Indonesia
NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Saat selimut itu tinggal sedikit lagi akan ditarik terbuka, tiba-tiba terdengar suara Bi Siska memanggil dari luar pintu.

"Non Sarah!"

"Iya, Bi," jawab Sera cepat, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

Sesampainya Bi Siska berdiri di ambang pintu, dia melihat Rika sudah ada di dalam kamar itu.

"Ternyata Nyonya sudah ada di sini..." ucap Bi Siska kaget, lalu segera melanjutkan dengan nada tergesa-gesa. "Tapi itu... Tuan Besar sudah menunggu di depan, katanya harus cepat!"

Rika langsung menarik kembali tangannya. Dia menatap Sera sejenak.

"Buruan sana!" bentak Rika.

Sera berniat berangkat, namun tiba-tiba langkahnya ditahan oleh Rika.

"Kau mau keluar dengan keadaan seperti ini? Jangan bercanda!"

"Lalu, aku harus bagaimana Bu?" jawab Sera bingung.

"Tutupi wajahmu itu pakai masker! Kalau orang tua itu bertanya kenapa kau menutup wajah, bilang saja kalau kau sedang pilek!" perintah Rika. Setelah itu dia langsung melangkah keluar dari kamar.

Bi Siska segera menghampiri Sera. "Sabar ya, Non..."

Sera hanya mengangguk pelan, lalu mengambil masker dan menutupi separuh wajahnya sebelum bergegas keluar kamar.

Setelah kepergian Sera, Sean juga melangkah keluar dari tempat persembunyiannya berniat keluar.

Sebelum meninggalkan kamar, dia berhenti sebentar di samping kasur. Menghampiri Sarah dan memperbaiki posisi selimutnya yang sedikit menutupi bagian hidung wanita itu, memastikan Sarah tetap bernapas dengan nyaman.

Setelah itu, dia pun melangkah keluar dari kamar tersebut.

 

Adiguna mengerut dahinya melihat Sera yang memakai masker.

"Sarah, kenapa kau memakai masker?" tanyanya heran.

Rika mengancam Sera dari tatapannya saat mendengar pertanyaan Adiguna.

Sera tersenyum di balik masker, lalu berpura-pura bersin pelan. "Saya pilek, Kek, takut nanti Kakek juga ikut tertular."

"Oh begitu ya... Kamu sudah minum obat?"

Sera mengangguk. "Sudah, Kek."

"Baguslah kalau begitu," sahut Adiguna.

Adrian yang baru tiba, mengambil tempat duduk tepat di sebelah Sera, sementara Rika duduk berdampingan dengan putrinya, Raisa.

Tak lama kemudian, muncul sosok Sean yang berjalan tenang dan duduk di salah satu sofa tunggal yang terpisah dari yang lain.

"Baguslah, akhirnya kalian semua sudah berkumpul di sini," ujar Adiguna mulai membuka pembicaraan.

Dia sama sekali tidak bertanya pada putranya ke mana istrinya pergi.

Ternyata, saat dalam perjalanan pulang dari desa, Sean sudah memberitahu ayahnya bahwa istrinya sedang ada urusan di luar kota untuk sementara waktu.

Selain itu, Sean juga meminta agar pernikahan mereka tidak dibahas di depan orang-orang di rumah. Mengingat selama ini semua menyangka bahwa dia menyukai sesama jenis, Sean malas kalau sampai nanti berita tentang pernikahannya tersebar ke publik dan menjadi bahan santapan sehari-hari orang banyak.

"Memangnya apa yang ingin Kakek bahas?" tanya Adrian.

"Apalagi kalau bukan tentang kamu, Adrian," jawab Kakek.

Sean melirik ke arah Adrian yang duduk sangat dekat dengan istrinya. Terlihat dari tatapannya, dia tidak senang karena Sera berdampingan dengan Adrian. Tentu saja dia tidak menunjukkan pada orang-orang.

Kebetulan ayahnya juga ternyata belum pernah melihat wajah istrinya. Yang membuat Adiguna sama sekali tidak tahu bahwa cucu menantu dan juga menantunya ternyata saudara kembar.

