Episode 5

Bab 5

Piagam dan Buku Catatan Ibu

“Ambil kotaknya,” perintah Hendra.

Yuli menatap suaminya seolah berharap lelaki itu berubah pikiran. Namun Arya sudah berdiri di samping Laras, dan tidak ada lagi celah untuk berpura-pura lupa.

“Masih ada urusan uangnya,” kata Laras.

Hendra mengepalkan tangan. “Jangan serakah.”

“Mengambil milik sendiri bukan serakah.”

“Papa membesarkanmu bertahun-tahun!”

“Dan Ibu Maharani meninggalkan biaya untuk itu. Kita bisa menghitung mana yang dipakai untuk kebutuhan saya, mana yang beralih menjadi renovasi rumah, kendaraan, dan biaya sekolah Vania.”

Vania berdiri. “Jangan fitnah keluargaku!”

Laras menoleh kepadanya. “Keluargamu? Bagus. Berarti kamu mengakui sejak awal aku tidak pernah dianggap bagian dari keluarga ini.”

Vania kehilangan kata-kata.

Yuli buru-buru berjalan ke tangga. Langkahnya terdengar berat sampai ke lantai atas.

Hendra menurunkan suara. “Apa maumu sebenarnya?”

“Piagam, buku catatan, seluruh dokumen atas nama Ibu, dan bagian uang yang masih tersisa.” Laras mengeluarkan ponsel. “Kalau hari ini tidak selesai, saya akan menghubungi pihak pabrik, kantor yang menerbitkan penghargaan, dan semua kerabat yang hadir saat santunan diserahkan. Kita cocokkan cerita di depan mereka.”

Wajah Hendra mengeras.

“Saya juga bisa meminta salinan transaksi lama melalui prosedur hukum,” lanjut Laras. “Mungkin memakan waktu, tapi saya akan menunggu.”

Hendra bangkit dan mengambil buku cek dari laci. “Papa beri kamu sejumlah uang sekarang. Setelah itu, kamu tanda tangan bahwa semua urusan selesai.”

Ia menulis angka, merobek lembar cek, lalu meletakkannya di meja.

Laras bahkan tidak menyentuhnya. “Saya tidak akan menukar hak atas catatan yang belum diperiksa dengan angka yang Bapak tentukan sendiri.”

“Kamu butuh uang untuk pindah.”

“Kebutuhan saya tidak mengubah kepemilikan.”

“Kalau begitu, sebutkan angka yang kamu mau.”

“Saya mau laporan yang benar.”

Arya menggeser punggung kursi Laras sedikit agar ia bisa bersandar. “Kita masih punya waktu?” tanyanya pelan.

Laras memahami pertanyaan itu bukan tentang jadwal, melainkan tubuhnya. Pinggangnya mulai pegal setelah duduk terlalu lama.

“Sepuluh menit.”

Arya melihat jam. “Lima belas. Setelah itu kamu harus berdiri dan berjalan sebentar.”

Vania memutar mata. “Baru kena masalah saja sudah sok perhatian.”

Arya tidak menanggapinya. Ia membuka botol air dan menyerahkannya kepada Laras.

Laras minum beberapa teguk, lalu meletakkan botol di samping cek yang masih tak tersentuh. Sikap tenangnya membuat Hendra jauh lebih gelisah daripada jika ia berteriak.

Arya tidak ikut mengancam. Kehadirannya saja cukup mengingatkan Hendra bahwa Laras tidak datang sebagai anak yang bisa dibentak lalu disuruh pulang.

Yuli kembali membawa kotak besi kecil yang permukaannya berkarat. Ia meletakkannya di meja dengan kasar.

“Ini barang-barangnya. Jangan bilang Tante menahan apa pun.”

Laras membuka pengait.

Di bagian paling atas terlipat kain putih yang sudah menguning. Di bawahnya terletak sebuah piagam berbingkai tipis, map dokumen, dan buku catatan berlapis kulit cokelat. Sudut buku itu aus karena pernah sering disentuh.

Napas Laras tertahan.

Tulisan pada piagam masih terbaca jelas.

Piagam Penghargaan Anumerta untuk Maharani Wicaksana, atas keberanian menyelamatkan para pekerja saat kebakaran Pabrik Tekstil Sandang Jaya.

Nama itu bukan sekadar bagian dari ingatan tubuh. Ia adalah seorang perempuan yang pernah berlari masuk ke bangunan terbakar ketika orang lain berusaha keluar. Seseorang yang meninggalkan anak kecil, buku catatan, dan keberanian yang kemudian disembunyikan bertahun-tahun di loteng.

