Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Pesan dari Puncak Ascendant

​Uap tipis dari cangkir tanah liat yang telah kosong perlahan memudar di udara, meninggalkan aroma gandum dan herba spiritual yang masih menempel hangat di dinding-dinding pondok bambu.

​Han Wuyan menatap Mo Xie dengan raut wajah yang begitu tenang, namun sorot matanya yang sewarna bintang musim dingin tampak menembus hingga ke dasar jiwa pemuda di hadapannya. Tidak ada lagi sisa kekehan ramah saat ia menuangkan teh tadi; yang tersisa hanyalah wibawa mutlak dari seorang penguasa di ranah Ascendant.

​"Tidak perlu sungkan, Mo Xie," ucap Han Wuyan, suaranya bernada rendah namun bergema halus di dalam ruangan kecil itu.

​Sang Ketua Agung mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menopang kedua tangannya di atas meja kayu.

​"Aku akan mengajukan pertanyaan yang sama seperti saat pertama kali kau melangkah ke Aula Agung," sambung Han Wuyan, tatapannya mengunci sepasang mata unik milik Mo Xie secara intens. "Apakah ambisi besar itu... masih terukir rapat di dalam hatimu?"

​Keheningan seketika menyelimuti pondok bambu. Desau angin malam yang menggesek dedaunan di luar sana terdengar bagai bisikan sunyi yang menanti jawaban.

​Mo Xie tidak langsung menjawab. Ia perlahan meletakkan cangkir tanah liat kosong itu kembali ke atas meja kayu. Tangannya yang terbalut kain hitam bergerak stabil, tanpa ada sedikit pun getaran ragu.

​"Ya... dan tidak," sahut Mo Xie tenang.

​Han Wuyan menyipitkan matanya sedikit, lalu perlahan membelai janggut peraknya yang panjang. "Begitu..."

​Mo Xie perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata tua sang Ketua Agung tanpa menyembunyikan keterusterangan di dalam batinnya.

​"Bukan berarti ambisiku untuk menuntut balas pada para Dewa telah padam, atau bahwa aku telah melupakan Yurou," tegas Mo Xie.

​Ia mengangkat lengan kanannya sedikit, menatap pergelangan tangannya yang terbalut kain hitam—tempat simbol Pedang Chaos membisu di bawah kehendaknya.

​"Hanya saja... perjalanan dan penderitaan selama ini menyadarkanku pada satu hal," lanjut Mo Xie, suaranya terdengar dingin, realistis, dan sarat akan pendewasaan jiwa. "Aku yang sekarang... masih terlalu lemah bahkan sekadar untuk berpikir menantang takhta langit. Amarah tanpa kekuatan hanyalah tindakan konyol yang menuntun pada kematian sia-sia."

​Mo Xie mengepalkan tangannya rapat-rapat.

​"Aku harus terus melangkah ke ranah yang jauh lebih tinggi. Aku harus menjadi jauh lebih kuat... hingga aku benar-benar layak berdiri dan meretakkan takhta mereka."

​Mendengar penuturan jujur tersebut, Han Wuyan mengangguk-angguk pelan. Ada binar apresiasi yang sangat dalam memancar dari balik kelopak mata tuanya. Pemuda di hadapannya ini tidak lagi digerakkan oleh kegilaan emosi semata, melainkan telah mulai memahami hakikat sejati dari jalan pembantaian yang ia pilih.

​Han Wuyan menyandarkan punggungnya kembali, menatap langit-langit pondok bambu sejenak sebelum kembali bersuara dengan nada yang teramat sangat bijaksana.

​"Jalan kultivasi adalah jalan akumulasi waktu, Mo Xie," tutur Han Wuyan, setiap patah kata yang keluar dari bibirnya membawa gema Hukum Es murni yang menenangkan jiwa. "Tidak ada jalan pintas yang murni untuk mencapai puncak keabadian. Setiap tetes keringat, setiap rasa sakit yang menusuk tulang, dan setiap detak jantungmu dalam meditasi adalah bata-bata kokoh yang menyusun fondasimu menuju keabadian."

​Mo Xie terdiam mendengarkan. Ia meresapi setiap kalimat itu ke dalam Dantian barunya.

