Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Obsesi
Rania melangkahkan kakinya keluar dari gedung dengan langkah perlahan. Tangannya masih menggenggam tas kecil berisi dokumen kerja sama yang baru saja ia tandatangani.
Namun baru beberapa langkah berjalan...
"Klik!"
Kilatan kamera langsung menyambutnya.
"Nona Rania!"
"Apakah benar Anda baru saja menandatangani kerja sama dengan mantan suami Anda?"
"Apakah Anda dan Tuan Brian akan kembali bersama?"
"Bagaimana dengan Tuan Daffa Anggara?"
"Bukankah Anda sudah bertunangan dengan Tuan Daffa?"
Pertanyaan demi pertanyaan menghujani Rania. Dan pertanyaan terakhir membuat Rania terdiam.
Nama Daffa dan Brian kini dipertemukan dalam satu pemberitaan
Rania juga sama sekali tidak menyangka berita mengenai kerja samanya dengan Brian akan tersebar secepat ini.
"Tunggu..." Rania mencoba mundur selangkah.
Namun para wartawan justru semakin mendekat.
"Benarkah Anda menerima investasi dari mantan suami?"
"Apakah ini tanda bahwa kalian akan rujuk?"
"Apakah perceraian kalian hanya sementara?"
Rania mulai merasa sesak. Bukan karena pertanyaan mengenai bisnis.
Tetapi karena semua orang kembali menyeret kehidupan pribadinya ke dalam urusan yang seharusnya menjadi keputusan dirinya sendiri.
Kemudian seorang wartawan melontarkan pertanyaan yang membuat Rania membeku.
"Bagaimana dengan Tuan Daffa? Bukankah Anda sudah bertunangan dengannya?"
Rania kembali mundur dua langkah dan tepat saat itu, sebuah tangan besar dan hangat menahan pinggulnya.
Rania menoleh, ia benar-benar membeku, saat baru sadar Brian sudah berdiri dengan satu tangan yang memegangi tongkat hitam dan satu tangannya menahan tubuh dirinya agar tidak jatuh.
Dan tepat saat itu. Daffa baru saja tiba.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung.
Pintu terbuka.
Daffa turun dengan langkah tenang, tatapannya langsung tertuju kepada Rania yang dikelilingi kerumunan par wartawan.
Sementara para wartawan langsung semakin heboh, melihat pose suami istri yang sudah bercerai itu, sangat mengundang rasa penasaran jiwa para wartawan.
Kilatan kamera langsung menghujani Brian dan Rania.
"Tuan Brian!"
"Apakah benar Anda kembali menjalin hubungan dengan mantan istri Anda?"
"Apakah benar Tuan Daffa adalah alasan perceraian kalian?"
Brian tidak menjawab pertanyaan mereka.
Tatapannya tetap kepada Daffa, yang sedang berjalan ke arahnya.
"Rania!" Rania mengalihkan pandangannya dari Brian ke Daffa, yang baru saja membelah kerumunan para karyawan, untuk sesaat, rasa lega muncul di wajah Rania.
Daffa segera menghampiri, ia menarik tubuh Rania mendekat padanya, tangan Brian masih menggantung di udara, lalu menurunkannya dengan gerakan tenang.
Tubuh hangat istrinya yang sedang mengandung darah dagingnya kini berada di tangan pria yang ia benci, namun Brian tak marah, ia hanya menatap Daffa di hadapannya.
Daffa berdiri tepat di hadapan Rania, membatasi tubuh wanita itu dari sorotan kamera.
Kemudian ia melepaskan jasnya.
Tanpa mengatakan apa pun, jas itu disampirkannya ke bahu Rania. "Kau baik-baik saja?"
Rania mengangguk kecil. "Ya."
Daffa menatap wajahnya beberapa detik, kemudian pandangannya berpindah kepada pria yang berdiri di belakang Rania.
Tatapan kedua pria itu bertemu.
Hening.
Tidak ada satu pun yang berbicara.
Namun suasana di antara mereka terasa jauh lebih panas daripada terik matahari pagi.
Para wartawan seperti mendapatkan sesuatu yang jauh lebih menarik.
Kamera kembali berbunyi.
"Klik!"
"Klik!"
"Tuan Brian!"
"Apakah benar bayi yang di kandung Mantan istri Anda adalah hasil perselingkuhannya dengan Tuan Daffa?"
Brian tidak menjawab, tatapannya masih tertuju kepada Daffa.
Kemudian pandangannya turun, jas milik Daffa masih berada di bahu Rania.