Laras mengusap tepi bingkai dengan ujung jari.

Dadanya terasa penuh oleh kesedihan yang bukan sepenuhnya miliknya, tetapi juga tidak lagi terasa asing.

“Ibu...” bisiknya.

Arya berdiri lebih dekat. Ia tidak menyentuh Laras, hanya mengambil kotak besi agar beban itu tidak bertumpu di pangkuan perempuan hamil.

Laras membuka buku kulit tersebut. Halaman pertama berisi tulisan tangan rapi dan sebuah tanggal jauh sebelum kelahirannya. Ia tidak membaca lebih lanjut. Ini bukan tempat yang tepat.

Di dalam map, ada salinan surat kematian, bukti pemberian penghargaan, dan beberapa lembar penerimaan dana. Satu halaman menunjukkan rekening penampung yang dikelola Hendra setelah Maharani meninggal.

“Ini cukup untuk memulai perhitungan,” kata Laras.

Hendra menatap meja, tidak lagi membantah bahwa dana itu pernah ada.

Setelah perdebatan panjang, ia mentransfer sejumlah uang yang diakuinya masih tersisa. Laras memeriksa notifikasi bank, menyimpan bukti transaksi, lalu menuliskan bahwa pembayaran tersebut belum menghapus haknya meminta pertanggungjawaban jika dokumen lain menunjukkan selisih.

Hendra menandatangani dengan wajah kelabu.

“Sekarang puas?” tanyanya.

“Saya puas karena barang Ibu kembali. Bukan karena harus memaksa keluarga sendiri menyerahkannya.”

Vania mendecakkan lidah. Ponselnya berbunyi beberapa kali. Saat Laras berdiri, layar yang belum sempat dikunci memperlihatkan grup keluarga besar.

Vania baru saja mengirim pesan.

`Ada yang suaminya jatuh miskin, sekarang pulang menguras rumah orang tua.`

Laras mengambil ponselnya sendiri. Pesan itu sudah masuk ke grup yang sama.

Ia membalas singkat.

`Yang saya bawa pulang adalah piagam dan peninggalan ibu kandung saya. Kalau perlu, bukti penerimaan dana juga bisa saya unggah agar semua orang menilai sendiri siapa yang menguras siapa.`

Tanda mengetik bermunculan, lalu menghilang satu per satu.

Beberapa detik kemudian, seorang bibi mengirim foto lama Maharani memegang piagam yang sama. Pesan berikutnya bertanya mengapa penghargaan itu selama ini disimpan keluarga Wijaya dan bukan Laras.

Ponsel Hendra mulai berdering di ruang tamu. Yuli menatap layar suaminya dengan panik, sementara nama-nama kerabat terus muncul dalam notifikasi.

Laras tidak perlu menambahkan apa pun. Satu fakta yang diletakkan di tempat terbuka sudah cukup membalik arah gunjingan.

Vania merebut ponselnya dari meja. “Kakak mengancamku?”

“Tidak. Aku menawarkan transparansi.”

Laras memasukkan buku kulit dan map dokumen ke tas besar. Arya membawa kotak besi serta piagam. Ketika mereka sampai di teras, ia lebih dulu membuka pintu mobil, menahan bagian atasnya dengan telapak tangan agar kepala Laras tidak terbentur.

“Pelan,” katanya saat Laras naik.

Hendra, Yuli, dan Vania berdiri di ambang pintu. Tidak seorang pun mengucapkan selamat jalan.

Mobil bergerak meninggalkan rumah Wijaya.

Laras memeluk tas di pangkuan. Gedung-gedung Jakarta melintas di balik kaca, kota yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan.

Arya mengemudi beberapa menit sebelum bertanya, “Ibumu meninggal dalam kebakaran?”

“Saat menyelamatkan orang lain.”

“Kenapa kamu tidak pernah bercerita?”

Laras memandangi buku kulit yang menyembul dari tas. Ada terlalu banyak jawaban, termasuk yang belum ia pahami sendiri.

“Nanti aku ceritakan,” katanya. “Setelah aku membaca ini.”

Arya mengangguk. Ia tidak mendesak.

Laras menyentuh sudut buku itu sekali lagi. Tujuan berikutnya adalah desa terpencil yang dianggap orang sebagai dasar kejatuhan mereka.

Namun kini ia membawa salah satu kunci menuju masa lalunya sendiri.

Dan kali ini, tidak seorang pun akan menyembunyikan kunci itu darinya lagi.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!