Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Ibu Tiri
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.

Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.

Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.

yuk ikuti kelanjutannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.14 Ke sekolah Emily

"Ayo mami Luna...!" teriak Emily penuh semangat sambil menggendong tas sekolahnya di punggung.

"Iya sayang," ucap Luna sambil bergegas berjalan menghampiri Emily yang sudah tidak sabar menunggunya itu.

"Yuk," Luna menggandeng tangan Emily berjalan ke teras depan mansion, sementara Leon juga berjalan di belakang Emily dan Luna.

Pengawal Leon yang sudah siap di samping mobil mewah milik Leon itupun langsung membukakan pintu mobil untuk Leon dan Luna.

Leon duduk di kursi depan di sebelah sopir sementara Luna dan Emily duduk di kursi tengah, Setelah semua masuk mobil pengawal Leon pun mulai mengemudikan mobil itu menuju ke sekolahan Emily.

Sepanjang perjalanan terlihat Emily sangat senang sekali, dia banyak bicara dengan Luna sampai membuat Leon tersenyum dalam hatinya melihat tingkah lucu Emily yang selama ini tidak pernah dia lihat.

"Mami Luna?"panggil Emily pada Luna yang duduk di sebelahnya itu.

"Ya...," Luna menoleh pada Emily.

"Emily punya tebakan," ucap Emily sambil memiringkan kepalanya menatap Luna.

"Apa coba?"goda Luna pada Emily.

"Hewan, hewan apa yang suka ngambek? Hayo...?" ucap Emily pada Luna.

Luna mengerutkan kedua alisnya sambil berpura--pura berfikir "Hewan apa ya....?" kata Luna.

"Bisa gak...kalau gak bisa jawab Emily kasih hukuman buat mami Luna," ucap Emily tertawa kecil menertawakan Luna.

"Apa hukumannya?" tanya Luna pada Emily sambil mengangkat kedua alisnya.

"Hukumannya, mami Luna harus tungguin Emily sampai pulang sekolah nanti," Emily menatap Luna dengan kedua bola matanya yang bulat itu.

Luna menipiskan bibirnya menatap Emily"Ya udah deh mami Luna nyerah, mami Luna gak tahu jawabannya," ucap Luna pasrah.

"Jawabannya adalah....kucing Emily kalau gak di kasih makan dong....kan jadinya ngambek karena lapar," Emily terkekeh menatap Luna yang sudah kalah darinya.

Luna menoleh pada Emily "Emily curang ya....awas kamu, mami Luna akan gigit Emily nanti," canda Luna pada Emily sambil tersenyum, Luna menggelitiki tubuh Emily berulang-ulang dengan gemas sampai membuat Emily terkekeh-kekeh.

"Ampun....mami Luna, ampun...Emily gak akan curang lagi, janji...," ucap Emily pada Luna.

"Oke, janji ya," Luna mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Emily dan seketika Emily menautkan jadi kelingkingnya pada jari kelingking Luna.

Dan tanpa sadar Leon yang sedari tadi mendengarkan candaan antara Emily dan Luna jadi ikut tersenyum samar sambil tetap fokus menatap jalan yang terpampang di hadapannya itu.

Pengawal Leon yang sedang menyetir itu tidak sengaja menoleh pada Leon dan memergokinya tersenyum tadi "Tumben Tuan bisa tersenyum," batin pengawal itu yang belum pernah sedetikpun melihat senyuman di bibir Leon.

Dan akhirnya mobil mewah itupun berhenti di depan sebuah sekolah elite taman kanak-kanak yang ada di kota itu.

"Tuan, saya menunggu Non Emily sampai pulang sekolah nanti," ucap Luna sebelum dia turun dari mobil.

"Iya," ucap Leon tanpa menoleh pada Luna yang masih duduk di kursi tengah mobilnya itu.

Dan setelah itu Luna pun turun bersama Emily dan menggandeng tangan Emily memasuki halaman sekolah.

Emily berjalan sambil menari-nari di gandeng Luna, Emily terlihat sangat bahagia sekali di antar oleh Luna pagi ini.

