Indonesia
NovelToon NovelToon
SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEDATANGAN PASUKAN IBLIS

Suasana di dalam rumah kayu dua lantai milik Kayy terasa begitu hangat dan damai. Di meja makan kayu jati yang terawat rapi, uap tipis membumbung tinggi dari cangkir-cangkir keramik berisi teh kelapa hangat. Aroma manis dari kue pai apel buatan Alya yang baru saja diangkat dari pemanggang menyeruak ke seluruh penjuru ruangan, menyelimuti udara dengan kenyamanan yang tiada tara.

Arthur memejamkan mata, menyesap tehnya pelan-pelan. Rasa hangat yang menjalar di tenggorokannya seketika meluruhkan seluruh rasa lelah dan pening yang sempat menghantam mentalnya di pekarangan tadi.

"Demi Mahkota Kerajaan... masakan Lady Alya benar-benar keajaiban dunia," gumam Arthur dengan raut wajah berbinar penuh kebahagiaan. Pahlawan Kerajaan itu menggigit potongan pai apel yang rapuh dan manis. "Setiap kali berkunjung ke sini, aku merasa seluruh beban hidupku terangkat."

Alya tertawa kecil seraya menuangkan kembali teh hangat ke cangkir Arthur. "Makan yang banyak, Arthur. Kamu kan sibuk patroli menjaga perbatasan, pasti melelahkan."

Kayy yang duduk di seberang Arthur menyunggingkan senyum santai. Celemek kesayangannya masih terikat rapi di pinggang. "Bagaimana kondisi wilayah perbatasan belakangan ini, Arthur? Tidak ada masalah berarti, kan?"

"Sejauh ini aman, Kayy. Tapi rumor tentang keberadaan aura energi raksasa di Hutan Kelam memang makin gencar terdengar di ibu kota," jawab Arthur seraya mengusap bibirnya dengan saputangan. "Banyak ahli sihir kerajaan yang memprediksi bahwa keberadaan aura sepekat ini bisa memancing..."

Kalimat Arthur mendadak terputus total.

DOMMMMM!

Sebuah dentuman dahsyat mengguncang atmosfer Hutan Kelam. Tekanan udara mendadak turun secara drastis, membuat cangkir-cangkir teh di atas meja bergetar hebat. Langit pagi yang tadinya cerah berawan seketika berubah warna menjadi merah pekat kehitaman. Suasana hangat di sekitar rumah mendadak digantikan oleh bau belerang yang menyengat dan aura kegelapan yang begitu pekat.

KRRRKKK!

Di udara tepat di atas pekarangan rumah Kayy, ruang dan waktu serasa terbelah. Sebuah Gerbang Dimensi Iblis berukuran raksasa terbuka lebar dengan kilatan petir merah darah.

Dari balik retakan dimensi tersebut, mendadak bermunculan ratusan iblis tingkat tinggi bersayap kelelawar, membawa tombak dan pedang hitam yang memancarkan aura hawa membunuh. Di barisan paling depan, berdiri sosok raksasa berzirah baja hitam berkilat dengan empat tanduk besar membalik di kepalanya—Jenderal Iblis Malakor, salah satu komandan tertinggi pasukan kegelapan!

"Bwahahaha!" Tawa menggelegar Malakor membelah angkasa, membuat pepohonan di Hutan Kelam bergoyang hebat. "Aura energi murni apa yang begitu luar biasa ini?! Pohon Kehidupan Abadi?! Naga Purba?! Pegasus?! Pemandangan yang sangat menakjubkan!"

Malakor merentangkan kedua tangannya penuh kesombongan, menatap pekarangan Kayy dengan mata merah menyala. "Tempat ini adalah surga energi! Atas nama Raja Iblis, tanah ini dan seluruh makhluk di dalamnya resmi menjadi milik Pasukan Kegelapan! Musnahkan penghuninya dan serahkan tempat ini padaku!"

Malakor mengacungkan pedang raksasanya ke bawah. "Pasukan Kegelapan, serbu! Hancurkan rumah itu!"

Ratusan iblis tingkat tinggi langsung meluncur turun bagaikan hujan meteor hitam, melepaskan ribuan bola api kegelapan dan tebasan energi penghancur ke arah pekarangan.

Namun, tepat beberapa meter di atas atap rumah Kayy, seluruh serangan mematikan itu mendadak terhenti di udara.

BOOOMMM!

Sebuah kubah transparan tipis berdenting lembut. Sihir pelindung [Domain Pelindung Suci] milik Kayy mendadak mengaktifkan batas absolutnya. Ribuan bola api iblis dan tebasan pedang kegelapan yang sanggup meratakan satu kota besar seketika memantul konyol dan lenyap menjadi asap tanpa menyisakan goresan sedikit pun di pekarangan!

Senyum kesombongan di wajah Jenderal Malakor mendadak lenyap total. Mata merahnya melotot hingga hampir keluar dari rongganya.

