Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror pertama
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra, menerangi kamar megah di lantai tiga kediaman Aurora. Di atas tempat tidur king size, Sena yang kini mendiami tubuh Estella di masih terlentang tak berdaya. Gaya tidurnya benar-benar jauh dari kata anggun. Baju tidur sutra putihnya sudah tersingkap hingga memperlihatkan paha mulusnya, kakinya menumpang di atas guling, dan mulutnya sedikit terbuka saat ia bermimpi sedang makan bakso urat di pinggir jalan.
Klek.
Pintu kamar terbuka perlahan. Bi Mina, kepala pelayan senior yang sudah melayani keluarga Aurora sejak lama, melangkah masuk membawa nampan berisi segelas air hangat. Namun, langkah kakinya seketika terhenti di samping tempat tidur. Bi Mina membelalakkan mata melihat posisi tidur nonanya.
"Nona Estella... Bangun, Nona. Sudah pagi," panggil Bi Mina lembut seraya menepuk-nepuk pelan bahu Sena.
Sena menggeliat malas. Tanpa membuka mata, ia malah mengigau khas warga negara ber-62. "Eungh... Mak, jangan bangunin dulu... Masih jam enam, lagian Abang Cilok belum lewat..."
Bi Mina berkedip bingung, keningnya berkerut dalam. Abang Cilok? Mak? bisik Bi Mina dalam hati. Seingatnya, Nona Estella selalu berbicara dengan nada lembut, bertata krama tinggi, dan tidak pernah mengigau menggunakan kata-kata aneh seperti itu. Tidurnya pun biasanya tenang dan sangat anggun bagaikan putri kerajaan, bukan acak-acakan seperti orang usai kena angin puting beliung.
"Nona? Hari ini ada kuliah pagi jam delapan..." ujar Bi Mina lagi dengan sabar.
Mendengar kata 'kuliah pagi', mata Sena seketika terbuka lebar!
"Hah?! Jam delapan?!" seru Sena histeris. Ia langsung duduk tegak hingga rambut panjang mewahnya yang bergelombang menjadi megap-megap kusut.
Dengan langkah gontai dan nyawa yang baru terkumpul separuh, Sena menyeret kakinya menuju kamar mandi mewah di sudut ruangan. Begitu melihat bathtub marmer berukuran raksasa yang sudah terisi air hangat aromaterapi, Sena langsung menceburkan dirinya. Sensasi hangat air lavender itu sedikit menenangkan saraf-saraf otaknya yang tegang.
Namun, lamunannya kembali terputus saat melirik jam dinding di kamar mandi. "Mampus! Tinggal empat puluh menit lagi!"
Sena melompat keluar dari bathtub, membasuh diri kilat, dan berlari keluar kamar mandi hanya berpakaian handuk. Ia mulai bersiap-siap secara grasak-grusuk—melempar-lempar baju di dalam lemari, mengeringkan rambut dengan hairdryer kecepatan maksimum, dan hampir tersandung karpet mewahnya sendiri.
Bi Mina yang berdiri di luar kamar hanya bisa melongo menyaksikan Nona Muda-nya yang biasanya tenang dan gemulai kini bertingkah seperti buronan yang dikejar waktu.
Meski grasak-grusuk, Sena punya prinsip teguh: Sudah dikasih muka cantik bak dewi, haram hukumnya tampil kentang! Tebar pesona nomor satu!
Dengan lihai, Sena nge-curly bagian bawah rambut cokelat gelapnya hingga mengembang indah. Ia memoleskan sedikit makeup natural—menyapu blush-on warna peach di pipi, serta mengoleskan lip tint berwarna ceri yang membuat bibirnya tampak segar dan merona. Untuk pakaian, ia memilih celana panjang highwaist berwarna hijau botol yang meliuk pas memeluk kakinya yang jenjang, dipadukan dengan kemeja putih kasual yang mencetak lekuk tubuhnya secara elegan. Ia menyambar tas bermerek Chanel berwarna senada, lalu berlari keluar kamar.
