Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Waktu kalian tersisa tiga menit lagi!" teriak Chef Bram dari atas podium dengan suara yang sangat menggelegar.
Kepanikan di dalam galeri utama semakin menjadi jadi hingga membuat beberapa peserta berlarian tak tentu arah.
Prang.
Suara piring jatuh dan pecah terdengar dari meja barisan belakang disusul tangisan seorang wanita.
Aldo sama sekali tidak menoleh dan tetap fokus pada mangkok tanah liat berwarna cokelat di depannya.
Dia menyendok kuah lodeh yang sudah menyusut dan mengental itu ke dalam mangkok tersebut dengan sangat hati hati.
Potongan tempe yang sudah berubah warna menjadi kekuningan karena bumbu terlihat sangat padat dan menggoda.
Aldo lalu menata tumisan ikan asin jambal roti dan bunga kecombrang tepat di bagian atas kuah lodehnya.
Tampilannya memang jauh dari kata mewah, tapi aroma yang menguar dari mangkok itu benar benar luar biasa.
Wanginya adalah perpaduan antara gurihnya santan, pedasnya cabai, dan aroma citrus tajam dari kecombrang yang menetralisir bau ikan asin.
"Selesai," gumam Aldo pelan sambil melap pinggiran mangkok tanah liatnya menggunakan kain bersih.
Di meja seberang, Kevin tampak sedang meneteskan saus kental berwarna hijau di pinggiran piring putih lebarnya.
Daging domba panggangnya terlihat sangat elegan dengan pinggiran yang sedikit berkerak karena bumbu rempah kering.
Kevin menatap piringnya dengan senyum sombong lalu melirik ke arah mangkok tanah liat milik Aldo.
"Makanan kuli bangunan seperti itu berani disajikan di galeri ini, benar benar memalukan," ledek Kevin dengan suara yang cukup keras.
Aldo hanya diam dan menatap lurus ke arah jam digital raksasa di atas podium.
"Sepuluh!" teriak Chef Arya memulai hitungan mundur yang diikuti oleh semua orang di ruangan itu.
"Sembilan!"
"Delapan!"
Jantung Aldo berdetak kencang menanti momen penghakiman pertama ini.
"Tiga!"
"Dua!"
"Satu!"
Teeet.
Suara sirine panjang akhirnya berbunyi memekakkan telinga mengakhiri waktu memasak yang terasa seperti di neraka.
"Angkat tangan kalian sekarang juga dan mundurlah satu langkah dari meja masak!" perintah Chef Renata dengan tegas.
Seluruh peserta langsung mengangkat kedua tangan mereka ke udara dengan berbagai macam ekspresi wajah.
Ada yang tersenyum lega, ada yang memucat, dan ada yang langsung menangis karena hidangannya belum matang sempurna.
"Tantangan pertama kalian telah selesai, dan sekarang saatnya kami membuktikan omong kosong kalian di piring itu," ucap Chef Arya dingin.
Ketiga juri mulai berdiskusi sejenak sambil melihat catatan kecil di tangan mereka.
"Kami sudah berkeliling selama kalian memasak tadi dan kami sudah menentukan siapa saja yang akan dipanggil ke depan," tambah Chef Bram.
Suasana galeri mendadak hening dan tegang layaknya ruang sidang pengadilan yang sedang menanti vonis hukuman mati.
"Panggilan pertama, meja nomor delapan, Kevin Wijaya," panggil Chef Renata memecah keheningan.
Senyum lebar langsung mengembang di wajah pemuda kaya raya tersebut.
Kevin mengangkat piring putih besarnya dengan sangat percaya diri dan berjalan membusungkan dada menuju podium.
Tap tap tap.
Suara langkah sepatu mahalnya menggema di ruangan yang sunyi itu.
Kevin meletakkan piringnya di atas meja penjurian kayu jati dan berdiri dengan sikap sempurna.
"Silakan jelaskan apa yang kau buat ini, Kevin," ucap Chef Arya sambil menatap tajam ke arah hidangan itu.
"Ini adalah Herb Crusted Lamb Rack dengan saus mint puree dan asparagus panggang, Chef," jawab Kevin bangga.
Chef Bram mengangguk pelan melihat presentasi makanan yang sangat rapi dan berkelas restoran bintang lima tersebut.
Dia mengambil pisau daging dan mulai memotong bagian tengah daging domba itu.
