GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng Es Matterhorn dan Penguasa Sejati Dewan Komisaris
Badai es di puncak Mount Matterhorn mengamuk tanpa ampun. Angin bersuhu minus tiga puluh derajat Celsius meliuk-liuk di antara tebing-tebing kristal bening, menyapu jaring kargo helikopter yang tergantung bergoyang gila-gilaan di atas jurang tak berdasar.
BRAG!
Sersan Broto melepas kait beban utama. Jaring kargo itu terhempas jatuh merosot di atas pelataran es terjal, melempar Gala, Senja, Siska, Vanya, dan Pak Joko berguling-guling di atas salju tebal sebelum akhirnya terhenti menabrak pintu gerbang baja raksasa yang tersembunyi di balik gua es alami.
Gala merangkak keluar dari tumpukan salju dengan wajah membiru. Jaket tebalnya berlapis serpihan es, sementara apron denim Kedai Kopi Berkutut masih setia terikat di pinggangnya.
“Nja… Sis…” rengek Gala dengan gigi bergemelutuk keras sampai hampir copot. “Gue rasa… otak gue udah membeku jadi es batu. Kalau gue mati di sini, tolong tulis di batu nisan gue: ‘Tewas Kedinginan Demi Pedal Mesin Jahit Tua’.”
Senja bangkit berdiri, menepis salju di tubuhnya sambil menggigil pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara tipis Alpen membakar paru-parunya. “Tahan sedikit lagi, Gal. Kita sudah berada di depan pintu utamanya.”
Sersan Broto melangkah mendekat, mengeluarkan sebatang rokok kretek dari balik rompinya. Dengan santai, pria tua itu menyalakan pemantik api di tengah terpaan badai salju—sebuah aksi absurd yang menentang seluruh hukum fisika dan termodinamika.
“Di balik pintu baja ini,” ujar Sersan Broto sambil menghembuskan asap rokok yang langsung membeku menjadi uap putih, “terdapat Bunker Alpha-Omega. Pangkalan terpusat tempat Mbah Tejo menyembunyikan sistem kendali utama lima puluh triliun dolar.”
Siska melangkah maju mendekati pintu gerbang. Dinding gerbang tersebut tidak terbuat dari baja biasa, melainkan lembaran titanium tebal berdinding kristal kuarsa. Namun, tidak ada panel tombol biometrik modern, tidak ada pemindai sidik jari, dan tidak ada layar pengenal wajah.
Di tengah pintu gerbang raksasa itu, hanya terdapat sebuah lubang engsel mekanis berkarat berbentuk segi empat—ukuran yang sangat presisi dengan bagian bawah pedal mesin jahit Singer emas peninggalan Mbah Tejo.
Pak Joko, yang sejak tadi menggigil memeluk sarung tenunnya yang basah oleh es, merangkak mendekat dengan kacamata minus tebalnya yang berembun total.
“Gala… Cepat tancapkan pedal emas itu,” bisik Pak Joko dengan suara parau. “Sebelum eksekutor The Board of Directors menyusul pakai helikopter tempur, atau sebelum saya mati kaku jadi patung es di sini.”
Gala merogoh balik jaket tebalnya, mengeluarkan pedal mesin jahit emas berantai tipis yang dipermukaannya terukir kode benang jelujur. Dengan tangan gemetar akibat suhu ekstrem, Gala memasukkan tuas pedal itu ke dalam engsel pintu gerbang.
KLIK!
Suara mekanisme gigi besi tua berputar secara berantai menggema kencang dari dalam dinding es.
KREK-KREK-KREK-KRRRR!
Lantai es di bawah kaki mereka bergetar hebat. Pintu titanium raksasa itu perlahan-lahan terbelah dua, mengayun terbuka memancarkan uap hangat beraroma minyak mesin kuno dan ozon bertegangan tinggi dari dalam lorong.
Mereka melangkah masuk ke dalam lorong utama benteng es. Suasana di dalam ruangan sangat kontras dengan badai di luar. Udara di dalam lorong terasa hangat, diterangi oleh pendaran lampu filamen kuning bergaya retro-futuristik yang tertanam di sepanjang dinding kristal es.
Namun, estetika lorong tersebut membuat Gala dan Vanya terperangah cengo.
