Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 : Jatahku malam ini.
"Selamat malam, Ibu."
Elena tertekan di tempat. Matanya membelalak, menatap pria asing yang berdiri di sana, lalu menoleh cepat ke arah Celine yang berdiri di belakangnya, wajahnya penuh tanda tanya yang makin dalam.
"Celine... ini... siapa?" suaranya bergetar pelan. "Kenapa bukan Jason yang datang..."
Celine melangkah maju sedikit, tangannya menyentuh lengan ibunya pelan, berusaha menenangkan kebingungan yang terpancar jelas di wajah Elena. Jantungnya berdegup kencang, takut ibunya akan kaget atau kecewa mengetahui kenyataan yang selama ini ia sembunyikan.
"Bu..." suaranya terdengar lembut namun sedikit bergetar. "Ini... Damian. Damian Salvatore."
Elena masih menatap pria itu lekat-lekat, matanya menyipit seakan mencoba mencari sesuatu yang ia kenal di wajah asing namun tampan dan gagah itu.
"Damian?" ulangnya pelan. "Lalu di mana Jason, Celine? Bukankah Jason yang membiayai semua pengobatan Ibu di rumah sakit? Bukankah dia yang selalu ada untukmu?"
Damian melangkah maju satu langkah lagi, jaraknya tetap sopan, tidak terlalu dekat, namun tatapannya tulus dan penuh hormat.
"Ibu," ucapnya rendah, suaranya tenang dan meneduhkan. "Maaf jika kedatanganku tiba-tiba dan membuat Ibu terkejut. Tentang Jason... dia sedang tidak bisa datang, Bu. Ada urusan yang harus dia selesaikan. Sekarang izinkan aku menjemput Celine dulu. Ada beberapa hal penting yang harus kami urus, dan aku akan mengantarnya pulang secepat mungkin."
Elena menoleh ke putrinya, matanya penuh kekhawatiran. "Celine... kau menyembunyikan sesuatu dari Ibu, bukan? Siapa sebenarnya pria ini? Dan kenapa bukan Jason yang datang?"
Celine menunduk sejenak, menarik napas panjang sebelum menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Bu... banyak hal yang terjadi saat Ibu dirawat. Hal-hal yang belum sempat aku ceritakan. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, aku janji. Tapi sekarang aku harus pergi sebentar bersama Damian. Tolong percaya padaku kali ini."
Damian mengulurkan tangan kanannya perlahan, "Ibu, aku berjanji akan menjaga Celine sebaik mungkin, dan tidak akan membiarkan hal buruk menimpanya. Aku juga sudah menyiapkan segala kebutuhan Ibu di rumah ini, supaya Ibu bisa tenang beristirahat dan pulih sepenuhnya. Orangku akan berjaga 24 jam di sini, kalau ada apa-apa, Ibu tinggal memanggil."
Elena terdiam lama, menatap keduanya bergantian. Wajah putrinya terlihat tegas namun juga penuh kecemasan, sementara pria di hadapannya itu memancarkan aura kekuasaan yang besar namun disertai rasa hormat yang tulus. Perlahan, napasnya yang tadinya tertahan terhembus pelan.
"Baiklah..." gumamnya akhirnya, meski masih terasa berat. "Tapi kau harus pulang sebelum larut malam, Celine. Dan kau..." Elena menatap Damian tajam sebentar, lalu melembut. "Kau harus menjaga putriku. Jika kau berani menyakitinya..."
"Ibu," potong Damian lembut namun tegas. "Nyawa saya taruhkan, Celine akan aman di sisi saya."
Celine tersenyum tipis, lalu memeluk ibunya erat sejenak. "Terima kasih, Bu. Aku janji cepat pulang."
Ia melepaskan pelukan, lalu berjalan menuju mobil Damian. Pintu penumpang dibuka oleh seorang pengawal yang berdiri di samping mobil. Damian mengangguk hormat sekali lagi kepada Elena, lalu ikut melangkah masuk ke dalam mobil.
Mesin menyala pelan, mobil hitam itu perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah, meninggalkan Elena yang masih berdiri di teras menatap hingga kendaraan itu menghilang di balik pintu gerbang yang menjulang tinggi, dengan sejuta tanya yang masih bergulung di kepalanya.
-
-
-
Mobil melaju mulus di jalan yang mulai sepi, lampu-lampu jalan berkelebat lembut di permukaan kaca jendela. Celine menatap ke luar, menonton bayang-bayang malam yang berlalu, namun pikirannya tetap tertinggal di teras rumah itu. Setelah beberapa saat hening yang terasa panjang, ia akhirnya berbalik menatap Damian di sampingnya.
"Damian..." suaranya pelan, memecah keheningan kabin. "Untuk beberapa hari ke depan mungkin aku tidak bisa tinggal di mansion dulu. Aku harus tinggal di rumah itu, menjaga Ibu. Kondisinya memang sudah membaik, tapi aku masih takut kalau dia butuh sesuatu di tengah malam sendirian."
Mobil perlahan melambat, lalu menepi ke sisi jalan yang sepi, jauh dari keramaian. Mesin dimatikan, menyisakan keheningan yang lembut namun penuh makna. Damian tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah wanita itu lekat-lekat, lalu perlahan mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa inci. Tatapannya dalam, gelap, dan penuh kepemilikan yang tak bisa ditolak.