"Tentang saya, Kek... Apalagi lagi, Kek?" tanya Adrian mulai tidak enak hati.

"Kamu ingat kan tentang pembahasan kita sebelumnya? 35 persen dari saham perusahaan yang akan Kakek berikan sama kamu. Kamu ingat syaratnya?" tanya Adiguna dengan tegas, matanya menatap ke arah cucunya itu.

"Tentu saja ingat, Kek." Adrian mulai merasa gelisah.

"Kakek ingin membahasnya kembali. Dan kali ini, Kakek akan mempercepat batas waktunya," jelas Adiguna.

"Maksud Kakek?" Adrian menegang.

"Kakek akan mengubah waktunya menjadi 3 bulan. Kalau dalam waktu 3 bulan ke depan Sarah belum juga hamil, maka bukan saja saham 35 persen yang tidak akan Kakek berikan padamu.

Saat itu juga Kakek mau kalian bercerai, dan seluruh fasilitas serta kemewahan yang selama ini kau nikmati, akan Kakek tarik kembali," ucap Adiguna.

Dia sengaja mempertegas ucapannya karena melihat Adrian terlalu bermain-main dalam pernikahannya, seolah hubungan mereka hanya alat untuk meraih kekayaan.

Adrian terperanjat setengah mati.

"Apa, Kek? Adrian ini cucu Kakek lho. Kok Kakek tega sih?" ujar Adrian, mengeraskan suaranya karena tidak terima dengan syarat Kakeknya.

"Pelankan suaramu, Adrian," tegur Sean. Suaranya terdengar sedingin es, cukup untuk membuat keponakannya itu seketika menciut.

Adrian menarik napas panjang, berusaha meredakan emosinya, lalu kembali melanjutkan dengan nada yang jauh lebih rendah.

"Tapi kenapa, Kek..."

"Koreksi dirimu, Adrian. Kalau Kakek berbuat seperti ini pasti ada yang salah denganmu!" Jawab Adiguna.

Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan! Batin Sera dalam hati.

Ternyata bukan hanya Adrian yang terkejut, Sera juga ikut kaget.

"Tapi kenapa, Kek? Hubungan aku dengan Mas Adrian itu baik-baik saja," Sera akhirnya membuka suara dengan mata memelas menatap pria tua itu.

Dia tidak mungkin membiarkan Adrian menceraikannya, karena kalau sampai itu terjadi, semua usahanya akan berantakan dan hancur total. Rencana untuk mengembalikan hak kakaknya akan berakhir di sini.

"Sarah, kau pantas bahagia. Kakek melihat rumah tanggamu dengan Adrian semakin ke sini semakin kaku, semakin terasa seperti dua orang asing yang dipaksa tinggal bersama. Kalian pikir Kakek diam saja dan tidak memperhatikan kalian? Kakek melihat semuanya. Jadi menurut Kakek, kalau memang sudah tidak ada harapan dalam rumah tangga kalian, kenapa harus dipertahankan? Untuk apa menyiksa diri sendiri?" Jawab Kakek.

"Tapi tidak begitu caranya, Kek... Tidak harus aku bercerai dengan Mas Adrian. Apalagi jangka waktu tiga bulan itu terlalu cepat, aku tidak mungkin bisa hamil dalam waktu itu," bantah Sera, berusaha meyakinkan Kakek sekaligus menyelamatkan posisinya.

"Benar apa yang dikatakan istriku itu, Kek. Hubungan kita baik-baik saja dan tidak perlu ada yang Kakek khawatirkan," sahut Adrian ikut mendukung, tapi di dalam hatinya dia sebenarnya hanya sedang berpikir keras mencari jalan keluar agar tidak kehilangan saham itu.

Sean yang sejak tadi diam menyimak, tiba-tiba rahangnya mengeras. Darahnya mendidih saat mendengar ucapan Sera yang membela pernikahannya dengan Adrian.

Kau saja sudah menjadi istri sahku. Apa maksudnya bicara seperti itu? Jangan bilang kalau kau akan tidur dengan Adrian dan punya anak darinya. Batin Sean bergemuruh menahan amarah yang hampir meledak, dengan sorot mata dingin melihat ke arah Sera.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!