Episode 4

Bab 4

Pulang ke Rumah Wijaya

Dua hari sebelum meninggalkan Jakarta, Laras berdiri di depan rumah yang selama bertahun-tahun tercatat sebagai rumah keluarganya.

Dokter sudah mengizinkannya melakukan perjalanan dengan syarat sering beristirahat, cukup minum, dan segera mencari pertolongan jika muncul kram atau perdarahan. Surat pemeriksaan itu tersimpan di tasnya. Di sampingnya, Arya memegang payung untuk menahan matahari pagi.

“Aku bisa menunggu di mobil,” katanya.

Laras menatap pintu rumah Wijaya. “Masuklah. Mereka lebih jujur kalau tahu ada saksi.”

Arya tidak bertanya lagi.

Yuli membuka pintu dengan senyum yang terlalu lebar. “Laras? Kenapa tidak memberi kabar? Tante bisa menyiapkan makanan.”

Pandangan perempuan itu segera berpindah kepada Arya, lalu ke perut Laras. Kabar keluarga Reksonegoro sedang jatuh pasti sudah sampai lebih dulu.

“Kami tidak lama,” jawab Laras.

Di ruang tamu, Hendra sedang membaca berita dari tablet. Vania duduk di sofa sambil menggulir ponsel. Begitu melihat Arya, ia buru-buru merapikan rambut, lalu memandang Laras dari kepala sampai kaki.

“Kakak pulang juga akhirnya.” Senyumnya tipis. “Kukira setelah minta cerai, Kakak akan langsung tinggal di sini.”

Laras duduk perlahan. Arya memilih kursi di sebelahnya, tidak terlalu dekat tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan mengerti bahwa mereka datang bersama.

“Siapa bilang aku minta tinggal?”

Vania mengangkat bahu. “Bukankah keluarga suamimu harus keluar dari rumah? Orang yang sudah tidak punya tempat biasanya pulang ke orang tua.”

“Kalau begitu, kenapa kamu masih tinggal di sini? Bukankah kamu sudah dewasa?”

Wajah Vania langsung mengeras.

Hendra meletakkan tabletnya. “Jangan datang hanya untuk bertengkar dengan adikmu.”

“Saya datang untuk mengambil barang milik saya.”

Yuli segera duduk di samping suaminya. “Barang apa? Semua pakaianmu sudah dibawa saat menikah.”

“Bukan pakaian.” Laras membuka tas dan mengeluarkan buku catatan kecil berisi daftar yang ia susun dari ingatan tubuh ini. “Uang santunan setelah Maharani meninggal. Tabungan atas namanya. Piagam penghargaan dari pemerintah kota. Buku catatan kulit yang selalu beliau simpan. Juga dokumen ahli waris yang seharusnya diberikan kepada saya setelah dewasa.”

Keheningan jatuh terlalu cepat.

Arya tidak bergerak. Namun Laras tahu ia sedang mengamati setiap wajah.

Hendra menyandarkan tubuh, berusaha tampak santai. “Maharani adalah istri Papa. Saat dia meninggal, Papa yang mengurus pemakaman, utang, dan semua administrasi. Kamu masih kecil. Wajar kalau uangnya dikelola orang tua.”

“Dikelola bukan berarti dimiliki.”

“Kamu tidak mengerti keadaan saat itu.”

“Saya mengerti bahwa formulir santunan mencantumkan saya sebagai anak yang ditinggalkan. Saya juga ingat Tante Ratna dari pihak pabrik datang dua kali meminta tanda tangan penerimaan. Setelah kunjungan kedua, kamar saya direnovasi, tetapi bukan untuk saya. Kamar itu diberikan kepada Vania.”

Vania tersentak. “Kenapa membawa-bawa aku?”

“Karena sejak kecil semua yang atas nama saya selalu berakhir menjadi milikmu.”

“Papa dan Mama membesarkan kita sama rata.”

Laras menatap sofa kulit, lemari pajangan, lalu bingkai kelulusan Vania yang tersusun lengkap di dinding. Tidak ada satu foto sekolah Laras di sana.

“Kalau menurutmu ini sama rata, seharusnya kamu tidak keberatan kita membuka catatan lama.”

Vania membuang muka.

Arya menggeser segelas air ke dekat Laras. Ia tetap diam, tetapi gerakannya memberi waktu bagi Laras untuk menarik napas tanpa kehilangan kendali.

Hendra melihat itu. “Arya, urusan ini terjadi sebelum kalian menikah. Tidak perlu memperkeruh hubungan keluarga hanya karena Laras sedang panik.”

“Dia tidak terlihat panik,” jawab Arya.

Tatapan Hendra meredup.