"Nona, sarapannya—"
"Gak sempat, Bi! Aku ambil apel aja, dadah Bi Mina!" potong Sena cepat seraya menyambar buah apel di meja makan dan berlari menuju garasi.
Beberapa saat kemudian, raungan mesin Porsche abu-metalik memecah keheningan pagi. Sena memacu mobil mewahnya dengan kecepatan penuh membelah jalanan kota. Berkat ingatan navigasi dari Estella, ia berhasil menemukan rute tercepat menuju kampus.
Begitu mobil mewahnya berbelok memasuki gerbang utama universitas, Sena langsung menginjak rem perlahan. Matanya membelalak lebar memandangi pemandangan di depannya.
Gedung-gedung fakultas berdiri megah dengan arsitektur klasik berpadu modern, dilapisi kaca-kaca tinggi dan pilar marmer putih. Lapangan parkirnya berisi jajaran mobil mewah kelas atas, dan taman kampusnya sangat luas dengan air mancur bertingkat di tengahnya. Lingkungan ini lebih mirip resor bintang lima daripada tempat menuntut ilmu!
Sena memarkirkan mobilnya, lalu keluar seraya membetulkan kemejanya. Jiwa rakyat jelatanya di dunia nyata seketika meronta-ronta menyaksikan kemewahan ini.
"Busettt..." bisik Sena penuh takjub, pandangannya berputar memperhatikan sekeliling. "Ini kampus apa istana presiden?! Gede banget gila! Dulu kampus gue mah parkiran aja kudu desak-desakan sama motor matic!"
Sena melangkah menelusuri koridor megah kampus setelah sempat melihat denah kelas di aplikasi ponsel milik Estella. Pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi, dinding berornamentik elegan, hingga lantai polished yang memantulkan bayangannya membuat napas Sena berkali-kali tertahan.
"Anjirr... gede banget," gumam Sena seraya melongo memperhatikan langit-langit koridor yang dihiasi ukiran klasik. "Istana presiden aja rasanya kagak begini amat! Ini tempat kuliah apa tempat retret para bangsawan sih?!"
Sepanjang jalan menuju ruang kuliah, tak sedikit pasang mata yang mencuri pandang ke arahnya. Wajah cantik bak dewi milik Estella, dipadu dengan gaya pakaian highwaist hijau botol dan kemeja putih yang pas di tubuh, benar-benar menyedot perhatian. Namun Sena yang di dalam hatinya masih berjiwa Sena si jomblo biasa hanya bisa membalas tatapan orang-orang dengan cengiran tipis canggung sambil terus melangkah cepat.
Begitu masuk ke dalam ruang kuliah yang luas dan berundak ala bioskop eksklusif, Sena mengambil tempat duduk di barisan tengah. Tak lama kemudian, dosen berjas rapi masuk dan mulai menyampaikan materi perkuliahan menggunakan layar proyektor raksasa.
Sena menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya menatap lurus ke arah slide presentasi, namun pikirannya melayang entah ke mana. Kalimat demi kalimat akademis yang diucapkan sang dosen masuk dari telinga kanan dan langsung keluar dari telinga kiri tanpa menyisa.
Perasaan gue dulu udah pernah kuliah sampai tuntas waktu jadi Sena... tapi kenapa otak gue sekarang kagak ada satupun yang nampung materi begini ya? batin Sena meratapi kapasitas otaknya yang mendadak tumpul. Dulu skripsi berdarah-darah, sekarang disuruh dengerin teori ekonomi makro lagi. Ya Tuhan, ampunilah hamba-Mu ini...
Dua jam berlalu seperti siksaan berdurasi panjang. Begitu bel tanda kelas berakhir berbunyi dan dosen melambaikan tangan, Sena menjadi orang pertama yang merapikan tas Chanel-nya dan ngacir keluar dari ruangan.
Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju area parkir VIP. Sinar matahari siang menyengat lembut kulitnya saat ia mendekati Porsche abu-metalik kesayangannya. Sena memencet tombol remot kunci, membuka pintu kemudi, lalu hempas duduk di atas jok kulit yang empuk.
Namun, baru saja ia menekan tombol engine start dan pendingin udara menyala, aroma busuk yang sangat menyengat langsung menyeruak membuhi seluruh kabin mobil.
"Huekkk!" Sena serta-merta menutup hidung dan mulutnya, matanya menyipit karena rasa mual yang luar biasa membakar tenggorokannya. "Aduh, apaan nih?! Gue kagak kentut di sini, kok baunya sampai kayak bangkai begini?!"
Sena mengedarkan pandangan ke sekeliling interior mobilnya yang mahal. Karpet bawah aman, jok penumpang depan bersih. Namun saat mata abu-abunya melirik ke arah celah di antara jok belakang... dadanya serasa berhenti berdenyut seketika.
"AAAKKKHHH!"
Sena menjerit histeris, tubuhnya terjungkal menyandar keras ke pintu mobil!
Di atas jok kulit bagian belakang, tergeletak seekor tikus berukuran cukup besar yang sudah tidak bernyawa. Yang membuat bulu kuduk Sena berdiri tegak bukan sekadar keberadaan bangkai tersebut, melainkan sebilah pisau lipat perak berkilat yang menancap tepat menembus tubuh tikus itu hingga menancap di permukaan kulit jok. Darah hitam yang sudah mengering melingkari area tancapan tersebut.
Jantung Sena berdegup kencang bak dentuman drum. Ia terengah-engah, peluh dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuknya. Napasnya naik turun teratur saat ia berusaha menguasai rasa panik yang merayapi otaknya.
Anjir... gue tahu ini kerjaan siapa! batin Sena menjerit dalam diam, mengingat kembali alur novel yang pernah dibacanya. Ini pola intimidasi halus khas Vex Noir! Dia sengaja ninggalin pesan begini buat menandai calon korbannya... Mampus gue, pria psikopat itu beneran udah mulai menargetkan Estella!
Sena menggigit bibir bawahnya erat-erat, memaksa dirinya untuk tetap tenang. Berteriak pingsan di sini tidak akan menyelesaikan masalah; justru itu hanya akan membuatnya makin tampak seperti mangsa yang lemah di mata sang pembunuh.
"Nggak... gue nggak boleh mati konyol jadi mainan bola dia!" gumam Sena dengan mata berbinar penuh ketegasan yang nekat. "Gue harus bisa nemuin dia dulu sebelum nyawa gue yang dia temui!"
Mengumpulkan keberanian yang tersisa, Sena meraih beberapa lembar tisu tebal dari dasbor. Sambil memalingkan wajah dan menahan napas rapat-rapat demi mengabaikan bau busuk tersebut, tangan Sena yang agak bergetar dengan sigap mencabut pisau beserta bangkai tikus itu, lalu membungkusnya rapat-rapat menggunakan tisu dan kantong plastik bekas belanjaan yang ada di mobil.
Ia keluar dari mobil dengan cepat, melemparkan kantong pembungkus itu ke dalam tong sampah besar di ujung area parkir. Setelah itu, ia merogoh ponselnya dan memanggil layanan jasa auto-detailing panggilan berbiaya tinggi.
"Halo? Mas, tolong ke parkiran kampus utama sekarang ya. Mobil saya butuh deep cleaning dan sterilisasi total interior. Bayar berapa aja saya transfer sekarang, yang penting baunya hilang tuntas!" perintah Sena dengan nada tegas namun cepat, sebelum menyandarkan punggungnya di kap mobil sambil mengusap keringat dingin di dahi.
Ancaman itu nyata, dan permainan bertahan hidupnya telah resmi dimulai.