Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman pelan yang bergetar.
Nico melangkah masuk, menyusuri karpet tebal dengan derap sepatu kulit yang teratur dan penuh dominasi. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di sisi tempat tidur, berdiri tinggi tegap seraya menyilangkan tangan di dada.
Sepasang mata kelabunya menatap lurus ke arah Sienna dengan dingin, tajam, dan sama sekali tak menyisakan celah kehangatan.
Sienna menyusutkan tubuhnya ke belakang secara refleks. Jemarinya mencengkeram erat selimut putih yang menutupi dadanya, sementara mata cokelatnya yang redup menatap Nico dengan bauran rasa takut dan keputusasaan yang begitu pekat.
"Sudah bangun?" Suara Nico terdengar datar, begitu rendah hingga menyerupai desisan angin malam yang membekukan.
Sienna tidak menjawab. Tenggorokannya terasa sangat kering dan tercekik, seolah kata-kata telah punah dari bibirnya. Ia hanya mengangguk pelan dengan tubuh yang gemetar tipis.
Nico memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah pucat gadis di hadapannya tanpa ampun. "Dokter Leo bilang nyawamu hampir melayang semalam. Kau harus berterima kasih pada nasib baikmu, Sienna. Karena jika kau mati begitu cepat, dosa ayahmu tidak akan pernah terbayar tuntas."
Kata-kata itu menancap kaku di dada Sienna. Rasa sakit di jahitan lukanya yang baru dibebat ulang seakan tak sebanding dengan kekejaman tak bertepi dari pria ini. Sienna memejamkan matanya sejenak, membiarkan setetes air mata hangat meluncur melintasi pipinya yang tirus.
Di balik mantel cokelat tua yang terlipat di kursi samping tempat tidur, tersimpan kertas resep medis laboratorium yang membuktikan bahwa Christina Vance telah diracuni oleh arsenik jauh sebelum malam penembakan itu.
Kebenaran yang sanggup meruntuhkan seluruh alasan dendam Nico ada dalam genggamannya. Namun, melihat kebekuan dan amarah di mata pria itu, Sienna tahu ini bukan waktunya. Nico yang saat ini sedang tertutup dendam hanya akan menganggapnya sebagai rekayasa picik seorang anak pembunuh.
"Kenapa?" cicit Sienna, suaranya parau dan terputus-putus. "Kalau Tuan sangat membenci saya, kenapa tidak biarkan saya mati saja semalam?"
Nico melangkah satu pukulan lebih dekat. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan satu tangannya di atas kasur di samping kepala Sienna, mengunci gadis itu dalam jangkauan intim yang berbahaya.
"Mati adalah jalan keluar yang terlalu mudah untukmu Sienna," desis Nico tepat di depan wajah Sienna. Napasnya yang hangat dan beraroma maskulin terasa kontras dengan kekejaman kata-katanya.
"Kau akan tetap hidup. Kau akan berdiri di sampingku saat aku menghancurkan setiap orang yang terlibat dalam kematian ibuku. Dan kau akan menyaksikan bagaimana namamu dan ayahmu membusuk dalam sejarah sebagai seorang kriminal."
Sienna menatap langsung ke dalam manik mata kelabu yang dipenuhi oleh kegelapan itu. "Ayahku tidak bersalah, Tuan Vance. Suatu hari nanti, Tuhan sendiri yang akan menunjukkan kebenarannya pada Anda."
Nico terkekeh sinis, sebuah tawa kaku tanpa rasa humor yang membuat bulu kuduk Sienna meremang.
"Tidak perlu kau bawa nama Tuhan atas kejahatan busuk yang kau dan ayahmu buat Sienna," sahut Nico dingin seraya menegakkan kembali tubuhnya. "Lusa adalah persidangan pembekuan seluruh aset Liam Vance. Claudia Ophelia akan menghadiri persidangan itu, dan kau ikut bersamaku."
Sienna tersentak kecil. "S-saya... ikut ke pengadilan?"
"Ya," potong Nico tajam. "Aku ingin wanita itu melihatmu. Aku ingin Claudia dan seluruh dunia tahu bahwa anak dari pria yang membunuh ibuku kini merayap di bawah kakiku bagaikan seorang tawanan yang tak punya harga diri. Kau akan menjadi simbol kekalahannya."
Nico membalikkan tubuhnya tanpa menunggu tanggapan Sienna, melangkah menuju pintu kamar dengan sikap yang tak terbantahkan. Sebelum memutar gagang pintu, pria itu berhenti sejenak.
"Perawat Maya akan membawakan makanan dan obatmu. Habiskan semuanya. Jangan coba-coba bertingkah pingsan lagi lusa nanti."
KLIK.
Pintu kamar terkunci kembali dari luar.
Sienna membuang napasnya yang tertahan, melepaskan pegangannya pada selimut seraya memegang dada kirinya yang berdenyut ngilu.
Air matanya menetes makin deras di atas seprai abu-abu. Namun di balik tangisannya, sepasang mata cokelat Sienna memancarkan pendar tekad yang baru.