​"Sebagai Ketua Agung yang telah menyaksikan berjalannya zaman, aku telah melihat ribuan kultivator jenius tiada tara jatuh, hancur, dan menjadi abu hanya karena mereka terburu-buru mengejar kekuatan semu," sambung Han Wuyan, nadanya berubah menjadi peringatan yang sangat tajam.

​"Ingatlah ini dengan baik, Mo Xie: di balik setiap kesempatan besar yang menyilaukan mata, selalu ada risiko fatal yang mengintai di balik bayang-bayangnya. Jangan biarkan keserakahan membutakan matamu saat kau melihat harta karun kuno atau teknik tiada tara. Karena sering kali... hal yang tampak bagai anugerah itu adalah umpan mematikan yang menuntunmu menuju lubang kubur."

​Han Wuyan menghentikan kalimatnya sejenak, membiarkan Mo Xie mencerna peringatan keras tersebut sebelum ia melanjutkan dengan penekanan yang berbeda.

​"Namun... jangan pula kau berubah menjadi penakut yang pengecut, yang hanya berani bersembunyi di balik zona nyaman sekte," tegas Han Wuyan, matanya berkilat terang. "Sebab, selaras dengan keberadaan risiko besar, selalu ada kesempatan emas yang tersembunyi rapat di dalamnya. Badai yang paling dahsyat sekalipun selalu membawa petir yang sanggup menempa raga fisikmu menjadi jauh lebih kuat."

​Sang penguasa ranah Ascendant itu menegakkan tubuhnya kembali, memancarkan aura keagungan yang begitu luas namun menentramkan.

​"Kultivator sejati tidak akan pernah lari dari bahaya. Mereka melangkah di atas duri dengan kepala tegak, mengubah setiap krisis dan ancaman maut menjadi batu loncatan untuk melompati batas kemampuan mereka."

​Mendengar petuah filosofis tersebut, Mo Xie merasa seolah-olah ada pencerahan besar yang meledak pelan di dalam pikirannya.

​Kata-kata dari sosok di hadapannya ini bukan sekadar nasehat biasa, melainkan sebuah jembatan pemahaman yang menggabungkan peringatan penuh kewaspadaan sekaligus motivasi yang membakar semangat bertarung di dalam dadanya. Hukum Chaos di dalam Dantiannya bahkan berdenyut halus, merespons pemahaman baru yang baru saja diserap oleh kesadarannya.

​Rasa hormat yang mendalam bertumbuh di dalam dada Mo Xie.

​Ia paham betul betapa langkanya momen ini. Di dalam struktur Sekte Es Abadi, jangankan mendapatkan petunjuk spiritual secara pribadi, bahkan sekadar untuk melihat siluet sang Ketua Agung dari kejauhan saja adalah hal yang teramat sangat sulit bagi ribuan murid elit. Han Wuyan adalah legenda hidup yang terisolasi dari urusan duniawi.

​Namun dirinya—seorang murid baru yang membawa kekuatan terkutuk—justru duduk di seberang meja sang legenda, dituangkan teh spiritual berusia ratusan tahun, dan dibimbing secara langsung mengenai hakikat kultivasi sejati.

​Mo Xie menarik napas dalam-dalam, meredakan gejolak pencerahan di dalam dadanya. Ia menegakkan posisi duduknya, menyilangkan tangan kirinya di atas kepalan tangan kanannya yang terbalut kain hitam, lalu menundukkan kepalanya secara mendalam di hadapan Han Wuyan.

​"Bimbingan dan petuah dari Ketua Agung akan selalu kuukir di dalam jiwaku," ucap Mo Xie dengan nada suara yang sangat mantap, penuh dengan rasa terima kasih yang tulus.

​Han Wuyan tersenyum tipis, mengibaskan lengannya dengan santai. "Bagus jika kau bisa memahaminya. Dunia di luar sana sedang bergerak menuju kekacauan yang jauh lebih besar, dan kau akan membutuhkan setiap inci dari pemahaman itu untuk bertahan hidup."

​Sang Ketua Agung kemudian meraih kembali teko tanah liatnya, menatap Mo Xie dengan pendar mata yang menyimpan rahasia masa depan.

​"Sekarang... mari kita bicara tentang langkahmu berikutnya di Sekte Es Abadi."

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!