Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Di atas meja mahoni yang dipoles hingga mengilap seperti cermin gelap, selembar amplop putih tebal terbaring tegar. Di atasnya, cetakan huruf kapital berwarna hitam tampak begitu mencolok: BERKAS GUGATAN PERCERAIAN.
Gibran menatapku dari balik cangkir porselennya, mengembuskan napas sarat aroma kopi pahit dan ketergesaan yang tak lagi mampu ia sembunyikan. Lelaki berusia awal empat puluh tahun itu masih tampak teramat gagah. Jas abu-abu gelapnya tersusun rapi tanpa selip sedikit pun sosok CEO NexTech Group sekaligus pemilik jaringan hotel mewah yang dielu-elukan publik sebagai wujud nyata dari istilah suami idaman.
Namun, di mataku malam ini, di balik pendar lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya keemasan, ia hanyalah seorang pria yang sedang berada di puncak krisis usianya. Pria yang mendadak silau dan haus akan validasi dari pesona muda wanita lain di luar sana.
"Kita selesai, Kirana," bisiknya pelan. Suaranya diatur sedemikian rupa, tertahan dan berhati-hati, seolah takut gema kalimatnya memantul di dinding-dinding tinggi rumah megah kami dan menembus keluar. "Perasaan ini sudah lama mati.
Kita berdua tahu itu. Aku ingin kita menyelesaikan ini secara baik-baik, tanpa kegaduhan yang tidak perlu."
Aku tidak menjerit. Aku tidak membiarkan riasan tipis di wajahku rusak oleh air mata yang murahan. Jemariku yang dihiasi cincin berlian yang dahulu dipasangkannya dengan janji suci sehidup semati hanya mengetuk tepi cangkir tehku sendiri dengan irama yang teratur.
"Selesai?" tanyaku dengan nada serendah bisikan. "Kata yang sangat mudah diucapkan oleh seorang pria yang baru saja menuntaskan rapat direksi."
"Jangan mulai berbelit-belit, Kirana," potong Gibran cepat. Ia memajukan tubuhnya, menopang kedua siku di atas meja, menatapku lurus-lurus. "Aku sudah menyiapkan tim pengacara terbaik untuk mengurus perpisahan kita. Kau tidak akan kekurangan satu sen pun. Rumah ini, tunjangan bulanan, semua akan menjadi milikmu. Aku hanya minta satu hal tanda tangani surat itu tanpa memanjangkan masalah."
Aku tersenyum tipis, menyesap teh chamomilku yang mulai menghangat. "Kau membicarakan pernikahan lima belas tahun kita seolah-olah ini cuma transaksi akuisisi saham yang gagal, Gibran. Begitu murah nilai janji yang kau ucapkan di hadapan penghulu dulu?"
"Ini bukan soal murah atau mahal!" hembusan napas Gibran terdengar makin berat. Kekesalan mulai mengikis topeng ketenangannya. "Ini soal kenyataan, Hubungan kita sudah hampa. Aku tidak lagi merasakan percikan yang sama saat melihatmu. Untuk apa kita berpura-pura bahagia di depan media dan kolega kalau di dalam rumah ini kita cuma dua orang asing yang berbagi atap?"
"Percikan?" kuulang kata itu dengan nada geli yang dingin. "Kau menyebut hasratmu pada gadis dua puluh dua tahun itu sebagai percikan?"
Wajah Gibran seketika berubah kaku. Ada kilatan terkejut yang tertahan di balik matanya sebelum ia dengan cepat menguasai diri kembali. "Kau memata-matai aku?"
"Aku tidak perlu memata-matai pria yang tiba-tiba berganti selera parfum dan menyembunyikan ponselnya setiap kali masuk ke kamar mandi," balasku tenang. "Aku mengenalmu lebih baik daripada kau mengenal dirimu sendiri, Gibran."
Pikiranku mendadak melayang, menerobos lorong waktu menuju lima belas tahun yang lalu. Saat usiaku baru menyentuh angka sembilan belas tahun.
Kala itu, ketika gadis-gadis seusiaku sibuk menari di bawah pendar masa muda, merajut cita-cita di bangku kuliah, dan menikmati kebebasan tanpa beban, aku justru memilih melipat sayapku rapat-rapat. Aku menyerahkan seluruh masa depanku untuk menjadi bayangan di balik punggung Gibran. Aku mengikat janji suci di atas kesederhanaan yang hampir mendekati nestapa. Jemariku yang halus dahulu terbiasa menakar sisa uang belanjaan di kamar kontrakan sempit yang berbau lembap. Dialah pria yang kuselamatkan dari rasa putus asa, pria yang kupeluk saat usahanya berkali-kali dihantam kegagalan, dan pria yang kubangunkan pilar-pilar kekuatannya hingga ia sanggup berdiri tegap menjadi penguasa imperium bisnis hari ini.
