Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjerat Obsesi Sang CEO

Terjerat Obsesi Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.

Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.

Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.

Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.

Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.

Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??

JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!

Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesalahan Fatal

Lantai empat puluh delapan gedung Adhitama Group tidak pernah benar-benar tidur, tetapi pada pukul dua pagi, tempat itu berubah menjadi kuburan yang dilapisi marmer mahal dan kaca-kaca tebal.

Bau pembersih lantai beraroma pinus menyengat hidung Hana, bercampur dengan sisa-sisa bau kopi hitam mahal dan pengharum ruangan otomatis yang berdesis setiap lima belas menit sekali.

Hana mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat dingin dengan punggung tangannya yang kasar. Kaos seragam abu-abunya yang kebesaran terasa lembap di bagian punggung.

Di luar, hujan deras mengguyur ibu kota, menampar-nampar dinding kaca luar dengan suara bergemuruh yang teredam. Setiap kali petir menyambar, bayangan benda-benda di dalam koridor VIP meloncat panjang di atas lantai yang licin.

Jari-jari tangan Hana terasa kaku. Ia memeras kain pel kain katun itu ke dalam ember seng biru, mendengarkan bunyi gemericik air kotor yang jatuh berulang-ulang yaitu sebuah irama monoton yang menjadi musik pengiring hidupnya selama delapan bulan terakhir.

Tiga tahun lalu, hidup Hana tidak diukur dari berapa banyak ember air yang harus ia buang dalam semalam. Hidupnya diukur dari bab-bab buku hukum perdata yang harus ia hafal untuk ujian semester.

Namun, truk tronton yang remnya blong di jalanan tidak hanya menghancurkan mobil tua ayahnya dan merenggut nyawa kedua orang tuanya seketika tetapi benturan keras malam itu juga meremukkan seluruh masa depannya.

Warisan yang ditinggalkan ayahnya bukanlah tabungan atau polis asuransi jiwa, melainkan map-map cokelat berisi surat utang dengan bunga beranak-pinak dari rentenir jalanan dan pinjaman swasta. Rumah disita. Mimpinya memakai toga menguap.

Yang tersisa hanyalah Hana, sebuah kontrakan sempit bermeja satu di pinggiran kota, dan tagihan bulanan yang rasanya siap mencekik lehernya kapan saja.

Demi bertahan hidup dan menyumbal mulut para penagih utang yang saban minggu menggedor pintu rumahnya, Hana rela mengubur gengsinya dalam-dalam. Ia melamar menjadi petugas kebersihan di agen penyalur jasa, dan berakhir di sini yaitu Adhitama Group, puncak rantai makanan ekonomi ibu kota.

Bagi para staf berdasi, manajer berjas rapi, dan sekretaris berkulit mulus yang lalu-lalang setiap siang, Hana tidak lebih dari sekadar bayangan. Sosok tanpa wajah yang mendorong troli plastik, menundukkan kepala saat orang lewat, dan membersihkan noda kaki berlumpur dari sepatu-sepatu mahal mereka. Dan Hana lebih menyukai hal itu. Semakin ia tidak terlihat, semakin sedikit orang yang mengganggunya.

Ia kembali menggerakkan gagang pelnya, membentuk pola angka delapan di atas lantai marmer hitam koridor utama. Sedikit lagi, bagian luar area eksekutif ini selesai, dan ia bisa turun ke ruang istirahat karyawan di lantai ruang bawah tanah untuk memejamkan mata selama satu jam sebelum kereta pertama tiba.

Namun, saat ujung pelnya menyentuh ambang pintu kayu jati berukir milik ruang kerja sang CEO yaitu Alvaro Adhitama, lampu koridor mendadak berkedip dua kali, lalu padam sepenuhnya.

Suasana berubah pekat dalam sekejap. Sistem pencahayaan cadangan belum menyala sepenuhnya, meninggalkan koridor hanya diterangi oleh pendar biru dari lampu indikator lift dan kilatan petir dari luar jendela.

Hana membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia hendak membalikkan badan untuk kembali ke trolinya, ketika sebuah bunyi keras menghantam kesunyian.

PRANG!

Itu bunyi barang pecah belah yaitu kaca tebal yang menghantam lantai keras. Disusul oleh suara erangan berat yang sangat pendek, penuh ketegangan, dan terdengar terengah-engah.

Hana menahan napasnya. Tangan kanannya mencengkeram gagang pel besi dingin itu lebih erat. Suara itu datang dari dalam ruangan CEO.

'Jangan ikut campur, Hana. Selesaikan bagianmu, ambil barang-barangmu, dan pergi.' bisik akal sehatnya.

Orang-orang kaya di lantai ini punya masalah mereka sendiri, dan masalah orang kaya biasanya mematikan bagi orang kecil seperti dirinya.

Namun, detik berikutnya, terdengar benturan fisik yang berat. Sesuatu yang besar roboh menghantam meja.

"Siapa... di sana?" seru seseorang.

Suara itu dalam, serak, dan sangat tidak stabil. Itu bukan suara datar, dingin, dan penuh perintah yang biasa Hana dengar dari televisi internal kantor saat Alvaro Adhitama memberikan pidato tahunan.

