Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Malam itu, kediaman utama keluarga Van Der Berg tidak tidur. Di saat jutaan penduduk Jakarta terlelap, sebuah badai kemarahan yang terstruktur dan mematikan sedang dihimpun dari balik dinding-dinding kokoh mansion megah tersebut.
Di ruang kerja utamanya, Alexio berdiri tegak menghadap dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan gemerlap lampu ibu kota. Ruangan itu sunyi senyap, namun atmosfer di dalamnya terasa begitu pekat oleh aura dominasi dan ancaman.
Di atas meja kerjanya, sebuah surel berenkripsi tinggi baru saja masuk, dikirim langsung dari laboratorium rahasia milik Ken dan Key.
Pintu bergeser pelan. Reno melangkah masuk dengan langkah terukur, membawa map tebal berisi dokumen rahasia. Wajah asisten pribadi itu sudah kembali tenang, mencerminkan profesionalisme mutlak yang tidak goyah bahkan di ambang krisis.
"Semua unit sudah dalam posisi siaga, Tuan Muda," lapor Reno dengan suara rendah dan tegas.
"Sesuai dengan data alamat IP dan dokumen intelijen yang dikirimkan oleh Tuan Muda Ken, dalang di balik pembajakan kargo dan pembakaran gudang pelabuhan kita adalah sindikat paramiliter bayaran. Mereka bersembunyi di sebuah bungker di pegunungan salju perbatasan Swiss-Prancis, dan disewa secara langsung oleh keluarga Smith dari Jenewa."
Alexio tidak langsung berbalik. Ia mengambil map dari tangan Reno, membuka halaman pertamanya yang memuat foto-foto wajah para pelaku dan koordinat tempat persembunyian mereka di Eropa.
"Mereka mengira dengan melenyapkan bahan kain dan gaun sample, mereka bisa mematahkan semangat istriku dan menghancurkan debut Van Der Berg Fashion House," gumam Alexio, suaranya terdengar datar namun dingin seperti es kutub.
"Mereka tidak tahu bahwa yang mereka bakar bukanlah sebuah koleksi mode, melainkan sumbu dinamit di bawah kaki mereka sendiri."
"Apa perintah selanjutnya, Tuan?" tanya Reno meminta instruksi pasti.
Alexio menutup map tersebut dengan bunyi tep yang tajam. Sorot matanya menggelap.
"Siapkan jet pribadiku untuk penerbangan ke Swiss malam ini juga. Hubungi komandan Pasukan Taktis Bayangan kita di cabang Eropa. Perintahkan mereka untuk menggerebek bungker persembunyian itu sekarang juga. Aku tidak peduli bagaimana caranya, tangkap pemimpin mereka hidup-hidup dan seret dia ke hanggar pribadiku di Bandara Jenewa."
Reno mengangguk paham. Jarak penerbangan dari Jakarta ke Jenewa membutuhkan waktu empat belas jam non-stop. Alexio ingin target sudah tertangkap dan siap dieksekusi begitu roda pesawatnya menyentuh tanah Eropa.
"Saya mengerti, Tuan. Pasukan Eropa akan mengamankan target sebelum Anda mendarat," jawab Reno seraya membungkuk hormat, lalu berbalik meninggalkan ruangan untuk mengeksekusi perintah.
Sementara itu, di lantai berbeda, suasana di dalam kamar tidur utama terasa jauh lebih berat oleh keheningan emosional.
Clara duduk di tepi ranjang berukuran king-size, menatap kedua telapak tangannya sendiri yang masih sedikit gemetar. Di sofa seberang, Ketty mondar-mandir dengan cemas, sesekali mengusap wajahnya frustrasi.
"Ini gila, Ra! Semua kerja keras kita selama berbulan-bulan... sketsa terbaikmu, sulaman tangan yang kita awasi sendiri pengerjaannya, semuanya musnah jadi abu hanya dalam hitungan menit!" suara Bunda Ketty memecah keheningan, sarat akan kekecewaan yang mendalam.
"Bagaimana kita bisa mengejar ketertinggalan dalam waktu tiga hari? Publik sudah menantikan The Phoenix Collection!"
Clara mengangkat wajahnya.
Sorot mata cokelat jernihnya menyiratkan kesedihan, namun di balik itu, ada api ketangguhan yang tidak mudah padam. Ia bukan lagi wanita lemah yang akan menangis di sudut ruangan tanpa daya.
"Kita tidak akan menyerah, Ket," ucap Clara pelan namun tegas. Ia berdiri, melangkah mendekati sahabatnya dan memegang kedua bahu manajernya itu untuk menenangkannya.
"Mimpi ini bukan sekadar tentang kain sutra. Ini tentang pembuktian. Kalau mereka membakar gudang kita, kita akan membangun ulang semuanya dari awal. Aku akan mendesain ulang sketsa itu malam ini juga."
Ketty tertegun. Ketegaran luar biasa yang terpancar dari diri Clara membuat rasa panik di dadanya perlahan mereda.
"Kau benar...kau adalah Clara Jasmine yang berhasil membesarkan dua anak jenius seorang diri. Kita pasti bisa."
Tepat pada saat itu, pintu kamar terbuka perlahan. Dua sosok kecil dengan piyama tidurnya melangkah masuk secara bersamaan.
Ken memegang sebuah tablet canggih di tangan kanannya, sementara Key membawa dua cangkir cokelat hangat di atas nampan kecil.
