Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Tes Tertulis
Pada pagi ujian, Arya membawa Laras ke Puskesmas lebih dahulu.
Tidak ada kontraksi baru, pendarahan, atau rembesan ketuban. Detak janin baik. Dokter mengizinkan Laras mengikuti tes sambil duduk dengan syarat ia berhenti bila tubuh memberi tanda bahaya.
“Sembilan puluh menit, lalu langsung pulang,” kata Arya setelah mereka keluar.
“Mas sudah mengulang itu enam kali.”
“Yang ini ketujuh.”
Di SD Negeri Girimulyo, Pak Sutris menyiapkan kursi dekat pintu dan memberi semua peserta hak ke kamar kecil. Laras membawa air, biskuit, KIA, serta bantal tipis untuk pinggang. Arya menunggu di beranda, cukup dekat untuk dipanggil namun tidak masuk ruang ujian.
Melati datang bersama Bu Sri. Ketika melihat Laras, wajahnya berubah.
“Kamu seharusnya masih istirahat.”
“Dokter yang menilai kondisiku.”
“Aku hanya khawatir setelah menyelamatkanmu.”
Laras menatapnya. “Aku ingat semua yang kamu lakukan di saluran.”
Melati memucat, lalu tersenyum ketika peserta lain mendekat. “Syukurlah kamu selamat.”
Bu Endang memanggil kelima peserta. Telepon dititipkan di meja depan. Amplop soal dibuka di hadapan mereka, segelnya masih utuh. Setiap lembar diberi kode peserta, bukan nama.
Soal pertama menguji Bahasa Indonesia dan kemampuan memahami bacaan. Berikutnya matematika dasar, Pancasila, pengetahuan umum sekolah dasar, serta beberapa kasus pengelolaan kelas.
Laras membaca seluruh soal sebelum menulis. Ia mengerjakan bagian pasti lebih dulu, menandai pertanyaan yang perlu dipikir ulang, lalu menyisakan waktu untuk memeriksa.
Satu kasus menanyakan apa yang dilakukan bila murid sering tidur di kelas. Laras tidak langsung memilih hukuman. Ia menulis langkah memeriksa kondisi kesehatan, perjalanan ke sekolah, beban kerja anak di rumah, kemudian berkomunikasi dengan wali dan guru lain.
Pada soal matematika, ia menggunakan ruang kosong untuk menghitung dua kali. Pada esai, ia memilih kalimat sederhana dan contoh yang dekat dengan sawah, pasar, serta pembagian makanan.
Soal terakhir meminta calon menyusun kegiatan belajar untuk murid dengan kemampuan berbeda. Laras membagi tugas menjadi tiga tingkat, tetapi tetap memakai tema yang sama agar tidak ada anak merasa dipisahkan. Murid yang selesai lebih cepat diminta menjelaskan cara berpikir, bukan hanya memberi jawaban kepada temannya.
Ia teringat anak-anak di teras Guntur. Daun pisang dapat menjadi pecahan. Batu kecil bisa mengajarkan kelompok angka. Harga sayur di warung dapat berubah menjadi latihan penjumlahan. Sekolah desa tidak selalu memiliki alat lengkap, tetapi keterbatasan tidak harus membuat pelajaran kehilangan kehidupan.
Laras menuliskan pula satu batas: anak tidak boleh dihukum karena belum memahami sesuatu yang belum dijelaskan dengan cara yang cocok baginya.
Pendidikan modern yang ia kenal tidak dituangkan sebagai istilah besar. Ia mengubahnya menjadi langkah yang dapat dipakai guru dengan papan tulis, kapur, dan benda di sekitar kelas.
Di meja sebelah, Rina menulis dengan tenang. Dua peserta lain sesekali menghapus jawaban.
Melati mulai gelisah sejak halaman kedua.
Dalam ingatannya, ujian lama banyak berisi hafalan definisi. Soal hari ini justru meminta alasan, contoh penerapan, dan tanggapan terhadap situasi. Ia telah menghafal jawaban yang tidak pernah muncul.
Keringat mengumpul di pelipisnya. Ia melirik Laras, tetapi Bu Endang segera berdiri di antara barisan.
“Mata ke lembar masing-masing.”
Laras tidak mengetahui kegelisahan itu. Pada menit keenam puluh, pinggangnya mulai pegal. Ia meletakkan pena, mengatur napas, minum, lalu menunggu sampai perut tetap lunak dan bayi bergerak normal.
Pak Sutris menawarkan berhenti.