Srek.
Daging itu terpotong dengan mudah memperlihatkan bagian dalamnya yang berwarna merah muda sempurna.
"Tingkat kematangannya medium well, persis seperti yang saya harapkan dari daging domba berkualitas," puji Chef Bram.
Dia menyuapkan potongan daging beserta saus mint itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya secara perlahan.
Nyam nyam.
Chef Bram menutup matanya sejenak menikmati perpaduan rasa yang meledak di lidahnya.
"Daging dombamu sangat empuk dan tidak ada bau prengus sama sekali."
"Saus mint puree buatanmu juga sangat segar dan berhasil memotong rasa lemak domba yang berat," lanjut Chef Bram.
"Terima kasih banyak, Chef," balas Kevin sambil tersenyum meremehkan ke arah barisan peserta di belakang.
Kini giliran Chef Renata yang mencicipi hidangan mewah tersebut dengan garpu kecilnya.
"Tekstur renyah dari bumbu rempah di kulit luarnya memberikan kontras yang sangat bagus dengan dagingnya yang lembut."
"Kamu mengeksekusi bahan mahal ini dengan sangat cerdas dan tepat," puji Chef Renata sambil tersenyum manis.
Kevin menganggukkan kepalanya dengan gaya arogan yang sangat khas.
"Saya sudah terbiasa menangani bahan bahan premium di dapur restoran keluarga saya, Chef."
Chef Arya menjadi juri terakhir yang melangkah maju untuk memberikan penilaian akhirnya.
Pria berwajah galak itu mengiris daging domba Kevin tanpa banyak bicara lalu memakannya.
Glek.
Chef Arya menelan makanannya dan menatap Kevin dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Hidanganmu enak, secara teknis tidak ada yang salah dengan rasanya."
"Tapi sejujurnya, ini adalah hidangan yang sangat membosankan karena aku sudah sering memakannya di mana mana."
Senyum di wajah Kevin sedikit luntur mendengar kritikan tidak terduga dari juri utama tersebut.
"Kau bermain terlalu aman dengan bahan mahalmu itu, Kevin."
"Tapi berhubung ini tantangan pertama, hidangan ini sudah lebih dari cukup untuk menyelamatkan nyawamu hari ini."
"Silakan kembali ke mejamu," perintah Chef Arya dengan nada datar.
Kevin menghela nafas lega bercampur kesal lalu berjalan kembali ke mejanya sambil membawa sisa piringnya.
Penjurian pun dilanjutkan dengan memanggil beberapa peserta amatir lainnya ke depan podium.
Suasana kembali berubah mencekam saat Chef Arya mulai memuntahkan makanan dari seorang peserta pria bertubuh gemuk.
Cuih.
"Kau menyajikan ayam mentah berdarah ini kepadaku?!" bentak Chef Arya dengan mata melotot marah.
"M-maaf Chef, waktu saya tadi tidak cukup untuk memanggangnya sampai ke dalam," jawab pria gemuk itu gemetar.
Brak.
Chef Arya memukul meja penjurian dengan keras hingga membuat semua orang di galeri melompat kaget.
"Kau pikir alasan waktumu kurang bisa menyelamatkan nyawa pelanggan yang keracunan bakteri salmonella?!"
"Lepaskan celemek putihmu sekarang juga dan keluar dari galeriku detik ini juga!" usir Chef Arya tanpa ampun.
Pria gemuk itu langsung menangis terisak isak sambil melepaskan celemek putihnya dengan tangan bergetar.
Dia berjalan keluar meninggalkan galeri dengan langkah gontai diiringi tatapan iba dari peserta lainnya.
Eliminasi pertama baru saja terjadi secara instan tanpa perlu menunggu sesi penjurian selesai.
Mental para peserta yang tersisa kini benar benar diuji hingga batas maksimalnya.
"Panggilan selanjutnya, meja nomor dua belas, Aldo Raditya," panggil Chef Bram dengan suara beratnya.
Tubuh Aldo sedikit menegang saat mendengar namanya akhirnya dipanggil ke depan.
Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya untuk mengusir rasa gugup yang mulai merayap di dadanya.
Aldo mengangkat mangkok tanah liatnya dan berjalan menyusuri lorong menuju meja penjurian.
Di barisannya, Kevin tersenyum sinis menanti momen kehancuran musuh bebuyutannya tersebut.
makasi crazy up nya