Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

“Kamu jangan tersinggung dengan Amira ya, Mas,” ucap Ratna sendu setelah sosok Amira dan Luki menghilang sepenuhnya dari pandangannya.

“Iya, tidak apa-apa. Bagaimanapun juga Amira itu anak kamu, masa aku tersinggung,” jawab Angga dengan nada lembut yang dibuat-buat.

“Kamu baik sekali, Mas.” Ratna memegang tangan Angga penuh rasa tulus dan kagum. “Kamu ada agenda apa hari ini, Sayang?”

“Ya seperti biasa, aku mau ketemu dengan relasiku, Sayang... Sepertinya Pak Surya tadi ada salah paham sama aku, jadi aku mau meluruskan.”

Setelah berpisah dengan Ratna, Angga langsung mengendarai mobil Pajero—yang dibelikan oleh Ratna—menuju sebuah tempat hiburan malam. Ia memasuki private room. Meski beberapa pemandu lagu sudah duduk menemaninya, Angga tidak seagresif biasanya. Matanya sibuk menatap layar ponsel, sibuk menelusuri identitas Luki.

“Luki Perdana...” gumamnya pelan.

Saat mengetikkan nama itu di mesin pencari internet, hasil yang paling dominan muncul adalah nama konglomerasi raksasa: Perdana Holding.

“Apa mungkin Luki ini anak dari keluarga Perdana?” batin Angga penasaran.

Ia terus mengulik informasi, namun aksesnya mentok. Informasi mengenai struktur pemilik Perdana Holding sangat tertutup, hanya menampilkan jajaran direksi. Salah satu wajah yang paling mencolok adalah sosok bernama Andi. Angga mengamati foto Andi cukup lama; wajah itu terasa tidak asing baginya, tapi ia lupa di mana pernah melihatnya.

Tak puas, Angga menghubungi temannya yang bekerja sebagai detektif swasta. Informasi yang didapat pun masih amat terbatas: pemilik utama Perdana Holding hanya diketahui berinisial AD, dan istrinya bernama Yohana yang berasal dari kalangan rakyat biasa.

Dua nama itu dicatat baik-baik oleh Angga. Detektif itu kemudian mengirimkan sebuah foto dokumen lama. Di sana, tampak pemilik Perdana Holding berinisial AD sedang berdiri berdampingan dengan seseorang yang sangat dikenal Angga.

“Bukankah ini... Salim waktu muda?” gumam Angga terperanjat.

Ia memperbesar foto berlatar Gunung Tangkuban Parahu tersebut. Foto itu menampilkan dua pemuda yang tersenyum ke kamera: yang satu adalah AD (pemilik Perdana Holding), dan satunya lagi adalah Salim—mendiang suami pertama Ratna sekaligus ayah kandung Amira.

Didorong rasa penasaran yang memuncak, Angga keluar dari private room yang bising menuju area rooftop. Ia langsung menghubungi Ratna.

“Sayang, apakah kamu tahu di mana barang-barang peninggalan almarhum suami kamu?” tanya Angga begitu panggilan terhubung.

“Ada, Sayang. Kenapa?”

“Ini ada hal penting. Barangkali barang-barang itu menyimpan sesuatu yang bisa membuat perusahaan kamu makin maju.”

“Barang-barang Mas Salim semuanya ada di kamar Amira. Aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali.”

“Bisa tidak kamu bujuk Amira agar menyerahkan barang-barang Mas Salim itu?”

“Ya, nanti aku coba... Tapi aku tidak janji ya. Kamu tahu sendiri Amira itu kepala batu.”

“Iya, coba dibujuk dulu ya, Sayang,” ucap Angga sebelum mengakhiri telepon.

Angga memandang langit gelap,gemerlap lampu kota menghiasi “salim sepertinya banyak rahasia yang belum aku tahu”

Sementara itu, Amira telah sampai di kantor cabangnya. Setelah memeriksa sistem keuangan bersama bagian finance, senyum lega mengembang di wajahnya. Uang 5 miliar rupiah dari Bank Surya benar-benar sudah masuk ke rekening perusahaan.

“Benar-benar luar biasa...” gumam Amira masih tak disangka. “Dini, untuk uang ini, tanpa sepengetahuan dan izin tertulis dariku, jangan pernah keluarkan sepeser pun!” tegas Amira pada stafnya.

“Siap, Bu!” sahut Dini sigap.

“Aku tidak mau kejadian kayak kemarin lagi, uang keluar sedangkan aku enggak tahu”

“baik bu” jawab dini “lalu kalau ibu Ratna sendiri yang minta bagaimana bu?”

“Nah apalagi kalau yang itu minta uang jangan pernah di kasih” jawab Amira tegas

“Tapi bu”

“Kamu cukup kerjakan tugasku, sisanya aku yang urus”

“baiklah kalau begitu bu”

Keluar dari ruang keuangan, Amira menuju ruang kerja utamanya. Saat membuka pintu, ia mendapati Rini sedang terburu-buru mematikan panggilan telepon dengan raut wajah panik.