Dari dalam mobil Leon menatap Emily dan Luna yang sudah masuk ke dalam halaman sekolah.

"Nona Emily kelihatan sangat bahagia sekali hari ini, Tuan," celetuk pengawal Leon saat melihat Leon yang masih memperhatikan Luna dan Emily masuk ke halaman sekolah itu.

"Hmm," sahut Leon yang kemudian buru-buru mengalihkan pandangannya dan berkata pada pengawalnya " Jalan," Dengan segera pengawal itupun mengemudikan mobilnya lagi menuju ke kantor Leon.

"Nanti kalau di dalam kelas, Emily jangan nakal ya...harus mendengarkan ibu guru, tidak boleh bermain sendiri, mengerti...?" Luna memberikan nasehat pada Emily sebelum dia masuk ke dalam kelas.

Emily menganggukkan kepalanya "Iya mami Luna," jawab Emily patuh.

Bel tanda masuk sekolah sudah berbunyi dan Emily pun beranjak dari tempat duduknya, Luna mengulurkan tangan kanannya pada Emily, Emily menyambutnya dan mencium punggung tangan Luna dengan takjim hal yang sudah tidak pernah dia lakukan sejak ibunya meninggal tiga tahun lalu.

Luna tersenyum dan sangat tersentuh dengan sikap hormat Emily, orang tua Emily sudah berhasil mendidik adab Emily meski Luna bukan ibu kandungnya tapi Emily tetap mau mencium tangannya dengan hormat, Luna melambaikan tangannya saat Emily sudah berjalan memasuki kelasnya.

"Tuan Leon adalah seorang pimpinan mafia yang terkenal sangat dingin tapi dia sudah bisa mendidik adab Emily dengan baik, aku salut," gumam Luna saat Emily sudah menghilang dari pandangan matanya.

Tiba-tiba saja Luna di kejutkan oleh bunyi ponselnya yang berdering, Luna merogoh ponselnya yang dia letakkan di dalam tas pinggangnya itu "Susan," pekik Luna saat melihat panggilan telepon dari Susan sahabatnya itu.

"Halo Susan," jawab Luna saat sudah menerima telepon dari Susan.

"Luna.... Kamu kemana aja sih...sudah dua Minggu ini kamu gak masuk kerja, gak ada kabar beritanya juga, di telepon gak aktif," Susan nyerocos tapi buru-buru luna menimpali pembicaraan Susan "Ceritanya panjang Susan," ucap Luna pada Susan.

"Kamu sekarang ada di mana?" buru Susan pada Luna.

"Aku ada di taman kanak-kanak Pelita hati," ucap Luna.

"Oke, kalau begitu kita ketemuan di cafe yang terletak tidak jauh dari taman kanak-kanak itu, kamu tunggu aku di sana, kita ketemuan di sana, aku akan segera berangkat," Susan langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Luna.

Akhirnya Luna keluar dari sekolahan Emily dan berjalan ke sekitar sekolahan mencari cafe yang di maksud oleh Susan dan tak butuh waktu lama Luna sudah menemukan cafe tersebut,.

Luna berjalan memasuki cafe itu dan menunggu kedatangan Susan sambil duduk dan memesan minuman dan makanan untuk dia dan Susan.

Tak lama kemudian Luna melihat Susan yang sudah memasuki pintu cafe itu dan berjalan bergegas menuju ke arahnya.

"Luna...!" teriak Susan saking senangnya bertemu lagi dengan Luna tanpa menghiraukan orang-orang yang berada di dalam cafe menatap ke arah dirinya.

Luna berdiri dan menyambut kedatangan Susan mereka berpelukan melepaskan rindu "Kamu kemana aja selama ini Lun?" tanya Susan tepat di kuping Luna.

Luna melepaskan pelukannya dari Susan dan duduk di kursi, Susan pun duduk di kursi di hadapan Luna " Ceritanya panjang Susan," ucap Luna sambil menarik napas panjang. Susan menatap Luna sambil mengerutkan kedua alisnya "Panjang? Maksudnya Lun?" tanya Susan bingung.

