Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 — KTP yang Hilang

Fadil tidak benar-benar tidur. Ia setengah sadar, setengah bermimpi.

Dalam mimpinya, ia kembali ke kontrakan petak 3x4 meternya yang bocor. Dilla sedang cuci piring dengan daster sobek, Arif mengerjakan PR di lantai tanah dengan lampu teplok. Tidak ada Azam. Tidak ada Mahendra. Tidak ada kotak besi berisi akta 70% miliaran rupiah.

Hanya ada suara Dilla yang mengeluh pelan, "Mas, beras habis."

Dan Fadil menjawab seperti biasa, "Ya, Sayang, besok Mas cari kuli lagi."

Mimpi yang miskin, tapi tenang. Tidak ada yang culik Arif. Tidak ada yang todong golok. Tidak ada darah.

Fadil ingin tetap di mimpi itu.

Tapi suara tangisan Arif yang asli membangunkannya.

"AYAH! AYAH JANGAN MATI!"

Fadil membuka matanya pelan. Cahaya lampu neon Puskesmas Karangrejo yang redup menyilaukan matanya.

Yang pertama ia lihat adalah Dilla. Dilla duduk di kursi plastik di samping bed besinya, memegang tangannya dengan kedua tangan, mata sembab, daster masih penuh lumpur dan darah kering dari bahunya tadi.

Di pangkuan Dilla, Arif tertidur dengan posisi memeluk perut Dilla, tapi tangannya memegang erat jari Fadil.

Di belakang Dilla, berdiri Jatmiko dengan lengan diperban habis donor darah, Mahendra dengan kotak besi masih di pelukannya seperti harta karun, Azam dengan kemeja putihnya yang sudah kusut, Pranoto dengan akta kuning di tangan, Bu Ratih dan Sekar dan Laras dengan rantang makanan.

Semua menatap Fadil yang baru bangun.

"Mas... Mas bangun..." bisik Dilla dengan suara yang pecah, langsung mencium punggung tangan Fadil yang masih dingin.

Fadil mencoba tersenyum, tapi jahitan di bahunya nyeri.

"Mas... mimpi... mimpi kita miskin lagi... enak..."

Kalimat itu membuat semua orang di IGD kecil itu tertawa kecil di tengah tangis. Bahkan perawat yang jaga ikut tertawa.

Dokter tua dengan kacamata tebal datang memeriksa tensi Fadil.

"Bagus. Darah Jatmiko cocok. Infeksi sudah berhenti. Tapi jangan cabut papan lantai lagi dengan tangan kosong ya, Pak Fadil. Papan lantai tidak salah."

Fadil mengangguk pelan. "Siap, Dok..."

Azam maju selangkah dan berbisik pada dokter itu, "Dok, bisa pindah ke RS Mitra Glodok Jakarta? Saya siapkan ambulans VIP."

Fadil yang mendengar itu langsung menggeleng cepat, meski kepalanya pusing.

"Tidak... tidak usah, Pak Azam... di sini saja... dekat kontrakan... kalau di Jakarta... siapa yang jaga kontrakan kami yang bocor..."

Dilla yang mendengar itu langsung memeluk kepala Fadil.

"Mas... Mas di sini saja ya... kita di sini saja..."

Azam yang melihat Dilla memeluk Fadil dengan erat di bed besi Puskesmas yang reot itu, mundur selangkah. Ia mengerti. Fadil tidak butuh RS VIP. Fadil butuh tetap miskin bersama Dilla. Itu yang membuat Dilla cinta.

Sekar yang melihat Azam mundur, tanpa diminta, menggenggam ujung kemeja Azam dengan pelan, seperti anak kecil yang takut ditinggalkan.

"Pak Azam... tidak apa-apa?" bisiknya.

Azam menatap Sekar, perempuan yang dulu ia anggap pengkhianat karena anak Bagaskara, tapi tadi pagi melindungi Arif dari golok.

"Tidak apa-apa, Sekar. Aku sudah selesai dengan kontrak 20 juta itu. Sekarang aku mau buat kontrak baru. Kontrak untuk jaga pohon mangga di depan rumah petak Larasati itu agar tidak ditebang."