Di sepanjang dinding lorong, bukannya terpasang jaringan kabel serat optik atau server komputer berteknologi tinggi, melainkan ribuan roda gila mesin jahit mekanis raksasa yang saling terhubung menggunakan rantai baja dan benang tembaga mikroskopis. Suara dentangan mesin jahit raksasa yang berdetak serentak menggema merdu seperti simfoni mekanis abad ke-19.
“Ini… ini bukan pangkalan militer biasa,” desis Vanya, matanya menatap takjub ke arah roda-roda gigi raksasa yang berputar di atas kepala mereka. “Ini adalah analog superkomputer mekanis terbesar yang pernah dibuat manusia!”
“Mbah Tejo memang jenius yang agak eksentrik,” kata Sersan Broto bangga. “Beliau tahu kalau sistem komputer digital gampang diretas oleh peretas Rusia atau NSA. Makanya, beliau membuat seluruh jaringan data lima puluh triliun dolar ini menggunakan sistem biner mekanis berbasis pergerakan benang dan jarum!”
BIP-BIP-BIP!
Tiba-tiba, pendaran lampu filamen kuning berubah menjadi merah menyala. Di hadapan mereka, lorong sepanjang lima puluh meter itu mendadak dipenuhi oleh ratusan benang sinar laser merah tipis yang menyilang rapat dari lantai hingga langit-langit.
Siska memasang kuda-kuda, matanya menganalisis pergerakan sinar laser tersebut. “Sistem pertahanan aktif terdeteksi. Sinar laser ini memiliki densitas pemotong kuantum. Satu sentuhan kecil akan memotong tubuh kita menjadi serpihan halus dalam hitungan milidetik.”
“Bisa di-hack, Sis?” tanya Senja sambil meraba pipa besi di pinggangnya.
“Tidak ada panel digital untuk di-hack, Senja,” jawab Siska dingin. “Sistem ini digerakkan oleh ritme helatan benang mekanis. Satu-satunya cara menembusnya adalah dengan berjalan menari mengikuti irama langkah jahitan mesin Mbah Tejo.”
Gala menatap barisan laser merah yang bergetar naik-turun dengan pola teratur. Otak jurnalisnya yang biasa dipakai melihat neneknya menjahit celana waktu kecil mendadak menyerap pola tersebut.
“Tunggu sebentar…” kata Gala sambil menyipitkan mata. “Pola naik-turun lasernya… ini kan pola jahitan kelim lipat ganda yang biasa dipake Mbah Tejo kalau lagi bikin lipatan celana komprang!”
Semua orang menoleh menatap Gala dengan bingung.
“Gala, jangan bercanda di saat nyawa kita di ujung tanduk!” tegur Senja.
“Gue gak bercanda, Nja!” seru Gala mantap. Ia melangkah maju ke garis paling depan, memegang kencang pedal emas di tangannya. “Langkah pertama: dua tindak ke kanan, melompat rendah, terus meliuk ke kiri pas lasernya naik! Percaya sama gue, ini ritme jahitan jelujur Sleman!”
Tanpa ragu-galu, Gala menerjang masuk ke dalam jaring laser merah tersebut!
“GALA!” jerit Senja histeris.
Namun, dengan gerakan meliuk-liuk yang absurd—gabungan antara tarian dangdut kampungan dan reflek menghindari lemparan sandal—Gala berhasil melintasi lima meter pertama tanpa tersenggol sinar laser sedikit pun! Lasernya melintas persis beberapa milimeter di atas kepala dan di bawah lipatan apron denimnya!
“Tuh kan, bener! Ayo ikutin gerakan gue!” teriak Gala dari tengah lorong.
Siska, Senja, Vanya, Sersan Broto, dan Pak Joko—yang terpaksa mengangkat tinggi-tinggi sarung tenunnya agar tidak tersenggol laser—mengekor di belakang Gala, bergerak meliuk-liuk meniru irama tarian jahitan Mbah Tejo.
Langkah kanan, melompat, menunduk, meliuk!
Dalam waktu tiga menit yang menegangkan, mereka semua berhasil menyeberangi lorong pertahanan jarum laser tanpa kurang suatu apa pun. Pak Joko bahkan sempat mendarat dengan gaya memegang kacamata minusnya yang melorot.
“Luar biasa…” puji Vanya sambil terengah-engah. “Saya tidak pernah membayangkan kalau keahlian menjahit tradisional bisa dipakai buat melumpuhkan sistem keamanan berharga jutaan dolar.”
Gala merapikan apron denimnya dengan sombong. “Makanya, jangan remehkan lulusan kursus jahit Sleman edisi 1980!”