Senyum tipis muncul di sudut bibir Brian. "Jas yang bagus."
Daffa tidak bergeming. "Terima kasih."
Brian melangkah mendekat.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Namun ia berhenti beberapa langkah dari mereka.
Tatapannya kembali kepada Rania. "Tapi aku rasa Rania lebih cocok menggunakan sesuatu yang milik suaminya."
Rania membeku.
Daffa menyipitkan matanya.
Para wartawan langsung bersorak.
"Tuan Brian! Apa maksud Anda dengan suaminya?"
"Apakah Anda masih menganggap Nona Rania sebagai istri Anda? Dan menerima janin milik sahabat anda sendiri?"
Daffa akhirnya bersuara. "Dia sudah bukan istrimu."
Brian menatap Daffa. "Secara hukum."
Daffa mengepalkan tangannya.
Brian melanjutkan dengan nada tenang. "Dan secara kehidupan nyata?" Brian tersenyum tipis.
Keduanya kembali saling menatap.
Rania yang berada di tengah mereka merasa kepalanya semakin pusing.
Ia akhirnya menarik tangannya dari genggaman Daffa.
"Cukup." Suara Rania tidak keras.
Namun cukup untuk membuat keduanya diam.
Rania menatap para wartawan. "Aku menerima investasi itu karena urusan bisnis."
Kemudian tatapannya beralih kepada Brian. "Dan itu tidak berarti aku kembali kepadamu."
Brian hanya mengangguk. "Ya."
Rania kemudian menatap Daffa. "Aku juga tidak meminta kau datang ke sini untuk membelaku."
Daffa terdiam. "Aku hanya tidak ingin kau berada di tengah kerumunan seperti ini," jawab Daffa.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri," ucap Rania.
Daffa mengembuskan napas, sementara Rania menarik napas panjang. "Percayalah padaku."
Daffa menatapnya, untuk beberapa detik, pria itu tidak menjawab. Kemudian ia mengangguk. "Baik."
Brian memperhatikan percakapan mereka tanpa ikut campur sedikit pun.
Namun tatapan matanya berubah semakin dalam.
Rania kemudian meraih tangan Daffa. "Aku ingin pulang."
Daffa pun meraih tangan Rania, dan berjalan menuju mobilnya, ia segera membuka pintu mobil untuk Rania.
Saat Rania pergi, Brian tidak mengejarnya.
Dia hanya berdiri sambil menggenggam tongkatnya.
Rio mendekat, setelah ia menyingkirkan kerumunan wartawan di bantu beberapa orang security.
"Tuan, apakah Anda tidak akan mengejar Nyonya?" tanya Rio.
Brian melihat punggung Rania. "Tidak."
Rio bingung.
Brian tersenyum tipis. "Semakin dia menjauh dariku, semakin aku ingin membuatnya kembali menoleh."
Ia menatap telapak tangannya yang sudah menyentuh tubuh istrinya beberapa menit lalu.
Brian menatap laju mobil Daffa yang perlahan meninggalkan gedung.
Brian berdiri di tempatnya.
Matanya mengikuti mobil tersebut hingga menghilang dari pandangan.
Rio yang sejak tadi berdiri di belakangnya akhirnya mendekat.
"Tuan, berarti kita masuk ke langkah berikutnya?" Tanya Rio dengan sangat hati-hati.
"Ya." Brian menoleh. "Tapi tidak sekarang, biarkan istriku bernafas sejenak," ucap Brian.
Rio mengernyit. "Anda yakin? Bukan kah ini waktu yang tepat?"
Brian tersenyum. "Rio, istriku sedang mengandung darah daging ku, aku harus mengutamakan kesehatannya."
Rio langsung menunduk, "Ah ya Tuan, Anda benar sekali."
Brian kembali menatap jalan yang baru saja dilalui mobil Rania.
Sementara itu, di dalam mobil...
Rania duduk diam, pandangan matanya tertuju pada jendela.
Daffa menyetir dengan tenang.
Namun suasana di dalam mobil terasa begitu dingin.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya Daffa bersuara. "Pasti Brian menyiapkan para wartawan itu," ucap Daffa.
"Kenapa?"
"Karena itu strateginya," jawab Daffa.
Rania terdiam.
"Kau akan percaya padanya? Setelah kejadian hari ini?" tanya Daffa.
Rania menggeleng. "Tidak."
Daffa meliriknya sekilas. "Lalu kenapa kau menerimanya?"
Rania menatap keluar jendela. "Karena aku memilih berdiri sendiri tanpa keputusan siapapun."
Daffa terdiam.
