Annisa menerima perjodohan kedua orang tuanya setelah mengetahui jika calon suaminya adalah cinta pertamanya.
Anissa yang awalnya bahagia berubah sedih ketika mengetahui bahwa suaminya sama sekali tidak mencintainya pada malam pertama mereka.
"Aku menikahimu hanya karena terpaksa. Aku telah memiliki seorang kekasih. Kami telah menjalin hubungan lebih dari 6 tahun. Jadi aku ingatkan, jangan berharap aku akan memberikan hak kamu sebagai istri."
Annisa memegang dadanya yang terasa sesak mendengar ucapan Farhan yang menusuk hatinya. Annisa mengira dia akan bahagia karena menikah dengan cinta pertamanya, tapi semua itu berubah setelah pernyataan yang membuat Anissa sadar. Bahwa dirinya tidaklah dicintai.
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan diriku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Empat. NTC.
"Selamat siang, Kak,"ucap Annisa menghilangkan kegugupannya karena menguping pembicaraan suaminya.
"Formal banget sih. Kayak ama siapa aja."
"Gimana badan Kak Farhan. Masih panas suhunya nggak?" tanya Annisa.
"Coba aja kamu pegang sendiri."
Annisa memegang dahi Farhan. Dia merasakan suhu tubuh Farhan udah mulai menurun.
"Makan dulu sup tulang ini. Seperti yang kak Farhan minta. Setelah itu minum obatnya. Jika masih panas,malam kita ke Dokter," ucap Annisa.
Annisa menyuapi Farhan. Sepiring nasi habis dilahapnya. Annisa memberikan obat untuk Farhan minum.
"Enak banget sup-nya. Jika aku nggak sakit, pasti tiga piring habis aku santap," ucap Farhan.
"Syukurlah jika Kak Farhan suka. Masih ada lagi. Nanti kalau kak Farhan pengin lagi, tinggal minta aja. Aku mau ke kamarku. Kak Farhan bisa istirahat. Aku mau selesaikan kerjaan dulu."
"Annisa ...." Baru tiga langkah Annisa melangkah Farhan memanggilnya.
"Ya. Ada apa, Kak?" tanya Annisa.
"Apa kamu nggak ada keinginan untuk tidur di sini denganku? Apa kamu masih belum bisa percaya denganku? Kamu belum bisa memaafkan kesalahanku?" tanya Farhan beruntun.
Annisa tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Farhan yang beruntun itu.
"Kak Farhan, aku telah memaafkan semua salahmu. Namun, aku butuh waktu untuk sesuaikan semua. Aku masih kaget dengan semua ini. Aku perlu waktu untuk dapat menerimanya."
"Baiklah, Annisa.Tapi jangan lama-lama penyesuaiannya. Aku juga butuh kamu disampingku,agar aku dapat melupakan Sherlin secepatnya."
"Aku akan berusaha membuat kak Farhan jatuh cinta padaku, tapi Kak Farhan juga harus membuka hati. Bagaimana aku bisa masuk ke hati Kak Farhan, jika hatinya di kunci dan di tutup dengan rapat."
"Aku akan mulai membuka hatiku, Nissa. Manusia itu mungkin memiliki fisik sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lain, tetapi terkadang tidak tahu. Bisa tidak tahu mengenai apa yang sudah dimilikinya, hingga tanpa sadar sudah kehilangannya. Namun terkadang tidak tahu apa yang sudah dilewati hingga pada akhirnya bisa menemukannya. Beruntung aku belum kehilanganmu dan mulai tersadar. Aku saat menjadi menusia yang paling bahagia. Iya, karena aku diberi pasangan yang bisa terima aku apa adanya. Terima kasih karena mau memberikan aku kesempatan."
"Kita sama-sama mulai membuka hati ini. Jika tidak ingin diragukan, maka tumbuhkanlah kepercayaan, tepati janjimu, dan hilangkan sikap yang membuat orang meragukanmu. Untuk membangun hubungan yang baik gunakan kepercayaan sebagai 'bata' dan kesabaran sebagai 'semen' karena terkadang perasaan cinta tidak cukup," ucap Annisa.
"Istirahatlah Kak Farhan!" ucap Nissa sebelum meninggalkan kamar Farhan.
Saat ini Annisa belum membuka hati sepenuhnya buat Farhan. Wanita itu takut terluka dan kecewa untuk kedua kalinya.
Mudah atau sulitnya menjalankan hubungan tergantung bagaimana caramu dalam menjaga hati.Menjaga hati akan membuatmu lebih memahami siapa yang pantas untuk dihargai dalam hati.
Annisa masuk ke kamar dan membuka laptopnya. Dia mengerjakan tugas yang tadi dikirim Atha. Pria itu menghubungi Annisa beberapa kali. Atha kuatir jika yang sakit itu Annisa, hingga tidak bisa masuk kerja.
Annisa akhirnya menjelaskan ketidak hadirannya karena Farhan suaminya sedang sakit. Awalnya Nissa hanya minta izin tidak masuk kerja dengan alasan ada keperluan, karena Atha mendesak akhirnya Nissa jujur.
Sore harinya, Farhan mengajak Nissa duduk di ruang keluarga sambil menonton. Nissa tadi sempat membuatkan camilan untuk mereka santap.
Sedang asyik menonton terdengar bunyi bel. Bibi membukakan pintu.
"Bapak, Ibu, ada tamu," ucap Bibi.
"Silakan aja masuk, Bi," ucap Nissa.
Tidak beberapa lama muncul seorang wanita dengan tersenyum semringah.
"Selamat sore Farhan, Annisa. Santai benar. Apa aku mengganggu?"
"Sherlin ...," ucap Farhan kaget.
...****************...
Bersambung