"A-APA-APAAN INI?!" jerit Malakor histeris, rahang bawahnya jatuh drastis. "Sihir pelindung macam apa itu?! Kenapa tembakan sihir tingkat bencana milikku hanya memantul seperti gelembung sabun?! Bahkan sihir benteng terkuat milik Bangsa Manusia pun harusnya langsung hancur!"

Pasukan iblis di belakangnya mendadak panik luar biasa. "J-Jenderal! Sihir pelindung itu... energinya tidak terbatas! Kita bahkan tidak bisa menembus batas pekarangan mereka!"

Di dalam rumah, Arthur yang awalnya sudah memicu [Zirah Cahaya Pusaka] hingga tubuhnya memancarkan pendar emas dan siap melepas tebasan [Sacred Light Slash] mendadak ikut terpaku.

Arthur melotot menatap ke luar jendela. Pahlawan Utama Kerajaan itu menggosok matanya tak percaya melihat ratusan sihir iblis tingkat tinggi hancur berkeping-keping saat menyentuh kubah pelindung tipis buatan Kayy.

"D-Domain Pelindung Suci...?" bisik Arthur dengan suara gemetaran. "Bahkan pertahanan sihir seluruh ibu kota Kerajaan pun tidak sekuat dan sekokoh ini..."

Namun, Kayy yang berdiri di dekat jendela hanya melirik keluar seraya menyesap teh kelapa hangatnya dengan sangat tenang.

"Aduh..." gumam Kayy pelan, menghela napas seraya menyenggol sapu lidi di samping kursinya. "Pekarangan rumah kan baru saja saya sapu sampai bersih... Kok ada tamu tak diundang mengotori udara pagi begini."

Alya menggelengkan kepala pelan seraya tersenyum tipis. "Elena, bisakah kamu minta teman-temanmu di luar agar tidak membuat suara terlalu bising?"

"Siap, Ibu!" seru Elena riang seraya berlari kecil menuju pintu depan.

"T-Tunggu dulu, Elena!" jerit Arthur panik seraya ikut berlari menyusul bocah kecil itu.

Namun, begitu Arthur dan Elena melangkah keluar ke teras rumah, pemandangan di pekarangan justru sama sekali tidak memperlihatkan kepanikan. Malah sebaliknya, makhluk-makhluk peliharaan Kayy merasa sangat terganggu karena waktu santai pagi mereka terusik!

Malakor yang masih syok di udara berusaha keras mengumpulkan sisa gengsinya. "Jangan takut! Kepung pelindung itu! Paksa tembus!"

"Hiiiiy! Bising sekali!" gerutu Shiro si Serigala Es raksasa yang tadinya sedang asyik tidur di rumput.

Shiro berdiri anggun di dalam area pelindung. Mata birunya memancarkan kilatan es yang sangat dingin. Serigala raksasa itu menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan raungan dahsyat yang melintasi kubah pelindung!

ROAAARRRRRR!

Napas Es Mutlak (Absolute Zero Breath) meledak dari mulut Shiro dalam bentuk gelombang badai salju kebiruan yang membekukan atmosfer! Udara di luar pelindung seketika membeku hingga titik nol mutlak.

Dalam hitungan detik, separuh dari pasukan iblis yang sedang terbang di udara mendadak membeku total menjadi patung-patung es tembus pandang. Sebelum sempat bereaksi, angin kencang dari kepakan sayap Snow meremukkan patung-patung es tersebut menjadi debu kristal yang hancur berkeping-keping!

"K-Kekuatan es tingkat dewa apa itu?!" jerit Jenderal Malakor melotot tak percaya melihat belasan anak buahnya musnah dalam sekedip mata. "Serang serigala itu!"

Namun, Snow sang Pegasus Putih bersayap perak tidak tinggal diam. Kuda suci itu merasa terhina karena makanan apel segarnya terkontaminasi bau belerang iblis. Snow mengepakkan sayap peraknya yang megah, membumbung tinggi melintasi batas pelindung ke udara bagaikan kilatan cahaya putih.

FLASH!

Aura Kesucian Murni (Holy Celestial Domain) melingkupi seluruh tubuh Snow. Kuda suci itu meluncur melintasi barisan iblis dengan kecepatan cahaya. Setiap kali sayapnya menyentuh tubuh iblis, cahaya suci yang amat kuat langsung membakar kulit dan jiwa para iblis hingga terbakar menjadi abu abu-abu!

"A-Apa-apaan kuda bersayap itu?! Kepung dia!" teriak sisa pasukan iblis histeris, kebingungan setengah mati di udara.

Di tengah kekacauan itu, Ignis—sang Naga Kuno Merah yang sedang memegang biskuit apel hadiah dari Elena—merasa batas kesabarannya sudah habis. Biskuit apel kesayangannya terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah akibat getaran suara Jenderal Malakor.

