Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Terjebak Diantara Dua CEO
Rania mengembuskan napas panjang.
Hari ini terasa begitu melelahkan.
Setelah berbagai kejadian yang terjadi sejak pagi, tubuhnya mulai terasa tidak nyaman. Perutnya perlahan bergejolak, membuat rasa mual kembali muncul.
"Daffa..." panggilnya pelan.
"Hm?" Sahutnya.
"Aku mual." Rania berusaha melepaskan tangan Daffa yang masih melingkar di pinggangnya.
Namun baru saja ia berdiri. "Oek!" Rania buru-buru menutup mulutnya.
Daffa langsung bangkit. "Rania?" Pria itu segera menopang tubuh Rania yang terlihat kehilangan tenaga. Tangannya mengusap punggung wanita itu perlahan.
"Tenanglah. Aku di sini," ucap Daffa.
Rania menggeleng lemah. "Sungguh... aku merasa sangat mual. Biarkan aku pergi." Ia kembali menutup mulutnya, mencoba menahan rasa tidak nyaman yang semakin kuat.
Daffa memperhatikan wajah Rania beberapa detik, tangannya perlahan menarik tangan Rania dari wajahnya.
Rania mengernyit. "Daffa, apa yang—"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Daffa memiringkan wajah.
Bibir pria itu menyentuh bibir Rania. Hanya beberapa detik. Namun cukup untuk membuat Rania terkejut.
Mata Rania membulat.
Ia segera mendorong dada Daffa hingga pria itu mundur beberapa langkah.
"Daffa!" Napas Rania memburu.
Daffa justru tersenyum tipis. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. "Kenapa?" tanyanya tenang.
"Kau..." Rania tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Daffa hanya menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berbalik menuju meja kerja.
Ia membuka salah satu laci. "Baiklah." Daffa mengambil sebuah map berwarna biru.
"Karena Brian sudah memulai semuanya..." Ia meletakkan map itu di atas meja, "aku juga akan memulainya."
Rania mengerutkan kening. "Apa itu?"
Penglihatannya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi kini ia mulai mampu melihat bentuk benda dan beberapa tulisan dengan lebih jelas.
Rasa penasaran membuat Rania mendekati meja.
Daffa membuka map tersebut. "Ini pabrik teh herbal peninggalan ayahmu di desa."
"Lalu?" Tanya Rania, sorot matanya menatap map tersebut. "Apa telah terjadi sesuatu di pabrik?" tanyanya khawatir.
"Tidak." Jawaban Daffa terdengar datar.
Rania mengernyit.
"Hanya saja..." Daffa sengaja menghentikan ucapannya. Tatapannya berpindah dari berkas di tangannya kepada wajah Rania.
"Pamanmu sudah meninggal."
Rania membeku. Tidak mungkin, paman yang selama ini menjaga dirinya setelah kedua orangtuanya meninggal telah tiada. Sebelum Rania berkata, Daffa kembali melanjutkan.
"Dan sebelum meninggal, paman menyerahkan seluruh aset peninggalan kedua orang tuamu kepadaku." Senyum tipis muncul di wajah Daffa.
"Apa?" Rania langsung mengangkat wajah. "Itu tidak mungkin."
Tangannya mengepal. "Paman... dia..." Rania memejamkan mata. Kepalanya tiba-tiba terasa berat. "Dia tidak mungkin melakukan itu." Tubuh Rania perlahan kehilangan keseimbangan.
Daffa segera menangkapnya sebelum tubuh wanita itu menyentuh lantai. "Rania!" Namun wanita itu sudah tidak sadarkan diri.
Daffa menghela napas panjang. Ia menatap wajah Rania yang terkulai di dalam pelukannya.
Senyum tipis kembali muncul. "Lihatlah..." ia mengangkat tubuh Rania ke dalam pelukannya. "Sepertinya Tuhan memang selalu berpihak kepadaku."
Lalu Daffa membawa Rania menuju kamar.
