Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Misi

Viktor

Aku keluar dari kamar untuk memberi Ekaterina privasi berganti pakaian.

Aku bersandar ke dinding lorong rumah sakit dan mengusap wajahku yang lelah.

Hal terakhir yang kubutuhkan adalah telepon itu.

Karena aku melihat persis momen ketika Ekaterina kembali menegakkan tembok di antara kami.

Dan sekarang rasanya setiap kemajuan di antara kami hancur bahkan sebelum sempat terjadi.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.

Ibuku keluar lebih dulu.

Ekaterina menyusul di belakangnya.

Dia mengenakan pakaian yang nyaman, rambutnya diikat sederhana, dan masih tampak terlalu lelah.

Meski begitu...

Cantik.

Kuambil tasnya tanpa berkata apa-apa dan berjalan di samping mereka berdua menuju lift.

Di perjalanan, ibuku memecah keheningan.

"Sebaiknya kau tinggal di rumahku beberapa hari, sayang."

Ekaterina meliriknya sebentar.

Lalu mengangguk tanpa membantah.

"Baiklah."

Itu mengejutkanku.

Karena aku mengira dia akan menolak.

Di tempat parkir, kubukakan pintu mobil untuk Ekaterina masuk.

Ibuku masuk setelahnya, tapi sebelum itu dia melempar tatapan begitu mematikan ke arahku sampai aku nyaris tertawa.

Jelas dia masih kesal padaku.

Kuambil kemudi dan menyetir pulang dalam diam.

Lewat kaca spion kulihat Ekaterina memandangi segalanya dari jendela.

Diam.

Termenung.

Ketika gerbang terbuka, kusadari matanya menyusuri luasnya properti itu.

Ibuku langsung menuntun Ekaterina masuk begitu aku memarkir mobil.

Aku menyusul di belakang.

Begitu masuk ke ruang tamu, kami mendapati Olga dan Lisbela sedang bermain boneka di karpet.

Detik Lis melihat Ekaterina, matanya berbinar.

"Kathy!"

Dia langsung berlari menghampiri.

Tapi memperlambat langkah sebelum sampai, memeluk Ekaterina hati-hati karena kehamilannya.

Ada yang berdesir pelan di dadaku melihat pemandangan itu.

"Aku kangen...," gumam Lis. "Dan aku berdoa supaya kau cepat pulang."

Ekaterina tersenyum untuk pertama kalinya sejak kemarin.

Senyum kecil.

Tapi tulus.

Dia mencium kepala Lisbela penuh sayang.

"Aku sudah pulang, tuan putri."

Olga mendekat setelahnya dan memeluk Ekaterina dengan lembut.

"Syukurlah kalian berdua baik-baik saja."

Ibuku langsung mengambil alih keadaan.

"Sekarang dia butuh istirahat."

Olga langsung setuju.

"Tentu saja."

"Dia akan tinggal di kamar lama Olga untuk sementara," putus ibuku.

Aku bahkan tak berpikir sebelum bertindak.

Aku hanya mendekat dan menggendong Ekaterina.

Dia terkesiap kecil sambil refleks memegang bahuku.

"Viktor—"

"Biar kubawa kau."

Aku tak memberi ruang untuk berdebat.

Aku menaiki tangga sambil menggendongnya, merasakan tatapan ibuku dan Olga membakar punggungku.

Tapi sejujurnya?

Aku tak peduli.

Ekaterina tak mengalihkan matanya dari mataku sepanjang perjalanan.

Mata biru itu terpaku pada mataku dengan cara yang membuat dadaku terasa sesak.

Aku masuk ke kamar perlahan dan membaringkannya di ranjang dengan hati-hati.

Dia langsung menyilangkan tangan, sedikit kesal.

"Aku bisa jalan sendiri."

Aku nyaris tersenyum.

Karena setidaknya ini terasa sedikit seperti Ekaterina yang biasa.

Aku mendekat, cukup untuk menjawab pelan:

"Aku tahu."

Kuusap perlahan sisi pinggangnya sebelum melanjutkan:

"Tapi tak perlu."

Aku menatap Ekaterina terlalu lama.

Dia menyadarinya.

Tentu saja dia menyadarinya.

Mata biru itu tetap terpaku pada mataku sementara keheningan kembali tumbuh di antara kami.

Ada begitu banyak yang ingin kukatakan.

Bahwa telepon itu tak berarti apa-apa.

Bahwa aku tak lagi bisa memandang perempuan lain tanpa membandingkannya dengannya.

Bahwa aku sedang berusaha, sialan.

Berusaha menjadi orang yang lebih baik.

Tapi Ekaterina tetap tertutup di balik tembok tak kasatmata itu.

Maka aku hanya menelan semuanya.

"Kalau butuh apa-apa... kau bisa memanggilku."

Dia tetap diam.

Ada yang menyesak pelan di dadaku.

Aku memberi isyarat dengan kepala ke arah pintu.

"Kamarku ada di seberang."

Masih tak ada jawaban.

Hanya tatapan waspada itu, yang seolah selalu menahanku beberapa langkah darinya.

Aku mengangguk pelan, meski membenci ini.

Lalu aku keluar dari kamar.

Kututup pintu di belakangku dan berjalan langsung ke kamarku.

Begitu masuk, kutanggalkan kemejaku dengan kesal dan pergi ke kamar mandi.

Air dingin sedikit menjernihkan kepalaku, tapi tak cukup.

Karena Ekaterina masih memenuhi seluruh pikiranku.

Cara dia menatapku di rumah sakit.

