Indonesia
NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:971.2k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

***

Suasana di dalam ruangan seluas ratusan meter persegi itu mendadak berubah. Aroma parfum maskulin Raditya yang mahal bercampur dengan aroma manis melati dari tubuh Nadia, menciptakan ketegangan yang menyesakkan paru-paru. Raditya baru saja menutup telepon setelah mendengar laporan singkat dari Aldi mengenai pembersihan di lobi bawah. Sebuah senyum tipis jenis senyum yang terlihat menakutkan dan penuh rahasia tersungging di bibirnya.

Sementara itu, Nadia tampak asyik memutar-mutar kursi kebesaran suaminya. Ia mengelus permukaan meja kayu jati yang mengkilap, merasa seperti ratu yang sedang meninjau wilayah kekuasaannya.

"Sepertinya Nyonya Hadiwinata sangat tahu di mana kedudukannya sekarang," suara bariton Raditya memecah keheningan. Ia berdiri di dekat jendela besar, menatap punggung istrinya.

Nadia yang belum paham, mengerutkan keningnya. Ia memutar kursi menghadap Raditya. "Maksud Mas? Aku cuma mau duduk, kursinya empuk banget tahu."

Raditya berjalan perlahan mendekat. Setiap langkah pantofelnya di atas karpet tebal terdengar seperti detak jantung yang memburu. "Kamu membuat pekerjaan karyawan yang awal mulanya baik-baik saja, kini masuk ke dalam daftar hitam perusahaan."

Nadia tersentak. "Oh... maksud Mas, Amelia si resepsionis itu? Hah?!! Mas Radit nggak beneran pecat dia kan?"

Raditya berhenti tepat di depan meja, menumpu kedua tangannya di pinggiran kayu, mengurung Nadia dalam tatapannya yang tajam. "Bukankah itu yang kamu mau? Dia teledor mengizinkan seseorang.si ulat bulu yang kamu benci itu masuk ke wilayah pribadi saya. Di Hadiwinata Group, kesalahan protokol adalah tiket satu arah menuju pintu keluar."

"Ihhh Mas! Jangan gitu dong!" Nadia berdiri, mencoba memprotes. "Kenapa sampe pecat segala sih? Kasihan tahu, dia cuma jalanin tugas. Tinggal kasih SP atau mutasi ke bagian gudang kek. Lagian aku keselnya cuma pas Siska lewat doang. Selebihnya aku dukung dia kok, kalau nggak ada dia, mungkin udah banyak cewek gatal yang datang nyamperin Mas ke sini."

Nadia cemberut, matanya menatap Raditya dengan binar memohon yang sangat menggemaskan. "Jangan dipecat ya, Mas?"

Raditya terdiam, matanya menelusuri wajah Nadia yang memerah karena emosi. Ia perlahan mulai mengitari meja kayu panjang itu, mendekati posisi Nadia dengan langkah predator. "Oh, jadi seperti itu keinginan Nyonya Hadiwinata? Kamu ingin saya membatalkan keputusan saya?"

Nadia mengangguk cepat. Nyalinya sedikit menciut melihat tatapan Raditya yang mendadak berubah menjadi gelap dan penuh gairah. "I-iya... bisa kan?"

"Tentu bisa," bisik Raditya tepat di telinga Nadia, membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika. "Tapi kamu harus tahu, di dunia saya, tidak ada yang gratis. Setiap kebijakan baru harus ada transaksi yang dijalankan. Kamu siap membayar harganya?"

Nadia menelan saliva. "M-maksud Mas bayar pakai apa? Mas kan udah punya uang triliunan, nggak butuh uang aku yang cuma recehan."

"Saya tidak butuh uangmu," Raditya menarik pinggang Nadia, merapatkan tubuh mereka hingga perut buncit Nadia bersentuhan dengan perut keras suaminya. "Yang saya perlukan hanya kamu. Di sini. Sekarang."

"T-tapi Mas... sebentar lagi Aldi pasti datang bawa makanan," cicit Nadia, tangannya mencoba menahan dada bidang Raditya.

"Dia tidak akan berani masuk sebelum saya mengizinkannya," jawab Raditya singkat.

