Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Tak Seorang Pun Boleh Menyentuh Mereka

Viktor

Hari sudah menjelang sore.

Malam mulai turun, dan aku berdiri di area parkir Secret, bersandar ke mobil sementara Maxim membicarakan sesuatu yang bahkan tak lagi kudengarkan.

Kepalaku masih tertinggal pada Ekaterina sejak pemeriksaan tadi.

Pada senyumnya.

Pada caranya memegangi perutnya saat melihat sang bayi.

Lalu ponselku berdering.

Aku melihat layarnya.

Salah satu prajurit yang kutempatkan di rumahnya.

Mereka tak pernah menelepon.

Hanya mengirim pesan.

Seluruh tubuhku langsung waspada.

Aku mengangkatnya seketika.

"Bos... ayahnya menerobos masuk ke rumah Nona. Dia sudah dilumpuhkan."

Dunia seakan berhenti sesaat.

"Apa?"

Suaraku keluar berbahaya.

Dingin.

Prajurit itu melanjutkan cepat:

"Nona dan gadis kecil itu ketakutan, tapi—"

Aku bahkan tak membiarkannya selesai.

Kuputus sambungan begitu saja.

Aku bahkan tak berpamitan pada Maxim.

Aku masuk ke mobil dan tancap gas begitu keras sampai bannya berdecit di aspal.

Jantungku berdebar liar sepanjang jalan.

Setiap detik terasa terlalu panjang.

Setiap lampu merah membuatku ingin menghancurkan sesuatu.

Satu-satunya hal yang bisa kupikirkan hanya:

"Hari ini kubunuh pria itu."

Setelah hampir tiga puluh menit menyetir seperti orang gila, akhirnya aku tiba.

Aku turun bahkan sebelum mematikan mesin.

Dan langsung masuk ke dalam rumah.

Pemandangan yang kutemukan...

membuat sesuatu di dalam diriku mati.

Ekaterina duduk di sofa dengan Lis di pangkuannya.

Keduanya menangis.

Dalam diam.

Dan ketika dia mengangkat wajah menatapku...

aku melihatnya.

Rambut yang berantakan.

Pipi yang terlalu merah.

Ada bekas. Bibir yang sobek.

Berbentuk sempurna seperti telapak tangan bajingan itu.

Darahku langsung mendidih.

Lalu kulihat lehernya.

Ada bekas juga.

Jejak jari-jari.

Cengkeraman.

Dia mencekik leher Ekaterina.

Seluruh tubuhku mengeras.

Pria itu sudah mati.

Pikiran itu datang dingin.

Tenang.

Pasti.

Aku melangkah mendekatinya perlahan.

Karena meski amarah membakar di dalam diriku...

aku tak ingin membuatnya lebih takut lagi.

Maka aku berlutut di hadapannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...

aku tak tahu harus berbuat apa.

Karena melihatnya terluka menghancurkan sesuatu di dalam diriku.

Meski begitu, aku berkata pelan:

"Aku sudah datang."

Ekaterina mengangguk perlahan, masih menangis.

Berusaha tegar bahkan dalam keadaan seperti itu.

Lalu dia berbisik:

"Aku tidak apa-apa."

Tapi sebelum aku sempat menjawab, gadis kecil itu berbalik putus asa ke arahnya.

"Kau tidak baik-baik saja!"

Lis menangis makin keras.

Tangan-tangan mungilnya memegangi wajah sang kakak.

"Berhenti berbohong! Dia memukulmu keras sekali!"

Dan itu...

Itu meremukkanku dengan cara yang tak pernah kubayangkan mungkin terjadi.

Aku menyentuh kepala gadis kecil itu perlahan.

Rambut halusnya masih bergetar bersama tubuh mungilnya karena tangisan.

Dan itu menghancurkan sisa kendali yang masih kupunya.

Karena tak ada anak kecil yang seharusnya menatap dengan cara seperti itu.

Dengan ketakutan.

Dengan keputusasaan.

Seakan dunia bisa runtuh di dalam rumahnya sendiri.

Kutelan seluruh kekerasan yang membakar di dadaku dan kukatakan pelan:

"Dia takkan pernah lagi memukulmu."

Tak akan pernah lagi.

Janji itu keluar dingin.

Pasti.

Mematikan.

Lis menatapku dengan mata basah, masih terisak, lalu mengangguk perlahan.

Seolah berusaha percaya.

Seolah dia perlu memercayai seseorang untuk pertama kalinya.

Lalu kuangkat wajahku menatap Ekaterina.

Dan sialan...

melihatnya seperti itu meremukkanku.

Rambut yang kusut.

Mulut yang terluka.

Bekas merah di lehernya.

Mata yang bengkak karena menangis.

Dia memeluk adiknya sambil berusaha tampak tegar.

Tapi aku melihat tubuhnya bergetar.

Aku melihat ketakutannya.

Aku melihat keterkejutannya.

Dan rasa bersalah menembusku seperti sebilah pisau.

Karena selagi aku menjalani hidupku...

dia sedang berjuang untuk bertahan.

Sendirian.

Bersama monster itu.

Rahangku mengatup begitu keras sampai terasa sakit.

Aku melangkah ke arahnya.

"Kalian tak tinggal di sini lagi."

Suaraku menggema berat di ruangan kecil itu.

Tegas.

Tanpa ruang untuk dibantah.

"Kita pergi dari sini."

Ekaterina langsung menatapku.

Matanya membelalak.

Seolah tak tahu apakah dia bisa memercayaiku.

Dan dia benar.

Aku pernah kejam padanya.

Aku pernah mempermalukannya.

Aku pernah membuatnya merasa seperti sampah.

Tapi sekarang...

sekarang aku melihat seluruh kebenarannya.