Kini, di usiaku yang menginjak tiga puluh empat tahun di saat paras dan kedewasaanku berada di puncak kematangan yang paling sempurna ia merasa telah selesai menungguku di bab lama hidupnya. Ia mengira wanita yang menghabiskan belasan tahun hidupnya di dalam rumah ini akan hancur berkerak dan mengemis cinta ketika selembar kertas putih itu dihamparkan.
"Lupakan soal itu!" tegur Gibran, suaranya meninggi separuh nada, kentara sekali ingin mengalihkan pembicaraan. "Fokusnya adalah perpisahan kita. Dengarkan aku, Kirana. Kau sudah punya segalanya. Kau punya status, harta, anak-anak. Lepaskan aku secara terhormat. Jangan buat dirimu terlihat menyedihkan dengan menahan pria yang sudah tidak mencintaimu lagi."
"Menyedihkan?" tanyaku lembut. "Siapa yang sebenarnya terlihat menyedihkan di sini, Gibran? Pria empat puluh tahun yang mengejar daun muda demi menutupi rasa takutnya menjadi tua, atau wanita yang duduk tenang mempertahankan martabat keluarganya?"
"Cukup, Kirana!" bentaknya seraya menghempaskan cangkirnya ke piring alas hingga menimbulkan denting tajam.
Langkah kaki yang tergesa dan berat dari arah tangga utama memecah keheningan yang mencekam itu.
"Papi bicara apa, sih?."
Suara Kayla putri sulung kami yang baru duduk di kelas tiga SMA bergetar menahan amarah yang membakar. Wajah cantiknya pias, matanya yang memerah dan sembab memancarkan rasa tidak percaya yang amat dalam. Di belakangnya, Evan, adik laki-lakinya yang baru berusia lima belas tahun dan duduk di kelas satu SMA, berdiri kaku. Rahang remaja laki-laki itu terkatup begitu rapat. Seragam putih abu-abu yang belum sempat dilepasnya tampak sedikit kusut di bagian dada, seiring jemarinya yang mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Gibran terperanjat, berdiri dari kursinya dengan rahang mengeras. "Kayla! Evan! Sejak kapan kalian berdiri di situ?! Masuk ke kamar kalian sekarang! Ini urusan orang tua, jangan ikut campur."
"Urusan orang tua?" Kayla terkekeh sinis, sebuah tawa getir yang dibarengi lelehan air mata di pipinya. Ia melangkah maju menuruni anak tangga terakhir, menghampiri meja makan tanpa rasa takut. "Aku nggak blind, Pi! Aku tahu siapa cewek yang sering Papi temui di lounge hotel itu! Teman-temanku di sekolah bahkan pernah lihat Papi jalan bergandengan tangan sama dia di mall."
"Kayla! Jaga bicaramu!" gertak Gibran, wajahnya memerah padam. Ia berusaha keras mempertahankan wibawa seorang ayah dan kepala keluarga yang selama ini dipuja anak-anaknya. "Kau tidak tahu apa-apa soal hubungan Papi dan Mami."
"Aku tahu semuanya!" jerit Kayla, suaranya pecah oleh emosi yang meluap. "Mami yang nemenin Papi dari zaman Papi nggak punya apa-apa! Dari zaman rumah kita cuma kontrakan sempit dan kita makan seadanya! Mami yang masak buat Papi tiap malam pas Papi lelah kerja! Dan sekarang pas Papi sudah kaya, Papi mau buang Mami gitu aja cuma buat cewek gatal yang cuma mau uang Papi?."
"Kayla, cukup!" potong Gibran keras.
Sementara itu, Evan melangkah perlahan mendekati meja. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, tatapan matanya yang tertuju lurus pada Gibran begitu dingin dan tajam—sebuah bentuk kekecewaan mendalam dari seorang putra pada sosok ayah yang selama ini menjadi pahlawan tunggal dalam hidupnya.
"Evan, kau juga," suara Gibran melemah saat menatap putra laki-lakinya. "Bantu Papi menenangkan kakakmu. Jangan biarkan dia emosi seperti ini."
Evan menatap ayahnya dari atas ke bawah, lalu bersuara dengan nada rendah namun sangat menusuk. "Papi yang bikin Kakak kayak gini. Papi yang bikin rumah ini hancur."
"Evan! Papi melakukan ini demi kebaikan kita semua"
"Kebaikan siapa?" sela Evan dingin. "Kebaikan Papi sama cewek itu?"
Atmosfer ruang makan terasa makin panas dan mengimpit. Gibran tampak gelisah, kehilangan kata-kata di hadapan dua anaknya yang selama ini sangat membanggakannya.
Aku bangkit berdiri dengan keanggunan yang melangkah tanpa cela. Suasana tegang dan panas itu seketika mereda saat kuusap lembut bahu Kayla dan kurengkuh lengan Evan.
"Kembalilah ke kamar, Nak," bisikku halus. Suaraku begitu tenang, mengalun setenang permukaan danau di pagi hari, suara yang selama lima belas tahun ini selalu menjadi penawar badai di rumah ini. "Jangan kotori pikiran dan masa-masa sekolah kalian dengan lumpur ini. Percayalah pada Mami. Biarkan Mami yang menyelesaikan pertempuran ini."