Hendra berdeham. “Dari mana kamu mendapatkan cerita seperti itu?”

“Dari ingatan yang selama ini saya abaikan.”

“Ibumu tidak meninggalkan banyak hal.”

“Kalau tidak banyak, seharusnya mudah dikembalikan.”

Yuli tersenyum tipis. “Laras, kamu sedang hamil. Jangan membebani pikiran dengan urusan lama. Dulu Papa menggunakan uang itu untuk membesarkanmu.”

“Berapa jumlahnya?”

Senyum Yuli menegang.

“Mana laporan penggunaannya?” lanjut Laras. “Santunan dari kebakaran pabrik Sandang Jaya dibayarkan melalui dua jalur. Satu dari perusahaan, satu dari pemerintah kota karena Ibu meninggal saat menyelamatkan pekerja lain. Kalau semuanya dipakai untuk saya, pasti ada catatan.”

Hendra menatapnya tajam. “Kamu menuduh Papa mencuri uangmu?”

“Saya sedang meminta pertanggungjawaban.”

“Setelah semua yang Papa berikan?”

Laras menahan tawa pahit. Rumah ini selalu memakai kata keluarga ketika mereka ingin Laras diam. Namun saat ada sesuatu yang harus dibagi, ia mendadak menjadi anak bawaan Maharani.

“Kalau Bapak merasa sudah memberikan semuanya, tunjukkan dokumennya. Kita hitung dengan tenang.”

Perubahan panggilan dari Papa menjadi Bapak membuat Hendra menegang.

Vania meletakkan ponselnya. “Kakak datang minta uang justru ketika keluarga suami bangkrut. Kebetulan sekali.”

“Lebih kebetulan lagi kamu memakai jam tangan yang dibeli seminggu setelah santunan terakhir Ibu cair.”

Tangan Vania spontan menutupi pergelangan.

Laras melihat gerakan itu dan tersenyum tipis. “Tenang. Jam yang kamu pakai sekarang bukan jam yang sama. Tapi reaksimu menarik.”

Wajah Vania memerah. Arya menunduk sedikit, menyembunyikan sesuatu yang nyaris seperti senyum.

Yuli menyentuh lengan Laras. “Tante mengerti kamu sedang tertekan. Keluarga Reksonegoro terkena masalah, suamimu mungkin tidak bisa menjamin hidupmu lagi. Tapi jangan melampiaskan ketakutan kepada kami.”

Laras menarik lengannya tanpa kasar. “Saya justru sedang memastikan hidup saya tidak lagi dibangun di atas kebohongan kalian.”

“Jaga ucapanmu!” bentak Hendra.

Arya akhirnya bergerak. Ia tidak meninggikan suara, hanya meletakkan telapak tangannya pada sandaran kursi Laras.

“Biarkan dia selesai.”

Empat kata itu membuat Hendra menelan bentakan berikutnya.

Laras melanjutkan, “Piagam dan buku catatan Ibu tidak mungkin dipakai untuk biaya hidup. Keduanya milik saya. Serahkan hari ini.”

Yuli bertukar pandang dengan Hendra.

“Sudah hilang saat kami pindah rumah,” kata Hendra.

“Rumah ini tidak pernah pindah sejak Ibu meninggal.”

“Mungkin rusak karena lembap,” sahut Yuli cepat.

“Piagamnya dilaminasi. Buku itu disimpan dalam kotak besi kecil.”

Wajah Yuli berubah.

Laras mencondongkan badan sedikit. “Kotak itu dulu berada di lemari kamar belakang. Tiga tahun lalu, Tante memindahkannya ke gudang loteng setelah Vania hampir menemukannya.”

Vania menoleh tajam kepada ibunya. “Barang apa?”

“Tidak ada,” jawab Yuli terlalu cepat.

“Kalau tidak ada, mari kita periksa loteng.” Laras bangkit, satu tangan menopang pinggang. “Mas Arya, bantu aku.”

Arya ikut berdiri.

Yuli mendadak menghalangi jalan. “Kamu tidak boleh naik tangga dalam keadaan hamil.”

“Kalau begitu, Tante yang ambil.”

“Sudah Tante bilang, barangnya tidak ada.”

“Aneh. Saya belum menyebut buku mana yang saya cari di dalam kotak itu.” Laras menatap lurus ke matanya. “Tapi Tante tadi hampir mengatakan buku itu sudah dipindahkan, bukan?”

Bibir Yuli terbuka.

Warna di wajahnya lenyap.

Dari sofa, Hendra bangkit mendadak, tetapi tatapannya kepada Yuli justru membenarkan bahwa Laras telah menemukan pintu yang tepat.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!