Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Episode 1

Bab 1

Pagi Itu, Dia Minta Cerai

“Kalau keputusanmu memang sudah bulat, setelah sarapan kita ajukan permohonan cerai.”

Di kamar utama rumah tua di Menteng, Arya menarik kemeja putih melewati kedua bahunya. Kain itu menutupi punggung lebar yang dipenuhi bekas cakaran. Beberapa garis masih merah dan bengkak, jelas bukan luka lama.

Suaranya dingin, tetapi wajah lelaki itu di pantulan cermin tampak sangat lelah.

Laras duduk membeku di atas ranjang.

Pelipisnya berdenyut. Bau obat gosok dari meja samping ranjang bercampur aroma kayu lemari. Dari luar kamar terdengar bunyi selotip ditarik panjang, disusul gesekan kardus di atas lantai marmer.

Ia menunduk ketika sesuatu bergerak di balik gaun tidurnya.

Perutnya membulat besar.

Enam bulan.

Begitu telapak tangannya menyentuh perut itu, rasa nyeri membelah kepalanya. Ingatan asing datang bertubi-tubi. Akad nikah. Rumah ini. Wajah keluarga Reksonegoro. Pertengkaran semalam. Tangis Rukmini. Bentakan Sekar. Uang dan perhiasan yang ditepis dari meja. Kuku yang mencakar punggung Arya ketika lelaki itu berusaha menenangkannya.

Semua itu milik Larasati Wijaya, pemilik tubuh ini.

Namun ada ingatan lain yang benar-benar miliknya. Sebuah apartemen sempit, layar ponsel yang menyala lewat tengah malam, dan novel panjang yang ia baca sampai tamat.

Dalam novel itu, istri pertama Arya Reksonegoro juga bernama Larasati Wijaya.

Perempuan cantik yang mati-matian menikah dengan putra keluarga terpandang, lalu menjadi orang pertama yang ingin pergi ketika keluarga itu jatuh.

Laras menarik napas pendek.

Ia masuk ke dalam novel.

Dan bukan menjadi tokoh utama.

Ia menjadi istri jahat yang semalam mengancam akan menggugurkan kandungan jika Arya tidak menyetujui perceraian.

“Pengacara akan mengurus pendaftarannya ke Pengadilan Agama,” lanjut Arya. Ia mengancingkan manset tanpa menoleh. “Untuk pemeriksaan di rumah sakit, aku juga sudah membuat janji seperti yang kamu minta. Keputusan medis tetap di tangan dokter.”

Jari Laras langsung merapat di atas perutnya.

Bayi itu bergerak lagi. Ketukan kecil dari dalam, lembut tetapi nyata.

“Aku yang minta cerai?” tanyanya. Suaranya terdengar serak.

Tangan Arya berhenti pada kancing terakhir.

Ia menatap Laras melalui cermin. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Justru ketenangan itu terasa seperti pintu yang sudah ditutup rapat.

“Kamu mengatakannya enam kali semalam.”

Potongan ingatan kembali menyambar.

Guntur Reksonegoro baru saja dinonaktifkan dari jabatannya karena tuduhan korupsi dan pengkhianatan. Pemeriksaan masih berjalan, tetapi kabar itu sudah cukup membuat semua orang menjauh. Rumah Menteng masuk daftar inventaris. Beberapa aset akan dibekukan. Keluarga ini harus segera pergi dari Jakarta dan bersembunyi dari sorotan sampai penyelidikan menemukan kebenaran.

Begitu mendengar kabar tersebut, Larasati yang lama langsung mengamuk.

Ia menuntut cerai. Ia berkata tidak sudi melahirkan anak dari keluarga yang nama baiknya sudah hancur. Saat Rukmini meletakkan simpanan terakhir keluarga di hadapannya dan memohon agar cucu itu dipertahankan, Larasati menepis kotak tersebut sampai isinya berhamburan.

Arya akhirnya berkata ya.

Maka pagi ini, lelaki itu bukan sedang tiba-tiba membuang istrinya yang hamil.

Ia sedang menepati keputusan yang dipaksa keluar darinya semalam.

Laras menatap goresan merah yang masih terlihat sedikit di atas kerah kemeja Arya. Panas menjalar ke wajahnya, meski semua perbuatan itu dilakukan oleh orang lain dengan tubuh yang kini ia pakai.

Dalam alur asli, Larasati pergi ke rumah sakit, mengakhiri kehamilan, membawa harta yang tersisa, lalu memutus semua hubungan dengan keluarga Reksonegoro.