Dan itu mencekikku.

Kuangkat gadis kecil itu dari pangkuan Ekaterina.

Lis langsung menyambut.

Tanpa takut.

Tanpa ragu.

Dia melekat padaku seperti anak yang sudah terlalu lelah untuk terus melawan.

Dan ketika dia menyandarkan kepalanya di bahuku...

sesuatu di dalam diriku begitu saja patah.

Karena tak pernah ada yang bergantung padaku seperti ini sebelumnya.

Dan aku tak pernah setakut ini akan gagal.

Lalu kuulurkan tanganku pada Ekaterina.

Selama satu detik penuh dia hanya diam.

Menatapku.

Seolah berusaha memutuskan apakah pantas memercayai pria yang paling menyakitinya beberapa bulan terakhir.

Jantungku berdebar berat.

Cemas.

Nyaris putus asa.

Sampai akhirnya...

dia menggenggam tanganku.

Erat.

Sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Kali ini bukan penolakan.

Ini kelelahan.

Ketakutan.

Sebuah permohonan bantuan yang tak terucap.

Dan aku balas menggenggam tangannya seketika.

Seolah sedang membuat sebuah janji tanpa kata.

Tak seorang pun boleh menyentuh mereka lagi.

Tak akan pernah lagi.

Kubawa keduanya keluar dari rumah itu.

Dari neraka itu.

Dan ketika kulihat Ekaterina menoleh ke belakang sebelum masuk ke mobil...

aku menyadarinya.

Dia tak sekadar meninggalkan sebuah rumah.

Dia sedang meninggalkan bertahun-tahun ketakutan.

Kututup pintu mobil dengan hati-hati setelah mereka masuk.

Aku memutari mobil dan mengambil alih kemudi.

Keheningan di dalam kendaraan itu menghimpit.

Yang ada hanya suara napas Ekaterina yang tak beraturan.

Dan isak lirih Lis yang tertidur sambil melekat padanya.

Lalu kuinjak pedal gas.

Dan kusetir langsung menuju apartemen lama ayahku.

Tempat aku dibesarkan.

Aman.

Tertutup.

Terlindungi.

Karena sekarang...

aku sanggup melakukan apa pun untuk menjauhkan keduanya dari rasa sakit.

Meski itu harus dibayar dengan darah.

Di dalam mobil, keheningan memenuhi segalanya.

Berat.

Menyesakkan.

Tapi bahkan selagi menyetir, perhatianku tetap tertuju padanya.

Pada Ekaterina.

Tangisnya mereda sedikit demi sedikit.

Tapi itu tak membuatku tenang.

Karena kini dia hanya menatap kosong ke luar jendela, benar-benar jauh.

Seakan masih terjebak di rumah itu.

Di menit-menit penuh teror itu.

Lis akhirnya tertidur di pangkuannya.

Kelelahan setelah menangis begitu lama.

Jari-jari mungilnya masih mencengkeram gaun sang kakak, seolah takut terbangun dan mendapati semuanya cuma mimpi buruk.

Dadaku mengetat hebat.

Menit-menit berlalu lambat sampai aku masuk ke garasi gedung itu.

Gedung lama milik ayahku.

Aman.

Terlindungi.

Jauh dari neraka itu.

Aku memarkir mobil dan menoleh sedikit ke belakang.

"Tunggu."

Suaraku keluar pelan.

Tenang.

Aku turun lebih dulu lalu menuju pintu di sisinya.

Kubuka dengan hati-hati.

Ekaterina langsung mengangkat wajah menatapku.

Masih ketakutan.

Masih curiga.

Tapi terlalu lelah untuk melawan.

Kuangkat Lis ke gendongan dengan hati-hati agar tak membangunkannya.

Gadis kecil itu menggumam pelan, tapi tetap tidur dengan kepala tersandar di bahuku.

Ekaterina turun tak lama kemudian.

Kukunci mobil lalu kutuntun dia ke lift.

Dia mengikutiku dalam diam sepenuhnya.

Memeluk dirinya sendiri.

Seolah berusaha menahan dirinya agar tetap utuh.

Lift naik perlahan.

Dan pantulan wajahnya di cermin meremukkanku.

Mulut yang terluka.

Tatapan yang kosong.

Bekas di lehernya.

Kukatupkan rahangku begitu keras sampai terasa amis darah di mulutku.

Karena bajingan itu telah menyentuhnya.

Menyentuh ibu dari anakku.

Ketika akhirnya kami tiba di lantai itu, aku berjalan ke pintu apartemen dan membukanya dengan sidik jari.

Bunyi klik bergema di koridor yang sunyi.

Lalu kuberi isyarat agar dia masuk lebih dulu.

Ekaterina ragu sesaat sebelum melewati ambang pintu.

Matanya mengamati segalanya.

Apartemen yang luas.

Mewah.

Terlalu sunyi.

Aku masuk tepat di belakangnya dan menutup pintu.

Untuk pertama kalinya malam itu...

aku merasa mereka aman.

Lalu aku menatapnya dan berkata pelan:

"Aku akan menaruh Lisbela di kamar."

Ekaterina hanya mengangguk.

Tak punya tenaga untuk banyak bicara.

Aku menyusuri koridor sambil menggendong gadis kecil itu.

Dan masuk ke kamar lama Olga.

Kamar itu masih utuh.

Seolah waktu tak pernah berlalu di dalamnya.

Kubaringkan Lis dengan hati-hati di ranjang.

Dia bahkan tak terbangun.

Hanya membenamkan diri ke bantal secara otomatis.

Lalu aku berbalik.

Dan kulihat Ekaterina berdiri di ambang pintu, menatapku.

Diam.

Matanya berkilau penuh emosi.

Seolah tak tahu harus merasakan apa saat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!