Episode 3

Bab 3

Panggilan Pertama “Mas”

Jawaban atas pertanyaan Arya datang tiga jam kemudian dalam bentuk surat berstempel resmi.

Guntur dinonaktifkan dari jabatannya selama pemeriksaan. Rumah Menteng harus dikosongkan dalam empat hari untuk proses penyegelan dan inventarisasi. Akses terhadap sejumlah rekening keluarga akan dibatasi setelah surat perintah terkait diterbitkan.

Tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan Guntur bersalah.

Namun bagi orang-orang di luar pagar, keputusan itu sudah terdengar seperti vonis.

Menjelang sore, dua wartawan menunggu di seberang jalan. Telepon rumah berdering berkali-kali, lalu mendadak sunyi setelah Guntur mencabut kabelnya. Rukmini membungkus piring-piring yang masih ingin dibawa. Sekar melipat pakaian sambil sesekali menyeka mata dengan punggung tangan.

Guntur dan Arya mengurus dokumen di ruang kerja.

Laras tidak ikut masuk. Ia berdiri di lorong ketika pintu terbuka dan mendengar suara Guntur yang berat.

“Sekar bisa tinggal dengan keluarga teman di Jakarta,” kata Arya. “Setidaknya sampai situasi lebih tenang.”

“Tidak,” sahut Sekar dari belakang Laras. Gadis itu memeluk dua map ke dadanya. “Kalau Papa dan Mama pergi, aku ikut.”

Rukmini yang menyusul hanya mengusap bahu putrinya. Tidak ada yang menyuruh Sekar pergi lagi.

Laras memandangi mereka. Keluarga ini sedang kehilangan hampir semuanya, tetapi satu per satu justru memilih berdiri lebih rapat. Semalam hanya dirinya yang berusaha memutus lingkaran itu.

“Kita berangkat ke Girimulyo paling lambat lusa. Rumah lama dekat desa masih bisa dipakai sebagai alamat singgah, tapi kondisinya tidak layak. Arya, cari kontrakan yang tidak menarik perhatian.”

Desa Girimulyo.

Nama itu sama persis dengan yang Laras ingat.

Sebuah desa di kaki bukit di Jawa Tengah, jauh dari lingkungan sosial keluarga Reksonegoro. Di sanalah mereka akan melewati masa paling sulit. Di sana pula Arya kelak bertemu Melati jika alur cerita tidak berubah.

Laras menahan telapak tangannya di perut.

Kali ini ia akan berada di sana lebih dulu.

Arya keluar dari ruang kerja membawa map dan selembar daftar. Ia berhenti ketika melihat Laras.

“Kita perlu bicara.”

Ia membawanya ke kamar, tetapi membiarkan pintu terbuka sedikit. Sikap seorang lelaki yang masih menjaga jarak, bahkan ketika sedang berdua dengan istrinya sendiri.

Di atas ranjang sudah ada koper terbuka. Arya memasukkan beberapa kaus dan celana lapangan tanpa melipatnya terlalu rapi. Sebuah tas kecil berisi obat diletakkan di samping koper.

“Keputusan resmi sudah turun,” katanya. “Kami harus keluar dari rumah ini dalam empat hari.”

“Aku dengar.”

“Tempat tujuan kita Desa Girimulyo. Dari kota kabupaten masih beberapa jam lewat jalan kecil.”

Laras mengangguk.

Arya meletakkan daftar di atas meja. “Tidak ada rumah sakit besar di dekat sana. Hanya Puskesmas di kecamatan. Jalan ke desa buruk saat hujan, listrik kadang padam, dan rumah yang bisa kita sewa mungkin tidak punya air mengalir.”

Ia menjelaskan semuanya tanpa melebih-lebihkan. Justru ketenangan itu membuat setiap kesulitan terdengar nyata.

“Kamu sedang hamil enam bulan,” lanjutnya. “Ini bukan waktu untuk membuktikan sesuatu.”

“Aku tidak sedang membuktikan apa pun.”

“Kembalilah ke rumah keluarga Wijaya.”

Nada Arya tidak kasar. Namun keputusan di baliknya terdengar final.

Laras menatap lelaki itu. “Aku sudah bilang tidak mau.”

“Kamu belum melihat Girimulyo.”

“Kamu juga belum melihatnya dalam keadaan sekarang.”

“Aku pernah bertugas di daerah yang lebih sulit.”

“Tapi kamu belum pernah menjadi perempuan hamil.”

Arya terdiam, mungkin karena tidak menyangka ia akan membalas seperti itu.

