Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21 Ulang tahun Emily
Meskipun suasana mansion masih dijaga ketat pasca insiden penyusupan, Luna menyadari hari ulang tahun Emily yang ke-6 makin dekat. Mengetahui Emily selalu merayakan ulang tahunnya dalam sepi tanpa pesta yang berkesan, Luna memberanikan diri meminta izin pada Leon untuk membuat perayaan kecil-kecilan di dalam rumah.
Luna keluar dari dalam kamar utama dengan perban yang masih menempel di lengannya dia berjalan menuju ke ruang kerja Leon dan saat tiba di depan ruang kerja Leon dengan perlahan dia mengetuk daun pintu yang berdiri kokoh itu sekokoh Leon yang sedang berada di dalamnya "Tok,tok,tok...permisi Tuan saya boleh masuk?" ucap Luna.
"Masuklah," perintah Leon yang mengetahui kalau yang mengetuk pintu itu adalah Luna.
Leon yang sedang duduk bersandar di kursi kerjanya itu langsung menegakkan badannya saat melihat Luna masuk, Luna berdiri saja tidak mau duduk karena tidak ada perintah dari Leon, Leon menatap Luna yang masih berdiri di tempatnya itu "Duduklah," ucap Leon pada Luna, dan akhirnya Luna pun duduk di kursi yang ada di hadapan Leon "Ada apa Luna?" tanya Leon yang baru pertama kali ini menyebut nama Luna dengan nada yang tidak dingin lagi. Luna juga sedikit terkejut saat Leon menyebut namanya dengan nada yang rendah dan tatapannya juga tidak sedingin hari-hari kemaren. Luna mencoba menenangkan dirinya yang keheranan melihat perubahan sikap Leon kepadanya. "Begini Tuan...Besok kan hari ulang tahun Emily yang ke enam dan saya bermaksud untuk merayakannya meskipun kecil-kecilan, tapi...saya takut Tuan tidak mengizinkannya karena sejak dulu memang tidak pernah ada pertanyaan ulang tahun buat dia dan juga situasi di mansion yang masih tidak aman dari musuh " ucap Luna pada Leon.
"Ya, dari dulu memang tidak pernah ada perayaan ulang tahun buat Emily karena situasinya yang selalu membahayakan di saat ada keramaian di mansion, penyusup selalu siap untuk melakukan aksinya dan mencari kelengahan kita," ucap Leon pada Luna.
"Iya Tuan saya paham, kalau memang hal ini akan menimbulkan situasi yang sangat membahayakan untuk Emily lebih baik di urungkan saja Tuan," ucap Luna.
Tapi Leon tidak sampai hati untuk mencegah acara yang mungkin sudah di rencanakan sebelumnya oleh Luna dan dia ingin melihat Emily bahagia di acara ulang tahunnya itu.
"Tidak apa-apa kalau hanya acara kecil-kecilan untuk keluarga saja, aku izinkan."
Luna langsung berdiri senang "Terimakasih Tuan," ucap Luna yang kemudian keluar dari ruang kerja Leon.
Leon menatap punggung Luna yang kemudian menghilang di balik pintu ruang kerjanya, Leon menarik napas panjang dan merasakan ada sesuatu yang tidak biasa yang merasuki hatinya saat ini.
Dibantu beberapa pelayan, Luna mendekorasi sudut ruang keluarga dengan hiasan buatan tangan, balon warna-warni, serta kue ulang tahun cokelat buatan sendiri. Leon yang menyaksikan kesibukan itu sempat ragu, namun memilih membiarkan Luna mengambil alih demi melihat kebahagiaan sang putri.
"Ini balonnya mami Luna...!!" teriak Emily sambil membawa balon berwarna merah dan hijau itu berlari ke arah Luna yang sedang menata hiasan pita warna warni di dinding ruangan.
"Bawa ke sini sayang," pinta Luna pada Emily yang terlihat sangat bahagia sekali, Emily menyerahkan kedua balon itu pada Luna, kemudian Luna meletakkan kedua balon itu di tengah-tengah pita warna warni yang mengapitnya.
