Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

BAB 1 — Tawaran yang Tidak Masuk Akal

Hujan turun sejak sore.

Rintiknya mengetuk atap rumah petak yang sebagian sudah ditambal seng bekas. Di ruang tengah yang sempit, Dila duduk bersila di atas lantai, menghitung sisa uang di dalam dompet lusuh miliknya.

Satu lembar Rp50.000.

Dua lembar Rp10.000.

Beberapa keping uang logam.

Dila mengembuskan napas panjang.

"Hanya segini..."

Di samping dompet, tergeletak beberapa lembar kertas yang sudah lecek: tagihan listrik, kuitansi kontrakan yang jatuh tempo, catatan utang di warung, dan rincian biaya sekolah.

Semuanya menuntut untuk segera diselesaikan.

Dila memejamkan mata. Usianya baru tiga puluh tahun, namun beban hidup membuat wajahnya terlihat jauh lebih matang dari usianya. Kecantikan alaminya masih ada, meski rambut hitamnya hanya diikat seadanya dan daster yang ia kenakan warnanya telah memudar.

Dari kamar sebelah terdengar suara batuk pelan.

"Mas?"

Dila segera bangkit dan melangkah ke kamar.

Fadil, suaminya, duduk bersandar di dinding dengan napas yang sedikit berat.

"Sudah makan?" tanya Dila.

Fadil menggeleng lemah. "Belum lapar."

Dila tahu itu bukan kejujuran. Di atas meja, hanya ada segelas air putih yang sudah dingin.

"Dari siang Mas belum makan apa pun."

"Aku masih kuat, kok."

Kalimat itu justru membuat dada Dila semakin sesak.

Fadil bukan laki-laki pemalas. Ia hanya sedang berada di titik terendah. Sejak terkena pengurangan karyawan di perusahaan tempatnya bekerja, ia hanya mengandalkan pekerjaan serabutan yang hasilnya tidak menentu.

Dila pun sudah berusaha. Membuat kue titipan, menerima cucian tetangga, menjual jajanan secara daring. Namun semua itu belum cukup untuk menutup lubang kebutuhan yang semakin membesar.

"Besok aku coba cari lowongan lagi," ucap Fadil pelan.

Dila tersenyum, berusaha terlihat tegar. "Jangan dipikirkan malam ini. Istirahat saja dulu."

Padahal, justru Dila-lah yang tidak berhenti berpikir.

Fadil menatap istrinya. "Kamu capek?"

"Enggak."

"Jangan bohong."

Dila tersenyum tipis dan menggenggam tangan suaminya.

"Aku istrimu. Capek sedikit tidak apa-apa."

Genggaman itu sederhana, namun justru membuat mata Dila terasa panas. Ia mencintai suaminya. Karena itulah, keadaan ini terasa begitu berat.

Keesokan harinya.

Dila keluar mencari pekerjaan. Ia mengenakan pakaian paling rapi yang ia miliki dan menitipkan rumah pada tetangga sebelah.

Ia mendatangi toko, restoran, laundry, hingga kantor-kantor kecil di sekitar kota.

Hasilnya nihil.

Menjelang sore, ia duduk seorang diri di sebuah kedai kopi sederhana. Ia menatap layar ponselnya. Saldo di rekening tersisa sangat sedikit.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Saya mendapatkan rekomendasi tentang Anda. Apakah kita bisa bertemu?

Dila mengernyit.

Maaf, ini siapa?

Nama saya Azam.

Anda dapat nomor saya dari siapa?

Beberapa saat tidak ada balasan. Lalu pesan baru masuk.

Dari seseorang yang mengetahui kondisi keuangan Anda. Saya memiliki penawaran pekerjaan yang mungkin bisa membantu Anda.

Jantung Dila berdegup lebih cepat. Ia ingin mengabaikannya, namun bayangan tagihan kontrakan, uang sekolah, dan wajah lelah Fadil kembali muncul.

Akhirnya ia membalas.

Pekerjaan apa?

Balasan itu membuatnya terdiam cukup lama.

Pekerjaan yang tidak biasa.

Maksudnya?

Lebih baik kita bicarakan langsung.

Dila menggigit bibir bawahnya. Nalurinya merasa tidak nyaman, tetapi kebutuhannya mengalahkan keraguan itu.

Di mana?

---

Satu jam kemudian, Dila berdiri di depan sebuah restoran mewah di pusat kota. Ia memastikan kembali alamat yang dikirim Azam. Benar.

