**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Pria Buruk
Haselyn memungut sisa-sisa pakaiannya dengan tangan gemetar. Jemarinya begitu kaku hingga beberapa kali ia kesulitan mengenakannya. Napasnya tidak teratur, sementara air mata terus membasahi wajahnya.
Kevin hanya menatap dalam diam. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi setiap kata terasa tidak berarti di hadapan luka yang telah ia sebabkan.
Haselyn sama sekali tidak memandangnya. Tatapannya kosong, seolah jiwanya masih tertinggal di tempat itu. Dengan susah payah, ia mencoba berdiri.
“Ah…” Rintihan pelan keluar dari bibirnya ketika rasa sakit membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Haselyn hampir terjatuh, tetapi ia memaksa dirinya tetap tegak.
Kevin refleks melangkah mendekat dan meraih pergelangan tangannya. “Jangan pergi …” Suaranya tercekat.
“Aku harus bagaimana? Tolong katakan padaku. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan melakukan apa pun.”
Haselyn menoleh perlahan. Tatapannya dipenuhi kebencian, ketakutan, dan kekecewaan yang begitu dalam. “Jangan sentuh aku.” Suara itu pelan, tetapi penuh penolakan.
Ketika Kevin masih menggenggam tangannya, Haselyn menggigit tangan pria itu sekuat tenaga.
“Ah!” Kevin refleks melepaskan cengkeramannya.
Tanpa menunggu sedetik pun, Haselyn berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Langkahnya tertatih, tubuhnya gemetar, tetapi ia terus memaksa dirinya menjauh.
Yang ia inginkan hanya satu. Pergi sejauh mungkin dari pria itu.
“Hei, tunggu!” Kevin berteriak, tetapi Haselyn tidak menoleh.
Ia terus berlari hingga sosoknya menghilang di balik pepohonan. Kevin melangkah hendak mengejarnya, namun langkahnya terhenti. Ia menundukkan kepala, baru menyadari keadaannya yang berantakan.
Ia membeku di tempat. Tangannya yang masih meninggalkan bekas gigitan Haselyn terasa nyeri, tetapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibandingkan kenyataan yang baru saja terjadi.
Di tengah taman yang sunyi, Kevin berdiri sendirian, dihantam penyesalan yang datang terlalu terlambat. “Ah, sial!”
Kevin buru-buru mengenakan kembali pakaiannya. Begitu semua menutupi tubuhnya, ia langsung berlari menyusuri setiap sudut taman, mencari sosok gadis yang baru saja pergi meninggalkannya.
“Hei Tunggu!” Tidak ada jawaban.
Ia mempercepat langkahnya, menelusuri jalan setapak yang remang-remang, mengamati setiap bangku taman, setiap belokan, bahkan area yang tertutup rimbunnya pepohonan. Namun, gadis itu seolah telah ditelan malam.
Haselyn menghilang.
Pada akhirnya, Kevin kembali ke bangku taman tempat semuanya bermula. Tubuhnya terasa lemas. Ia menjatuhkan diri ke bangku itu dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
“Maafkan aku...” gumamnya lirih.
Suara itu nyaris tak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri. Rasa bersalah mencengkeram dadanya begitu kuat hingga membuatnya sulit bernapas. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kevin merasa begitu membenci dirinya sendiri.
Ia duduk di sana cukup lama, membiarkan udara malam menerpa wajahnya yang kusut. Berulang kali ia mengingat tatapan penuh ketakutan dan kebencian dari Haselyn. Setiap kali bayangan itu muncul, dadanya terasa semakin sesak.
Namun, seiring berjalannya waktu, Kevin sadar akan satu hal. Haselyn tidak mungkin kembali. Dengan langkah berat, ia akhirnya memutuskan pergi. Baru beberapa langkah meninggalkan bangku taman, kakinya tiba-tiba tersandung sesuatu.
“Ah!” Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Kevin menunduk dan menemukan sebuah ransel tergeletak di atas tanah. “Apa ini?”
Ia memungut tas itu dan mengamatinya sejenak. Tas tersebut tampak usang, tetapi terawat dengan baik. Dengan ragu, Kevin membuka resletingnya. Di dalamnya terdapat beberapa buku, alat tulis, dompet, dan beberapa barang pribadi lainnya.
Jantung Kevin berdegup lebih cepat. Tangannya segera meraih dompet itu dan membuka bagian identitas. Matanya terpaku pada kartu yang terselip di sana. Haselyn Afrasya.
Nama itu tertulis jelas di hadapannya. Kevin menutup mata sesaat. Entah mengapa, rasa lega justru menyelinap di tengah rasa bersalah yang menghancurkannya. Setidaknya sekarang ia memiliki petunjuk. Setidaknya ia masih memiliki kesempatan untuk mencari gadis itu.
Kevin menggenggam erat ransel tersebut. “Aku akan menemukanmu,” gumamnya pelan.
