Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjerat Obsesi Sang CEO

Terjerat Obsesi Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.

Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.

Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.

Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.

Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.

Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??

JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!

Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Baik-baik Saja

Sementara itu, di lantai sembilan belas, Hana sedang sibuk mengelap kaca jendela besar koridor saat Mbak Wiwik mendatangi trolinya dengan raut wajah penuh kekaguman sekaligus kebingungan.

"Hana! Ya ampun, Hana... kamu pakai pelet apa sih?" cerceh Mbak Wiwik setengah berbisik seraya menarik lengan seragam Hana.

Hana menghentikan lap kainnya, menatap wanita senior itu dengan bingung. "Ada apa, Mbak Wiwik? Saya ada salah pengerjaan ya?"

"Salah apa-apanya! Kamu justru dapat rezeki nomplok!" seru Mbak Wiwik dengan mata membelalak.

"Barusan Pak Bambang dipanggil sama sekretaris pimpinan pusat. Katanya ada surat perintah khusus dari lantai empat puluh delapan. Mulai jam ini juga, kamu dipindah tugas khusus buat mengurus lantai puncak!"

*Lantai empat puluh delapan?!*

Jantung Hana seperti meloncat ke tenggorokan. Gelombang ketakutan dan kepanikan langsung menyengat seluruh sarafnya. Lantai empat puluh delapan adalah ruangan pribadi Alvaro!

"M-Mbak... Nggak salah dengar?" bisik Hana dengan suara bergetar. "Kenapa harus saya? Saya kan baru kembali bekerja hari ini. Masih banyak senior lain yang lebih—"

"Aduh, Hana! Jangan banyak protes! Itu perintah langsung dari manajemen CEO!" potong Mbak Wiwik seraya mendorong troli Hana ke arah lift eksekutif. "Sudah, cepat naik! Jangan sampai orang-orang penting di atas sana menunggu dan marah!"

Dengan tangan gemetar dan kepala yang dipenuhi kebingungan, Hana mendorong troli pembersihnya memasuki lift. Setiap angka lantai yang menyala di atas pintu lift rasanya seperti hitungan mundur menuju jebakan baru.

Saat pintu lift denting berdenting halus penanda tiba di lantai empat puluh delapan, Hana melangkah keluar dengan ragu.

Atmosfer di lantai puncak ini sangat berbeda. Lantai granitnya tertutup karpet tebal yang meredam setiap suara langkah kaki. Pencahayaannya hangat dan elegan, dengan deretan lukisan mahal menghiasi dinding. Suasananya begitu hening, megah, dan terisolasi.

Seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat rapi, anggun, dan mengenakan kacamata berbingkai emas melangkah mendekati Hana dengan senyum hangat yang menenangkan.

"Selamat siang. Kamu Hana Anindita, benar?" tanyanya lembut.

Hana menunduk sopan seraya meremas pegangan trolinya. "I-Iya, Bu. Saya Hana."

"Saya Bella, sekretaris pribadi Pak Alvaro," ucap wanita itu seraya mengulurkan tangan. "Mulai hari ini, tugasmu adalah menjaga kebersihan di lantai ini. Area kerjamu meliputi lorong utama, ruang rapat eksekutif, dan... ruang kerja pribadi Pak Alvaro."

Hana menelan ludah yang terasa pahit. "Bu Bella... apakah tidak ada area lain? Kenapa saya harus membersihkan ruang kerja Pak CEO?"

Mbak Bella tersenyum misterius, matanya memancarkan kehangatan yang membuat Hana sedikit heran. Nakula rupanya telah memberi arahan khusus pada Bella untuk memperlakukan Hana dengan sangat baik dan penuh rasa hormat, meski tetap menjaga formalitas kerja di depan umum.

"Ini instruksi khusus dari Pak Alvaro demi kenyamanan beliau, Hana," jelas Mbak Bella ramah. "Kamu tidak perlu cemas. Pak Alvaro hanya ingin area kerjanya ditangani oleh orang yang tenang dan tidak banyak bicara. Mari, saya tunjukkan ruangan beliau."

Mbak Bella memandu Hana menyusuri lorong berkarpet tebal hingga berhenti di depan pintu kayu mahoni berukuran raksasa. Mbak Bella mengetuk pintu dua kali, lalu mendorongnya terbuka.

"Pak Alvaro, petugas kebersihan yang baru sudah tiba," lapor Mbak Bella sopan.

Hana berdiri mematung di ambang pintu, memegang erat trolinya. Di dalam ruangan yang begitu luas itu, Alvaro sedang duduk di balik meja mewahnya. Pria itu mendongak pelan, mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya.

Mata tajam Alvaro mengunci pandangan Hana. Ada kilat kepuasan yang samar terpancar dari balik binar matanya saat melihat sosok istrinya kini melangkah masuk ke dalam wilayah kekuasaannya. Di bawah pengawasannya secara langsung, tak ada lagi jarak sembilan belas lantai yang memisahkan mereka.

"Masuklah, Hana," kata Alvaro. Suaranya terdengar begitu berat, tenang, dan dipenuhi kepastian mutlak. "Mulai sekarang... ini adalah area kerjamu."