Dengan napas yang ia tahan, ia masuk ke dalam. Seorang pelayan mengantarnya ke ruang privat di lantai dua.

Di sana, seorang pria telah menunggu.

Azam.

Penampilannya sangat kontras dengan lingkungan Dila sehari-hari. Kemeja putih bersih, jam tangan mahal, dan sorot mata yang tenang namun tajam.

Azam berdiri ketika Dila masuk.

"Bu Dila?"

"Ya, saya," jawab Dila.

"Silakan duduk."

Dila duduk dengan posisi yang masih kaku. Azam dengan tenang menuangkan air mineral ke gelasnya.

"Terima kasih sudah datang."

"Bapak bilang ada pekerjaan?"

"Betul."

"Pekerjaan apa?"

Azam menatapnya beberapa detik. "Pekerjaan yang bisa menghasilkan uang cukup besar dalam waktu singkat."

"Berapa?"

"Sepuluh juta rupiah per bulan."

Mata Dila sedikit membelalak. Angka itu terasa seperti jarak antara langit dan bumi bagi keluarganya.

"Tugasnya apa?"

"Pendamping pribadi."

Dila mengerutkan dahi. "Pendamping? Maksudnya asisten pribadi?"

"Tidak sepenuhnya," jawab Azam datar. "Anda akan menemani saya di waktu-waktu tertentu. Menghadiri beberapa acara. Menjadi seseorang yang bisa saya percaya untuk berada di samping saya."

"Hanya itu?"

Azam tidak langsung menjawab. Keheningan itu justru membuat Dila sadar ada sesuatu yang belum diungkapkan.

"Bapak belum menjelaskan semuanya."

Azam mengangguk pelan. "Anda jeli."

Ia kemudian mengambil sebuah map hitam dari atas meja dan meletakkannya di hadapan Dila.

"Baca sendiri."

Dila membuka map itu. Di dalamnya terdapat kontrak kerja. Nominal bayaran, jaminan, klausul kerahasiaan. Semua tertulis sangat rapi dan profesional.

Namun tangannya berhenti pada satu poin.

Klausul mengenai hubungan pribadi.

Dila langsung menutup map itu.

"Ini bukan pekerjaan biasa."

"Memang bukan," jawab Azam tenang.

"Kenapa harus saya?"

"Karena saya membutuhkan seseorang yang tidak mudah dibeli dengan uang."

Dila hampir tertawa getir. "Bapak baru saja menawarkan saya sepuluh juta."

"Dan Anda masih punya pilihan untuk menolaknya."

Jawaban itu membuat Dila terdiam.

Azam melanjutkan dengan nada rendah, "Saya tidak akan memaksa."

Dila berdiri. "Kalau begitu, saya permisi."

"Silakan."

Dila melangkah menuju pintu. Namun tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Azam menghentikannya.

"Lima belas juta."

Langkah Dila terhenti.

"Dua puluh juta, jika Anda bersedia menandatangani kontrak selama enam bulan."

Dila perlahan menoleh. Azam masih duduk dengan tenang.

"Pikirkan baik-baik, Bu Dila."

Kepalan tangan Dila mengencang. Dua puluh juta. Jumlah itu bisa melunasi hampir semua utang mereka. Bisa memberi napas untuk keluarganya.

Namun harga yang harus dibayar mungkin jauh lebih besar dari sekadar uang.

---

Malamnya, Dila kembali ke rumah.

Fadil sudah tertidur dengan napas yang masih terdengar berat.

Dila duduk di tepi ranjang, menatap wajah suaminya dalam diam. Ponselnya bergetar. Pesan dari Azam masih terbuka di layar.

Anda tidak perlu menjawab malam ini.

Dila mematikan layar ponselnya. Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berada di persimpangan yang membuatnya takut untuk memilih.

Di satu sisi ada harga diri.

Di sisi lain ada keberlangsungan keluarganya.

"Maafkan aku..." bisiknya pelan, tanpa tahu kepada siapa ia tujukan.

Malam itu, sebuah keputusan mulai tumbuh di dalam hatinya. Sebuah keputusan yang kelak akan mengubah seluruh jalan hidupnya.

Dan tanpa Dila sadari, Azam bukan sekadar pria kaya yang mencari pendamping.

Ada alasan yang jauh lebih dalam mengapa pria itu memilih dirinya..

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!