Tatapannya mengarah ke langit malam yang dipenuhi bintang. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia memiliki satu tujuan yang begitu jelas. Mencari Haselyn. Dan mempertanggungjawabkan semua yang telah terjadi.
Merasa pencariannya malam itu tidak akan membuahkan hasil, Kevin akhirnya memutuskan kembali ke mobilnya. Ia menyandarkan tubuh sejenak di kursi pengemudi, mengembuskan napas panjang, lalu mengambil ponselnya.
Tanpa membuang waktu, ia menekan sebuah nomor. “Datang ke rumah sekarang. Ada tugas penting untukmu.”
Suara Kevin terdengar dingin, tetapi sarat dengan ketegangan. Setelah mengucapkan kalimat itu, ia langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.
Mesin mobil kembali menyala. Sepanjang perjalanan menuju rumah, pikirannya dipenuhi bayangan wajah Haselyn yang menangis. Setiap kali mengingat tatapan penuh ketakutan gadis itu, rasa bersalah kembali menghantamnya tanpa ampun.
Setibanya di rumah, seorang pria telah menunggunya di ruang tamu. Arsya Asisten pribadi Kevin yang telah bekerja dengannya selama bertahun-tahun.
Kevin masuk tanpa banyak bicara. Wajahnya terlihat kusut, matanya merah, dan langkahnya lebih berat dari biasanya. Ia mengeluarkan kartu identitas yang ditemukan di dalam ransel Haselyn, lalu melemparkannya ke atas meja di hadapan Arsya.
“Cari dia. Secepatnya.”
Arsya menangkap kartu itu dan mengamatinya dengan bingung. Alisnya langsung berkerut ketika membaca identitas yang tertera di sana. “Haselyn Afrasya.”
Ia mengangkat pandangannya ke arah Kevin. “Untuk apa Tuan mencari anak SMA ini?” Nada suaranya dipenuhi kebingungan.
Selama bertahun-tahun bekerja dengan Kevin, belum pernah sekalipun ia melihat atasannya meminta seseorang dicari dengan ekspresi setegang ini.
Arsya kembali menatap kartu identitas di tangannya. “Dia masih siswa SMA…”
Ia memandang Kevin dengan sorot mata penuh tanda tanya. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Kevin menatap Arsya dengan sorot mata tajam. “Lakukan saja apa yang aku perintahkan. Jangan banyak bertanya.” Nada suaranya dingin dan tegas, membuat Arsya seketika terdiam. Namun, beberapa detik kemudian, alis Arsya berkerut.
“Tuan…” Tatapannya tertuju pada kemeja putih yang dikenakan Kevin. “Tuan terluka?”
Kevin mengernyit. “Terluka?”
Arsya menunjuk bagian depan kemejanya yang ternoda bercak darah.
Kevin langsung menunduk. Matanya terpaku pada noda merah yang mulai mengering di kain putih itu. “Ah…” Ia buru-buru memeriksa tubuhnya sendiri. Tangannya menyentuh lengan, bahu, dan sisi tubuhnya.
Tidak ada luka. Tidak ada rasa perih. Lalu darah itu milik siapa? “Darah apa ini…” Suara Kevin terdengar pelan, dipenuhi kebingungan.
Beberapa detik kemudian, wajahnya mendadak pucat. Ingatan tentang malam di taman itu menghantamnya tanpa ampun.
Kemeja yang sedang dikenakannya… Adalah kemeja yang sempat ia gunakan untuk menjadikan alas untuk tubuh Haselyn agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah.
Jantung Kevin serasa berhenti berdetak. Tangannya gemetar hebat ketika kembali menatap noda darah di kemejanya. Bercak itu bukan miliknya. Napasnya memburu. Bayangan Haselyn yang menangis, gemetar ketakutan, dan menatapnya dengan penuh kebencian kembali memenuhi kepalanya.
Rasa bersalah yang sempat ia tekan kini meledak jauh lebih besar. Kevin memejamkan mata, lalu mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Aku…” Suaranya tercekat.
Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya sendiri. Untuk pertama kalinya, kenyataan itu terasa begitu nyata. Apa yang telah ia lakukan bukan sekadar kesalahan. Ia telah menghancurkan hidup seorang gadis.
Arsya yang melihat perubahan ekspresi atasannya hanya bisa terdiam. Ia tidak pernah melihat Kevin kehilangan kendali sedemikian rupa.
Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Dan di tengah kesunyian itu, Kevin menyadari bahwa tidak ada penyesalan yang mampu menghapus apa yang telah terjadi malam itu.
“Aahhhh!”
Teriakan Kevin menggema di ruang tamu, membuat Arsya tersentak kaget.
Kevin mencengkeram rambutnya sendiri, lalu memukul kepalanya berulang kali seolah ingin menghancurkan ingatan yang terus menghantuinya. Napasnya memburu, matanya memerah, dan wajahnya dipenuhi penyesalan yang begitu dalam.
“Aku bajingan…”