Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Suasana di dalam gedung pabrik terbengkalai itu terasa sangat panas dan pengap.

Gedung tua yang berlokasi di pinggiran utara Jakarta itu kini disulap menjadi lokasi syuting.

Puluhan kru film berlalu lalang membawa kabel tebal, kamera besar, dan berbagai peralatan tata cahaya.

Di salah satu sudut ruangan, Reyhan sedang duduk di kursi lipat khusus pemeran utama.

Seorang penata rias sibuk menepukkan spons bedak ke wajah Reyhan agar terlihat kotor dan penuh debu.

"Make up ini membuat wajahmu terlihat sangat menderita, Reyhan," komentar seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik tenda istirahat.

Itu adalah Kania.

Wanita itu mengenakan kemeja sutra mahal dan kacamata hitam yang diselipkan di atas kepalanya.

Gaya bicaranya masih sama seperti satu bulan yang lalu, penuh percaya diri dan selalu terkesan sombong.

"Apa yang kau lakukan di sini, Kania?" tanya Reyhan tanpa menoleh karena penata rias masih memoles pipinya.

"Aku ini jurnalis nomor satu di negara ini, tentu saja aku harus meliput hari pertama pahlawan nasional kita syuting film layar lebar," jawab Kania sambil tersenyum lebar.

Kania menarik sebuah kursi plastik dan duduk tepat di sebelah Reyhan.

"Lagipula, artikel tentang kehidupan barumu sebagai aktor bernilai jutaan rupiah untuk portal beritaku."

"Kau selalu saja memikirkan uang dan berita eksklusif," balas Reyhan sambil menghela napas panjang.

"Tentu saja."

"Portal beritaku sekarang sudah menjadi perusahaan raksasa, aku harus terus memberinya makan dengan berita-berita besar," ucap Kania dengan nada bangga yang dibuat-buat.

Penata rias akhirnya selesai dengan pekerjaannya dan menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.

Reyhan menatap pantulan wajahnya di cermin kecil yang ada di atas meja.

"Aku belum terbiasa dengan semua keramaian ini," gumam Reyhan pelan.

"Kau akan segera terbiasa."

"Dunia hiburan memang berisik, tapi kau punya bakat alami untuk berada di depan kamera," puji Kania tulus.

Percakapan mereka terpotong ketika seorang pria paruh baya bertopi sutradara menghampiri mereka.

Itu adalah Pak Joko, sutradara film laga paling terkenal di Indonesia saat ini.

"Reyhan, apa kau sudah siap untuk pengambilan gambar adegan kelima?" tanya Pak Joko sambil menggulung naskah di tangannya.

"Aku sudah siap, Pak Joko," jawab Reyhan sambil berdiri dan merapikan setelan jas hitamnya yang sengaja dibuat robek-robek.

"Bagus sekali."

"Di adegan ini, kau akan bertarung jarak dekat dengan Bima."

"Kalian akan saling pukul di bawah scaffolding besi itu, lalu Bima akan membantingmu ke arah tumpukan tong kosong," jelas Pak Joko panjang lebar.

Reyhan mengangguk paham mendengar arahan tersebut.

"Pastikan kau menahan tenagamu saat memukul Bima."

"Kita tidak ingin ada aktor yang benar-benar masuk rumah sakit di hari ketiga syuting," tambah Pak Joko sambil tertawa kecil.

"Aku mengerti, Pak."

"Aku sudah menghafal semua koreografinya dengan sangat baik," ucap Reyhan meyakinkan sutradara itu.

"Kalau begitu mari kita mulai."

"Semua kru, bersiap di posisi masing-masing!" teriak Pak Joko menggunakan pelantang suara.

Reyhan berjalan menuju bagian tengah pabrik yang sudah ditata sedemikian rupa menyerupai markas penjahat.

Seorang pria berbadan kekar sudah berdiri di sana menunggu Reyhan.

Pria itu adalah Bima, aktor pendukung yang memerankan karakter antagonis bawahan.

"Mohon kerja samanya, Mas Reyhan," sapa Bima dengan nada sangat sopan.

"Santai saja, Bima."

"Pukul aku sesuai dengan latihan kita kemarin, jangan ragu-ragu karena takut menyakitiku," balas Reyhan memberikan semangat.

Bima mengangguk mantap meski wajahnya masih terlihat sedikit gugup berhadapan dengan Reyhan.

"Kamera siap!"

"Lampu siap!"

"Suara siap!"

"Aksi!" teriak Pak Joko dari kursi sutradaranya.

Duar.

Suara ledakan buatan meletup keras dari arah belakang lokasi set.

Asap putih tebal langsung mengepul dan memenuhi pandangan kamera.

Reyhan langsung mengubah ekspresi wajahnya dalam hitungan detik.

Tatapan matanya yang tadi ramah kini berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.

"Kemampuan akting dari sistem ini benar-benar membuat semuanya terasa sangat alami," batin Reyhan bangga.

"Mati kau, Pengkhianat!" teriak Bima membacakan dialognya dengan penuh emosi.

Bima mengayunkan sebuah pipa besi tumpul yang terbuat dari karet keras ke arah kepala Reyhan.

Reyhan menunduk dengan gerakan yang sangat luwes dan terukur.

Ia menghindari pukulan itu dan langsung meraih lengan Bima sesuai dengan koreografi naskah.

Reyhan bersiap untuk mengunci pergerakan Bima dan melakukan bantingan.

Namun, tepat pada detik itu juga, sesuatu yang sangat aneh terjadi di dalam kepala Reyhan.

Wenggg.

Sebuah suara dengungan mekanik berdenging sangat nyaring di telinganya.

Sudah satu bulan penuh Reyhan tidak pernah mendengar suara sistemnya lagi sejak kejadian di rumah sakit.

[Ding!]

[Sistem Versi 2.0 Aktif.]

[Peringatan Bahaya Level Merah.]

Layar transparan berwarna emas gelap tiba-tiba muncul mengambang di depan wajah Reyhan.

Reyhan melebarkan matanya dan fokusnya pada adegan akting langsung buyar.

"Ada apa ini?" batin Reyhan kebingungan.

[Sistem mendeteksi adanya objek bermassa berat yang meluncur jatuh dari arah jam dua belas atas.]

[Objek tersebut memiliki potensi fatal jika mengenai tubuh manusia.]

Waktu di sekitar Reyhan seolah berjalan jauh lebih lambat dari biasanya.

Ia secara refleks mendongakkan kepalanya ke arah langit-langit pabrik yang gelap.

Kemampuan observasi yang sudah ditingkatkan oleh sistem membantunya melihat dengan sangat jelas ke dalam kegelapan.

Reyhan melihat sebuah lampu sorot raksasa seberat puluhan kilogram telah lepas dari rangka besinya.

Lampu itu meluncur deras menembus udara tepat ke arah posisi mereka berdua berdiri.

Lebih tepatnya, lampu raksasa itu akan menghantam kepala Bima dalam waktu kurang dari dua detik.

"Bima, awas!" teriak Reyhan sekuat tenaga.

Reyhan sama sekali tidak memedulikan naskah atau kamera yang sedang merekam.

Wush.

Reyhan menarik kerah baju Bima dengan tarikan yang sangat kasar dan kuat.

Ia membanting tubuh mereka berdua ke arah samping sejauh mungkin dari titik jatuh lampu tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!