Kayla menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Mi... Papi jahat banget sama Mami. Mami nggak boleh ngalah gitu aja!"
"Mami tidak pernah mengalah, Sayang," balasku seraya mengusap air mata di pipinya dengan ujung ibu jariku. "Mami hanya tahu kapan harus bertarung dan bagaimana cara menang. Sekarang, masuklah. Kalian ada ujian esok hari, bukan? Jangan biarkan hal ini mengganggu masa depan kalian."
Evan meremas jemariku pelan, memberikan sentuhan protektif seorang anak laki-laki kepada ibunya. "Kalau Papi bentak Mami lagi, panggil Evan, Mi."
Aku tersenyum bangga, mengangguk pelan. "Mami mengerti. Terima kasih, Jagoan."
Melihat tatapan mataku yang mantap, teduh, namun tanpa sedikit pun getar ketakutan, kedua buah hatiku akhirnya mengangguk pelan. Kayla mengusap air matanya kasat mata, sementara Evan menuntun kakaknya melangkah berat kembali menuju lantai atas.
Setelah bayangan kedua anakku menghilang di belokan tangga, aku memutar tubuhku, kembali menatap Gibran yang kini tampak serba salah dan sedikit gelisah di kursi kebesarannya. Ia memijit pangkal hidungnya, tampak frustrasi.
"Kau lihat sendiri, Kirana?" tuduh Gibran, mencoba mengalihkan rasa bersalahnya padaku. "Kau membuat anak-anak membenciku! Kau racuni pikiran mereka!"
"Aku tidak meracuni siapa pun, Gibran," sahutku santai sembari kembali duduk di kursiku. "Anak-anak kita sudah SMA. Mereka punya mata untuk melihat dan otak untuk berpikir. Cermin dari perbuatanmu sendirilah yang membuat mereka membencimu."
Kuusap ujung amplop gugatan itu dengan ujung jariku yang berpoles cat kuku merah marun, lalu mendorongnya perlahan kembali ke hadapannya.
"Aku tidak akan pernah menandatanganinya, Gibran," ucapku, sangat halus, hampir menyerupai desis angin malam yang membawa hawa dingin.
Gibran menatapku tak percaya, rahangnya mengeras dan matanya menyipit penuh amarah yang tertahan. "Kenapa, Kirana?! Untuk apa mempertahankannya? Kau mau memenjarakanku dalam pernikahan yang sudah mati ini?."
"Memenjarakanmu?" aku tertawa kecil, suara tawa yang begitu murni tanpa beban. "Kenapa kau merasa dipenjara? Bukankah kau yang memilih membuat sangkar ini sendiri?"
"Jangan bercanda!" bentak Gibran, menepuk meja dengan telapak tangannya.
"Kalau kau menolak menandatanganinya, aku akan tetap melayangkan gugatan ini ke pengadilan! Pengacaraku akan memastikan proses perceraian ini tetap berjalan!"
Aku menyunggingkan senyum paling tipis. Sebuah sunggingan bibir elegan yang kupelajari dari tahun-tahun panjang menjadi pendamping pria terpandang.
"Silakan, Gibran," tantangku pelan, memiringkan kepala. "Layangkan gugatanmu. Panggil tim pengacara terhebatmu. Tapi ingat satu hal... aku akan menolak gugatan itu di hadapan hakim. Aku akan menolaknya sekali, dua kali, tiga kali, hingga seluruh energi dan namamu habis dikuras media."
Gibran menatapku lekat-lekat, seolah sedang melihat sosok asing yang baru pertama kali ditemuinya malam ini. "Kau sudah gila, Kirana. Untuk apa kau lakukan ini?"
"Bukan memenjarakanmu, Sayang," batinku berbisik sembari menatap dalam netra cokelatnya yang mulai kehilangan arah. "Aku hanya sedang mengunci papan caturku."
Selama lima belas tahun, akulah arsitek tak terlihat di balik citra sempurnanya. Akulah yang merawat nama baiknya di mata publik hingga usahanya dipercaya para investor besar. Jika kini ia ingin terbang menuju pelukan gadis barunya, biarlah ia bertarung sendirian di ruang sidang yang dingin. Karena raga dan cintanya boleh pergi, namun mahkota dan seluruh kerajaan yang dibangun di atas darah dan masa mudaku ini akan tetap berada rapat di bawah kakiku.
mreka jd ank yg pntr dn soleh krna ddikn ibunya,beda sm bpknya yg jhat dn hnya bsa mnykti mreka....
jd skrng,trima aja smua hkuman....
mga bnrn tobat biar bs hdp lbh baik...
Dlu aja bngga slingkuh....skrng mlah sling cakar,smp s pelakor bbak belur....🙄🙄🙄...
beda sm sng mntan yg lg ibadah,bkin hti adem plus nmbah pahala....mga kirana jg ktmu jdoh trbaiknya....