"Sejak awal..." bisiknya. "kau memang ditakdirkan menjadi milikku, Rania."
Klik!! pintu kamar tertutup.
Siang pun berlalu dan sore hari tiba...
Sebuah berita kembali menggemparkan media.
Seorang wartawan berhasil mendapatkan foto Rania dan Daffa ketika keduanya terlihat keluar dari rumah sakit setelah melakukan pemeriksaan kandungan dan mata.
Berita tersebut menyebar dengan cepat.
Judul-judul sensasional bermunculan di berbagai media.
"Benarkah Keretakan Rumah Tangga Brian Aristama Disebabkan oleh Perselingkuhan?"
"Mantan Istri Brian Aristama Diduga Mengandung Anak Sahabatnya Sendiri!"
"Rania Almira dan Daffa Anggara Terlihat Bersama di Rumah Sakit!"
Tidak berhenti sampai di sana.
Spekulasi mengenai kondisi mata Rania juga mulai bermunculan.
Ada yang menduga kebutaan Rania disebabkan oleh sebuah tindakan kekerasan.
Bahkan ada pula yang mulai menuding Brian sebagai penyebab kondisi tersebut.
Dalam hitungan jam, nama Brian, Rania, dan Daffa menjadi bahan pembicaraan di berbagai media.
Sementara itu...
Di sebuah ruangan kerja yang berada di lantai tertinggi gedung Aristama Group, Brian duduk di balik meja kerjanya.
Tatapannya tertuju pada layar laptop.
Satu per satu berita tentang dirinya bermunculan.
Rio berdiri di hadapannya dengan wajah serius.
"Tuan, ini sama sekali tidak masuk dalam rencana."
Brian tidak menjawab.
"Apakah saya harus memberikan klarifikasi?" tanya Rio.
Brian perlahan mengangkat wajah. "Tidak perlu."
Rio mengernyit.
Brian justru tersenyum tipis. "Ini menarik," ucap Brian.
Tatapannya kembali jatuh pada layar laptop. "Orang-orang itu..." Ia menunjuk salah satu berita. "...justru sedang membantuku tanpa mereka sadari."
"Tapi, Tuan..." Rio terlihat ragu. "Nama Anda ikut terseret dalam pemberitaan negatif."
Brian tetap diam.
"Terutama mengenai kebutaan Nyonya Rania. Semua orang mulai menghubungkannya dengan Anda." Rio menarik napas. "Saya khawatir hal ini akan memengaruhi investor dan—"
"Cukup." Suara Brian memotong ucapannya.
Rio langsung terdiam.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu." Brian menutup laptopnya. "Pergilah."
Rio menundukkan kepala. "Baik, Tuan." Ia segera meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup.
Kini hanya tersisa Brian seorang diri. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada kursi.
Tatapannya kosong mengarah ke jendela besar di belakang meja.
Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresi dinginnya perlahan melunak.
"Rania..."bBrian mengembuskan napas panjang. "Aku ingin melihat wajahmu sekarang."
Tangannya mengepal perlahan. "Aku merindukanmu."
Tiba-tiba ponsel di dalam saku jasnya bergetar. Brian mengambilnya.
"Halo." Suara Robby terdengar dari seberang. "Tuan Muda..."
"Ada apa?" tanya Brian.
"Tuan Besar sudah siuman," ucap Robby.
Tubuh Brian langsung menegang. "Benarkah?"
"Ya." Robby menarik napas.b"Beliau terus memanggil nama Anda."
Tatapan Brian berubah. Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Kemudian pria itu bangkit dari kursinya.
"Aku segera datang." Brian mengambil jas hitam yang tergantung di sisi kursi.
Langkahnya tenang.
Tidak tergesa-gesa.
Ia meninggalkan ruangan. Pintu tertutup perlahan.
Dan beberapa menit kemudian, mobil Brian melaju meninggalkan gedung Aristama Group menuju rumah sakit.
Bersambung...