Laras menahan senyum. “Jadi kita sama-sama belum tahu persis. Tidak adil kalau hanya aku yang dilarang pergi.”

“Laras.”

“Aku bisa ikut pemeriksaan kandungan sebelum berangkat. Kita bawa obat, makanan, dan semua catatan medis. Kalau bidan bilang perjalanannya berbahaya, baru kita cari pilihan lain.”

Arya menatapnya tajam. “Kamu sudah memikirkan sebanyak itu?”

Tentu saja. Laras bahkan tahu jalan mana yang akan rusak setelah hujan pertama dan warung mana yang menjual kebutuhan paling lengkap. Namun ia tidak boleh terlihat mengetahui terlalu banyak.

“Aku hanya mencoba bersikap masuk akal.”

“Sikap masuk akalmu datang terlambat.”

Kalimat itu tepat mengenai tempat yang masih perih.

Laras tidak membela diri. Arya berhak meragukannya. Satu pagi yang baik tidak dapat menghapus berbulan-bulan luka.

Lelaki itu menutup koper setengah penuh. “Aku akan bicara dengan pengacara keluarga Wijaya. Mereka bisa menjemputmu besok.”

Laras merasakan kegelisahan yang tadinya ia tekan mulai merayap naik.

Jika dikirim pulang, ia akan terpisah dari keluarga Reksonegoro tepat ketika alur cerita mulai bergerak. Hendra dan Yuli tidak akan melindunginya. Mereka hanya akan menghitung berapa banyak uang yang masih bisa diambil dari statusnya sebagai menantu keluarga jenderal.

Argumen tidak akan menembus Arya. Lelaki itu sudah menyiapkan jawaban untuk semuanya.

Laras harus menyentuh bagian dirinya yang tidak bisa dijawab dengan logika.

Ia melangkah mendekat. Suaranya turun tanpa dibuat-buat.

“Mas Arya.”

Tangan Arya yang hendak mengambil tas obat berhenti di udara.

Laras sendiri merasakan jantungnya melonjak. Sejak membuka mata di tubuh ini, ia selalu memanggilnya Arya. Satu kata itu tiba-tiba membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.

Arya menoleh perlahan. “Apa?”

“Aku takut sendirian.”

Kerutan di antara alisnya melemah sedikit.

Laras menangkup perutnya. Kali ini ia tidak sedang menyusun alasan. Rumah Wijaya memang bukan rumah yang aman baginya. Di dunia asing ini, hanya orang-orang Reksonegoro yang nasibnya benar-benar ia kenal.

“Mas,” panggilnya sekali lagi, lebih lembut. “Jangan tinggalin aku.”

Keheningan mengisi kamar.

Di luar, terdengar Rukmini meminta Sekar memisahkan obat dari barang pecah belah. Suara kardus ditutup menjadi pengingat bahwa waktu mereka di rumah ini hampir habis.

Arya memandang wajah Laras cukup lama. Tatapannya turun ke perutnya, lalu kembali naik.

“Kamu yang ingin pergi dariku semalam.”

“Dan hari ini aku memilih tinggal.”

“Bagaimana kalau besok berubah lagi?”

“Bawa aku bersamamu, lalu lihat sendiri.”

Rahang Arya masih kaku, tetapi tangannya tidak lagi meraih ponsel untuk menghubungi keluarga Wijaya.

“Di sana tidak ada sopir, pelayan, atau makanan yang bisa kamu pesan kapan saja.”

“Aku tahu.”

“Jangan mengeluh nanti di sana.”

Laras menahan napas. “Berarti aku boleh ikut?”

Arya tidak menjawab langsung. Ia mengambil tas obat dari meja dan memasukkannya ke koper.

“Periksa kandunganmu besok pagi. Kalau dokter melarang perjalanan, kita ikuti dokter.”

Senyum Laras nyaris lolos. “Baik.”

Ia hendak mengambil pouch kecil di atas lemari, tetapi letaknya terlalu tinggi. Baru saja ia berjinjit, Arya sudah meraihnya lebih dulu.

“Jangan begitu,” tegurnya. “Kalau jatuh bagaimana?”

Pouch itu diletakkan di tangan Laras. Setelah itu Arya menarik kursi dari dekat meja dan menggesernya ke belakang lututnya.

“Duduk.”

Nada suaranya tetap dingin.

Namun tubuhnya sudah lebih dulu memilih untuk menjaga.

Laras duduk sambil memeluk pouch tersebut. Di luar kamar, rumah mereka sedang runtuh sedikit demi sedikit.

Di dalam kamar, satu kata sederhana baru saja membuka retakan pertama pada dinding di antara mereka.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!