Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 30 — Kesalahpahaman
Mata Su Qin terbelalak lebar menatap tujuh penjaga elitnya yang kini terkapar mengerang di atas lantai kayu. Napasnya tertahan di kerongkongan.
'Kekuatan yang dimilikinya tidak mungkin dalam skala kultivator kota ini!' batin Su Qin menjerit, pikirannya berputar cepat. 'Apakah dia kultivator elit dari Sekte Pedang Mendalam yang sedang menyembunyikan identitasnya? Atau kultivator elit Sekte Pedang Tiran... Tidak, mereka tidak akan berani bertindak gegabah di tempat kecil seperti Kota Sungai Hijau yang dilindungi Sekte Pedang Mendalam. Atau... dia kultivator pengembara dari kota besar?!'
Keringat dingin mulai membasahi punggung gaun sutranya. Ia sadar, ia baru saja menendang pelat baja yang sangat tebal.
Drak!
Tiba-tiba, suara pintu ruangan yang didorong paksa memecah ketegangan. Seseorang melangkah masuk dengan langkah berat. Ia adalah seorang pria paruh baya yang sekiranya berusia 35 tahun ke atas, mengenakan jubah biru mewah.
"Ada apa ini?! Mengapa kalian begitu berisik!" bentak pria itu dengan wajah merah padam. "Suara keributan kalian sampai merusak telingaku di lantai atas!"
"A-Ah... Kepala Cabang!" Su Qin tersentak kaget.
Pria itu adalah Peng Wu, Kepala Cabang Paviliun Dagang Anggrek Merah di Kota Sungai Hijau. Ia melangkah masuk lebih dalam, didampingi oleh seorang pria tua bungkuk dengan tatapan mata setajam elang, Li Weinan, yang bertugas sebagai penilai harta utama paviliun.
Melihat kekacauan di ruangannya dan sosok misterius berjubah hitam yang berdiri tegak memancarkan aura menekan, alis Peng Wu bertaut tajam. Su Qin segera berlari kecil menghampiri bosnya, menunduk, dan membisikkan kronologi kejadian dengan suara bergetar.
Mendengar bisikan itu, wajah Peng Wu berubah drastis. Ia menoleh dan menatap Su Qin dengan murka.
"Dasar bodoh! Kau membuat tamu kehormatan kita marah! Seharusnya kau melayaninya dengan baik, bukan memancing keributan!" bentak Peng Wu tanpa memedulikan harga diri Su Qin. "Keluar dari sini! Sekarang!"
"Ba-baik, Kepala Cabang..." Su Qin menunduk dalam-dalam, menggigit bibirnya, lalu bergegas keluar ruangan dengan langkah gemetar, tak berani menatap pria bertopeng itu lagi.
Setelah pintu tertutup, Peng Wu terdiam sebentar. Pandangannya menelaah sosok bertopeng di depannya dari atas ke bawah.
'Siapa dia?' batin Peng Wu waspada. 'Auranya begitu kuat dan murni. Bahkan aku yang berada di Ranah Spiritual Mendalam Tahap Puncak ini dibuatnya merinding. Orang ini jelas bukan sembarang orang.'
Otak bisnis Peng Wu segera mengambil alih. 'Akan menjadi hal buruk jika Cabang Paviliun Dagangku membuat masalah yang tidak perlu dengan orang tak dikenal yang memiliki kekuatan mengerikan ini. Menambah musuh adalah pantangan terbesar dalam berdagang.'
Di sisi lain, Huo Li sama sekali tidak memberikan reaksi apa pun. Ia tetap berdiri diam seperti patung dewa kematian. Aura dari Ranah Surgawi Bintang 2 Tahap Akhir miliknya yang setara dengan Spiritual Mendalam Tahap Akhir sengaja tidak ia tarik, membiarkannya terus menekan seisi ruangan dengan fluktuasi yang teramat berat dan absolut.
Peng Wu akhirnya berdeham pelan, memecah keheningan. Ia menangkupkan kedua tangannya dan membungkuk sopan.
"Maafkan ketidaksopanan bawahan saya sebelumnya, Tuan. Perkenalkan, saya Peng Wu, Kepala Cabang Paviliun ini," ucapnya dengan nada penuh hormat. "Sebagai bentuk permintaan maaf atas kelancangan kepala pelayan saya, saya bersedia membeli barang apa pun yang ingin Anda transaksikan hari ini dengan harga 1,5 kali lipat dari harga pasar tertinggi. Bagaimana?"
Mendengar tawaran yang sangat menggiurkan itu, Huo Li... tetap tidak memberikan reaksi apa pun. Ia diam membisu di balik topengnya.
Keheningan itu perlahan membuat Peng Wu merasa sedikit kesal sekaligus cemas.
'Tawaran 1,5 kali lipat ini bahkan dapat membuat Tetua dari Keluarga Qu tertawa terbahak-bahak kesenangan!' batin Peng Wu jengkel. 'Tapi orang bertopeng ini bahkan tidak bergeming sedikit pun?!'