Dua tahun kemudian, Guntur terbukti tidak bersalah. Nama keluarga mereka dipulihkan. Arya kembali ke kesatuan, naik pangkat, dan hidup bahagia bersama Melati, perempuan yang terlahir kembali dan dianggap sebagai tokoh utama cerita.

Sedangkan Larasati?

Ia ditipu lelaki yang dikiranya kaya, kehilangan semua uang, lalu mati jauh dari siapa pun yang pernah mengenalnya.

Laras mengusap perutnya perlahan.

Ia tahu akhir setiap orang di rumah ini.

Semua orang mengira kapal Reksonegoro sedang tenggelam. Hanya dia yang tahu kapal itu akan kembali muncul dua tahun lagi, lebih kuat dari sebelumnya.

Meninggalkannya sekarang bukan menyelamatkan diri.

Itu sama saja melompat ke laut tepat sebelum badai berakhir.

“Arya,” panggil Laras.

Lelaki itu mengambil map tipis dari meja. Tulisan permohonan cerai tercetak pada sudut sampulnya.

“Semalam aku sedang emosi.” Laras memaksakan senyum kecil. “Masa kamu menganggap serius semua perkataan orang yang sedang marah?”

Arya akhirnya berbalik penuh.

Tinggi tubuhnya membuat kamar terasa lebih sempit. Wajahnya tegas dan tampan, tetapi matanya menyimpan kelelahan seseorang yang tidak tidur semalaman.

“Laras, kamu tidak perlu mengujiku.”

“Aku tidak sedang mengujimu.”

“Kamu mengancam akan pergi sendiri kalau aku tidak setuju. Sekarang aku sudah setuju.” Jarinya mengencang pada map. “Aku tidak akan menahanmu di keluarga yang kamu anggap memalukan.”

Setiap kata menampar sisa harga diri pemilik tubuh ini.

Laras menurunkan kaki dari ranjang. Lantai dingin menyentuh telapak kakinya. Tubuh barunya berat di bagian depan, dan pinggangnya nyeri ketika berdiri. Ia bertumpu pada sisi ranjang agar tidak oleng.

Arya bergerak setengah langkah ke arahnya.

Hanya setengah langkah, lalu ia berhenti.

Gerakan kecil itu tidak cocok dengan tatapannya yang dingin.

“Aku berubah pikiran,” kata Laras.

“Tentang uang penyelesaian?”

“Tentang perceraian.”

Alis Arya berkerut.

“Aku tidak mau bercerai.” Laras menatapnya lurus. “Aku juga tidak akan menggugurkan kandungan ini.”

Kamar mendadak sunyi.

Bunyi benda yang sedang dipindahkan di luar terdengar semakin jelas. Seseorang menjatuhkan gulungan lakban. Lalu semuanya hening lagi.

Arya tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke tangan Laras yang menangkup perut, seolah mencari tanda kebohongan di sana.

“Semalam Ibu memohon kepadamu,” katanya akhirnya. “Bapak menjamin kamu tidak akan kekurangan selama masih ada yang bisa beliau berikan. Kamu tetap menolak.”

“Aku tahu.”

“Sekar sampai menangis karena kamu mengatakan keluarga ini pantas tidak punya keturunan.”

Tenggorokan Laras tercekat. “Aku tahu.”

“Lalu apa yang berubah hanya dalam satu malam?”

Aku bukan lagi perempuan yang mengucapkan semua itu.

Jawaban tersebut tidak mungkin ia berikan.

Laras merasakan gerakan kecil dari dalam perutnya. Ia menunduk sejenak, lalu berkata, “Aku baru sadar ada keputusan yang tidak boleh diambil saat sedang marah. Anak ini tidak bersalah.”

Wajah Arya tetap kaku. Namun sesuatu bergetar di rahangnya sebelum ia memalingkan muka.

“Kamu tidak harus percaya kepadaku hari ini,” lanjut Laras. “Lihat saja apa yang kulakukan setelah ini.”

Arya terdiam lama.

Ketika kembali bicara, suaranya lebih rendah. “Kalau keputusanmu berubah lagi setelah kita keluar dari kamar ini?”

“Tidak akan.”

“Kamu pernah mengatakan hal yang sama.”

“Kali ini aku akan membuktikannya.”

Arya menatap map di tangannya. Ujung kertas di dalamnya sedikit tertekuk oleh genggaman lelaki itu.

Lalu tatapannya jatuh pada perut Laras sekali lagi.

Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan lagi dingin, bukan pula marah. Kesedihan yang begitu cepat muncul hingga nyaris tidak sempat disembunyikan.

“Sebelum kamu pergi ke rumah sakit,” ucapnya perlahan, “aku tadinya ingin meminta satu hal.”

Laras menunggu.

Arya menarik napas. “Boleh aku menyentuh bayi ini sekali lagi?”

Kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada permintaan cerai.

Mata lelaki itu tidak memerah berlebihan. Tidak ada air mata yang jatuh. Hanya ada suara yang sedikit serak dan tangan kosong di sisi tubuhnya, seakan ia bahkan tidak yakin masih punya hak untuk mengulurkannya.

Laras teringat bahwa dalam novel, Arya sangat menantikan anak ini. Ia berbicara pada perut istrinya sepulang tugas, menghafal jadwal pemeriksaan, dan diam-diam membeli sepasang kaus kaki bayi. Namun pada pagi yang sama dalam alur asli, Larasati menepis tangannya dan berkata ia tidak pantas menjadi ayah.

Itulah titik terakhir yang memutus hati lelaki ini.

Laras tidak akan mengulanginya.

Ia meraih tangan Arya.

Tubuh lelaki itu menegang saat jari mereka bersentuhan. Sebelum ia sempat menarik diri, Laras meletakkan telapak tangannya pada sisi perut yang baru saja bergerak.

“Bukan sekali lagi,” katanya. “Kamu boleh menyentuhnya kapan pun. Ini anak kita.”

Hampir seketika, bayi itu menendang.

Jari Arya bergetar.

Untuk pertama kalinya pagi itu, seluruh pertahanan di wajahnya retak. Ia menatap perut Laras, lalu menatap istrinya dengan ketidakpercayaan yang telanjang.

“Aku akan mempertahankannya,” tegas Laras. “Aku tidak akan pergi ke rumah sakit untuk mengakhirinya. Aku tidak akan menandatangani perceraian.”

Dari luar terdengar ketukan pelan.

“Arya, Laras,” panggil Rukmini dengan suara yang masih menyisakan serak setelah menangis. “Sarapan sudah siap.”

Tatapan Arya tidak lepas dari wajah Laras.

“Kami segera keluar, Bu,” jawabnya.

Langkah Rukmini menjauh. Lorong kembali dipenuhi bunyi kardus dan perabot yang digeser. Rumah besar itu sedang dikosongkan sedikit demi sedikit.

Arya menarik tangannya perlahan, tetapi kehangatan telapak tangannya tertinggal di kulit Laras.

“Keluargaku mungkin harus meninggalkan Jakarta dalam beberapa hari,” katanya. “Hidup setelah ini tidak akan seperti sebelumnya.”

“Aku mengerti.”

“Kamu bahkan belum tahu kita akan tinggal di mana.”

Laras tahu.

Desa Girimulyo. Rumah kontrakan sempit di kaki bukit. Jalan berlumpur saat hujan, air yang harus diambil dari sumber umum, dan orang-orang yang akan menganggap keluarga Reksonegoro sebagai pesakitan.

Ia juga tahu semua itu hanya sementara.

“Di mana pun keluarga ini pergi, aku ikut,” ujar Laras.

Arya menatapnya seolah sedang melihat orang asing memakai wajah istrinya.

Ia tidak berkata percaya. Tidak pula memaafkan.

Namun setelah beberapa detik, ia membuka laci meja dan memasukkan map permohonan cerai ke dalamnya.

Laci itu tertutup dengan bunyi pelan.

“Kita belum selesai bicara,” katanya.

“Aku tahu.”

Arya berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sesaat tanpa menoleh.

“Makanlah yang banyak. Kamu tidak makan sejak kemarin.”

Pintu tertutup di belakangnya.

Laras kembali duduk di tepi ranjang. Kedua lututnya lemas, dan keringat dingin membasahi tengkuk. Ia baru saja mengubah satu adegan kecil, tetapi akibatnya akan menjalar ke seluruh cerita.

Di dalam novel, Larasati memilih pergi tepat ketika keluarga ini berada di dasar jurang.

Kali ini tidak.

Laras menangkup perutnya dengan kedua tangan. Gerakan bayi di dalamnya terasa seperti jawaban.

Ia akan mempertahankan anak ini.

Ia akan mempertahankan pernikahannya.

Dan ketika takdir memintanya mengikuti naskah lama, ia akan menjadi orang pertama yang merobek halaman itu.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!