Ignis melayang perlahan di udara. Ukuran tubuhnya yang sebesar kucing mendadak memancarkan aura tekanan magis skala pemusnah benua. Mata merah Ignis berkilat penuh amarah yang menakutkan.

"Para kecoa kegelapan yang menjijikkan..." Suara naga purba Ignis berkumandang gaib langsung di dalam kepala seluruh iblis. "Beraninya kalian mengotori pekarangan Tuan Kayy dan membuat biskuitku jatuh!"

Ignis membuka mulut kecilnya. Sebuah titik api merah keemasan yang begitu padat berkumpul di ujung moncongnya, menembus dimensi ruang hingga membuat Gerbang Dimensi Iblis retak-retak.

FWOOOOOOSH!

Semburan Api Purba Merah (Ancient Hellfire Blast) meledak hebat melintasi langit! Lidah api abadi berwarna merah keemasan bergulung-gulung bagaikan naga raksasa yang menelan seluruh sisa pasukan iblis beserta Jenderal Malakor!

"T-TIDAAAKKKK! PELINDUNG APA... NAGA APA INI—!" Jeritan terakhir Malakor lenyap begitu saja tertelan lautan api suci.

Hanya dalam waktu kurang dari satu detik, Jenderal Iblis tingkat bencana bersama ratusan pasukannya lumat tak berbekas. Semburan api Ignis bahkan terus meluncur naik, menghantam Gerbang Dimensi Iblis di langit hingga retak dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya yang lenyap di udara.

Langit merah pekat kehitaman seketika bersih kembali. Cahaya matahari pagi yang hangat kembali menyinari pekarangan rumah Kayy.

Seluruh pertempuran kelas bencana alam yang seharusnya mampu menghancurkan satu Kerajaan besar itu... selesai sepenuhnya dalam waktu kurang dari satu menit.

Di teras rumah, Arthur berdiri membeku bagaikan patung batu.

Pedang pusaka emasnya masih terangkat setengah di udara, sementara pendar sihir zirahnya perlahan padam konyol. Rahang bawahnya jatuh sejauh-jauhnya, matanya menatap kosong ke arah langit yang kini sudah kembali biru cerah tanpa sisa satu iblis pun.

"A-Apa... apa yang baru saja terjadi...?" bisik Arthur dengan suara lemah yang bergetar hebat. "Jenderal Malakor... Pasukan Iblis Tingkat Bencana... bahkan tak bisa menyentuh pelindung rumah ini... lalu musnah cuma karena biskuit apel jatuh...?"

Pedang pusaka emas Arthur terjatuh konyol di atas kayu teras. Sang Pahlawan Kerajaan berlutut lemas, memegangi dadanya yang berdetak tak karuan. Logika pertarungan, sihir pelindung, dan seluruh pengalamannya sebagai Pahlawan Utama Kerajaan mendadak terasa seperti sampah tak berguna di pekarangan ini.

"Yay! Hore! Shiro, Snow, Ignis hebat sekali!" seru Elena tertawa riang seraya bertepuk tangan gembira. Bocah kecil itu berlari ke tengah rumput, memeluk leher Shiro yang langsung menyambutnya dengan sentuhan lembut.

Ignis melayang turun dengan wajah cemberut, lalu memungut biskuit apelnya yang kotor.

Kayy melangkah keluar dari dalam rumah seraya membawa sapu lidi dan pengki. Pria bercelemek itu memandang ke arah langit, lalu menggeleng-gelengkan kepala pelan.

"Aduh, sisa debu abunya beterbangan ke mana-mana," gumam Kayy santai seraya mulai menyapu sisa-sisa debu abu iblis di atas rumput. Kayy menoleh ke arah Arthur yang masih terduduk lemas di teras.

"Arthur, kamu tidak apa-apa?" tanya Kayy ramah. "Maaf ya, pekarangan rumah saya memang sering agak berisik kalau ada tamu tak diundang. Mari masuk lagi, tehnya nanti keburu dingin."

Arthur mendongak kaku menatap Kayy—pria bercelemek yang sibuk menyapu sisa-sisa abu Jenderal Iblis seolah-olah itu hanyalah debu kotoran biasa.

Sang Pahlawan Kerajaan Manusia itu menghela napas pasrah seluas-luasnya. Ia menyapu wajahnya yang penuh keringat dingin, lalu berdiri perlahan seraya memungut pedangnya.

"Teh... ya, aku butuh teh hangat itu lagi, Kayy..." jawab Arthur dengan senyum kaku yang penuh kepasrahan. Dalam hati sang Pahlawan, ia bersumpah: Jika Kerajaan Iblis sampai berani datang menyerang tempat ini lagi, ia hanya akan duduk di teras sambil menikmati pai apel dan menonton pertunjukan pembantaian paling absurd di dunia.

1
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!