Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hasil taruhan
Malam semakin larut ketika deru mesin motor matic tua Rama akhirnya berhenti di depan bangunan petak kosnya. Udara dingin pasca gerimis masih terasa, namun malam ini, atmosfer di dalam kamar kos tipis itu tidak lagi terasa menyesakkan seperti hari-hari sebelumnya. Rama melemparkan kunci motornya ke atas meja, lalu merebahkan tubuh atletisnya di atas kasur busa yang kempes. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba meresapi kenyataan bahwa lusa ia harus mengepak seluruh pakaiannya dan meninggalkan tempat ini.
Sambil berbaring, Rama merogoh ponsel dari saku celananya. Sesampainya dirumah, rama langsung menghubungi iwan dan menceritakan smuanya. Ia membeberkan setiap detail kejadian di kediaman Antasena, mulai dari saringan tes fisik, jebakan meja makan, pemeriksaan medis dengan botol plastik transparan, hingga keputusan mutlak Nyonya Antasena yang menyatakannya lolos dengan nilai sempurna.
Di seberang telepon, suara Iwan terdengar sangat tenang, tanpa ada nada terkejut sedikit pun.
"aku sudah tau bro..." kata iwan dengan nada santai, seolah-olah ia sudah memprediksi kemenangan sahabatnya sejak awal.
Rama mengernyitkan dahi. "Kamu sudah tahu?""Tapi kamu belum tau berapa yg ku hasilkan,"
Kata iwan dengan bangga.. Nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat ceria, dipenuhi dengan kepuasan seorang yang baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya.
"berapa" tanya rama, mulai terpancing rasa penasaran. Mengingat klan Antasena adalah keluarga konglomerat, pasar taruhan bawah tanah yang diikuti Iwan pasti melibatkan angka yang tidak main-main.
"tebak saja," kata iwan, sengaja menggantung jawaban untuk membuat Rama semakin gemas.
Rama mengembuskan napas panjang. Mengobrol lewat sambungan telepon yang tidak aman tentang kemenangan besar dan rencana kepindahannya ke kediaman Antasena rasanya kurang bijak. "mending kamu ke rumah ku," kata rama.. "ada sedikit yg aku mau bicarakan.
"ok ok baik aku segera kesana," sahut Iwan dengan sigap. Ia tahu bahwa momen ini adalah titik balik terbesar dalam hidup sahabatnya, dan mereka perlu merayakannya sekaligus membicarakan langkah pasti sebelum Rama berangkat lusa.
Sebelum Iwan menutup sambungan teleponnya, Rama buru-buru menambahkan satu permintaan. "tapi bawakan minuman dingin dan rokok enak wan," kata rama... Ia melirik ke arah cangkir kopinya yang sudah dingin dan bungkus rokoknya yang sudah kosong sejak tes malam tadi.
"hahaha beres bro tunggu saja," jawab Iwan sambil tertawa terbahak-bahak.
Panggilan pun berakhir.
Rama meletakkan ponselnya kembali di samping bantal. Di dalam kesunyian kamarnya, ia tersenyum tipis. Roda takdirnya kini benar-benar sudah berputar 180 derajat. Dari seorang pemuda yang meratapi nasib di atas kasur tipis karena kalah saing dengan sedan Eropa, kini ia bersiap untuk melangkah masuk ke dalam lingkaran klan paling berkuasa. Sekarang, ia hanya perlu menunggu Iwan datang membawa hasil taruhan gila mereka, sebelum ia benar-benar menutup lembaran lama hidupnya di kamar kos ini.
Suara deru mesin kendaraan yang berhenti di depan gang kos memecah keheningan malam yang kian larut. Tak lama iwan sudah datang ke kost rama. Langkah kakinya terdengar terburu-buru menaiki anak tangga semen yang sepi, menuju kamar petak di ujung lorong. Rama yang sejak tadi berbaring langsung menegakkan posisi duduknya begitu mendengar ketukan familier di pintu kayunya.
Namun diluar dugaan, Iwan tidak datang dengan tangan kosong atau sekadar membawa sebungkus rokok seperti biasanya. Iwan membawa 1 kantong plastik besar yang tampak penuh dan berbobot, membuat Rama sempat tertegun menatap barang bawaan sahabatnya itu.
"masuk wan," kata rama.. Ia menggeser sedikit tubuhnya untuk memberikan ruang di dalam kamar kosnya yang sempit.
Iwan melangkah masuk dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya, seolah beban dunia baru saja terangkat dari pundaknya. "nih kita makan dulu," kata iwan sambil meletakkan kantong plastik besar itu di atas lantai semen yang dingin, tepat di samping kasur tipis Rama.
Tanpa membuang waktu, iwan pun membuka kantong plastik itu dengan penuh semangat. Rama memperhatikan isi di dalamnya dengan mata yang sedikit melebar. Disana dia bawa 2 nasi bungkus beberapa minuman kaleng dan tak lupa rokok enak yg dipesan rama. Aroma gurih dari nasi bungkus hangat langsung menyeruak, memenuhi ruang kamar kos yang biasanya hanya berbau debu dan asap rokok murah. Iwan benar-benar mewujudkan permintaannya, bahkan memberikan lebih dari apa yang ia bayangkan.
Rama yang sejak sore belum sempat mengisi perutnya setelah rentetan tes medis yang melelahkan, menatap bungkusan makanan itu sebelum kembali melayangkan pandangan penuh selidik ke arah Iwan.
"brapa" tanya rama, kembali menagih jawaban tentang nominal uang taruhan gila yang berhasil dimenangkan sahabatnya di pasar bawah tanah.
Iwan terkekeh pelan sambil menyodorkan sebungkus nasi hangat ke tangan Rama. "makan saja," kata iwan... Ia membuka kaleng minumannya sendiri hingga terdengar bunyi desis yang segar. "aku menang banyak bro. klo saja tadi kamu minta traktir di restoran pun pasti aku kabulkan. tapi kamu minta cuma rokok sama minuman kaleng nah itupun aku kasih bonus nasi bungkus."
Mendengar kepolosan sekaligus kesombongan instan dari sahabatnya, Rama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Di saat Iwan berhasil meraup keuntungan besar dari taruhan namanya, dirinya justru hanya meminta kompensasi berupa minuman kaleng dan rokok untuk meredakan ketegangan batinnya.
"hedeh kamu ini," kata rama sambil membuka karet pengikat nasi bungkusnya.
Tawa kecil pelan akhirnya pecah di antara kedua sahabat itu di dalam kamar kos petak yang sunyi. Malam itu, di atas kasur tipis yang sudah kempes dan beralaskan lantai yang dingin, mereka merayakan sebuah kemenangan besar dengan cara yang paling sederhana. Sebuah perayaan terakhir sebelum lusa Rama harus melangkah pergi, meninggalkan dunia lamanya untuk menjemput takdir baru yang sesungguhnya di kediaman mewah Keluarga Antasena.