When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Senyum Palsu Rosalia
Beberapa hari yang lalu.
Sinar matahari pagi menyiram aula ballroom utama di kediaman Count Valerius.
Lampu gantung memantulkan kilauan cahaya, sementara denting musik harpa lembut mengalun riang mengisi tiap sudut ruangan.
Pesta teh musim panas kali ini bukan sekadar perjamuan biasa; ini adalah panggung peragaan bagi para putri bangsawan ibu kota untuk memamerkan keanggunan, tata krama, dan kreasi kuliner terbaik mereka di hadapan para pejabat Istana.
Di tengah riuhnya bisik-bisik para wanita bangsawan yang mengenakan gaun-gaun mewah, sebuah aroma yang begitu asing namun sangat menggugah selera mendadak menyeruak memenuhi udara ballroom.
Wangi perpaduan aroma susu vanila yang lembut, keharuman buah beri segar yang manis, dan wangi karamel bakar yang meleleh sempurna.
"Aroma apa ini? Bau ini... belum pernah ada di ibu kota sebelumnya!" bisik seorang duchess paruh baya seraya mengibaskan kipas bulunya, matanya bergerak penasaran ke arah meja prasmanan utama.
Di balik meja panjang itu, Rosalia berdiri dengan anggun.
Di depan Rosalia, berjejer puluhan mangkuk kaca bening berisi kreasi pencuci mulut modern yang ia racik sendiri menggunakan pengetahuan kehidupan sebelumnya:
Strawberry Panna Cotta bersaus karamel bakar dan hidangan manis Macaron berwarna pastel yang belum pernah disaksikan oleh masyarakat benua ini.
"Silakan dicoba, Marchioness..." panggil Rosalia dengan suara yang begitu lembut dan manis. Ia menyodorkan piring kecil dengan sendok seraya mengulas senyum polos yang amat memikat. "Ini adalah kreasi Mousse de Fraise dan kue kelopak bunga yang saya olah khusus menggunakan teknik ekstraksi dingin."
Seorang lady bangsawan mencicipi suapan pertama dari panna cotta racikan Rosalia.
Begitu tekstur lembut bagaikan awan itu meleleh di atas lidahnya—melepaskan rasa manis buah beri yang segar tanpa meninggalkan rasa enek—matanya seketika membelalak lebar oleh ketakjuban!
"Luar Biasa! Lembut sekali!" seru lady itu terkesima. "Bagaimana mungkin kue bisa terasa begitu ringan dan meleleh di mulut seperti ini?! Ini benar-benar mahakarya!"
Dalam hitungan menit, meja Rosalia langsung dikerumuni oleh puluhan bangsawan senior dan para putri elit ibu kota.
Mereka berebutan ingin mencicipi dan membeli resep rahasia hidangan manis modern tersebut.
Rosalia melayani mereka satu per satu dengan ramah—bertutur kata halus, membungkuk sopan, dan pamer sikap santun yang membuat siapa pun yang melihatnya bakal langsung jatuh hati pada kebaikan budinya.
Sempurna, batin Rosalia penuh kebanggaan gila yang di balik wajah lugunya. Pengetahuan kuliner dan formula produk kecantikan modern dari duniaku ini... adalah senjata paling gampang buat membeli pengaruh para bangsawan serakah ini! Kenapa aku nggak melakukan ini dari awal aku masuk ke tubuh ini.
Di saat kerumunan itu makin riuh memuji Rosalia, pintu ballroom terdorong terbuka lebar.
"Yang Mulia Putra Mahkota Nathaniel von Arkania memasuki ruangan!" seru pengawal kerajaan dengan suara bariton yang menggema.
Suasana di dalam ballroom seketika mendadak senyap. Para bangsawan buru-buru menyibak jalan, membungkuk dan menundukkan kepala mereka saat sosok pria paling berkuasa di jajaran generasi muda kerajaan itu melangkah masuk.
Nathaniel berjalan tegap dengan seragam militer putih bertatahkan benang emas dan mantel merah menyala di bahunya.
Pria berambut pirang keemasan itu memamerkan raut wajah kaku, dingin, dan penuh kebosanan. Ia sebenarnya paling benci menghadiri pesta teh konyol para bangsawan yang isinya pamer harta dan desas-desus murah.
Namun, langkah kaki Nathaniel mendadak terhenti tepat di tengah ballroom.
Sepasang mata birunya yang tajam menangkap sosok gadis yang berdiri di balik meja prasmanan—gadis yang baru saja selesai menyajikan cangkir teh terakhirnya dan kini sedang membetulkan letak pita rambutnya yang agak miring.
Cahaya matahari yang menembus jendela jatuh menyinari tubuh Rosalia, menciptakan kilau di sekeliling rambut cokelatnya.
Wajah Rosalia yang cantik, matanya yang hijau, serta senyuman polosnya yang mengembang jujur... mendadak menghantam dada Nathaniel dengan guncangan yang belum pernah pria itu rasakan sepanjang hidupnya.
DEG!
Jantung Nathaniel berdetak hebat!
Di mata Nathaniel, gadis ini sama sekali tidak terlihat seperti para putri bangsawan ibu kota yang selalu tampil dengan riasan tebal, gaun yang mahal, dan tatapan penuh kepalsuan.
