana takdir dari Allah SWT.”

Eliza ikut tersenyum sangat hangat mendengar kemantapan jiwa sahabat setianya tersebut. Mereka berdua pun menghabiskan sisa perjalanan pulang hari itu dengan melangkah bersama penuh kedamaian menuju ke area pangkalan angkutan umum.

Sore menjelang magrib, memang tidak ada kejadian besar yang dramatis terjadi di hidupnya. Tidak ada momen kejutan yang heboh, dan tidak ada juga perubahan takdir hidup yang berubah secara instan dalam semalam. Namun uniknya, justru dari untaian percakapan sederhana bersama sahabat setianya di sepanjang jalan koridor kampus tadi, Almeera terbukti telah berhasil belajar tentang kedewasaan jiwa yang sangat mahal. Yaitu, pemahaman berharga bahwa proses melepaskan masa lalu itu bukan berarti kita mengalami kekalahan hidup, proses menerima kenyataan pahit itu murni bukan berarti kita telah menyerah pasrah pada takdir, dan tentang esensi bahwa tidak semua hal lama yang telah melangkah pergi meninggalkan hidup kita itu harus selalu sudi dikejar kejar lagi dari belakang hari ini.

Sesampainya di rumah, Almeera langsung membersihkan diri ke kamar mandi, lalu membantu Mamanya di dapur untuk menyiapkan hidangan menu makan malam bersama dengan penuh kehangatan keluarga.

Malam harinya, suasana di luar jendela kamar sudah tampak sangat sunyi, gelap, dan dingin. Almeera sudah duduk tenang di depan meja belajarnya yang sepi. Ia merogoh tas ranselnya untuk mengambil buku catatan kecil kesayangannya, lalu menggoreskan tinta pulpen di atas halaman lembar baru yang masih bersih hari ini untuk mengukir kalimat renungan hatinya:

“Hari ini, aku berhasil belajar satu kebahagiaan hidup yang baru. Bahwa di masa laluku yang bodoh, isi pikiran di kepalaku selalu konyol karena terus menerus mengira bahwa arti dari sebuah kehilangan itu menuntut diriku untuk harus sibuk mencari dan mengejar kembali apa saja hal lama yang telah melangkah pergi dari hidupku.”

Almeera menahan gerakan tangannya sejenak, menarik napas panjang, lalu kembali melanjutkan tulisan tangannya:

“Namun lewat proses hijrah hari ini, sekarang aku akhirnya mulai bisa sadar dan paham seutuhnya. Bahwa di dunia ini, ternyata ada beberapa hal lama yang memang mutlak harus dibiarkan pergi dengan ikhlas dari genggaman kita agar langkah kaki kehidupan baru kita bisa memiliki ruang yang bersih untuk melangkah berjalan menuju ke arah takdir baru yang jauh lebih indah dan diridai oleh Nya.”

Almeera membaca ulang deretan kalimat bermakna yang baru selesai dia tulis itu di dalam hatinya, lalu segera menutup buku catatannya dengan rapat.

Untuk saat ini, Almeera berjanji pada jiwanya sendiri untuk tidak mau memikirkan hal hal yang terlalu jauh ke depan mengenai urusan masa depannya yang misterius. Dia hari ini sudah tidak memiliki ketertarikan lagi untuk sibuk memikirkan atau menebak nebak tentang siapa sosok pria baru yang kelak akan datang mengisi ruang di dalam kehidupannya.

Hari ini, Almeera terbukti sudah jauh lebih sibuk memprioritaskan sisa waktunya untuk memikirkan tentang bagaimana cara membentuk kualitas nilai harga dirinya sendiri seutuhnya selaku seorang perempuan terhormat di atas jalur agama.

Almeera kemudian bangkit berdiri dari kursi, mengambil air wudu ke kamar mandi, lalu segera mengenakan mukena putih miliknya untuk melaksanakan ibadah salat malamnya di atas sajadah dengan penuh rasa pasrah dan rendah hati.

Setelah selesai menunaikan salat, dia memilih tidak langsung beranjak pergi. Almeera tetap duduk bersimpuh cukup lama di atas sajadahnya dalam keheningan malam yang sunyi. Malam ini, dia memilih tidak mau memanjatkan doa permintaan yang terlalu banyak menuntut kepada Tuhannya. Dia juga sudah tidak memiliki ambisi lagi untuk memaksa agar hal hal lama yang bukan miliknya bisa kembali lagi ke hidupnya harian ini. Ia murni hanya ingin bersujud memohon pasrah agar hatinya selalu diberikan kekuatan iman yang tegar untuk bisa terus konsisten berjalan maju ke depan di atas jalur hijrahnya harian ini.

Sebab Almeera mulai paham sepenuhnya, bahwa perjalanan hijrah untuk memperbaiki diri hari ini memang kenyatannya masih belum resmi selesai beres semua. Di hari hari esok ke depannya, dia sadar kalau dirinya masih bisa saja mendadak merasa lelah kuliah, masih bisa mendadak goyah diterpa angin masalah duniaku, atau bahkan masih bisa sesekali merasa sedih saat bayang bayang masa lalunya memercik kembali di kepala secara tidak sengaja. Namun, setidaknya untuk hari ini, Almeera sudah menanamkan satu keyakinan di dalam jiwanya bahwa dirinya tidak harus langsung menuntut dirinya untuk berubah menjadi sosok hamba yang suci dan sempurna tanpa cacat cela terlebih dahulu, hanya agar bisa diizinkan untuk terus melangkah maju ke depan. Yang paling penting bagi dirinya saat ini adalah dia harus terus berjuang untuk mau terus berusaha memperbaiki hubungannya dengan Tuhan sehari demi sehari ini.

Seulas senyum manis yang sangat tulus dan damai langsung merekah di wajah Almeera malam ini sebelum akhirnya dia bangkit untuk mematikan saklar lampu kamar dan memejamkan mata untuk tidur.

Ia hari ini akhirnya berhasil memahami satu ilmu kedewasaan hidup yang paling esensial yang di masa lalunya tidak pernah mampu dia jangkau oleh pikirannya. Bahwa tidak semua hal di dunia ini harus selalu dikejar kejar mengikuti hawa nafsu, tidak semua ujian kehilangan harus selalu diganti dengan kehadiran hal baru hari ini juga, dan tidak semua jenis pertemuan tidak sengaja di kampus harus langsung diberi sebuah arti hubungan asmara yang spesial hari ini.

Beberapa takdir dari Allah itu ternyata hari ini memang murni hanya butuh untuk dijalani aja prosesnya dengan penuh rasa sabar yang ikhlas. Berjalan pelan pelan saja secara konsisten sehari demi sehari sampai di waktu yang paling tepat nanti, Allah SWT sendiri yang akan menurunkan petunjuk nya untuk menunjukkan ke mana arah langkah kaki berikutnya harus diarahkan dengan indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!