Ia akan ikut ke pengadilan lusa nanti. Ia akan berhadapan langsung dengan Claudia Ophelia, wanita yang diduga kuat sebagai dalang utama di balik pembunuhan Christina Vance dan melimpahkan tuduhan itu pada ayahnya.
Jika ia harus menjadi tawanan Nico demi mendapatkan kesempatan membuka kebenaran, maka Sienna akan bertahan, seberapa sakit pun sembilu dendam itu menyayat hidupnya.
...****************...
Pukul satu malam di sebuah dermaga yang sepi di kawasan pelabuhan di pinggir kota. Angin laut yang asin dan dingin berembus kencang, menggoyangkan lampu-lampu gantung yang terpasang di sepanjang gudang peti kemas yang mangkrak.
Sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor berhenti di balik tumpukan kontainer berkarat.
Liam Vance turun dari pintu pengemudi dengan memakai jaket kulit hitam dan topi yang ditarik rendah menutupi dahi.
Wajahnya tampak tegang dan matanya bergerak gelisah menyapu kegelapan dermaga. Di dalam saku jaketnya, tangannya menggenggam erat sebuah pistol berperedam suara.
Tak jauh dari sana, sesosok pria berparuh baya dengan pakaian lusuh melangkah keluar dari bayang-bayang kontainer. Pria itu membawa sebuah tas selempang kulit tua yang diapit rapat di ketiaknya.
Pria itu adalah Evander Diovanni, seorang mantan fotografer komersial yang sebelas tahun lalu bertugas memotret pesta ulang tahun mewah di mansion keluarga Vance.
"Kau datang sendirian, Liam?" tanya Evander dengan suara serak, matanya yang culas memandang sekeliling dengan penuh curiga.
Liam melangkah mendekat, menghentikan langkahnya dalam jarak tiga meter. "Mana barangnya, Evander? Ibuku sudah memindahkan dana lima miliar ke rekening luar negerimu sesuai kesepakatan."
Evander tersenyum sinis, memperlihatkan deretan giginya yang menguning. Ia merogoh tas selempangnya, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk logam berwarna perak dan satu kaset rekaman video mini-DV tua.
"Ibumu memang wanita pintar, Liam," tutur Evander seraya memutar-mutar flashdisk tersebut di jarinya. "Rekaman video dari kamera gantungku malam itu sangat jernih. Di dalamnya terlihat sangat jelas bagaimana Nyonya Claudia Ophelia menarik pelatuk pistol dan menembak kepala Christina Vance di halaman belakang... lalu menembak dada si kurir malang, Hans Sinclair, yang tak sengaja menyaksikan penembakan itu."
Otot-otot di rahang Liam menegang hebat. Mendengar kembali kronologi malam pembunuhan itu langsung dari saksi mata membuat darah di dalam tubuhnya berdesir panas oleh ketakutan dan amarah.
"Serahkan barang itu padaku," desis Liam kaku seraya mengulurkan tangan kirinya.
Evander menarik kembali tangannya, menggeleng pelan. "Tunggu dulu, Anak Muda. Lima miliar itu harga untuk salinan flashdisk ini. Tapi untuk kaset rekaman master aslinya, aku butuh jaminan bahwa Nicolas Vance tidak akan memburuku setelah aku terbang ke luar negeri besok."
"Kau memeras kami lagi?!" bentak Liam, matanya membelalak murka.
"Ini bukan pemerasan, ini asuransi jiwa!" tentang Evander dengan nada menantang. "Jujur saja, ibumu itu iblis berdarah dingin. Sebelas tahun aku menyimpan rahasia ini dan memeras ibumu secara berkala, aku tahu betul bagaimana kalian membuang orang-orang yang tidak berguna lagi."
Liam menyipitkan matanya tajam. "Kau sudah salah menilai kami, Evander."
Tanpa memberi kesempatan pada Evander untuk bereaksi, tangan kanan Liam yang berada di dalam saku jaket bergerak secepat kilat.
Dua dentuman halus berperedam suara memecah heningnya malam di dermaga tua itu.
Dua timah panas menembus dada dan perut Evander secara beruntun. Pria tua itu terbelalak lebar, matanya memancarkan syok yang luar biasa tatkala darah segar mulai menyembur keluar dari mulut dan dadanya.
BRUK!
Tubuh Evander tersungkur keras ke atas lantai beton dermaga yang basah. Tas selempang dan kaset video tua itu terlepas, jatuh meluncur di dekat kaki Liam.
Liam melangkah mendekat dengan napas yang memburu. Wajahnya pucat, namun sepasang matanya memancarkan kegilaan yang dipicu oleh rasa takut akan kehancuran keluarganya.
Liam berlutut, mengambil flashdisk perak dan kaset video master dari genggaman Evander yang mulai terkulai kaku.
"Kau... iblis..." bisik Evander dengan sisa-sisa napasnya yang sekarat, matanya menatap Liam dengan kebencian mendalam sebelum akhirnya kepalanya terkulai miring dan matanya membeku tanpa nyawa.
Liam mengusap keringat dingin di dahinya dengan lengan jaket. Ia memeriksa kaset video tua dan flashdisk di tangannya dengan teliti.