Gadis di depannya ini memancarkan aura kesucian, kelembutan, dan keindahan alami yang mendobrak seluruh standar kecantikan di benua ini.
"Siapa... siapa gadis itu?" tanya Nathaniel pelan dengan suara baritonnya yang agak bergetar, tanpa memalingkan pandangannya pada Rosalia.
Ajudan pribadinya yang berdiri di belakang buru-buru berbisik sopan. "Beliau adalah Lady Rosalia, Yang Mulia. Putri angkat dari Count Valerius yang belakangan ini mendadak terkenal karena menciptakan racikan kuliner dan obat perawatan kulit terbaru."
Nathaniel tidak mendengarkan penjelasan ajudannya lagi.
Seperti terhipnotis oleh pesona gaib, Putra Mahkota melangkah maju, membelah kerumunan bangsawan yang membungkuk di kirinya dan kanannya, berjalan lurus menuju tempat Rosalia berdiri.
Rosalia yang menyadari kehadiran sang calon raja buru-buru meletakkan cangkirnya lalu menundukkan kepalanya.
"Saya menyambut kehadiran Yang Mulia Putra Mahkota yang agung..." bisik Rosalia dengan suara yang mendadak terdengar begitu parau, lembut, dan merdu bagaikan bisikan malaikat.
Nathaniel berhenti di depan Rosalia. Pria itu menunduk, menatap gadis di depannya dengan rasa kagum.
Pria itu mengulurkan tangannya.
"Berdirilah, Lady Rosalia," perintah Nathaniel lembut—suara yang begitu halus hingga membuat para pengawal pribadinya tersentak kaget karena tak pernah mendengar sang Pangeran berbicara selunak itu pada wanita mana pun.
Rosalia mengangkat kepalanya pelan.
Tepat seperti dugaanku dalam novel, jerit Rosalia gembira di dalam benaknya saat melihat raut terkesima yang terpancar jelas di wajah tampan Nathaniel. Pangeran yang kesepian dan haus akan ketulusan ini... langsung berlutut di bawah kakiku cuma dalam satu kali tatapan!
"Yang Mulia... apakah Anda membutuhkan teh hangat untuk meredakan lelah Anda?" tanya Rosalia manis, menyunggingkan senyum paling memesona.
Nathaniel tersadar dari keterpakuannya.
"Boleh... saya ingin mencicipi teh racikanmu, Lady," sahut Nathaniel.
Rosalia dengan sangat terampil menyeduh cangkir teh herbal beraroma lemon dan mawar, lalu menyodorkannya pada Nathaniel bersama sepotong panna cotta buatannya. Nathaniel menyesap teh itu secara perlahan, lalu mencicipi kue buatan Rosalia.
Rasa manis yang menyegarkan dari racikan minuman itu seketika memanjakan lidah sang Putra Mahkota..
"Luar biasa..." gumam Nathaniel terperanjat, menatap piring di tangannya lalu beralih menatap wajah Rosalia. "Saya belum pernah mencicipi hidangan sekreatif dan seindah ini di seluruh istana kerajaan. Kamu benar-benar memiliki bakat yang sangat langka, Lady Rosalia."
Rosalia menundukkan kepalanya seraya memegang dadanya, memamerkan rona merah muda yang sangat cantik di kedua tulang pipinya—sebuah akting malu-malu.
"Pujian Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia..." bisik Rosalia rendah.
"Saya hanya seorang gadis sederhana yang ingin memberikan sedikit kebahagiaan lewat hidangan manis ini. Melihat Anda tersenyum dan bisa menikmati racikan saya... itu sudah menjadi kehormatan tertinggi buat hidup saya yang tidak berarti ini."
Kata-kata "hidup yang tidak berarti" dan raut wajah polos yang dipamerkan Rosalia menusuk dada Nathaniel dengan rasa iba.
Di dalam benak Nathaniel, terngiang-ngiang desas-desus jahat yang belakangan ini dihembuskan oleh beberapa bangsawan tentang bagaimana Evelyn von Rosenberg menindas dan hampir mengasingkan gadis ini dari ibu kota.
Evelyn jahat itu... pasti sering menindas dan membully gadis polos yang tidak berdaya ini di masa lalu! batin Nathaniel.
"Kamu tidak boleh menyebut hidupmu tidak berarti, Rosalia," kata Nathaniel dengan suara baritonnya yang mantap. "Gadis selembut, seindah dirimu... berhak mendapatkan penghormatan tertinggi di benua ini. Siapa pun yang berani merendahkanmu atau membuatmu menangis... bakal berhadapan langsung dengan pedangku!"
"Yang Mulia..." tangis Rosalia pecah. "Terima kasih... terima kasih banyak! Selama ini... Nona Evelyn dan para bangsawan tinggi selalu menganggap saya hanya benalu kotor yang tidak pantas berada di sekitar Anda. Saya... saya sangat takut..."
Nathaniel dengan cepat, mengusap air mata di pipi gadis itu tanpa peduli pada pandangan puluhan bangsawan di sekitar mereka yang kini berbisik kaget.
"Jangan takut lagi, Rosalia," bisik Nathaniel. "Evelyn von Rosenberg tidak akan pernah bisa menyentuh atau melukaimu lagi!"
kesel banget sama dia/Panic/