Tanpa memberi kesempatan untuk membela diri, Raditya langsung menyambar bibir Nadia. Ciuman itu tidak lembut itu adalah ciuman penuh klaim, ganas, dan menuntut, seolah Raditya sedang menghisap seluruh napas dan jiwa istrinya. Nadia sempat memberontak kecil, namun aroma tubuh Raditya dan dominasi pria itu membuatnya lemas. Hampir sepuluh menit bibir mereka bertaut hingga Nadia merasa paru-parunya akan meledak. Ia memukul pundak suaminya dengan lemah.

"Nnghh... Mas... sesak..." rintih Nadia saat Raditya akhirnya memberi jeda.

Napas keduanya memburu hebat. Raditya menatap Nadia dengan mata yang penuh kabut gairah. Tanpa kata, ia menuntun Nadia untuk berdiri membelakanginya dan bertumpu pada meja kerjanya yang luas.

Posisi Nadia kini sedikit condong ke depan. Tangan kirinya memegang bagian bawah dress sutranya, mengangkatnya perlahan hingga memperlihatkan kaki mulusnya dan lekukan perut buncitnya yang indah dari samping. Tangan kanannya bertumpu kuat pada meja kayu dingin, menahan berat tubuhnya yang mulai gemetar.

"Mas... ahh... pelan-pelan," rintih Nadia saat ia merasakan kehadiran Raditya yang mendesak di belakangnya.

Raditya tidak memberikan banyak waktu. Ia menyatukan tubuh mereka dengan satu hentakan yang dalam dan penuh kuasa.

"Akhh! Mas... shhh... sakit..." isak Nadia kecil. Kepalanya tertunduk, rambutnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya yang memerah padam. Sensasi penuh dan panas itu menyeruak, membuatnya kewalahan.

Raditya mengerang rendah, tangannya mencengkeram pinggang Nadia dengan posesif. Ia mulai bergerak dengan ritme yang dalam, lambat namun menghujam. Suara gesekan pakaian dan deru napas mereka memenuhi ruangan yang kedap suara itu.

"Ahh... akhh... Mas... pelan... hiks... s-sakit..." rintihan Nadia semakin tak beraturan. Ia merasa seolah tubuhnya akan remuk di bawah kekuatan suaminya yang luar biasa.

Stamina Raditya benar-benar tidak main-main meskipun mereka sedang berada di kantor, pria itu tetap bersikap seperti kuda liar yang tak punya rem.

Hampir setengah jam dalam posisi berdiri seperti itu membuat kaki Nadia lemas bagai jeli. "Mas... shh... aku udah capek... kaki aku nggak kuat lagi... masss..."

Mendengar istrinya merintih kelelahan, bukannya berhenti, Raditya justru mengangkat tubuh Nadia dan memutarnya. Ia mendudukkan Nadia di atas meja kebesarannya, di atas tumpukan berkas penting yang kini berantakan. Raditya menarik kedua kaki Nadia dan menopangnya di bahunya, membuat penyatuan mereka menjadi jauh lebih dalam.

"Ahh! Mas... terlalu dalam... akhh!" pekik Nadia, matanya terpejam erat. Tangan satunya bergantung di leher suaminya, mencari pegangan, sementara tangan satunya lagi bertumpu pada permukaan meja yang licin.

"Ahh... ahh... sayang... kamu sangat nikmat... selalu nikmat," erang Raditya dengan suara parau yang sarat akan kenikmatan. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Nadia, menghirup aroma istrinya dalam-dalam saat ia terus bergerak dengan kecepatan yang meningkat.

Nadia hanya bisa merintih pasrah, tubuhnya berguncang mengikuti setiap gerakan Raditya. Ia merasa kewalahan, jiwanya seolah ditarik keluar. "Mas... cukup... ahh... nnghh... Raditt... ahh!"

Puncak itu datang menghantam mereka berdua. Raditya mengerang panjang, sebuah suara jantan yang dalam, saat ia menumpahkan segalanya. Ia memeluk Nadia dengan sangat erat di atas meja tersebut, membiarkan napas mereka perlahan kembali normal.

Namun, di tengah keheningan yang intim itu...

Cklek!

Pintu terbuka. Aldi melangkah masuk dengan tangan kanan membawa kantong plastik besar berisi makanan premium pesanan sang bos. Ia masuk dengan percaya diri karena biasanya jam makan siang adalah waktu yang aman.