"Bagaimana jika aku membutuhkanmu?" tanyanya rendah, suaranya berat namun lembut, seakan kata-kata itu keluar dari palung hatinya yang terdalam. "Aku suamimu, Celine. Bukankah seharusnya tempatmu ada di sisiku? Setiap malam, setiap pagi, setiap detik..."
Jantung Celine berdegup kencang, napasnya tertahan sejenak. Ia bisa merasakan hangatnya napas pria itu yang menyentuh kulit wajahnya.
"Aku tahu..." bisiknya, matanya sedikit berkaca-kaca. "Tapi Ibu baru pulih dari sakit yang berat. Dia butuh aku sekarang lebih dari apa pun. Ini sementara, Damian. Hanya beberapa hari sampai kondisinya benar-benar stabil dan dia terbiasa tinggal di rumah baru itu."
Damian menghela napas pelan, lalu satu tangannya terangkat, jemarinya menyelip di balik rambut Celine, mengusap lembut sisi wajah wanita itu dengan ibu jarinya.
"Dan kau pikir aku tidak mengerti itu?" bisiknya lagi, matanya menatap lurus ke dalam mata Celine. "Aku tidak menahanmu agar tidak menemui ibumu. Tapi jangan juga menjauh dariku. Biarkan aku yang menemuimu ke sana, atau biarkan aku mengirim orang-orang terbaikku untuk merawatnya sehingga kau tidak perlu terjaga sepanjang malam sendirian. Aku tidak suka tidur sendirian di ranjang yang terlalu besar tanpa kau di sampingku."
Celine terdiam, merasakan ketulusan di balik tatapan dan sentuhan itu. Ia mengangkat tangan, menyentuh lengan Damian yang terasa kokoh di sampingnya.
"Kau bisa menemuiku..." jawabnya pelan, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Tapi jangan terlalu sering, nanti Ibu bertanya-tanya lagi. Biarkan aku yang datang ke mansion saat siang hari, saat dia sudah tidur siang atau ada perawat yang menemaninya. Kita berbagi waktu, ya?"
Damian menatap bibirnya sejenak sebelum kembali menatap matanya. Perlahan ia mengangguk, meski masih terasa sedikit keberatan di hatinya.
"Berbagi waktu..." ulangnya pelan. "Aku suka itu. Tapi malam ini jatahku 100%, Amore."
Belum sempat kata-kata itu sepenuhnya lenyap di udara, Damian sudah menarik tengkuknya perlahan namun pasti, lalu menyambar bibir Celine dengan rakus, seakan menumpahkan segala kerinduan, ketegangan, dan keinginan yang selama ini ia tahan. Celine terkejut sejenak, napasnya tercekat, namun seketika ia melemas di pelukan itu, kedua tangannya tanpa sadar merambat naik ke leher pria itu, membalas kehangatan ciuman yang begitu mendesak namun tak menyakitkan.
Ciumannya dalam, penuh kepemilikan, seakan ingin menandai setiap inci dirinya miliknya. Napas mereka saling beradu, hangat dan berpacu cepat. Tangan Damian merambat lembut namun pasti ke pinggangnya, menarik tubuh wanita itu semakin mendekat hingga tak ada lagi ruang tersisa di antara mereka. Desahan halus lolos dari bibir Celine saat Damian sedikit menarik bibir bawahnya pelan, sebelum kembali menyatukan bibir mereka dalam kelembutan yang mendebarkan.
Di tengah ciuman itu, ada rasa bersalah yang mencubit hatinya. Tapi ada juga rasa rindu yang sudah terlalu lama ia tahan.
"Damian..." bisiknya terbata saat pria itu akhirnya memberi jeda sebentar, dahi mereka masih saling menempel, napas mereka sama-sama memburu.
"Kau dengar aku, Amore?" suara Damian terdengar serak, matanya menatap lekat ke dalam mata Celine yang masih berkaca-kaca dan berbinar remang. "Malam ini kau pulang bersamaku ke mansion. Besok pagi, saat matahari naik, aku akan mengantarmu kembali ke Ibu. Aku janji. Tapi malam ini... biarkan aku memilikimu seutuhnya."
Jemarinya masih menangkup pipi Celine dengan lembut, ibu jarinya mengusap pelan sudut bibir yang masih terasa merah dan basah karena ciuman tadi. Tatapannya begitu memohon namun juga tak bisa ditolak, seakan kehadiran wanita itu adalah satu-satunya hal yang bisa menenangkan badai di dalam dirinya.
Celine menatapnya lama, merasakan detak jantungnya sendiri yang masih berpacu kencang. Perlahan ia mengangguk pelan, suaranya nyaris berbisik namun terdengar begitu jelas di keheningan kabin mobil itu.
"Baiklah... malam ini aku ikut denganmu. Tapi besok pagi-pagi sekali kau harus mengantarku kembali, sebelum Ibu bangun."
Senyum tipis namun penuh kepuasan langsung mengembang di bibir Damian. Ia mencium keningnya lembut, lalu menyalakan mesin mobil kembali.
"Janji. Besok pagi kau akan pulang ke rumah Ibu dengan tenang. Tapi sekarang... mari kita pulang ke rumah kita."
Mobil kembali melaju membelah jalanan malam yang sunyi, melesat cepat menuju kediaman Salvatore yang megah dan sepi. Setelah hampir tiga puluh menit perjalanan, gerbang besar itu terbuka, memperlihatkan mansion Salvatore yang gelap gulita, kecuali satu kamar di lantai paling atas yang lampunya sudah menunggu.
-
-
-
Bersambung...