Indonesia
NovelToon NovelToon
Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Vah Peres

Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 06 - Kita Bawa Dia

Ketika aku kembali ke kos harian murah itu, waktu sudah lewat tengah malam. Jalanan tenang, tetapi kepalaku masih berputar oleh semua yang terjadi malam itu. Aku membuka pintu pelan-pelan agar tidak membuat suara, lalu langsung menuju kamar kecil yang kami tinggali bersama.

Di dalam, cahaya lampu tidur redup. Kirana tidur nyenyak di ranjang, tubuh mungilnya tertutup selimut, sementara Laras duduk di sampingnya, menyiapkan botol susu dengan ketenangan yang selalu membuatku kagum.

"Kakak sudah pulang," katanya pelan, dengan senyum lega. "Bagaimana?"

Aku duduk di tepi ranjang, mengeluarkan ponsel dari tas, lalu membuka aplikasi bank dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ketika melihat jumlahnya, aku membeku, mata membelalak.

"Rp50.000.000..." gumamku, tidak percaya. "Ini lebih dari dua kali lipat dari yang mereka katakan akan kuterima. Aku tidak mengerti, apa artinya ini?"

Laras mendekat, ikut terkejut.

"Itu uang yang sangat besar, Kak. Tapi mungkin bonus karena mereka sangat menyukai penampilanmu?"

Aku menarik napas dalam, merasakan kelegaan besar bercampur kebingungan. Jumlah itu bisa menyelesaikan banyak masalah kami untuk waktu yang cukup lama.

"Kita atur ini baik-baik," kataku, mulai mencatat. "Pertama, aku bisa membayar kos lima belas hari ke depan di muka, jadi kita tidak perlu cemas soal sewa saat akhir bulan datang. Setelah itu, aku beli baju baru untuk Kirana, dia tumbuh cepat sekali, dan beberapa kebutuhan untuk kita juga."

Aku mengambil beberapa lembar uang darurat dari tasku dan menyodorkannya kepada Laras.

"Ini untukmu. Untuk kerja kerasmu, karena sudah menjaga dia, karena semua bantuanmu. Tanpamu, aku tidak akan bisa pergi."

Laras menggeleng, menyingkirkan tanganku dengan tegas tetapi penuh sayang.

"Tidak perlu, Kak. Kita saudara, kan? Aku menjaga kalian karena sayang, bukan karena uang. Simpan saja untuk kebutuhan Kirana, untuk obat atau keadaan darurat."

Aku mengangguk, menyimpan uang itu dengan hati-hati, lalu melanjutkan.

"Kalau besok pagi demamnya belum turun, kita langsung bawa dia ke dokter. Kita tidak boleh mengambil risiko kondisinya memburuk."

Setelah semuanya beres, aku bersandar ke dinding. Tanpa bisa kutahan, bayangan pria itu kembali memenuhi pikiranku.

"Dan ada lagi," aku memulai dengan suara lebih rendah, seolah sedang membagi rahasia. "Di acara tadi, aku melihat seorang pria... berbeda dari semua orang. Tinggi, kuat, dengan kehadiran yang seolah memenuhi seluruh aula. Dia tampan, Laras, dengan cara yang menakutkan. Matanya gelap, tajam, dan dia memancarkan sesuatu yang mencampur kuasa dan bahaya."

Laras menatapku, penasaran.

"Lalu apa yang dia lakukan?"

"Dia memanggilku ke kantornya," jawabku, wajahku memanas hanya karena mengingatnya. "Dia bertanya macam-macam, seolah ingin membaca semua yang kusembunyikan. Lalu... dia membuat tawaran. Dia bertanya berapa yang kumau, seolah aku bisa dibeli."

Mata Laras membesar, marah.

"Orang macam apa itu? Lalu Kakak?"

"Aku bilang padanya bahwa aku tidak punya harga," jawabku mantap. "Sebenarnya, aku bahkan menamparnya. Dia tampak terkejut, tapi tidak melakukan apa pun. Dia hanya meminta maaf dan membiarkanku pergi."

Sebelum Laras sempat mengatakan hal lain, kami mendengar suara kering dan berulang. Kirana mulai batuk, keras dan berturut-turut, terbangun mendadak dengan wajah kecil memerah dan mata penuh air.