Di luar IGD, di bangku kayu tunggu, Pranoto menggelar akta asli 70% di atas pangkuannya dan menjelaskan pada Mahendra dan Jatmiko dengan suara pelan tapi serius, seperti notaris yang sedang sidang.

"Mahendra, untuk hidupkan KTP-mu lagi, kita harus sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pembatalan akta kematian. Syaratnya: 3 saksi hidup yang melihat kamu hidup dalam 28 tahun terakhir, bukti foto, dan surat keterangan dari kelurahan bahwa kamu tinggal di kolong jembatan Glodok."

Mahendra mengangguk. "Saksinya ada. Bu Ratih yang kasih makan aku di kolong jembatan tiap Jumat. Suryanto yang antar makanan tiap minggu atas suruhanmu, Pranoto, tanpa tahu itu aku. Dan... Larasati... lewat buku tulisnya..."

Jatmiko menatap kotak besi itu. "Dan akta 70% ini? Kalau KTP Mahendra hidup lagi, akta ini otomatis balik ke Mahendra?"

Pranoto menggeleng. "Tidak otomatis. Bagaskara pasti lawan. Bagaskara akan bilang akta ini palsu. Dia akan bawa akta palsu yang dia buat tahun 1990 yang tulisannya Wiratama 100%. Kita harus adu di pengadilan niaga. Butuh setahun."

Mahendra yang mendengar butuh setahun, menatap Dilla dan Fadil dan Arif di dalam IGD.

"Setahun... Arif sudah SD nanti..."

Ia mengambil buku tulis kecil Larasati dari tangan Dilla yang tergeletak di samping bed Fadil — buku yang tadi dibaca Dilla halaman 2.

Ia membuka halaman 3, halaman yang belum sempat dibaca Dilla karena panik Fadil pingsan.

Tulisan Larasati di halaman 3 lebih bergetar, seperti ditulis sambil menahan sakit melahirkan:

Dilla, kalau kamu baca ini, berarti kamu sudah ketemu Mahendra dan Jatmiko. Tolong jangan suruh mereka berantem lagi ya... Suruh mereka tanam pohon mangga lagi yang baru, di depan kontrakanmu yang sekarang. Biar Arif nanti manjat. Dan satu lagi... di bawah foto Larasati di ruko Glodok... ada kunci brankas kecil... brankas itu isinya bukan uang... isinya surat keterangan lahir kamu yang asli... yang tulis nama ayah: Raden Arya Mahendra, bukan Jatmiko. Ambil itu biar KTP Mahendra gampang hidup lagi. Kuncinya Ibu titip di kalung bunga yang dulu Ibu pakai waktu nikah siri sama Mahendra. Kalung itu ada di Bu Ratih.

Semua orang langsung menoleh ke Bu Ratih.

Bu Ratih yang sedang menyuapi Arif yang sudah bangun dengan bubur, kaget.

"Kalung bunga? Kalung melati yang dulu Larasati pakai waktu nikah siri di masjid kecil dekat ruko?"

Mahendra mengangguk cepat. "Ya! Kalung melati yang aku belikan di Pasar Baru! Yang Larasati pakai terus sampai... sampai..."

Sampai Larasati meninggal 3 hari setelah melahirkan Dilla.

Bu Ratih langsung membuka tas kain lusuhnya dan mengeluarkan sebuah kotak plastik kecil berdebu yang sudah ia simpan 28 tahun.

Di dalamnya ada kalung bunga melati yang sudah kering, cokelat, dan rapuh, tapi di tengahnya ada sebuah kunci kecil berkarat yang disembunyikan di dalam ikatan bunganya.

"Kunci brankas..." bisik Bu Ratih dengan air mata.

Arif yang melihat kalung bunga kering itu, mengambilnya dengan hati-hati dan mengalungkannya ke leher ibunya, Dilla.

"Ibu... cantik... seperti di foto..."

Dilla yang dikalungi bunga melati kering 28 tahun yang lalu dipakai ibunya waktu menikah siri dengan ayah kandungnya, langsung menangis. Bunga itu rapuh dan hancur sedikit saat dikalungkan, kelopaknya jatuh ke daster Dilla yang penuh darah Fadil.

Fadil yang melihat istrinya dikalungi bunga melati kering oleh anaknya, tersenyum lemah dari bed besi.

"Cantik... seperti pengantin..."