Rania melanjutkan. "PT. Herbalife adalah milikku. Aku ingin perusahaan itu berkembang," ucap Rania.
"Aku tidak peduli siapa yang memberikan kesempatan selama tidak ada yang mengambil alih hidupku."
Daffa menggenggam kemudi sedikit lebih erat. "Jadi kau meragukan aku untuk mengelola Perusahaan mu dan lebih percaya pada Brian?"
Rania menoleh."Tidak, aku tidak meragukannya, tapi kau harus ingat Daffa apa yang akan terjadi jika kau berinvestasi besar di perusahaan milikku, apa tanggapan Tuan Daniel padaku nanti? Aku bahkan bertaruh berita hari ini saat di dengar oleh ayahmu, dia akan menemui kita." Jelas Rania.
Daffa, terdiam beberapa detik, lalu... "aku bisa mengurus ayah, tapi Brian, dia... dia tidak akan berhenti Rania," ucap Daffa.
"Maksud mu?" tanya Rania.
"Dia masih mencintaimu."
Kini Rania yang berbalik terdiam.
Daffa kembali berkata, "Dan aku tidak suka melihatnya kembali berada di dekatmu."
Rania menghela napas. "Daffa."
"Emh?" Sahut Daffa dingin.
"Aku bukan sesuatu yang bisa kalian perebutkan," ucap Rania.
Daffa mencengkeram setir lebih erat, tatapannya menatap jalan di depannya.
Beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis. "Baik."
Rania sedikit terkejut.
"Aku akan belajar," ucap Daffa.
Jawaban itu membuat Rania tidak bisa berkata apa-apa.
Namun Daffa kembali berkata, "tapi aku juga tidak bisa menjanjikan bahwa aku akan berhenti mencintaimu."
Rania menunduk. Kalimat itu terasa begitu familiar.
Sama seperti Brian.
Dua pria. Dua cara berbeda.
Namun keduanya mengatakan hal yang hampir sama.
Tidak akan menyerah.
Malam harinya...
Di lantai tertinggi gedung perusahaan Brian, pria itu berdiri di depan jendela kaca.
Lampu kota Laven terlihat seperti ribuan bintang di bawah sana.
Rio berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa sebuah tablet. "Tuan."
Brian tidak menoleh.
"Ada satu masalah," ucap Rio.
"Apa?"
"Nona Mona akan kembali ke kota Laven dua hari lagi, dan kedatangannya tepat saat jadwal pertemuan bisnis Anda dengan Istri Anda."
Brian akhirnya berbalik. "Biarkan."
Rio terkejut. "Tapi Tuan, kabarnya kedatangan Nona Mona akan membawa seorang ahli tenaga medis tradisional untuk memeriksa kondisi kaki Tuan?"
Brian berjalan menuju meja kerjanya.
"Aku sudah tidak perduli pada pengobatan kakiku," ucap Brian.
Rio mengerutkan kening. "Kenapa?"
Brian mengambil sebuah foto lama dari atas meja.
Foto Rania.
Jemarinya menyentuh wajah wanita itu pada permukaan foto.
"Karena di balik mata Istriku, aku melihat rasa bersalah, khawatir juga benci jadi satu," Brian tersenyum tipis. Ia meletakkan kembali foto itu. Tatapannya berubah dingin.
"Rania mungkin sudah menjadi mantan istriku." Brian mengangkat wajah. "Tapi perasaanku tidak pernah menjadi mantannya."
"Tapi saya khawatir, kehadiran Nona Mona justru memperkeruh keadaan kedepannya," ucap Rio.
"Beraninya kau berbicara seperti itu pada Mona," Brian langsung menoleh dan menatap tajam pada Rio. "Kalau bukan karena Mona, aku tidak akan bisa selamat dari kecelakaan maut saat itu," ucap Brian.
"Tuan, maafkan saya," ucap Rio dengan sangat hati-hati.
Sementara itu...
Di sebuah kamar, Rania duduk sendirian.
Di hadapannya terdapat dokumen PT. Herbalife.
Ia menatap nama perusahaan itu cukup lama. "Aku yakin, aku bisa mengontrol jarak diantara Brian dan Daffa." Tangannya mengepal.
Namun di tempat yang berbeda...
Dua pria sedang memikirkan wanita yang sama.
Dan keduanya memiliki satu kesamaan. Mereka tidak berniat menyerah.
Sedangkan Rania...
Belum menyadari bahwa semakin ia berusaha berdiri sendiri, semakin kuat pula obsesi dua pria itu terhadap dirinya.
Bersambung...