Pelukan itu.

Lalu dinginnya.

Seolah dia sedang bertarung melawan dirinya sendiri agar tak memercayaiku.

Aku keluar dari kamar mandi, berganti pakaian cepat-cepat, dan melihat ponselku penuh pesan yang kuabaikan.

Secret tak berhenti hanya karena hidupku jadi kacau.

Sialnya aku harus bekerja.

Tapi sebelum keluar, mataku otomatis berhenti di pintu kamar seberang kamarku.

Kamarnya.

Dan dorongan untuk masuk ke sana lagi begitu absurd. Tapi aku tak masuk.

Dalam beberapa menit aku sampai di Secret.

Baru saja aku melangkah masuk, Tatiana sudah muncul di lorong dengan map di tangan dan ekspresi yang berarti masalah.

"Tidak," kataku bahkan sebelum dia membuka mulut.

Dia mengangkat alis.

"Kau bahkan belum tahu apa isinya."

"Dari wajahmu, aku tak mau tahu."

Tatiana mengabaikan suasana hatiku yang buruk dan melempar map itu ke dadaku.

"Misi."

Kubuka dengan kesal sambil kami berjalan.

Dan aku nyaris menggeram ketika melihat lokasinya.

"Ini jauh sekali."

Tatiana terus berjalan santai di sampingku.

"Makin cepat kau berangkat, makin cepat kau pulang."

"Aku benci kalau kau bersikap seperti ibuku."

Dia tersenyum tanpa sedikit pun rasa bersalah.

"Karena kami berdua selalu benar."

Aku memutar bola mata.

Informasi misinya sederhana.

Sasaran.

Lokasi.

Eksekusi bersih.

Satu target untuk dihabisi.

Sekadar hari biasa dalam hidupku.

Lalu kenapa rasanya kepalaku tertinggal di kamar seberang kamarku?

Kututup map itu perlahan.

Karena meski mencoba fokus pada pekerjaan...

semuanya kembali pada Ekaterina.

Cara dia memelukku.

Lalu tatapan menjauh gara-gara telepon terkutuk itu.

Kuusap tengkukku, kesal pada diriku sendiri.

Tatiana langsung menyadarinya.

"Ayo, Om Viti," Tatiana mendesakku sambil tertawa. "Perintah dari Maxim."

"Aku mau pergi membunuh seorang pria, dan kepalaku masih saja tertinggal pada perempuan itu."

Tatiana menyilangkan tangan.

"Itu namanya jatuh cinta, Viktor."

Aku memasang wajah masam.

"Penyakit konyol macam apa itu."

Dia tertawa kecil.

Tapi lalu berubah serius.

"Yang penting jangan sampai itu membuatmu lengah di lapangan."

Mataku otomatis kembali ke ponsel di sakuku.

Dorongan yang absurd untuk mengiriminya pesan.

Menanyakan apakah dia sudah makan.

Apakah sudah istirahat.

Apakah sudah lebih baik.

Aku tak pernah seperti ini.

Tak pernah perlu tahu apakah seseorang baik-baik saja.

Tapi sekarang...

Sekarang rasanya mustahil untuk tak memikirkannya setiap lima menit.

Aku menuju tempat parkir, masih kesal dengan misi ini.

Tapi kekesalan itu cepat memburuk.

"Selamat pagi, Om Viti!"

Langkahku melambat.

Aku menoleh.

Salah seorang anak buah tersenyum sambil memegang secangkir kopi.

"Apa?"

Dia berusaha menutupinya.

"Nggak ada apa-apa, Bos."

Aku terus berjalan dengan curiga.

Lalu yang lain muncul.

"Kerja bagus, Om Viti!"

Kupejamkan mata sedetik.

Tidak.

Tidak mungkin.

"Maxim...," geramku pelan.

Beberapa pria lagi melewatiku di lorong.

"Kerja bagus dalam mode keluarga, Om Viti."

"Bakal ada pesta bayi di Secret juga, Om Viti?"

"Pergi sana kalian semua."

Mereka langsung terbahak-bahak.

Aku sampai di tempat parkir sudah ingin membunuh seseorang bahkan sebelum misi dimulai.

Dan kutemukan Maxim bersandar di mobilku dengan senyum menyebalkan di wajahnya.

Tentu saja.

Pasti dia.

"Kau yang menyebarkannya."

Maxim bahkan tak berusaha menyangkal.

"Secara teknis itu Lisbela. Dia yang bertanya ke beberapa anak buah apa mereka melihat Om Viti-nya..."

Aku menudingnya.

"Akan kubunuh kau."

Dia tertawa tanpa sedikit pun rasa takut.

"Santai. Mereka suka fase kebapakanmu."

Kuusap wajahku, kehabisan kesabaran.

"Aku memimpin para pembunuh profesional."

"Dan sekarang juga jadi om favorit seorang anak lima tahun."

Bajingan.

Maxim mendekat sambil masih tertawa.

"Tahu bagian terburuknya?"

"Aku tak mau tahu."

"Kau bahkan tak sadar seberapa besar kau sudah berubah, Viktor..."

Itu membuatku terdiam setengah detik.

Karena dia tak sepenuhnya salah.

Sebelum Ekaterina dan Lisbela...

Aku tak pernah membiarkan siapa pun sedekat ini.

Tak pernah mau.

Sekarang ada seorang anak yang memanggilku Om Viti dan seorang perempuan yang mengisi setiap ruang di kepalaku.

Dan sejujurnya?

Itu tak lagi membuatku takut...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!