Hana menatap pria itu dengan dada yang bergemuruh hebat, menyadari sepenuhnya bahwa pelariannya dari jangkauan pandangan Alvaro Adhitama telah berakhir sepenuhnya di dalam ruangan ini.

Langkah kaki Hana terasa amat berat saat roda-roda trolinya meluncur tanpa suara di atas karpet tebal ruang kerja CEO. Setiap inci ruangan beraroma kayu cendana dan kulit mahal ini memicu ingatan yang ingin ia hapus selamanya dari benaknya.

Malam kelam itu yaitu tepat di sudut sofa besar dekat jendela kaca raksasa itu, bayangan tentang jemari Alvaro yang mencengkeramnya, deru napasnya yang berat, serta ketakutan murni yang meremukkan jiwanya mendadak menyeruak kembali.

Tubuh Hana bergetar halus. Jemari tangannya meremas gagang troli hingga memutih. Sengatan dingin melesat dari telapak kakinya, membuat napasnya menjadi dangkal dan terengah-engah.

Alvaro yang duduk di balik meja kerja mahoninya menyadari perubahan drastis pada raut wajah istrinya. Pria itu melihat bagaimana mata Hana menatap sofa hitam di sudut ruangan dengan binar ketakutan yang pekat.

Hati Alvaro rasanya seperti ditusuk jarum-jarum es. Rasa bersalah yang mendalam kembali membakar ulu hatinya, menyadarkannya bahwa memindahkan Hana ke ruangan ini mungkin justru membuka kembali luka trauma yang belum sempat mengering.

Alvaro refleks hendak berdiri dari kursinya untuk mendekati Hana, namun ia buru-buru menahan diri saat melihat Mbak Bella masih berdiri di dekat pintu.

'Jangan memicu ketakutannya di depan orang lain.' peringat Alvaro pada dirinya sendiri.

Pria itu menarik napas panjang, berusaha menjaga nada suaranya seprofesional mungkin.

"Terima kasih, Bella. Kau boleh kembali ke meja kerjamu," kata Alvaro datar, memutus keheningan yang menekan.

"Baik, Pak Alvaro," sahut Mbak Bella sopan.

Wanita paruh baya itu menunduk singkat, lalu berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu kayu mahoni itu hingga terdengar bunyi klik kunci otomatis.

Di dalam ruangan, Hana memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menghembuskan napas pelan melalui mulut, membuang udara dingin yang menyiksa dadanya.

Ia tidak boleh lemah. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertahan, merebut kembali harga dirinya, dan bekerja sebagai manusia mandiri.

Ruangan ini hanyalah ruangan biasa, dan pria di hadapannya kini adalah suaminya yang telah bersumpah tak akan menyentuhnya tanpa izin.

Dengan keteguhan hati yang dipaksakan, Hana membuka matanya kembali, memalingkan pandangannya dari sofa hitam itu, lalu mulai mengeluarkan botol cairan pembersih kaca dan kain lap dari trolinya.

"Hana..." panggil Alvaro, suaranya sangat rendah dan lembut, sarat akan penyesalan.

"Kalau kau merasa tidak nyaman di ruangan ini... kau bisa..." ucapnya terpotong.

"Saya baik-baik saja, Pak Alvaro," potong Hana cepat tanpa menoleh. Suaranya terdengar tenang, walau ada sedikit getaran kaku di sana.

"Saya di sini untuk bekerja. Mohon biarkan saya menyelesaikan tugas saya." ucap Hana mencoba merilekskan tubuh dan pikirannya.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
+44
hamil kan?
Dewi Kasiani
kpn Hana tidak keras hatinya,biar sedikit romantis.semoga hana hamil. biar makin dekat
Meichah Hahahihi
Hana misal KLO ada cewek yg deketin alvaro perasaanmu gimana ... jual mahal sekali si hana ini
Meichah Hahahihi
ini ceweknya mau di sentuh alvaro takut tapi kalo cowok lain welcome... munafik si hans
irma hidayat
hadapi hana bukannya harus sembunyi dari jln hidup, alvaro aja mau menerima dan terbuka
Teh Fufah
gitu dong hana.... berani... kamu kan mahaiswa hukum....
irma hidayat
terima dgn ikhlas hana jalan takdirnya jangan keras kepala, meski tak diinginkan mungkin jln terbaik untuk hidupmu
Siti Solihah
ayooo hana buka lebar lebar hatimu, kuliah kembali agar kamu bisa meneruskan cita cita sekaligus jadi istri ceo bucin...😅🤭
Rarik Srihastuty
lanjut...
+44
jadi.. kamu sudah cinta 🌚
Siti Solihah
ayo varo nyatakan love yuo sekarang juga..🤣🤣🤣
Mia Camelia
ayo rehan terus deketin hana🤭🤭🤭, biar alvaro makin meledak🤭😂
irma hidayat
cemburu ya alvaro
Rarik Srihastuty
ada yang cemburu ternyata 🤭
Lilik24
hahhaaa cemburu dia, bagusalah
Siti Solihah
masih menahan bucin...🤭🤭
+44
aku mau bubur ayam 🌚
Rarik Srihastuty
ayo Alvaro semangat, buat Hama melupakan traumanya
+44
jadi penasaran.. hal apa yang nantinya membuat hana luluh?
Sastri Dalila
👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!