Suara ini terdengar seperti milik seorang pria yang sedang bertarung melawan rasa sakit yang hebat atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Langkah kaki Hana seolah memiliki pikirannya sendiri. Rasa cemas yang ceroboh mengalahkan naluri bertahannya. Ia melangkah perlahan menuju pintu jati yang ternyata sedikit terbuka, meninggalkan celah selebar dua jari.

"Pak... Pak Alvaro?" panggil Hana lirih, suaranya gemetar disapu angin dingin dari AC kantor yang masih menyala.

"Apakah Anda membutuhkan bantuan?" tanya Hana debgan gugup.

Tidak ada jawaban, hanya suara napas yang memburu dan berat, mirip deru napas binatang buas yang terluka.

Hana mendorong pintu kayu tebal itu pelan-pelan. Engselnya yang terawat baik bergerak tanpa suara.

Ruang kerja CEO Adhitama Group biasanya tampak anggun dan mengintimidasi. Namun malam ini, dalam remang cahaya petir, ruangan itu tampak seperti medan pertempuran kecil.

Sebuah botol kristal wiski mahal hancur berkeping-keping di atas karpet Persia. Berkas-berkas kertas berserakan di sekitar meja kerja mahoni yang megah.

Dan di balik meja itu, terduduk seorang pria.

Alvaro Adhitama sedang berlutut di lantai dengan satu kaki menopang tubuhnya. Jas hitam mahalnya sudah terlempar ke sembarang tempat.

Kemeja putihnya terbuka di bagian dada, memperlihatkan otot-otot keras yang tegang dan basah oleh keringat. Jemari tangannya yang kekar mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.

Saat pintu terbuka lebih lebar, Alvaro mendongak.

Hana tersentak mundur satu langkah. Mata pria itu yaitu mata yang biasanya menatap dingin dan sanggup membuat direktur senior gemetar kini tampak memerah liar.

Pupil matanya melebar, memancarkan kabut gairah yang menyiksa bercampur kemarahan yang membakar. Rahangnya mengetat keras, memperlihatkan urat-urat lehernya yang menegang.

Seseorang telah mencampurkan zat kimia konsentrasi tinggi ke dalam wiskinya malam itu. Sebuah sabotase kotor dari lawan bisnis yang ingin menghancurkannya dalam skandal, atau memaksa pria itu kehilangan kendali di ranah publik.

"Keluar..." geram Alvaro. Suaranya datang dari kedalaman tenggorokannya, terengah-engah dan penuh ancaman.

"Siapa pun kau... keluar sekarang juga!" tegasnya tanpa ampun.

Hana yang panik alih-alih berbalik lari, justru membuat kesalahan fatal yaitu ia melangkah mendekat karena melihat darah segar mengalir dari telapak tangan Alvaro yang tertusuk pecahan kristal botol.

"Tangan Anda berdarah, Pak... Saya... saya akan panggilkan pengawal atau ambulans di lantai bawah..." ucapnya terpotong.

"Aku bilang keluar!" sentak Alvaro.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...Akhirnya author buat cerita batu nihhhh,, jangan lupa dukungannya yaaaa, follow akun author, favoritkan ceritanya, VOTE, ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA, like, komen dan hadiahnya juga bolehhhhhh...

1
+44
hamil kan?
Dewi Kasiani
kpn Hana tidak keras hatinya,biar sedikit romantis.semoga hana hamil. biar makin dekat
Meichah Hahahihi
Hana misal KLO ada cewek yg deketin alvaro perasaanmu gimana ... jual mahal sekali si hana ini
Meichah Hahahihi
ini ceweknya mau di sentuh alvaro takut tapi kalo cowok lain welcome... munafik si hans
irma hidayat
hadapi hana bukannya harus sembunyi dari jln hidup, alvaro aja mau menerima dan terbuka
Teh Fufah
gitu dong hana.... berani... kamu kan mahaiswa hukum....
irma hidayat
terima dgn ikhlas hana jalan takdirnya jangan keras kepala, meski tak diinginkan mungkin jln terbaik untuk hidupmu
Siti Solihah
ayooo hana buka lebar lebar hatimu, kuliah kembali agar kamu bisa meneruskan cita cita sekaligus jadi istri ceo bucin...😅🤭
Rarik Srihastuty
lanjut...
+44
jadi.. kamu sudah cinta 🌚
Siti Solihah
ayo varo nyatakan love yuo sekarang juga..🤣🤣🤣
Mia Camelia
ayo rehan terus deketin hana🤭🤭🤭, biar alvaro makin meledak🤭😂
irma hidayat
cemburu ya alvaro
Rarik Srihastuty
ada yang cemburu ternyata 🤭
Lilik24
hahhaaa cemburu dia, bagusalah
Siti Solihah
masih menahan bucin...🤭🤭
+44
aku mau bubur ayam 🌚
Rarik Srihastuty
ayo Alvaro semangat, buat Hama melupakan traumanya
+44
jadi penasaran.. hal apa yang nantinya membuat hana luluh?
Sastri Dalila
👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!