Indonesia
NovelToon NovelToon
Menantu Tak Terkalahkan

Menantu Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota Naga

​Langit pagi ibu kota Jingcheng seolah menyibakkan awan kelabunya, memberikan jalan bagi sinar matahari keemasan untuk menyinari Kediaman Leluhur Keluarga Lin. Hari ini bukanlah sekadar hari pergantian kepemimpinan; ini adalah hari di mana sejarah baru diukir dengan tinta darah dan kekuasaan mutlak.

​Sejak pukul enam pagi, jalanan perbukitan eksklusif menuju kediaman tersebut telah diblokade oleh Pasukan Bayangan. Ribuan mobil mewah—dari Rolls-Royce anti-peluru hingga limusin kenegaraan berpelat rahasia—berbaris rapi bagaikan semut yang mendaki gunung.

​Para tamu yang hadir bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah jenderal militer bintang tiga, menteri-menteri strategis, taipan yang menguasai bursa saham nasional, hingga pemimpin keluarga konglomerat dari seluruh penjuru negeri. Pria dan wanita yang biasanya bisa menghancurkan ekonomi sebuah provinsi hanya dengan satu batukan, kini berdiri kaku di pelataran Aula Naga Hitam. Telapak tangan mereka berkeringat dingin, menanti kemunculan sang penguasa baru yang konon telah membantai Lin Ye dan Tuan Muda Long Ao tanpa berkedip.

​Di dalam aula raksasa beralaskan karpet merah sutra Persia, keheningan terasa begitu mencekam. Di ujung ruangan, tepat di bawah lambang Teratai Hitam raksasa yang terbuat dari emas murni, terdapat singgasana ganda berlapis giok hitam. Singgasana yang telah kosong selama tiga tahun itu kini menunggu tuannya.

​Kedatangan Sang Tiran dan Ratunya

​Tepat pukul sembilan pagi, suara terompet serunai tradisional bergema membelah udara, disusul oleh dentuman gong raksasa yang menggetarkan tulang rusuk setiap orang di ruangan itu.

​BRAAAK!

​Pintu ganda setinggi sepuluh meter berbahan kayu mahoni padat didorong terbuka secara serempak oleh delapan prajurit Pasukan Bayangan. Sinar matahari pagi langsung menerobos masuk, membingkai dua sosok yang berdiri di ambang pintu bagaikan siluet dewa dan dewi yang turun dari kahyangan.

​Lin Fan melangkah masuk. Ia mengenakan setelan jas bespoke berwarna hitam legam, namun di bagian bahu dan kerahnya terdapat sulaman benang emas bermotif naga yang sangat halus—simbol absolut dari Kepala Keluarga Lin. Aura yang dipancarkannya bukan lagi ketenangan sayu seorang suami benalu, melainkan dominasi tirani yang membuat napas para jenderal dan taipan di ruangan itu tercekat.

​Namun, yang paling menyita perhatian dan meruntuhkan akal sehat seluruh elit Jingcheng adalah wanita yang berjalan di sisinya dengan jemari yang bertaut erat pada tangan Lin Fan.

​Su Yuhan mengenakan gaun malam haute couture berwarna hitam dengan aksen emas yang menjuntai menyapu lantai pualam. Rambutnya disanggul elegan, menampilkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian Tears of the Sun—artefak legendaris milik Keluarga Lin yang konon tak ternilai harganya. Wajahnya yang cantik dan dingin memancarkan keanggunan seorang penguasa sejati. Gadis dari kota kelas dua itu kini berjalan menapaki karpet merah ibu kota sebagai seorang Ratu Surga yang tak tersentuh.

​Setiap kali Lin Fan dan Yuhan melangkah maju, gelombang ketakutan dan rasa hormat menyebar bak riak air. Barisan para elit secara otomatis menundukkan kepala mereka dalam-dalam, membentuk lorong ketundukan. Tidak ada satu pun yang berani menatap langsung ke mata sang Naga.

​Di barisan paling depan, tepat di bawah undakan singgasana, berlututlah Tiga Tetua Pelindung yang semalam mencoba mengusir Yuhan. Mereka kini mengenakan jubah abu-abu polos tanpa tanda kebesaran. Tubuh renta mereka gemetar hebat. Kesombongan mereka telah hancur berkeping-keping oleh kekuatan tenaga dalam Lin Fan dan berita kematian Lin Ye di bungker bawah tanah.