Luna menatap Susan bersiap untuk bercerita "Malam itu di rumah kontrakan Bibik kamu Leon datang menemui aku dan Emily, awalnya dia mencurigai aku karena sudah dua hari aku tidak menghubunginya memberi kabar tentang keadaan Emily, dia mengira kalau aku komplotan para penjahat yang akan menculik Emily."

"Nah kan, apa aku bilang kamu gak usah berurusan dengan Leon si mafia itu, terus gimana?" tanya Susan lagi.

"Tapi Emily membela aku, dia bilang ke papanya kalau aku orang yang baik dan sudah merawat dia dengan tulus selama berada di dalam persembunyian, Emily memohon pada Leon agar aku bisa pulang bersamanya."

"Terus...?" buru Luna.

"Entah kenapa tiba-tiba saja Leon melunakkan tatapan matanya padaku yang awalnya menatapku tajam sarat dengan aura pembunuh yang pekat."

"Terus.." ucap Susan sambil mendelik menatap Luna.

"Dia mengabulkan permintaan Emily dan membawaku pulang ke mansion miliknya dan setelah dua hari aku disana tiba-tiba saja Leon memanggilku masuk ke dalam ruang kerjanya yang bernuansa gelap," Luna menghentikan bicaranya menyeruput capuccino miliknya, sementara Susan yng tidak sabar menunggu cerita Luna selanjutnya langsung nyeletuk saja "Di dalam ruang kerjanya hanya kamu dan Leon berdua pasti kamu sudah di apa-apain sama si mafia itu! Iya kan Luna? Jawab aku Lun?" desak Susan tidak memberi Luna kesempatan untuk ngomong.

"Aku tidak di apa-apain sama Leon, Dia mengajukan sebuah perjanjian pernikahan kontrak dengan aku selama satu tahun dan setelah itu kita bercerai, tujuannya untuk mencari pengasuh Emily dan memulihkan mental Emily pasca di tinggal mamanya meninggal tiga tahun yang lalu."

"Lantas kamu menerima permintaannya untuk menikah kontrak dengan kamu!?" Susan menatap Luna lurus.

"Ya, aku menerimanya," ucap Luna tegas.

"Apa...!! Kamu jangan gila Luna...! Dia itu seorang mafia dan banyak di kejar-kejar penjahat dan musuhnya, bagaimana jadinya hidup kamu kalau kamu setuju menikah kontrak dengan dia...!!" Susan mendelik menatap tajam Luna yang duduk di hadapannya itu.

"Bagaimana lagi Susan, gaji yang di berikan untuk menjadi pengasuh Emily cukup besar dan itu bisa untuk membayar semua hutang-hutang Ibu dan hutang aku selama dia merawatku sedari kecil dan aku merasa lebih aman tinggal di kediamannya Leon daripada aku pulang ke rumah yang seperti neraka bagiku," Luna menarik napas panjang menatap Susan.

Susan terdiam sejenak tidak bisa berkata apa-apa lagi dan keduanya pun terdiam menciptakan atmosfer yang senyap di ruangan tempat mereka duduk.

Susan menarik napas dalam-dalam lalu berkata pada sahabatnya itu " Aku paham dengan penderitaan yang sudah kamu lalui sepanjang ini dan kalau memang jalan ini yang terbaik buat kamu aku tidak akan mencegahnya lagi karena semua itu kamu yang menjalaninya dan semoga prasangka burukku pada Leon tidak benar, mudah-mudahan dia mafia yang punya hati yang baik di balik wajahnya yang dingin dan sangar itu," Susan menggenggam telapak tangan Luna sambil tersenyum. "Terimakasih Susan, kamu adalah satu-satunya orang yang paling mengerti aku," ucap Luna sambil memeluk Susan. "Sama-sama, kalau kamu butuh teman untuk ngobrol jangan lupa hubungi aku ya," Susan melepas pelukannya dan memegang wajah Luna lembut dengan kedua tangannya. Luna tersenyum "Pasti," jawab Luna dan merekapun tersenyum bersama.

1
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
kuy double up kk 🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!