"Hore...!" teriak Emily yang melihat Luna sudah selesai menata balon itu. Luna tersenyum melihat Emily yang sangat bergembira sekali. Luna berdiri di tengah ruangan dan memperhatikan ke seluruh sudut ruangan yang sudah di hias dengan balon dan pita warna-warni dan terlihat beberapa pelayan sedang membereskan sampah kertas yang berserakan di lantai ruangan tersebut.
"Sudah selesai Nyonya," ucap salah seorang pelayan pada Luna dengan sopan.
Luna melihat lagi ke seluruh lantai ruangan yang sudah bersih, Luna menatap pelayan yang berbicara tadi "Terimakasih," ucap Luna pada pelayan itu dengan sopan.
"Emily mau ikut mami Luna ke dapur apa enggak..?" tanya Luna pada Emily yang masih sibuk dengan balon-balon yang sengaja di biarkan berserakan di tiap sudut ruangan itu.
"Ikut mami Luna, ucap Emily sembari menendang balon yang menghalangi langkahnya itu.
Kemudian Luna menggandeng tangan Emily berjalan menuju ke ruang dapur, setelah masuk kedalam ruang dapur Luna membuka lemari tempat bahan-bahan kue, Luna mengambil tepung terigu,telur, mentega,gula dan coklat batang kemudian dengan terampil Luna mulai mengeksekusi bahan-bahan itu untuk di jadikan kue ulang tahun cokelat buat acara Emily nanti malam.
"Mami Luna mau buat kue?" tanya Emily yang sedari tadi memperhatikan Luna dan berdiri di sampingnya, Luna menoleh pada Emily sambil tersenyum "Iya sayang, mami Luna akan buatkan Emily kue ulang tahun cokelat kesukaan Emily," ucap Luna sambil tangannya memegang mixer untuk mencampur semua bahan yang sudah di siapkan tadi.
"Hore...!!! Makasih mami Luna....," Emily melompat kegirangan menatap Luna, Luna ikut senang melihat Emily yang kegirangan itu.
Luna memasukkan adonan kue ulang tahun itu kedalam loyang bulat yang berukuran sedang kemudian dia memasukkan loyang itu ke dalam sebuah oven listrik dan tak menunggu lama kue ulang tahun coklat itupun sudah matang, selanjutnya Luna melapisi kue coklat tersebut dengan coklat cair sampai meleleh ke sekeliling lingkaran kue dan terakhir dia membubuhkan beberapa buah strawbery di atas lingkaran kue itu.
"Kuenya bagus mami Luna," ucap Emily sambil menatap kue ulang tahun buatan Luna itu.
"Emily suka?" tanya Luna pada Emily.,
"Suka mami Luna," ucap Emily sambjl menganggukkan kepalanya.
...----------------...
Malam sudah turun dan saatnya pesta ulang tahun Emily di gelar meski hanya di rayakan bersama keluarga kecil, Luna membantu Emily memakaikan gaun ulang tahunnya gaun yang sudah di pesan di sebuah butik ternama di kota itu, gaun berwarna pink itu membalut tubuh kecil Emily dan Emily terlihat sangat cantik sekali membuat Luna sampai terkagum-kagum melihatnya " Kamu cantik sekali sayang....," ucap Luna menatap Emily sambil tersenyum. Emily tersenyum mendengar pujian dari Luna.
Saat Emily turun dengan gaun mewahnya, matanya berbinar melihat ruang keluarga yang diubah menjadi tempat pesta yang begitu hangat dan berwarna. Rasa takut dari insiden sebelumnya seketika menguap, digantikan oleh tawa ceria saat ia memeluk Luna dan Leon bergantian.
Tanpa ada tamu luar demi alasan keamanan, pesta berlangsung sangat hangat. Luna memandu acara tiup lilin dan pemotongan kue. Di momen ini, Leon melepaskan sepenuhnya aura dinginnya ia ikut tertawa, mengoleskan sedikit krim kue ke pipi Emily, dan menatap Luna dengan binar kehangatan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Emily memberikan kado terbaiknya sebuah gambar tangan berisi sosok Leon, Luna, dan dirinya yang saling bergandengan tangan di bawah satu atap bertuliskan 'Keluargaku'. Tatapan mata Leon dan Luna saling beradu di atas kepala Emily, menyadari bahwa mereka bertiga bukan lagi sebatas ikatan kontrak, melainkan sebuah keluarga nyata yang saling melengkapi.