“Saya baik. Saya hanya istirahat dua menit.”
Waktu tidak ditambah, sesuai aturan untuk semua peserta. Laras menerima konsekuensinya dan kembali menulis setelah yakin tidak ada tanda bahaya.
Ketika bel berbunyi, ia masih memiliki tiga menit untuk memeriksa kode peserta. Ia menyerahkan jawaban tanpa berdiri tergesa.
Arya sudah berada di pintu.
“Bagaimana perutmu?” adalah pertanyaan pertamanya.
“Baik.”
“Tesnya?”
“Juga baik.”
Ia membantu Laras berjalan ke beranda dan memberinya biskuit. Bu Sri melewati mereka sambil mengeluh soal ujian yang tidak sesuai kisi-kisi.
“Kisi-kisinya mencantumkan pedagogi dan mata pelajaran dasar,” kata Rina. “Soalnya sesuai.”
Melati menarik ibunya pergi.
Penilaian dilakukan hari itu. Pak Sutris, Bu Endang, dan satu anggota komite memeriksa dengan pedoman jawaban. Kode baru dicocokkan dengan nama setelah nilai terkunci dan ditandatangani.
Menjelang sore, hasil ditempel.
Arya sebenarnya ingin Laras menunggu di rumah, tetapi Pakde Karyo memotret daftar dan membawanya kepada mereka.
Nomor tiga berada di urutan pertama.
Nilai Laras unggul jelas pada pemahaman bacaan, matematika, dan esai kelas. Rina berada di posisi kedua. Melati hanya menempati urutan keempat, sedikit di atas peserta terakhir.
Sekar berteriak kegirangan. Rukmini memeluk Laras dengan hati-hati. Guntur membaca setiap kolom, lalu mengangguk bangga.
“Mas tidak terkejut?” tanya Laras kepada Arya.
“Saya yang mengujimu setiap malam.”
“Berarti Mas mengambil jasa?”
“Tidak. Saya mengambil hak membuatkan teh untuk peringkat pertama.”
Sebelum teh dibuat, Arya tetap memeriksa jadwal kontraksi kosong, suhu tubuh, dan keadaan pakaian Laras. Ia juga menanyakan apakah bayi bergerak seperti biasa.
“Mas lebih bahagia karena nilainya atau karena aku tidak mulas?”
“Karena kamu tidak mulas.”
“Tidak perlu berpikir?”
“Nilai bisa diuji lagi. Kalian tidak.”
Jawaban itu membuat Laras berhenti menggoda. Ia menarik Arya duduk di sampingnya dan menyandarkan kepala pada lengan suaminya.
Guntur membawa soal latihan yang mereka buat malam sebelumnya. “Banyak yang keluar?”
“Tidak satu pun persis sama,” jawab Laras. “Tapi cara berpikirnya berguna.”
“Bagus. Berarti kamu lulus karena memahami, bukan menebak.”
Keluarga tidak mengadakan perayaan besar. Mereka makan pisang rebus dan teh jahe, lalu meminta Laras tidur siang. Bahkan kemenangan harus mengikuti ritme tubuhnya.
Ningsih datang membawa kabar bahwa beberapa warga menuduh nilai Laras dikasihani karena hamil. Rina langsung menunjukkan bahwa lembar diperiksa menggunakan kode peserta.
“Biarkan dokumennya menjawab,” kata Laras. “Aku tidak perlu pergi dari rumah untuk membantah setiap mulut.”
Sikap itu mencegah kegembiraan berubah menjadi perang baru sebelum simulasi mengajar dimulai.
Di sekolah, Melati berdiri di depan nilainya yang biasa-biasa saja. Ia meminta pemeriksaan ulang. Pak Sutris memperlihatkan lembar kode dan pedoman tanpa mengizinkan berkas dibawa pulang. Tidak ada angka yang berubah.
Pertanyaan dalam ujian telah berubah. Urutan calon telah berubah. Bahkan perempuan yang baru ia dorong ke air masih berdiri lebih tinggi darinya.
Jari Melati menekan kertas nilai tepat di atas nama Laras.
Tatapannya turun perlahan ke arah rumah kontrakan, seolah kehamilan Laras bukan kehidupan yang nyaris ia hancurkan, melainkan keuntungan lain yang masih menghalangi jalannya.
Besok ia harus mengajar di depan anak-anak. Untuk pertama kalinya, hafalan masa depan tidak memberinya satu pun jawaban yang dapat dipercaya.