Rasa penasaran dan ketakutan mulai bercampur di dada Peng Wu. Walaupun ia bersikap sopan, ia tetaplah penguasa paviliun dagang yang memiliki pasukan penjaga tersembunyi. Tangan Peng Wu perlahan bergerak ke belakang punggungnya, bersiap memberikan isyarat rahasia untuk memanggil penjaga bayangan terkuat di paviliun ini.
Namun, tepat sebelum jarinya menjentik, Huo Li akhirnya membuka mulut.
"Informasi," suara Huo Li bergema berat, serak, dan penuh otoritas mutlak yang menggetarkan udara. "Yang aku butuhkan adalah Informasi. Aku tidak membutuhkan kristal spiritual atau barang murahan dari kalian."
Sontak, Peng Wu dan Li Weinan saling tatap dengan mata terbelalak.
'Barang murahan?! Beraninya dia menyebut kekayaan Paviliun Dagang Anggrek Merah sebagai barang murahan!' batin Peng Wu tersinggung, namun ia menelan amarahnya dan tidak berani mengatakannya secara langsung.
Dari balik lengan jubah hitamnya, Huo Li perlahan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna emas—kotak yang baru saja ia beli bersamaan dengan topeng dan jubahnya tadi. Ia meletakkan kotak itu di atas meja kayu di antara mereka.
"Bukalah," perintah Huo Li singkat.
Dengan tangan sedikit ragu, Peng Wu melangkah maju dan membuka kait kotak emas tersebut.
Cling...
Sebuah cahaya merah yang sangat jernih dengan pendar keemasan di bagian intinya langsung menerangi ruangan redup itu. Di dalam kotak tersebut, tergeletak sebuah kristal berukuran sebesar telur puyuh.
Kristal itu memancarkan fluktuasi energi yang begitu murni, padat, dan agung, hingga membuat energi spiritual di sekitar ruangan terasa seperti udara kotor.
Tentu saja, tidak ada seorang pun di ruangan itu—kecuali Huo Li, yang tahu apa nama benda tersebut. Itu sebenarnya adalah Kristal Surgawi Tingkat 2 miliknya. Huo Li sengaja memanipulasi tampilannya sedikit menggunakan ampas sisa energinya agar warnanya memerah, menyembunyikan identitas asli Kristal Surgawi yang berwarna emas murni agar tidak terlalu mencolok.
Namun, efek dari modifikasi asal-asalan itu justru di luar dugaan.
Li Weinan, si pakar penilai harta yang sejak tadi berdiri diam di samping Peng Wu, mendadak gemetar hebat. Matanya melotot nyaris keluar dari kelopaknya. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap kristal itu dengan mulut menganga seolah sedang melihat keajaiban dunia turun dari langit.
"I-Ini...!" napas Li Weinan memburu. Ia melihat pendar keemasan murni di dalam kristal merah tersebut. Pengetahuannya sebagai penilai harta langsung mencocokkannya dengan legenda material paling langka!
"Saudara Peng... tidak salah lagi..." suara Li Weinan bergetar, air mata haru nyaris menetes dari sudut matanya. "Ini... ini adalah Nadi Spiritual dan itu berada di tingkat 2! Nadi Spiritual ini adalah Inti dari urat bumi penyimpan energi spiritual!"
"A-Apa?!" Peng Wu tersentak mundur satu langkah.
Li Weinan menelan ludah dengan susah payah, jari-jarinya menunjuk kristal itu dengan gemetar. "Benda ini... bisa memperpanjang umur atau menembus kemacetan kultivasi secara instan seorang kultivator Spiritual Mendalam tahap puncak! Harganya... harganya bahkan setara dengan seribu Kristal Spiritual Tingkat 2!"
"APA?!" Peng Wu berteriak keras, rasa terkejutnya meledak tanpa bisa disembunyikan. Rahangnya jatuh. Seribu Kristal Spiritual Tingkat 2?! Itu adalah jumlah kekayaan yang luar biasa!
Di balik topeng logamnya, mata Huo Li membelalak lebar.
'UHUK!'
Huo Li nyaris terbatuk darah mendengarnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia harus mengerahkan seluruh sisa ketenangan mentalnya untuk tidak merusak postur berdirinya.
'Hah?!' batin Huo Li menjerit histeris. 'Seribu Kristal Spiritual Tingkat 2?! Hanya untuk satu buah kristalku ini?! Pak Tua itu pasti sudah gila!'
Untungnya, karena suara teriakan syok Peng Wu yang begitu keras dan fokus kedua pria itu yang terpaku pada "Nadi Spiritual tingkat 2 palsu" di atas meja, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari pundak Huo Li yang sempat bergetar sedetik karena menahan batuk.
Di tengah badai kejut di dalam kepalanya, Huo Li berusaha keras mempertahankan citra sosok agungnya, membiarkan kesalahpahaman gila ini mengalir.
sesuatu yg WAAAAH kah ??
hanya sebagai alat syarat sebuah kabupaten....!!
semua dkendalikan olh keluarga paling berpengaruh !!
layaknya negara konoha skrg ... wkwkwk
ngitulah kira³....🤣🤣