​Tetua Agung, yang merupakan pimpinan tertinggi dewan, mengangkat sebuah nampan kayu gaharu di atas kepalanya dengan kedua tangan yang bergetar. Di atas nampan itu tergeletak Cincin Giok Darah, stempel kekuasaan absolut Keluarga Lin.

​"T-Tuan Muda Utama..." suara Tetua Agung bergetar, air mata penyesalan dan ketakutan menetes di lantai. "Kami yang buta ini menyerahkan mandat langit kembali ke tangan Anda. Terimalah takhta ini, Kepala Keluarga Lin yang baru!"

​Deklarasi Sang Penguasa Mutlak

​Lin Fan berhenti di depan undakan. Ia tidak langsung mengambil cincin giok tersebut. Sebaliknya, ia menuntun Su Yuhan menaiki anak tangga pualam itu, melangkah melewati para Tetua yang bersujud, hingga mereka tiba di depan singgasana ganda.

​Sepanjang sejarah ribuan tahun Keluarga Lin, hanya Kepala Keluarga laki-laki yang diizinkan duduk di singgasana giok hitam saat upacara penobatan. Namun, Lin Fan menepis tradisi kuno itu seolah menepis debu.

​Dengan kelembutan yang sangat kontras dengan aura membunuhnya, Lin Fan mempersilakan Yuhan untuk duduk di singgasana sebelah kanan terlebih dahulu. Setelah istrinya duduk dengan aman, barulah Lin Fan mengambil Cincin Giok Darah dari tangan Tetua Agung, menyematkannya ke jari telunjuknya, dan duduk di singgasana sebelah kiri.

​Lin Fan menatap lautan manusia di bawahnya. Ribuan pasang mata elit negara kini menatapnya dengan kepatuhan absolut.

​"Tiga tahun aku membiarkan kursi ini kosong, dan ibu kota ini berubah menjadi sarang parasit," suara Lin Fan bergema memenuhi aula tanpa bantuan mikrofon, meresap ke dalam jiwa setiap orang yang hadir. "Ujianku telah usai. Pembersihan telah dilakukan. Dan mulai detik ini, hukum Keluarga Lin adalah hukum mutlakku."

​Lin Fan kemudian menggenggam tangan Yuhan dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

​"Dengarkan aku, seluruh Jingcheng! Wanita yang duduk di singgasana ini adalah Su Yuhan, Nyonya Besar Keluarga Lin. Barang siapa yang berani tidak menghormatinya, barang siapa yang berani menyebut nama asalnya dengan nada merendahkan, aku tidak akan hanya membunuhnya. Aku akan menghapus nama keluarganya dari sejarah negara ini!"

​Ancaman itu diucapkan dengan sangat tenang, namun efeknya bagaikan ledakan nuklir. Di bawah pimpinan Komandan Yuan, ribuan anggota Pasukan Bayangan yang berjaga di luar dan di dalam aula serempak menjatuhkan lutut mereka hingga lantai batu giok itu bergetar hebat.

​Gerakan itu seketika memicu reaksi berantai. Jenderal bintang tiga, menteri negara, hingga taipan terkaya di ibu kota yang memiliki ego setinggi langit, serentak menjatuhkan lutut mereka ke atas karpet merah. Tidak ada keraguan, tidak ada paksaan fisik, hanya ketundukan total pada kekuatan yang tak terbantahkan.

​"HIDUP KEPALA KELUARGA LIN!! HIDUP NYONYA BESAR SU YUHAN!!"

​Teriakan ribuan elit itu membahana, mengguncang langit-langit Aula Naga Hitam. Gema kesetiaan tersebut memantul melintasi perbukitan, mendeklarasikan pada dunia bahwa era baru telah dimulai.

​Di atas singgasana, Su Yuhan menatap lautan manusia yang bersujud di bawah kakinya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena rasa haru dan cinta yang luar biasa. Ia menoleh menatap pria di sebelahnya.

1
Glastor Roy
update
Driver Muda
Jelek💪💪👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
mantep coy 😎
Ariya Noviandy Khusofi
kok sama alur ceritanya dengan kebangkitan pewaris sakti
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff ini ☕😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!