Seketika, semua percakapan dan pikiran kami lenyap. Aku mengangkatnya ke pelukan, mengusap punggungnya hati-hati, menimangnya pelan.

"Mama di sini, Nak. Mama di sini," bisikku, mencium dahinya.

Laras sudah mengambil botol susu dan kain bersih, siap membantu. Meski kepalaku masih penuh pertanyaan tentang malam itu dan pria itu, pada saat tersebut hanya ada satu hal: putriku, kesehatannya, dan keselamatan kami.

Yang lain bisa menunggu.

Kami berhasil menenangkan Kirana lagi, dan ia kembali tidur, tetapi dahinya masih panas saat kusentuh. Aku duduk di tepi ranjang, pikiranku terbelah antara uang tak terduga, percakapan dengan Laras, dan terutama bayangan pria yang tidak mau pergi dari benakku.

Saat itulah ponsel yang kutaruh di meja kecil bergetar pelan. Aku mengambilnya dan mengernyit saat melihat pengirimnya, nomor tidak dikenal tanpa nama. Kubuka pesan itu perlahan, dan ketika membaca kata-katanya, jantungku melonjak.

Sekali lagi, aku minta maaf atas kata-kata kasar dan tidak pantas yang kugunakan. Aku ingin menebusnya dengan adil: aku mengundangmu untuk tampil lagi dalam makan malam gala seminggu dari sekarang. Bayarannya sama seperti hari ini, tanpa jebakan dan tanpa maksud lain. Kamu bersedia?

Aku diam, memandang layar, tidak percaya. Bagaimana ia mendapatkan nomorku? Aku hanya memberikannya kepada penyelenggara acara, dan pria itu sudah menjamin tidak akan memberikannya kepada siapa pun. Itu pelanggaran privasi, tetapi di saat yang sama tawarannya bagus, sangat bagus, dan jumlah itu akan sangat membantu semua pengeluaran yang sudah berputar di kepalaku.

Aku menarik napas dalam. Dengan campuran keberanian dan ketegasan, aku mulai mengetik balasan.

Aku menerima, tapi dengan satu syarat: kalau ada tawaran atau sindiran apa pun yang bukan sekadar pertunjukan, ketahuilah Anda akan mendapat tamparan lagi, lebih keras daripada malam ini. Aku bukan barang dagangan, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukanku seperti itu.

Kukirim pesan itu dan menunggu, tidak tahu apakah ia akan menjawab atau justru marah. Beberapa menit kemudian, balasannya datang, singkat dan mengejutkan tenang.

Adil. Kita sepakat. Besok aku kirim semua detail tempat dan jamnya. Selamat malam.

Aku mematikan layar dan membiarkan ponsel jatuh pelan ke pangkuanku. Untuk sesaat, aku tidak bisa menahan diri: senyum kecil yang tak disengaja muncul di wajahku. Ia pria yang berbeda, tidak diragukan lagi, arogan, tetapi tampaknya tahu cara mengakui kesalahan.

Namun momen lengah itu tidak berlangsung lama. Aku cepat-cepat menoleh kepada Kirana dan meletakkan tangan di dahinya lagi. Kali ini panasnya jauh lebih tinggi, menyengat, sementara tubuh kecilnya kaku, napasnya lebih cepat dan pendek.

Senyumku langsung hilang, digantikan tekanan kuat di dada.

"Laras," panggilku, sudah berdiri dan meraih tas berisi semua yang kami butuhkan, "demamnya naik sekali. Kita tidak bisa menunggu lagi. Aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang."

Laras sudah berdiri, mengambil selimut untuk membungkus bayi itu, wajahnya serius dan khawatir.

"Aku ikut. Ayo cepat."

Kami keluar dari kamar pada dini hari itu, aku memeluk Kirana erat di dada, merasakan panas tubuhnya dan berdoa pelan agar tidak terjadi hal buruk. Uang, pekerjaan, pria misterius itu, semuanya menjadi nomor dua. Pada saat itu, hanya ada satu kepastian: putriku membutuhkan bantuan, dan aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!