Seluruh bukti autentik yang bisa menjebloskan ibunya dan dirinya ke dalam penjara seumur hidup kini berada di tangannya.
Namun sebelum Liam sempat berdiri, suara gesekan langkah kaki dari arah kegelapan kontainer di atas dermaga mendadak mengejutkannya.
KREK.
Liam tersentak kaku, seketika mengarahkan pistol berperedam suaranya ke arah kegelapan. "SIAPA DI SANA?!"
Keheningan menyergap selama beberapa detik. Hanya deru angin laut yang menjawab seruan histeris Liam.
Liam meneliti area kegelapan dengan panik. Saat tidak melihat pergerakan lagi, ia menduga itu hanyalah suara tikus pelabuhan atau gesekan besi kontainer yang tertiup angin.
Liam dengan tergesa-gesa memasukkan flashdisk dan kaset tua itu ke dalam saku dalam jaketnya, menyambar tas selempang milik Evander untuk menghilangkan jejak, lalu berlari cepat menuju mobil sedannya.
Mesin sedan hitam itu meluncur meninggalkan dermaga tua dalam kecepatan tinggi.
Beberapa detik setelah mobil Liam menghilang di kegelapan jalan raya pelabuhan, sesosok pria bertubuh tegap melangkah keluar dari balik celah sempit antara dua kontainer berkarat.
Pria itu mengenakan mantel hitam panjang dan topi rimba gelap. Di tangannya, ia memegang sebuah kamera lensa jarak jauh beresolusi tinggi.
Pria itu adalah informan bayaran tingkat tinggi yang disewa secara rahasia oleh Matteo atas perintah tersembunyi Nicolas Vance.
Pria itu menatap jasad Evander Diovanni yang tergeletak bersimbah darah di atas beton dermaga, lalu mematikan layar kecil kameranya.
Di dalam memori kamera tersebut, terekam dengan sangat jelas seluruh adegan penembakan yang dilakukan oleh Liam Vance terhadap Evander dari jarak dekat.
Pria bertopi rimba itu mengulas senyum tipis yang penuh arti, lalu mengeluarkan ponsel kuisnya dan menekan satu tombol panggilan cepat.
"Tuan Matteo," ujar informan itu pelan dan mantap.
"Ikan besarnya sudah memakan umpan. Liam Vance baru saja mengeksekusi fotografer Evander Diovanni di Dermaga. Saya memiliki rekaman video dan foto pelakunya secara utuh."
Matteo yang mendapat kabar itu, langsung memberi laporan pada bosnya.
Di ruang kerja penthouse Nicolas Vance.
Nico berdiri di depan jendela kaca besar seraya memegang ponsel di telinganya. Saat mendengar laporan dari Matteo melalui sambungan telepon, sepasang mata kelabu Nico berkilat berbahaya bagaikan kilatan petir di tengah malam.
"Apakah Liam membawa pergi barang dari fotografer itu?" tanya Nico dengan suara yang begitu dingin dan menusuk.
"Ya, Tuan Nicolas," sahut Matteo dari balik telepon. "Informan kita mengonfirmasi bahwa Liam mengambil sebuah kaset video tua dan flashdisk dari tas Evander sebelum melarikan diri. Apa perintah Anda selanjutnya?"
Nico mengepalkan tangannya rapat-rapat pada tepi meja kerja. Senyuman miring yang begitu kelam dan penuh kejam terukir di wajah tampannya.
"Biarkan dia membawa barang itu pulang ke rumah ibunya," desis Nico pelan, setiap kata yang diucapkannya sarat akan perhitungan yang mematikan. "Biarkan Claudia dan Liam berpikir bahwa mereka telah berhasil memusnahkan saksi kunci masa lalu mereka."
"Apakah kita tidak langsung menangkap Liam atas tuduhan pembunuhan malam ini, Tuan?"
"Tidak," potong Nico tegas. "Menangkapnya malam ini hanya akan membuat Claudia bersiap dan menggunakan pengacara untuk mencari celah hukum. Lusa adalah persidangan pembekuan aset Liam di Pengadilan Negeri. Kita akan serahkan bukti rekaman pembunuhan Evander ini secara mendadak di tengah jalannya persidangan lusa."
"Lalu barang yang diambil oleh Liam, apakah perlu saya selidiki lebih lanjut Tuan?"
"Tidak dulu, kita urus itu nanti."
Nico mematikan sambungan teleponnya, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Pria itu melangkah menuju rak penyimpanan minuman, menuangkan whisky amber ke dalam gelas kristalnya. Nico menyesap minuman keras itu perlahan, menikmati rasa terbakar di tenggorokannya yang seakan memperkuat dahaganya akan pembalasan dendam.
Bagi Nico, catur permainan ini sudah memasuki babak akhir. Liam dan Claudia telah masuk ke dalam jebakan yang dirancangnya dengan sangat sempurna. Dan lusa, di hadapan majelis hakim dan seluruh media ibu kota, Nico akan menghancurkan keluarga Ophelia hingga tak tersisa.
...Bersambung......