Azam yang melihat momen itu dari pintu IGD, memalingkan wajahnya. Dadanya sesak. Ia ingat ibunya — Larasati bukan ibu kandungnya, tapi ibu tirinya — juga pernah pakai kalung bunga melati kering seperti itu waktu menikah dengan Jatmiko. Kalung yang sama.

Sekar yang melihat Azam memalingkan wajah, tanpa diminta, mengambil kelopak bunga melati kering yang jatuh dari kalung Dilla dan menyelipkannya di saku kemeja Azam.

"Biar Pak Azam juga punya... dari Ibu Larasati..."

Azam menatap Sekar dan untuk pertama kalinya, mengangguk dan tidak melepaskan kelopak itu.

Saat itu, ponsel Azam berdering keras. Nama yang muncul: Pengacara Wiratama Group - Pak Hotman.

Azam angkat dengan loudspeaker.

"Pak Azam, Bagaskara kabur dari Lapas Cipinang tadi pagi jam 9! Dia bawa akta palsu 100% Wiratama yang dia buat tahun 1990! Dia mau daftarkan balik ke BPN hari ini juga! Kalau dia berhasil daftar hari ini, akta asli 70% Mahendra yang di tangan Anda tidak ada gunanya lagi secara hukum! Harus cegat di BPN Jakarta Selatan sebelum jam 3 sore!"

Semua orang di Puskesmas Karangrejo langsung saling pandang. Jam di dinding Puskesmas menunjukkan jam 11.47 siang.

Mereka punya 3 jam 13 menit untuk bawa akta asli 70%, kunci brankas dari kalung bunga melati, dan Mahendra yang secara hukum sudah mati 28 tahun, ke BPN Jakarta Selatan untuk cegat Bagaskara yang kabur dari penjara.

Fadil yang masih di bed besi, mencoba bangun dengan bahu diperban.

"Mas ikut..."

Dilla langsung menahan bahu Fadil. "Mas jangan! Mas masih berdarah!"

Fadil menatap Dilla dengan mata yang tegas, mata yang sama seperti waktu ia cabut papan lantai dengan tangan kosong tadi.

"Kalau Mas tidak ikut, siapa yang gendong Arif kalau Dilla harus lari-lari di BPN? Mas tidak mau Arif digendong Azam terus..."

Kalimat itu membuat Azam tertawa kecil dan Dilla menangis lagi.

Mahendra berdiri dengan kotak besi di pelukannya.

"Jatmiko, kamu donor darah untuk menantuku. Sekarang aku yang gendong menantuku ke BPN. Kita berangkat sekarang. Bawa Arif. Bawa kalung bunga Larasati. Bawa semua."

Pranoto mengangguk dan melipat akta asli itu dengan hati-hati masuk ke dalam tas kulitnya.

"Ke Jakarta lagi. Sekarang. Sebelum jam 3 sore. Sebelum 70% itu hilang selamanya."

Di luar Puskesmas, taksi yang tadi masih menunggu dengan mesin menyala, karena sopirnya dibayar Azam seharian.

Semua naik berdesakan lagi. Fadil dibaringkan di kursi belakang dengan kepala di pangkuan Dilla, Arif di pangkuan Bu Ratih yang memeluk kalung bunga melati kering itu, Mahendra dan Jatmiko di depan dengan kotak besi dan akta, Azam dan Sekar dan Laras dan Pranoto dan Suryanto yang masih diborgol plastik tapi dibawa sebagai saksi, berdesakan di mobil patroli polisi yang tadi bawa Nenek Suri.

Taksi dan mobil patroli melaju beriringan meninggalkan Puskesmas Karangrejo yang reot, menuju Jakarta Selatan, menuju BPN, menuju sidang yang akan menentukan apakah Dilla akan jadi pewaris 70% Wiratama Group atau tetap jadi ibu rumah tangga miskin di kontrakan petak 3x4 yang bocor.

Di belakang mereka, Nenek Suri yang tadi dibawa polisi, ternyata tidak dibawa ke kantor polisi. Ia dibawa Bu Ratih ke mushola kecil dekat jembatan bambu untuk wudhu. Ia ingin sholat untuk pertama kalinya setelah 50 tahun tidak sholat karena takut miskin.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!