Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Badai Pertama di Markas Batalyon
BAB 14: Badai Pertama di Markas Batalyon
Seminggu setelah makan malam yang penuh ketegangan namun berakhir manis di kediaman Purnawirawan Jenderal Dudung, Markas Besar Batalyon diselimuti oleh atmosfer yang sangat berbeda dari biasanya.
Suasana pagi itu tampak lebih siaga. Anggota pos penjagaan depan di gerbang utama berdiri tegap dengan seragam lengkap, memeriksa setiap kendaraan yang lalu lalang dengan ketelitian ekstra tinggi.
Matahari pagi mulai merambat naik, memancarkan sinar hangat yang menembus celah-celah pepohonan rindang di sepanjang jalan kompleks Mako Batalyon.
Mayang berjalan menyusuri trotoar dengan langkah kaki kecil yang lincah dan bersemangat.
Pagi ini, ia mengenakan gaun kasual berwarna merah muda lembut dengan potongan sopan.
Di dada kirinya, bros perak ukiran pita pemberian Ibu Diah terpasang manis dan berkilat diterpa cahaya matahari.
Di kedua tangannya, Mayang memeluk erat sebuah kotak bekal berukuran sedang berwarna merah muda cerah.
Di dalam kotak itu tersimpan nasi goreng sosis spesial buatan tangannya sendiri yang sengaja ia persiapkan sejak pukul lima pagi khusus untuk sang Komandan Batalyon, Mayor Aris.
"Semangat pagi, Bapak-Bapak Tentara!" sapa Mayang penuh keceriaan saat melewati pos jaga.
Para prajurit piket seketika menegakkan badan dan mengangguk hormat seraya tersenyum ramah.
Siapa di markas ini yang tidak kenal dengan Mayang?
Gadis berkacamata tebal yang ramah, sedikit konyol, namun berhasil meluluhkan hati Komandan Batalyon mereka yang terkenal amat dingin dan seram.
Namun, keceriaan Mayang mendadak terhenti saat langkah kakinya mendekati pelataran gedung Korps Kesehatan Batalyon.
Sebuah mobil dinas medis berwarna putih mengilap berplat khusus baru saja berhenti tepat di depan tangga utama gedung.
Dari pintu penumpang depan, turunlah Dokter Siska.
Wanita itu tampil sangat elegan dan berwibawa. Seragam dinas medis militer yang membalut tubuhnya tampak begitu pas, bersih, dan kaku tanpa lipatan.
Rambut hitamnya disanggul rapi sesuai standar dinas, sementara wajah cantiknya dipoles riasan tipis yang mempertegas kesan dingin dan berkelas.
Di belakangnya, Kapten Yoga Kepala Seksi Logistik dan Operasional serta dua orang staf kesehatan sibuk membantunya membawakan tas dokumen.
"Terima kasih atas penyambutannya yang sangat kooperatif, Kapten Yoga," ujar Dokter Siska dengan suara yang terdengar begitu halus, teratur, namun memancarkan jarak yang tegas.
Matanya yang tajam tanpa sengaja melirik ke arah trotoar, menangkap sosok Mayang yang sedang berdiri beberapa meter dari sana.
Kapten Yoga berdeham canggung. Wajah Kapten berbintang dua di pundak itu mendadak menegang saat matanya beradu dengan Mayang.
Dengan gerakan patah-patah, Kapten Yoga memberikan isyarat berupa kedipan mata berulang kali kepada Mayang sebuah sinyal bahaya terselubung yang bermakna,
“Mbak Mayang, mending putar balik sekarang, situasi sedang tidak aman!”
Mayang membetulkan posisi kacamata tebalnya yang sedikit meluncur di pangkal hidung.
Bukannya mundur atau bersembunyi, jiwanya yang polos dan pemberani justru mendorong kakinya untuk terus melangkah maju mendekati rombongan tersebut.
"Selamat pagi, Mas Kapten Yoga!" sapa Mayang dengan suara nyaring dan senyum lebar. Ia lalu menoleh ke arah Dokter Siska, mengangguk sopan.
"Selamat pagi juga, Dokter Siska! Selamat bertugas dan selamat bergabung di Mako Batalyon kami yang asri ini!"
Dokter Siska menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan jas medis.
Ia memutar tubuhnya penuh, menatap Mayang dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat dingin dan transparan.
Matanya lalu tertuju pada kotak bekal berwarna merah muda di pelukan Mayang.
Bibir berpoles lipstik merah tipis milik Dokter Siska terangkat sedikit, membentuk senyuman sinis yang sarat akan penolakan dan rasa meremehkan.
"Gadis pembawa bekal..." gumam Dokter Siska pelan namun dengan intonasi yang begitu jelas bergaung di udara pagi.
"Mayang, bukan? Namamu Mayang, kan ya?"
"Betul sekali, Dokter Siska yang cantik!" sahut Mayang ceria, tidak terpengaruh oleh nada dingin wanita di hadapannya.
Dokter Siska melangkah satu tapak mendekati Mayang.
Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap berkat sepatu hak dinasnya membuat Mayang harus sedikit mendongak.
"Mayang, sebagai sesama wanita, saya ingin memberikan saran yang sangat berharga untukmu," ujar Dokter Siska dengan nada pura-pura perhatian yang dibuat-buat.
"Batalyon ini adalah markas komando militer yang memegang teguh disiplin, efisiensi waktu, dan marwah jabatan.
Mas Aris maksud saya, Mayor Aris adalah seorang Komandan Batalyon dengan bobot tanggung jawab yang amat berat dan jadwal operasional yang sangat padat."
Dokter Siska menarik napas anggun, melipat kedua tangannya di dada.