"Mama, Bunda Ketty, jangan bersedih," hibur Key dengan senyum manisnya, meletakkan nampan tersebut di nakas.
"Kerja keras Mama tidak akan pernah sia-sia hanya karena ulah sekelompok orang bodoh."
Ken ikut mendekat, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya khas seorang profesor muda. Ia menyerahkan tablet miliknya kepada Clara.
"Buka fail ini, Mama. Ini adalah cadangan digital terenkripsi dari seluruh desain The Phoenix Collection yang selama ini otomatis tersimpan di penyimpanan awan (cloud) lapis kelima laboratorium kami."
Clara terbelalak kaget. Di atas layar, terpampang seluruh desain gaun rancangannya secara lengkap dan sempurna, tanpa ada satu detail pun yang hilang.
"Kalian... kalian mem-backup semuanya?" cicit Clara, air mata haru seketika menggenang di pelupuk matanya.
"Tentu saja," jawab Ken tenang. "Sebagai kepala departemen intelijen keluarga, sudah menjadi tugas Ken dan Key memastikan tidak ada variabel kegagalan. Para penjahat itu mengira mereka bisa membakar hasil kerja Mama. Padahal, data kita aman di luar jangkauan mereka."
Key merangkul pinggang Clara. "Dan jangan khawatir soal bahan kain, Mama. Tadi sore, Key dan Kak Ken menganalisis adanya pergerakan logistik musuh yang mencurigakan. Jadi, kami diam-diam sudah memesan cadangan kain sutra murni kualitas terbaik langsung dari pabrik di Kyoto. Kargo pengganti itu sedang diterbangkan dan dijadwalkan tiba di bandara pribadi Van Der Berg besok pagi pukul delapan."
Ketty membelalakkan matanya, menatap kedua anak kembar itu seolah baru saja melihat alien. "Tunggu... kalian sudah memesan cadangan logistik itu sebelum gudangnya terbakar?!"
"Bukannya merencanakan, Bunda Ketty," koreksi Ken dengan nada serius.
"Itu namanya mitigasi risiko preventif terhadap potensi ancaman eksternal."
Clara tidak bisa menahan senyumnya. Ia menarik kedua anaknya ke dalam pelukan hangatnya.
"Kalian berdua benar-benar penyelamat hidup Mama. Terima kasih, anak-anakku."
Di ambang pintu kamar, Alexio berdiri mengawasi momen hangat tersebut. Ia melangkah masuk, menghampiri tempat tidur dan merengkuh istri serta kedua anaknya dalam satu dekapan yang kokoh.
"Kau dengar itu?" bisik Alexio di dekat telinga istrinya.
"Besok pagi, bahan-bahan baru akan tiba di Jakarta. Fokuslah pada gaunmu. Aku harus terbang ke Eropa malam ini untuk menyelesaikan sebuah urusan bisnis mendesak. Saat aku kembali besok, aku pastikan orang-orang yang berani menyentuh mimpimu sudah tidak ada lagi di muka bumi ini."
Clara mengangguk dalam dekapan suaminya, tidak menyadari definisi sebenarnya dari "urusan bisnis" yang dimaksud pria itu.
*****
*****
Sementara itu, di belahan bumi Eropa, waktu menunjukkan tengah malam. Di dalam sebuah bungker bawah tanah yang tersembunyi di pegunungan salju perbatasan Swiss-Prancis, kelompok bayaran keluarga Smith sedang merayakan keberhasilan operasi mereka dengan menenggak botol-botol wiski mahal.
"Kerja bagus, kawan-kawan!" seru sang pemimpin kelompok, seorang pria dengan bekas luka di pipinya.
"Gudang utama di Jakarta rata dengan tanah, dan kontrak kita sudah lunas! Besok pagi, kita tinggal melarikan diri ke Amerika Selatan."
Gelak tawa kemenangan memenuhi ruangan berasap tersebut. Tanpa mereka sadari, sistem peretasan canggih yang dikirimkan Ken dari Jakarta telah mengambil alih jaringan kelistrikan bungker itu.
Lampu-lampu indikator di ruangan bawah tanah itu mendadak berkedip liar, berubah dari warna hijau menjadi merah darah.
Pemimpin kelompok itu tertegun, menatap ngeri ke arah layar monitor utama yang mendadak menyala dan menampilkan logo singa bermahkota dari dinasti Van Der Berg, disertai teks digital berukuran raksasa:
"Waktu kalian habis."
Detik berikutnya, sebelum para tentara bayaran itu sempat mengangkat senjata mereka, pintu baja bungker setebal sepuluh sentimeter itu meledak hancur berkeping-keping dari luar.
Dari balik kepulan asap tebal dan deru angin malam yang membekukan, puluhan Pasukan Taktis Bayangan cabang Eropa merangsek masuk dengan persenjataan lengkap.
Pemimpin pasukan itu menodongkan senjatanya tepat ke dahi sang pemimpin bayaran yang kini mematung pucat pasi.
"Ikat dia," perintah sang komandan pasukan dengan suara dingin tanpa ampun.
Bergabung...
semoga cepat hamil lg agar keluarga Alexio semakin ramai 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰
semangat up thourr,, slalu setia menunggu 💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥
semangat thourr,, sehat slalu dan murah rezeki nya Aamiiin 🤲🤲🤲💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