"Pak, ini makanannya sudah—"

Aldi mematung. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di depannya. Bosnya yang paling disegani seantero negeri sedang memeluk Nyonya Besar di atas meja kerja yang penuh berkas berantakan, dengan posisi yang... sangat jelas.

"Ahh! Mata suci aku!" gumam Aldi dengan wajah yang seketika berubah merah padam seperti kepiting rebus. Ia segera berbalik badan secepat kilat. "Ma-maaf Pak! Saya tidak lihat apa-apa! Saya... saya letakkan makanannya di depan pintu saja! Lanjutkan Pak! Silakan!"

Aldi lari keluar seolah-olah dikejar hantu, menutup pintu dengan bunyi dentum yang keras.

Nadia menyembunyikan wajahnya di dada Raditya, malu setengah mati. "Maaaasss! Aldi lihaaat! Mau ditaruh di mana muka aku nanti!"

Raditya hanya terkekeh rendah, sebuah tawa puas yang sangat jarang terdengar. Ia mengecup dahi istrinya. "Biarkan saja. Dia dibayar mahal untuk tutup mulut. Sekarang, ayo kita makan. Kamu butuh tenaga untuk ronde berikutnya di rumah nanti."

Nadia mencubit perut Raditya dengan kesal. "Nggak ada ronde kedua! Singa lapar gila!"

***

Bersambung

1
Noey Aprilia
Arsen...siap2d gerebek emakmu....kl kthuan bbo bareng,bkln lngsng d sruh nikah....🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Ngalah kay....
jgn smp abangmu murka krna km nksir cwek incarannya....
partini
satu cewe jadi rebutan dua pangeran 🤭🤭🤭 ,kaya drama AI gadis cantik dan 2 alpha nikah sama ••••••
neng ade
jangan ada konflik di antara Arsen dan Kay, kasih cewek yang bisa membuat Kay tak Ter bayang² lagi pada Clara
Helen@Ellen@Len'z: benar🤣🤣🤣🤣🤣🤣bgt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Noey Aprilia
Ancamn abangmu ga maen2 loh kay...
jd jgn coba2 godain clon kk iparmu,bsa2 km d lmpar k ktub utara...🤣🤣🤣....
tp ykin bgt kl arsen bkln bucin,posesif,plus kaku ky bpknya....
Al Bunda
ciwwciwaw...🤭🤭
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
siska ni ga punya kerjaan apa gimana sih perasaan nempel mulu sama tante nya, kayak jin aja 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bude udah jd ibu tapi masa ga paham sih sama hormon ibu hamil 😒
Noey Aprilia
Kl arsen mh ykin anknya papa radit,scra sma2 kulkas....tp kay knp jd playboy????🤔🤔🤔....
hobinya tbar psona,iklan psta ggi sna sni....🤣🤣🤣...
btw,jgn brani godain cwek brusan y kay...lwanmu berat.....
Jessica Xie
adoh adoh jangan ada perpecahan persaudaraan ya thor
buat si kaysan jadi mak comblang yg menyatukan keduanya🤭
neng ade
cewek ituu calon kakak ipar mu Kay
Misti
Nambah seruuu henerasi dinasti hadiwinata
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
eh gimana siska itu anak dr ibunya raditya juga? bukannya di atas di bilang dia cuma sepupu aja ya? brati kan harusnya ibu nya raditya itu tante nya 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
wkwk aku suka ke-asbun-an ini 😆
neng ade
ciee, ciee, Abang Arsen udah terkena panah asmara nihh
neng ade
Abang Arsen lagi terpesona sama gadis incaran nya, fokus putra sulung dulu, kalau Kay rada genit dia pasti mudah dapetin wanita idaman nya
Dewi Ansyari
🤣🤣🤣mertua dan Siska kasihan kalau lawan Nadia yg sudah berubah🤣🤣🤣
Dewi Ansyari
🤣🤣🤣Radit kalah sama Bumil🤣🤣🤣
Dewi Ansyari
Radit kamu salah tempat untuk marah2😡😡😡
Dewi Ansyari
🤣🤣🤣🤣Aurelin di lawan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!