“Amira! Bagaimana kondisi kamu?” tanya Rini mencoba bersikap biasa.

“Baik,” jawab Amira ketus.

“Mira... kamu marah ya sama aku? Maafkan aku soal kemarin...”

“Lain kali, jangan pernah sarankan hal konyol seperti itu lagi!” potong Amira tajam. “Ingat baik-baik, aku hanya sudi disentuh oleh suamiku sendiri. Lebih baik aku mati daripada ada lelaki lain yang menyentuhku!”

“Maafin aku, Amira...” ucap Rini dengan nada memelas. “Kamu tahu sendiri kondisinya saat itu sangat tegang dan mencekam.”

“Seberbahaya apa pun situasinya, aku akan tetap berpegang pada prinsip hidupku. Saat ini Luki adalah suamiku, dan aku akan selalu setia padanya,” tegas Amira. (Andai Luki mendengar ucapan ini secara langsung, sudah dipastikan pria itu akan terbang kegirangan hingga ke langit ketujuh).

“Baiklah, Amira... Ngomong-ngomong, kamu tahu keberadaan Pak Dani sekarang?” tanya Rini pelan.

Mata Amira seketika memicing curiga. “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa kamu sama saja seperti Mamahku?”

“Sama bagaimana?” Rin balik tanya heran

“Sama-sama lebih mengkhawatirkan si Dani babi bodoh itu ketimbang keselamatan jiwaku!”

“Aku cuma mengkhawatirkan kamu, Mira!”

“Kalau mengkhawatirkan aku, kenapa mukamu kelihatan panik begitu cuma karena si Dani hilang?”

“Dani itu punya relasi yang sangat kuat, Amira...” ujar Rini membela diri.

Amira terkehah dingin. “Aku malah ingin tahu, sejauh mana relasi hebatnya itu bisa menemukan keberadaannya sekarang.”

Rini menghela napas panjang. “Aku cuma takut jaringan Bank Surya akan menghancurkan kita karena masalah ini...”

Amira melipat kedua tangannya di dada, lalu melangkah mendekati meja kerja Rini dengan tatapan penuh percaya diri. “Kamu belum ketemu Dini, ya?”

Rini menggelengkan kepala bingung.

“Pak Surya baru saja mencairkan pinjaman dana untuk cabang kita sebesar 5 miliar rupiah. Bunganya sangat rendah, dan jangka waktu pembayarannya sesanggup kita,” ucap Amira penuh kebanggaan.

“A-apa? Itu benar?!” Rini terperanjat tak percaya.

“Kamu cek saja sendiri kalau tidak percaya,” sahut Amira tersenyum miring. “Dan perlu kamu tahu, siapa pun yang berani mencari babi bodoh bernama Dani itu, mereka harus berurusan langsung dengan Pak Surya!”

“Kenapa bisa begitu? Bukankah Pak Dani itu anak buahnya Pak Surya?”

“Makanya, kalau ada masalah jangan cuma bisa lari! Kamu sih tidak menyaksikan kejadian di sana sampai akhir. Pak Surya itu langganan langganan ojol suamiku. Dan sepertinya Luki pernah berjasa besar padanya, sampai-sampai Pak Surya sangat patuh dan segan pada Luki,” pamer Amira dengan nada menyepelekan. “Jadi buatku sekarang, Dani itu cuma remahan rempeyek!”

Amira menepuk-nepuk pelan pundak Rini. “Sudah, tidak usah memikirkan babi bodoh itu lagi. Mari kita bekerja, kita dapat suntikan dana besar!”

Amira lalu melangkah anggun dan duduk di kursi kebesarannya. Tanpa disadari Amira, di bawah meja, tangan Rini mengepal sangat erat. Geligi giginya gemertak menahan gejolak amarah dan dengki, meski wajahnya dipaksa untuk tetap mengumbar senyum manis.

1
Indriani Kartini
mantap Almira, AQ gedek bngt SMA ibunya yg sudah di butakn cinta
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
akhirnya semua kebusukan Angga, Rini dan Risma kebongkar, tapi kalo Ratna ttp percaya sama Angga itu namanya bener² bodoh....
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
gemes bgt ma Amira katanya CEO tapi kok polosnya gak ketulungan, masa dia gak bisa liat situasi sih dan gak bisa liat kalo suaminya itu beneran kaya🤦🏻‍♀️ harusnya Amira bisa memikirkan kenapa suami nya selalu ada buat dia dan orang² selalu hormat pada suaminya...😏
santi damayanti: terimakasih ka masukan nya
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
Luar biasa
Piyah
lanjutkan
Piyah
jngn banyakan drama muter2 critanya
santi damayanti: siyap bossss kita tancap gassss
total 1 replies
Mei Susilowati
500jt sebulaaan🤔🤔🤔
Piyah
lanjutkan
Piyah
eh si Ratna matanya g melek2
Piyah
lanjutkan bgsc critanya
santi damayanti: terimakasih anda orang pertama komen
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!