Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 SERANGAN DAN BALASANNYA

Malam operasi itu, mansion Prakoso seolah membeku dalam waktu.

Maya duduk di perpustakaan, kaki terlipat di bawah tubuh, matanya terpaku pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Ponsel itu bisu. Sudah dua jam ia begitu, sejak Bara dan ayahnya berangkat ke pelabuhan. Dua jam penuh keheningan, kegelapan, dan penantian yang menggerogoti isi perutnya.

Marta masuk membawa nampan berisi teh yang tak pernah Maya minta.

"Nyonya, Anda harus makan sesuatu," kata kepala pelayan itu, meletakkan nampan di meja dengan gerakan yang tak menerima bantahan.

"Aku tidak lapar."

"Ini bukan soal lapar. Ini soal menjaga pikiran tetap jernih. Tuan Prakoso pasti tak ingin pulang dan mendapati Anda pingsan karena stres."

Maya mengangkat wajah. Memar di pipi Marta sudah berganti warna: kini lingkaran keunguan dengan tepian menguning, seperti bunga yang layu. Sudah berhari-hari perempuan itu tak mengeluh, tak minta libur, tak menunjukkan setitik pun kelemahan.

"Marta," ucap Maya. "Apa kamu takut?"

Marta terdiam sejenak. Lalu, perlahan, ia mengangguk.

"Ya, Nyonya. Saya takut. Tapi bukan untuk diri saya. Untuk beliau. Untuk Tuan Prakoso."

Maya mengernyit.

"Kenapa? Beliau tahu apa yang dilakukannya."

"Justru itu yang membuat saya takut," jawab Marta, suaranya nyaris hanya bisikan. "Sejak Nyonya datang, beliau berubah. Dulu beliau dingin, penuh perhitungan, selalu menakar setiap langkah. Sekarang... sekarang beliau nekat. Terlalu nekat. Dan semua itu demi melindungi Anda."

Marta berbalik dan keluar dari perpustakaan sebelum Maya sempat menjawab.

Maya termangu menatap pintu yang tertutup, teh mendingin di atas meja, dan ponsel yang membisu di bawah jarinya.

Semua demi melindungi Anda.

Kalimat itu bergema di kepalanya bagai lonceng.

* * *

Di pelabuhan, malam punya wajah yang lain.

Bara dan Bramantyo bergerak di antara bayang-bayang peti kemas, langkah mereka teredam aspal yang basah oleh gerimis yang baru reda. Gudang utara pelabuhan menjulang di depan mereka, sebongkah beton bertulang kelabu dengan pintu logam yang tampak sanggup menahan hantaman rudal.

"Di sana," bisik Bramantyo, menunjuk sebuah pintu samping kecil yang nyaris tak terlihat di antara bayangan. "Itu pintu untuk pegawai. Ayah saya menyuruh membangunnya untuk keadaan darurat. Mahendra tidak tahu pintu itu ada."

"Bagaimana mungkin dia tidak tahu?" tanya Bara, matanya menyapu sekeliling mencari penjaga.

"Karena ayah saya tak pernah memercayainya. Tidak pernah. Sejak kami muda, beliau sudah tahu Mahendra seorang oportunis. Beliau berpesan di ranjang kematiannya, 'Hati-hati dengan adikmu, Bramantyo. Dia tak bisa dipercaya.' Saya tak mengindahkannya. Saya tetap menyayanginya, apa pun yang terjadi. Dan lihat saya sekarang."

Bara tak berkata apa-apa. Ini bukan saatnya untuk kata-kata penghibur yang kosong.

"Kuncinya," ucapnya, mengulurkan tangan.

Bramantyo mengeluarkan seuntai kunci dari saku dalam jasnya. Bukan kunci biasa. Kepingan-kepingan logam tua, aus dimakan waktu, dengan lapisan patina yang bercerita tentang puluhan tahun pemakaian.

"Ini yang asli," katanya sambil menyerahkannya. "Ayah saya menyuruh seorang pandai besi menempanya. Tak ada salinannya."

Bara mengambil kunci itu dan menuju pintu samping. Bramantyo mengikuti, jantungnya berdegup keras di dada.

Kunci pertama masuk ke lubang dengan bunyi klik logam. Kunci kedua, yang lebih kecil, mematikan sistem alarm yang dipasang Mahendra bertahun-tahun lalu. Kunci ketiga membuka pintu.

"Masuk," bisik Bara, menggenggam pistol yang terselip di ikat pinggangnya.

Mereka masuk.

Bagian dalam gudang berbau lembap dan logam, aroma barang yang tertimbun bertahun-tahun, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang seketika dikenali Bara: bau kokain mentah. Aroma asam, kimiawi, yang tak mungkin salah bagi orang yang tumbuh di jalanan tempat barang itu mengalir bagai darah dalam nadi.

"Di sini," kata Bramantyo, menunjuk deretan peti kayu yang bertumpuk di dinding. "Peti-peti itu tak seharusnya ada di sini. Gudang ini untuk barang legal: tekstil, kayu, makanan kemasan. Peti-peti itu tak cocok dengan satu pun kiriman yang tercatat."

Bara mendekati salah satu peti. Dengan pisau lipat dari sakunya, ia mencongkel tutupnya. Kayu berderak, serpihan beterbangan, dan isinya tersingkap.

Bal-balan. Bal-balan bubuk putih terbungkus plastik bening, dijejalkan rapat satu sama lain bagai bata kematian.

"Sialan," gumam Bramantyo, mundur selangkah. "Banyak sekali. Banyak sekali."

"Ini belum apa-apa dibanding yang diedarkan Mahendra di gudang-gudang lain," jawab Bara, mengeluarkan ponsel dan mulai memotret. "Tapi ini cukup. Cukup untuk surat perintah penggeledahan. Cukup untuk menjebloskannya ke penjara."

"Dan kamu?" tanya Bramantyo, tatapannya campuran rasa penasaran dan curiga. "Bagaimana kamu bisa mengenali baunya?"

Bara menyimpan ponsel ke saku.

"Karena saya juga pernah berkecimpung di dunia ini, Pak Bramantyo. Tapi saya berhenti. Bertahun-tahun lalu. Bukan karena saya jadi orang baik, melainkan karena saya belajar bahwa uang mudah menuntut harga mahal. Sangat mahal."

Bramantyo menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk.

"Mungkin kamu tak seburuk itu, Prakoso."

"Jangan bilang siapa-siapa Anda mengatakan itu. Reputasi saya bisa hancur."

Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Bramantyo nyaris tersenyum.

"Ayo pergi," ucapnya. "Kita sudah dapat yang kita cari. Jangan mengulur nasib."

Mereka keluar dari gudang seperti saat mereka masuk: dalam senyap, di antara bayangan, langkah terukur dan napas tertahan. Mobil menunggu dua blok dari sana, mesin menyala, Bagas di balik kemudi.

Bara naik ke kursi penumpang depan dan menutup pintu.

"Telepon pengacara," katanya. "Besok kita ajukan laporannya. Mahendra Adiwangsa akan tumbang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!