"Kehadiran warga sipil yang datang berulang kali hanya untuk membawa hal-hal sepele seperti kotak bekal ini bukan hanya tidak efisien, tetapi juga bisa mengganggu fokus kerja, citra, dan disiplin seorang komandan di mata anak buahnya. Lingkungan ini membutuhkan dukungan yang profesional dan berdampak nyata, bukan sekadar hal-hal emosional kekanak-kanakan seperti ini."
Kapten Yoga di belakang Dokter Siska langsung meringis lebar.
Jemari tangannya spontan memegang leher belakangnya yang terasa dingin.
“Waduh, mateng aku! Ini Perang Dunia Ketiga resmi meletus di depan gedung kesehatan!” batin Kapten Yoga menjerit pasrah.
Mayang terpaku sejenak.
Kata-kata Dokter Siska memang disusun dengan sangat halus dan teratur, namun di baliknya terdapat jarum beracun yang bertujuan untuk membuat Mayang merasa kerdil, tidak pantas, dan tersingkir dari dunia Aris.
Namun, Mayang bukanlah gadis cengeng yang mudah runtuh oleh tatapan atau ucapan sinis.
Keberanian dan ketulusan hati yang ia tunjukkan di meja makan Jenderal Dudung semalam kembali bergelora.
Mayang menegakkan bahunya, merapikan bros perak ukiran pita di dadanya agar berdiri sejajar dengan mata Dokter Siska.
"Terima kasih banyak atas sarannya yang sangat panjang dan bergizi itu, Dokter Siska!" jawab Mayang nyaring, tenang, dan dipenuhi rasa percaya diri yang membumbung tinggi.
Mayang memeluk kotak bekalnya lebih erat seraya tersenyum manis.
"Tapi tenang saja, Dok. Nasi goreng sosis buatan Mayang ini bukan hal tak berguna, lho. Ini adalah suplemen nutrisi dan amunisi kebahagiaan utama buat Mas Mayor Aris biar beliau tidak stres dan tidak cepat tua menghadapi tugas-tugas berat di Batalyon ini! Dan lagipula..."
Mayang sedikit memiringkan kepalanya, mengedipkan mata di balik kacamata tebalnya.
"...Mas Mayor Aris sendiri yang bilang langsung ke Mayang, kalau suara ocehan Mayang dan kehadiran Mayang di ruang kerjanya itu adalah hiburan dan penawar lelah terbaik yang paling mujarab dan selalu beliau tunggu-tunggu setiap hari!"
Skakmat!
Wajah anggun Dokter Siska seketika membeku.
Senyum sinisnya luntur berganti dengan raut terkejut dan amarah yang berusaha ia tutupi rapat-rapat.
Pandangan matanya mendadak terkunci pada bros perak ukiran pita di dada Mayang perhiasan langka buatan pengrajin khusus keluarga purnawirawan yang dulu pernah Siska minta saat masih bertunangan dengan Aris, namun Aris menolaknya secara halus.
Kini, perhiasan berharga itu melingkar indah di dada seorang gadis sipil biasa!
Rasa panas dan cemburu yang luar biasa mendadak membakar dada Dokter Siska.
"Kita lihat saja nanti, Mayang," bisik Dokter Siska dengan suara amat dingin dan berjarak, mendekatkan wajahnya ke Mayang.
"Batalyon dan dunia militer ini sangat keras. Kepolosan dan rasa percaya dirimu itu tidak akan bertahan lama di sini."
Dokter Siska memutar tubuhnya secara anggun, menghentakkan sepatu haknya dan melangkah masuk ke dalam gedung medis diikuti oleh stafnya yang tampak serba salah.
Mayang menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Jantungnya berdegup lumayan kencang, namun rasa bangga mendominasi jiwanya. Ia berhasil bertahan dan berdiri tegap!
Brak!
Suara pintu utama Gedung Markas Batalyon terbuka keras.
Dari kejauhan, langkah kaki tegap yang sangat dikenal beradu nyaring dengan lantai koridor.
Mayor Aris melangkah keluar dengan Pakaian Dinas Lapangan (PDL) hijau zaitun yang kaku dan rapi, lengkap dengan baret hijau terpasang gagah di kepalanya.
Aura ketegasan dan kewibawaan yang terpancar dari tubuh Aris seketika membuat beberapa prajurit yang melintas langsung berhenti dan mengambil sikap hormat sempurna.
Namun, mata tajam sang Mayor tidak menghiraukan sekitar.
Pandangannya langsung mengunci sosok Mayang yang berdiri sendirian di dekat taman gedung medis.
Raut wajah Aris yang semula sangat galak, kaku, dan dingin bagaikan es di kutub seketika melunak saat jarak di antara mereka makin terkikis.
"Mayang," panggil Aris dengan suara bass-nya yang sangat dalam, berat, namun dibalut kehangatan yang amat nyata.
Aris melangkah mendekat, mengabaikan keberadaan Dokter Siska yang sempat mengintip dari balik jendela kaca lantai dua gedung kesehatan.
Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa peduli pada pandangan puluhan pasang mata anggota Batalyon, tangan kekar Aris terulur secara alami, menggenggam jemari mungil Mayang dengan erat dan hangat.
"Kenapa berdiri di luar panas-panas begini?" tanya Aris lembut, matanya menatap cemas pada peluh tipis di dahi Mayang.
"Ayo masuk ke ruangan saya. Saya sudah minta letda buatkan teh manis hangat untukmu."
Aris lalu menuntun Mayang berjalan bersisian menuju gedung komando utama.
Sebuah perlakuan istimewa dan bentuk perlindungan terbuka yang seketika menegaskan kepada seluruh penghuni Batalyon, bahwa tak peduli siapa pun yang datang dari masa lalu, hanya Mayang seorang yang memegang kunci tertinggi di hati sang Komandan!